Jumat, 28 Februari 2014

RELIGI TANPA RELIGIOSITAS

Oleh : Drs.Tiopan Manihuruk, MTh


Rom. 12: 1-2

Pernahkah kita melihat orang-orang yang bangga dengan symbol-simbol religi tapi tidak selaras dengan hidupnya? Memakai tanda salib tapi hidupnya tidak jelas, bersyukur kepada Tuhan didepan publik tapi memakai pakaian yang kurang pantas, dirumah ada gambar salib tapi selalu terjadi pertengkaran disana.Inilah religi tanpa religiositas  Agama dan sebutan-sebutan rohani hanya menjadi symbol/slogan sehingga membuat deskralisasi agama. Apakah semua koruptor, napi itu punya agama? Kalau begitu apa peran agama? Ketika terjadi desakralisasi agama terjadilah politisasi agama, tidak membuat kita makin dekat dengan Allah tapi menjadi komoditas politik, cth: perang salib. Ketika agama menjadi komoditas politik, terjadilah stigma, ketika ditanya “orang apa?” dijawab dengan agama yang dianut, jika mereka satu label denganku kami berteman jika tidak 1 label kami bermusuhan. Semua upacara di Negara ini dimulai dengan nama Tuhan, tetapi apakah hidup sehari-hari mencerminkan nilai-nilai kebenaran?

Kita sudah diselamatkan karena kemurahan Allah (3: 20-26) maka bukti atau tanda bahwa sudah mengalami kasih karunia Allah diperintahkan untuk:Mempersembahkan tubuh kepada Allah (ay. 1b) dengan syarat harus hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. ‘Hidup’ agar bisa berkarya bagi Allah tidak seperti korban binatang mati dalam PL yang hanya untuk disembelih dan dibakar (bd. Ef. 2: 10), anugrah yang menyelamatkan ditunjukkan dengan tindakan dan karya bagi Allah.‘Kudus’ – Allah itu kudus (1 Ptr. 1: 15-16) maka Dia menghendaki hidup dan karya umat tebusannya haruslah kudus adanya (1 Tes. 4: 3, 7). Karena itu jauhi kecemaran.‘Berkenan kepada Allah’ – memenuhi standart atau yang dituntut Allah dari orang percaya, bukan asal ada atau (sembarangan).  bd. Kurban hewan dalam PL, di mana harus domba atau hewan yang terbaik tanpa cacat serta yang sulung, bukan asal-asala, asal jadi tetapi yang  terbaik, itulah ibadah yang sejati. Dalam ayat ini Paulus juga menjelaskan akan arti sebuah ibadah yang sejati, yakni bukan sebatas ritual, melainkan spiritual. Ibadah sejati adalah ketika orang tebusan Allah mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah lih. Daniel 1: 7-8, 20; 6: 5-6 sebagai produk dari sebuah ritual yang sehat (6: 10-12), jangan hanya stigma agama tanpa hidup yang benar. Daniel dalam seluruh hidupnya hanya didapati “kelemahannya” yaitu dalam hal ibadahnya kepada Allah. Apakah kita hanya dipandang sebagai orang yang masih beribadah, masih memimpin kelompok, mamsih pengurus tapi dalam hidup sehari-hari tidak baik.

Jangan menjadi serupa dengan dunia (ay. 2a). Why? Oleh kemurahan Allah telah diselamatkan dari dosa dan maut (Rom. 12: 1; 6: 23)Berubahlah oleh pembaharuan budimu (ay. 2b). Why? Sebagai warga negara sorga yang akan bangkit bersama Kristus haruslah berubah dalam cara berfikir (Kol. 3: 1-2; Ef. 4: 22-24) – pikirkan perkara di atas di mana Kristus ada .Mengapa pembaharuan akal budi itu penting? The way you think is the way you will live.Perubahan akal budi atau cara berpikir membuat seseorang dapat membedakan manakah kehendak Allah, yaitu apa yang baik, berkenan kepada Allah dan sempurna (ay. 2c)

Mari membaca dari Yesaya 58: 1-12. Yesaya diperintahkan Tuhan untuk menyadarkan Israel akan kehidupan religi (keagamaannya) – their rebellion and sins, yaitu : setiap hari mencari Tuhan & suka mengenal jalan Tuhan (ay. 2a),menanyakan Tuhan akan hukum-hukum yang benar dan suka mendekat menghadap Allah (ay. 2b), mereka melakukan apa yang baik tetapi  bertanya kepada Allah:Mengapa Tuhan tidak memperhatikan dan mengindahkan padahal mereka berpuasa?Israel berpuasa tetapi tetap mengerjakan tugas sehari-hari (ay. 3b). Israel berpuasa tetapi tetap mengerjakan tugas, bukan mengkhususkan diri untuk puasa. Puasa menjadi symbol, ibadah menjadi symbol. Hal ini mungkin juga bisa terjadi pada kita, hari minggu kita ke gereja karena merasa tidak enak kalau tidak ke gereja. Setiap hari kit abaca alkitab, saat teduh apakah setiap hari hidup kita berubah? Mereka berpuasa tetapi mendesak semua buruh – exploit all your workers (ay. 3c) – religi/ritual tanpa spiritualitas bahkan melakukan dosa. Bagaimana jika gaji buruhmu ditahan, gaji dibawah UMR, karyawan ditindas, tetapi kita tidak berbuat apa-apa? Kita rajin pergi ke gereja tetapi gaji pembantu ditahan, pembantu dipaksa kerja sampai malam tanpa istirahat. Tidak ada korelasi antara kegiatan keagamaan dengan etika dan praktika kehidupan.‘Kesalehan vertikal’ tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial/horizontal. Berpuasa sambil berbantah dan berkelahi, memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena (ay. 4-5).Orang yang sudah lahir baru belum tentu hidup benar.

Ibadah yang sejati:  Ada kesejajaran ritual dengan etika dan karya hidup yaitu: membuka belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang teraniaya dan mematahkan setiap kuk (ay. 6) (adakah ketidakadilan/penindasan yang perlu dirubah di kantor, bukan hanya mementingkan diri sendiri “yang penting bukan aku korbannya”),memecahkan roti bagi yang lapar, memberi   tumpangan bagi yang miskin, memberi pakaian bagi yang telanjang & mendekatkan diri bagi saudara untuk dapat menolong mereka (ay. 7, 9b-10a) bd. Lk. 4: 18-19. Kabar baik bagi orang yang tertindas adalah memperjuangkan hak mereka, tapi jika mereka tertindas karena Kristus beritakan Kristus.Tidak semua harus langsung diberitakan Injil, lihat kondisinya. Yesus sendiri menyembuhkan secara fisik dan rohani. Jika sejajar Religi dengan Religiositas maka :
  • Terangmu akan merekah seperti fajar (ay. 8a, 10a)
  • Luka akan dipulihkan segera – penyembuhan
  • Kebenaran menjadi barisan depan
  • Kemuliaan Tuhan menjadi barisan belakangmu    (ay. 8)
  • Tuhan akan mendengar seruanmu (ay. 9)
  • Tuhan menampakkan wajah-Nya kepadamu
  • Kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari (ay. 10b)
  • Tuhan akan menuntun senantiasa dan memuaskan hatimu di tanah kering (ay. 11a)
  • Tuhan akan memperbaharui kekuatan
  • Akan seperti taman yang diairi dengan baik seperti mata air (disegarkan dan disuburkan) ay. 11b
  • Membangun reruntuhan dan memperbaiki dasar atau pondasi – restorasi (ay. 12)
      Religi dan religiositas tidak diartikan mengganti kehidupan rohani dengan kegiatan sosial, namun pentingnya kesejajaran kesalehan vertikal dengan horizontal atau etika dan kerajaan Allah dan tindakan kasih yang diproduksi oleh relasi/ibadah kepada Allah.

Religi tanpa Religiositas
n  Lk. 18: 9-14, dua orang yang beribadah pada allah, orang Farisi dan pemungut cukai, orang Farisi meninggikan diri sebagai orang yang saleh sementara pemungut cukai melakukan perkabungan, bertobat dan mengaku dosa. Jika kita masih menjadi pengurus, masih KTB tapi masih permisif dengan dosa, apa gunanya? Jangan kita berdosa tetapi dibungkus secara rohani dengan status rohani di pelayanan
n  Mt. 15: 8-9; Yes. 29: 13 “bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripadaKu”, hidup orang Israel melakukan taurat karena menuruti perkataan manusia. Kita bisa saja menyanyikan lagu rohani tetapi hidup kita tidak rohani, jangan jadi pengurus/berkhotbah tapi tetap lakukan dosa. Jangan hanya memuliakan Allah dengan mulut tapi hati jauh dari Tuhan, itu religi tanpa religiositas
n  Yoh. 3: 1-9, Nikodemus seorang Farisi yangb bertanya tentang kuasa Yesus Nikodemus seorang Farisi yang banyak belajar firman Tuhan, tetapi belum lahir baru.
n  Rom. 10: 1-3 (..”keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan….bahwa mereka sunguh-sungguh giat utnuk Allah tetapi tanpa pengertian yang benar”) ini yang disebut sesat dalam kekudusan, ritual dilakukan dengan giat tapi tanpa pengenalan yang benar. Apakah etika hidup kita sama dengan orang lain, Apakah etika hidup kita sama dengan orang lain,  atau etika bisnis kita sama, yang membedakan hanya kita saat teduh, kita tidak merokok, tidak minum alcohol dan kita membawa alkitab.Kalau sama apa gunanya?

n  2 Kor. 3: 14-17 (..”tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini, slubung itu masih tetap menyelubungi mereka..”)melakukan ibadah , rajin baca firman tapi tidak mengerti seperti diselubungi, selubung itu akan disingkapkan jika berbalik pada Tuhan.Berbalik pada Allah akan membuat religi sejalan dengan religositas.



Jumat, 21 Februari 2014

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh



Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika dalam 1 tahun-2 tahun tidak bertumbuh dalam iman  dan karakter, perlu dievaluasi),  hidup semakin kudus dan makin mengasihi Tuhan, dari hari ke hari semakin mampu mengerti, memperhatikan dan siap menerima dia apa adanya (jika di masa pacaran pun sulit untuk mengerti dan menerima dia, maka jangan menikah dengannya),menikmati kebersamaan dalam pelayanan.

Mari baca dari Kej. 2: 15-25; Apakah aku dan dia menjadi penolong yang sepadan (ay. 18) demi menggenapi misi Allah dalam hidup dan perkawinan nanti (ay. 15). Benarkah dia dan aku selama masa pacaran telah berperan sebagai penolong dalam pertumbuhan karakter, iman, pelayanan, problem solver, kelemahan/kekurangan dst (apakah dia benar-benar jadi penolong yang membuat saya makin bertumbuh, beriman  dan apakah saya dapat menjadi penolong dia makin bertumbuh dalam iman dan karakter? Benarkah aku membutuhkan dia dan kehilangan atau kesepian tanpa dirinya (ay. 20) “rasa kehilangan’ bukan sebatas fisik atau kehadiran tetapi perannya dalam hidup, jika tanpa dia kita bisa melakukan apa saja, ini perlu dievaluasi, ‘kecarian dia’ karena ada sesuatu yang hendak kita lakukan/berikan untuk memaksimalkan pasangan, kita punya sesuatu yang dapat kita bagikan untuk menolong dia bertumbuh. Menikah bukan supaya bahagia, melainkan untuk membahagiakan pasangan. Jika kita menikah supaya berbahagia maka itu eksploitasi, tapi menikah adalah untuk membahagiakan pasangan.
Apakah prinsip ‘tulang daripada tulangku & daging daripada dagingku’ (ay. 23) semakin nyata atau menyatu? – satu visi dan tujuan hidup, beban dan tanggungjawab, dalam menghargai atau menghormati, mengasihi/merawat dst . Jika waktu pacaran saja sudah tidak sevisi, tidak sama tujuan hidup, maka lebih baik tidak menikah dengannya. Apakah kami mampu mengelola perbedaan dan melihat semua perbedaan diantara kami sebagai kekuatan atau potensi? Kita melihat perbedaan untuk bisa saling melengkapi, saling membutuhkan (Interdependent). Apakah mampu menerima pasangan apa adanya (fisik, karakter, kelemahan, keluarga dan latar belakangnya), kenali kelemahan dan kelebihan pasangan juga latar belakang keluarganya, jika waktu pacaran kita sulit menerima kelemahannya akan sulit untuk melanjutkan ke pernikahan. Apakah kami benar-benar mandiri dan dewasa? (ay. 24) “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Pasangan adalah prioritas utama daripada siapapun, jadi tidak boleh ada intervensi orangtua. Ketika menghadapi masalah dan kesulitan mampu menyelesaikannya secara alkitabiah, kalau waktu pacaran sudah biasa menyelesaikan masalah maka dalam pernikahan akan lebih mudah. Dewasa menyikapi semua persoalan (konflik dan perbedaan) diselesaikan secara mandiri/dewasa, terlalu sering bertengkar waktu pacaran harus dievaluasi apakah akan tetap menikah. Pertengkaran harus diselesaikan (Ef 4:26 “janganlah matahari terbenam baru padam amarahmu”)  Mandiri secara finansial (bukan kaya), tidak tergantung pada orangtua/keluarga.  Luput dari intervensi pihak lain (bukan orangtua yang mengatur rumah tangga). Sungguhkah kami jujur dan terbuka (batin) dalam komunikasi serta tid.k ada lagi yang harus dirahasiakan? (ay. 25), adakah komunikasi batin yang membuat tahu perasaan dia. Layakkah dia dipercaya sepenuhnya dalam segala hal?


Beberapa hal yang perlu didiskusikan: Berapa lama masa pacaran yang ideal? (tidak ada batas waktu, asal ada cukup waktu untuk mengenal dengan baik), Boleh enggak ya putus? (harus dilihat apa alasannya, jika tidak sevisi, tidak mengalami partumbuhan iman, sulit memahami pasangan) Bagaimana bila orang tua tidak setuju (jika alasan orangtua sesuai dengan firman Tuhan, patuhi, dan bukan karena hal-hal seperti suku, status ekonomi,dll)

Masa Menjelang Perkawinan

Apabila masa pacarannya berjalan dengan benar, maka jauh sebelum menikah  perlu dibahas beberapa hal: Prinsip relasi suami-istri (Ef. 5: 21-33) Istri: harus  tunduk pada suami seperti kepada Tuhan (ay. 22), walau pendidikan, gaji dan jabatan istri lebih tinggi, tetap harus tunduk pada suami. Dasarnya : Suami adalah kepala istri, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat (ay. 23). Sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikianlah seorang istri tunduk kepada suaminya dalam segala sesuatu (ay. 24). Menghormati suami (ay. 33b). Jika suami kurang mengasihi, mungkin karena istri kurang tunduk pada suami, hormati suami dan suamipun akan makin mengasihi. Selama yang diperintahkan suami sesuai dengan firman Tuhan, istri wajib tunduk. Suami : Mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat (ay. 25) - Kristus mengasihi jemaat dengan menyerahkan diri-Nya untuk menguduskannya sehingga menempatkan jemaat di hadapan-Nya dengan cemerlang tanpa cacat dan kerut serta tak bercela (ay. 26-27), suami wajib mengasihi istri seperti Kristus pada jemaat, dan menyerahkan segala-galanya untuk istri. Mengasihi istri sama seperti mengasihi tubuhnya sendiri (ay. 28, 33a) – mengasuh, merawati sama seperti Kristus terhadap jemaat (ay. 29), karena istri adalah anggota tubuh suami (ay. 30).Tidak berlaku kasar kepada istri (Kol. 3: 19), tidak ada penghinaan terhadap istri. Hidup bijaksana dengan istri sebagai kaum yang lebih lemah (1 Ptr. 3: 7a). Menghormati istri sebagai teman pewaris dari kasih karunia kehidupan, supaya doamu jangan terhalang (1 Ptr. 3: 7b), Jika istri kurang tunduk, mungkin suami kurang mengasihi, jadi dalam pernikahan, suami istri harus saling mendahului melakukan yang terbaik.  


Diskusikan & Putuskan Bersama

Kalau nanti menikah: Tinggal di mana (sedapat mungkin tidak PMI, pisah rumah dengan orangtua perlu untuk penyesuaian), beribadah di gereja apa, pelayanan di mana serta bagaimana dengan persembahan? (Dimana kita bisa bertumbuh dan hadir memberi berkat, berapa persembahan untuk gereja, pelayanan harus dibicarakan). Pekerjaan (jenis dan tempat),  bd. 1 Kor. 7: 3-5, jika waktu pacaran berbeda kota, salah satu harus meninggalkan pekerjaan supaya bisa bersama-sama, harus ada pengorbanan. Bagaimana membangun family altar (bagaimana suami membawa keluarga tetap beribadah, saat teduh bersama, jam doa, ibadah keluarga). Berapa  anak yang diharapkan (lk/pr)  dan bagaimana jika tidak dikaruniakan anak? Siapkah jika tidak diberi anak dan kita akan bebas melayani Tuhan tanpa gangguan, jika kita menikah, seharusnya kita dapat menerima dia apa adanya. Mendidik, membesarkan, biaya pendidikan dan asuransi anak. Apa kebutuhan yang perlu segera dibeli (kredit atau lunas) – rumah/kpr, kenderaan, perabot dll (jangan terjebak dengan kredit yang menumpuk dan timbul masalah kemudian). Management keuangan dan penggunaannya (siapa mengatur keuangan). Sikap dan pandangan terhadap keluarga (orangtua dan saudara sebagai objek kasih Allah) , jika ada keluarga yang perlu dibantu harus dipikirkan dan dibicarakan. Membantu keluarga dan sumbangan sosial. Keterlibatan dalam organisasi sosial, olah raga dst (masuk STM mana)  


Persiapan Perkawinan


Bila sudah yakin dipersatukan Tuhan: Rencanakan waktu, tempat dan bentuk pesta bersama keluarga. Hal ini juga berelasi soal pendanaan. Inti pernikahan adalah pemberkatan kudus, bukan pesta mewah demi gengsi. Persiapan rumah, perabot dll setelah pemberkatan. Persiapan administrasi gereja, catatan sipil dllPersiapan hati yang lebih matang untuk memasuki dunia baru dalam tuntunan Tuhan.


Solideo Gloria! 

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...