Jumat, 04 Agustus 2017

Eksposisi YAKOBUS 4 (ay. 1 - 17)

Oleh : Drs.Tiopan Manihuruk, MTH





Teks ini didahului oleh hikmat ilahi (3: 17-18) bd. 1: 5; Ayub 28: 28
Orang yang memiliki iman sejati (2: 14-26: faith and works) tidak akan digoyahkan oleh cara hidup duniawi (4: 1-6)
Ayat 1-6 dirajut dalam satu kata ‘hawa nafsu’ – passion/desire

Cara hidup duniawi (ay 1-6):
  1. Hidup menurut hawa nafsu (hedone) adalah sumber sengketa dan pertengkaran (ay 1)
Filsuf Greco-Romawi termasuk Plato dan Philo dalam tulisannya menolak segala keinginan hawa nafsu daging (hedonisme), Filsuf/ilmuan: Know yourself (gnothi seauton),Psikolog: Be yourself
Artist: Show yourself.
Implikasi iman dari Yakobus yang dinyatakan dlm tindakan, ayat ini menekankan tentang motivasi dan ketulusan  dalam hidup sehari-hari. Karena itu dikatakan dalam ayat 1 “darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang sedang berjuang dalam tubuhmu?” Alasan sumber sengketa dan pertengkaran menurut Yakobus datangnya dari hawa nafsu. Kata yang dipakai dalam bahasa Inggris dipakai kata “hedone” hawa nafsu artinya keinginan daging yang sekaligus dipengaruhi oleh ketamakan, materilistis. Karena itu dikatakan sumber pertengkaran dan sengketa dikuasai olehawa nafsu yang sedang berjuang di dalam tubuh. Ada banyak orang yang memiliki pemahaman, jika ada yang gagal atau salah yang dilakukan selalu menyalahkan iblis, padahal belum tentu karena itu.
 Sebagai orang percaya ada dua yang berjuang dalam diri kita yaitu hawa nafsu kedagingan dan pekerjaan setan. Jadi tidak semua karena peran setan, misalnya malas belajar itu karena kedagingan, bukan setan. Dua sisi ini yang dibicarakan Yakobus, tetapi yang ditekankan adalah  bagaimana kita sebagai orang beriman dapat mengalahkan hawa nafsu daging. Sekalipun kita telah lahir baru, hawa nafsu kita tidak serta merta akan mati. Jika kita beriman, hal pertama yang terjadi adalah pembenaran, yang disebut positional sanctification tetapi juga kita berjuang untuk yang kedua yaitu progressif sanctification yaitu penyucian yang berkembang. Memang dosa dan akibat dosa telah mati ketika seseorang beriman kepada Kristus, atau lebih tepat dimatikan dalam Kristus dalam diri orang yang percaya tetapi bukan otomatis kita akan menjadi suci dalam progresif tetapi kitapun akan berjuang bersinergi bersama dengan Allah.
Karena itu jika kita perhatikan apa yang dikatakan Paulus dalam Filipi 2 :12 “..karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” perhatikan Fil 2:13 “Allahlah yang mengerjakan  didalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”, karena itulah pembenaran bersifat monergis, dan penyucian bersifat sinergis. Karena itu kita bersinergi dengan Allah, melawan hawa nafsu daging yang berjuang didalam tubuh kita. Yak 4: 1 mengatakan “saling berjuang” berarti sikap berjuang menundukkan diri dalam kuasa Roh Kudus, band Gal 5:24-25 “barang siapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh”. Paulus menekankan bahwa  kita yang telah dilahirkan kembali menjadi milik Kristus, dimatikan dari segala keinginan dan hawa nafsu tetapi juga harus hidup dipimpin oleh Roh tetap taat kepada tuntunan Roh. Kita diminta melatih diri kita untuk menawan kedagingan tapi juga sekaligus kita dilatih untuk tunduk pada pimpinan Roh. Kita tidak boleh pasif, ada komit untuk berjuang tetap taat.
  1. Hedone yang tidak terpenuhi membuat orang membunuh, iri hati, bertengkar dan berkelahi (ay 2) Kecaman yang tajam (diatribe) biasanya berisi figuratif-hiperbola sebagai ganti dari ‘kebencian dan kemarahan.
Yakobus mengalamatkan bagian ini kepada orang-orang miskin dan tertindas yang mencoba mau berbuat jahat kepada para penindasnya dan hendak merampas harta mereka (bd. 5: 1-6). Karena itu dikatakan “kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh, kamu iri hati”. Di ayat 1 dipakai kata hedon karena berbicara soal materi, untuk memperolehnya mereka membunuh artinya merampas, mereka iri hati karena tidak memiliki materi.
Yang ditegur oleh Yakobus ialah supaya mereka seharusnya bekerja keras, dan tidak perlu iri melihat orang yang lebih kaya dari mereka dan tidak perlu menginginkan harta orang lain. Hawa nafsu daginglah yang bisa membuat orang mencuri, korupsi, menginginkan banyak hal. Ketika orang dikuasai hedon, bisa bertengkar, membunuh, iri hati. Ini adalah bagian dari hal-hal yang duniawi. 1 Yoh2 :15-16”Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada didalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia maka kasih akan Bapa tidak ada dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia”. Ketiga hal inilah hal-hal yang duniawi.  “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa” Yakobus menekankan mereka tidak perlu iri melihat orang yang memiliki lebih dari mereka, dan mereka juga tidak memperolehnya karena mereka tidak berdoa,
  1. Salah berdoa, karena untuk hedone (ay 3)
Doa Yahudi Kristen biasanya untuk kebutuhan yang murni sehari-hari (Mt 6: 11), tetapi permohonan yang didasarkan pada kecemburuan akan kekayaan dan status orang lain berarti sebuah pemuasan hawa nafsu (4: 1). Teguran Yakobus adalah, kalaupun mereka berdoa, doanya salah (ayat 3), karena yang mereka minta hendak dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Tuhan itu menjawab kebutuhan manusia bukan keinginan. Mari kita cek hidup kita, apakah yang kita minta itu kebutuhan atau hawa nafsu? Berdoa harus Theosentris buka egosentris. Allah menjawab doa untuk kebutuhan bukan pemuasan keinginan (bd. Yoh 15: 7)

  1. Ketidaksetiaan karena persahabatan dengan dunia (lih. 1 Yoh 2: 15-16) adalah permusuhan dengan Allah (ay 4)
Ketidaksetiaan terjadi ketika manusia lebih mencintai dunia atau materi daripada Allah – ‘adulterous people’. Hal ini sangat kontras dengan Abraham sebagai sahabat Allah (2: 23) - iman yang dipancarkan melalui tindakan. God is the jealous lover (ay 5) terhadap orang yang padanya diberikan Roh-Nya - ‘the spirit he caused to live in us’. Ayat 4, kita tidak bisa memlih keduanya harus pilih salah satu, band. Mat 6:24 “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan, karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”, hal ini juga yang ditekankan dalam Yak 4:4, kita harus memilih salah satu. Yesus sendiri tidak pernah membandingkan Allah dengan apapun kecuali dengan mammon, ternyata kekuatan uang itu begitu luar biasa. 1 Tim 6:9-10 “cinta uang adalah akar kejahatan” karena itu hawa nafsu dunia bermusuhan dengan Allah, tidak bisa berdampingan.
  1. Tidak ada orang yang mau diduakan. Allah adalah Allah yang cemburu, tidak mau diduakan.
  2. “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkanNya kepada kita, lebih besar daripada itu. Karena itu Ia katakan “Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati”. Bukankah anugerah telah diberi kepada kita dan kita diselamatkan karena iman, tetapi sekarang anugerah itu kurang dihargai karena pola hidup hedon, ini adalah sebuah keangkuhan, karena orang yang tidak bersyukur pada Allah dan hidupnya dikuasai oleh hedon dan mammon.
Cara hidup ayat 1-4 adalah sebuah kecongkakan dihadapan Allah (ay 6) ‘rendah hati’ – Sikap tunduk pada kehendak dan kedaulatan Allah atas kehidupan seseorang (4: 7,10)
Dari ayat 7-10 ada beberapa perintah yang dalam bahasa Yunani kata-kata tersebut diartikan sebagai sesuatu yang  harus segera dilakukan untuk mencabut akar dosa keangkuhan (4: 1-6)
Ayat 7. Dikaitkan dengan iblis. Kedagingan kita juga bisa diperalat oleh iblis.jangan sampai hawa nafsu kita dipakai iblis karena itu tunduklah pada Allah dan lawanlah iblis. Kita sering membiarkan, tidak melawan kedagingan, tidak melawan iblis.

Cara untuk Menang dari nafsu duniawi (ay 7-10)
  1. Tunduk (submit) kepada Allah (ay 7)
  2. Lawan Iblis (ay 7)  Ef 6: 11-18; 1 Ptr 5: 8-9
  3. Mendekat kepada Allah sumber kekuatan (ay 8), dengan doa, firman dan pujian penyembahan.
  4. Tahirkan tangan (ay 8). Tidak merampas, mencuri, menumpahkan darah. Para imam biasa membasuh tangan sebagai simbol penyucian rohani (Kel 30: 17-21) bd.Mzm 24: 3-4
  5. Sucikan hati (ay 8) – dalam hal moralitas (bd.Yer 4: 14; Mt 15: 19-20) ‘mendua hati’ – Allah dan Mamon (Mt 6: 24). Tidak bisa memilih keduanya. Jikapun kita pada akhirnya memiliki kemampuan secara materi, jangan kita bersikap hedon. Yakobus menekankan bukan soal ritual tapi spiritual(batiniah)
  6. Sadari kemalangan (ay 9) – ‘sadar’ merupakan titik awal pertobatan. Orang yang sudah mengenal Tuhan tetapi nilai hidup dan paradigmanya masih tetap duniawi itu dikatakan Yakobus sebagai sebuah kemalangan, tidak hanya mengandalkan mereka sudah diselamatkan karena anugerah.
  7. Berdukacita dan meratap (ay 9) – repent (Im 23: 29). Dukacita artinya penyesalan akan dosa dan kesalahan.
  8. Gantikan tertawa dengan ratap; sukacita dengan dukacita (ay 9 bd. Mt 5: 4). Jika kita bangga dengan materi dan hedon, sekarang gantilah dengan ratapan, artinya merubah nilai dan paradigma kita. Jika kita tidak menyesali dan berduka dengan dosa, kita tidak akan menang atas dosa.
  9. Rendahkan diri di hadapan Tuhan  (ay 10 bd. ay 6). Jangan bangga dengan hal-hal yang materi, kehormatan. Mari kita bangun harga diri dan kehormatan didalam Tuhan

Dosa menghakimi orang lain  (ay 11-12)
Jangan memfitnah dan menghakimi (ay 11).Meskipun miskin dan tertindas, tetapi tidak boleh memfitnah dan menghakimi orang yang kaya (5: 1-6). Hal ini tidak berarti kita tidak bekerja keras, bekerja keras penting tapi jangan melakukannya untuk memperoleh materi. Penghakiman terhadap sesama berarti menentang hukum Taurat (ay 11). Penghakiman adalah milik Allah (ay 12).

Keterlibatan Allah dalam Hidup (ay 13-17)
Hidup & perencanaan. Adalah baik berencana dan memiliki target hidup (ay 13) – ’besok berangkat ke kota anu, tinggal, berdagang dan mendapat untung’.  Mendapat untung tidak salah. He who fails to plan, plans to fail. Ketika kita bekerja, izinkan Allah terlibat dalam hidup dan rencana kita, Ia bekerja, berdaulat dalam seluruh hidup kita. Perencanaan yang antisipasif. Hidup yang terencana harus disertai dengan antisipasi dengan hikmat Allah (ay 14). “apakah arti hidupmu?(ayat 14) karena :  
  • Tidak seorangpun tahu apa yang akan terjadi besok (ay 14) bd. Lk 12: 16-21, orang kaya yang bodoh
  • Hidup hanya sekali, setelah itu mati - Hidup ini singkat, seperti uap (ay 14b) bd. Mzm 90: 10-12 – butuh hikmat Allah agar hidup maksimal dalam konteks kronos dan khairos:  +  -  :  x. Karena itu hidup harus berarti bukan soal jabatan dan kedudukan, tetapi apa karya dan nilai hidup yang kita hasilkan. Hiduplah dengan keterlibatan Allah sepenuhnya.Hadirkan dan libatkan Tuhan dalam hidup dan perencanaanmu (ay 15) –’Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’
Ingatlah
  • Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15: 5b)
  • Segala sesuatu lakukan dalam nama Tuhan dan untuk Tuhan (Kol 3: 17, 23)
Mengapa Allah Penting Terlibat?
  • Hidup yang tidak melibatkan Tuhan serta tidak bergantung penuh kepada-Nya adalah memegahkan diri dalam kecongkakan dan hal itu juga sekaligus sebuah kemegahan yang salah (ay 16) – ’all such boasting is evil’ bd. Yer 17: 5-8
  • Alasannya adalah jika tahu bagaimana seharusnya berbuat baik((ayat 1-16)jangan dikuasai oleh hawa nafsu daging, jangan tempatkan diri sebagai musuh Allah karena keinginan dunia, sebuah keangkuhan jika kita mencari penghargaan dan kehormatan diri di dalam hal materi , jangan menhakimi orang yang lebih kaya, izinkan Allah berdaulat dalam semua rencana kita, jika kita melakukannya bukan dengan nilai hidup Allah), tetapi tidak melakukannya, ia berbuat dosa (ay 17)


SOLIEDO GLORIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...