Jumat, 31 Agustus 2018

YESUS DAN KERAJAAN ALLAH

Oleh : Drs.Tiopan Manihuruk, MTh




a.       Pengantar
Terminologi Kerajaan Allah yang dalam bhs Yunani disebut basilea to theou  atau Kerajaan Surga (Matius) - basileia tou ouranon, atau ‘malkuta samayim’ (Aramaik), menandakan kemahakuasaan Allah yang dinamis dan pemerintahan (rule) yang eskatologis. Dalam Mat dipakai Kerajaan surga karena penerima injil Matius adalah orang Yahudi dan memanggil nama Allah itu tabu sehingga digunakan kata surga, tapi kitab Injil-injil lain menggunakan kata Kerajaan Allah. Berbicara tentang Kerajaan Allah adalah otoritas, yang bersifat dinamis, tidak geografis, bergerak ekspan, melebar karena ketika ada orang percaya pada Yesus Kristus berarti Kerajaan Allah ada dalam dirinya, sehingga perluasan Kerajaan Allah makin melebar. Kemahakuasaan otoritas Allah yang bersifat dinamis dan pemerintahan Allah (masa kini dan disini (presentis) dan eskatologis ketika Yesus Kristus datang kedua kali.)
Kerajaan Allah terbentang pada pengajaran Yesus yang berakar pada PL dan pemikiran Yahudi namun dalam persfektif yang berbeda
Misalnya, hal itu ditandai dengan
·         Kekuasaan kekal Allah bukan kerajaan duniawi. Konsep PL khususnya Yahudi lebih banyak konsep duniawi. Dlm Kis1 :5-6 “Tuhan maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”, orang Yahudi lebih terarah pada pemulihan saat ini.
·         Skopenya universal bukan terbatas pada orang Yahudi saja.  Rom 1:16 “Sebab aku mempunyai keyakina  yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani”,  ini tidak ekslusif tapi bersifat universal.
·         Bersifat dekat/sebentar lagi (“is at hand”: imminent) dan kehadiran yang potensil dalam diri Yesus lebih dari pada sebuah pengharapan masa depan yang kabur. Ketika Yesus Kristus ada di dalam dunia maka Kerajaan Allah ada di dalam dunia, maka pengharapan itu tidak kabur, tetapi sesuatu yang nyata (valid)
·         Dihubungkan dengan kehadiran dan misi Yesus yang tidak terpisahkan dari diri-Nya (inextricably)

b.      Kerajaan Surga dalam PL
·         Yahweh sebagai raja (Ul 9: 26; 1 Sam 12: 12; Mzm 24: 10; 29: 10; Yes 6: 5; 33: 22; Zeph 3: 15; Zak 14: 16-17)
·         Yahweh digambarkan sebagai takhta agung - royal throne (Mzm 9: 4; 45: 6; Yes 6: 1; 66: 1 dst)
·         Pemerintahan Allah atas Israel (monarkhi) khususnya ditandai pada masa Hakim-Hakim yang bertugas sebagai perwakilan-Nya
·         Krisis muncul ketika Israel meminta seorang raja atas mereka, menolak  pemerintahan Allah atas Israel, dan tuntutan itu ditafsirkan sebagai penolakan atas kepemimpinan Yahweh (1 Sam 8: 4-8). Seharusnya Israel tidak memiliki raja tapi Allah sendiri yang langsung memerintah Israel.
c.       Kerajaan Allah dalam Yudaisme
Secara prinsip Kerajaan Allah dibentuk oleh 3 faktor
·         Pertama, berakar pada ide PL yang disebut ephifani eskatologis Yahwe (penampakan eskatologis Allah Yahweh yang membentuk pemahaman Kerajaan Allah)  dalam penghakiman untuk menghukum orang fasik (musuh Israel) dan memberi hadiah pada yang adil/benar (Israel). Ketika di Mesir, Kerajaan Allah yang dipahami  Israel adalah pembebasan oleh Musa dan penghukuman Firaun dan para pembesarnya dan Allah memimpin mereka.
·         Kedua, pemahaman yang baru oleh Daniel akan kerajaan yang bersifat transcendental (Beyond man’s knowledge: melampaui pemikiran manusia tetapi justru didalam Kristus datang kepada manusia) realita sorgawi dengan konsekuensi pembebasan umat Allah. Dalam Daniel pasal 1-6 itu bersifat narasi historis, dalam pasal 7 sampai selesai bersifat apakaliptik (nubuatan), dalam penglihatan Daniel akan datang anak manusia sebagai raja yang memimpin dalam kerajaan yang kekal, itulah nubuatan yang mesianis.
·         Ketiga, Masa yang lama pemerintahan Gentile (Yunani) atas Palestina yang sangat merindukan pembebasan, identitas nasional dan kebahagiaan (revolusionary movement). Maka mereka menganggap sebuah gerakan yang revolusioner, yaitu pembebasan Israel dari Roma menjadi sebuah Negara yang berdaulat (mesias politis), ternyata yang datang bukan mesias poilitis tapi mesias yang menderita dalam Yesus Kristus.
Meskipun terminologi Kerajaan Allah jarang dalam Yudaisme, tetapi ide itu secara eksplisit sebagai Kerajaan Mesias atau implisit dalam deskripsi era Mesianis

d.      Yesus dan Kerajaan Allah
·         Kerajaan Allah adalah merupakan pusat atau inti misi dan pondasi etika Tuhan Yesus,
·         Dalam PB Kerajaan Allah merupakan sentral dari khotbah dan pengajaran Yesus (14x dalam Injil Markus, 32x dalam Lukas, 4x dalam Matius dan 2x dalam Yohanes). Yesus selalu berkata “demi Kerajaan Allah” “Injil Kerajaan Allah” “mendatangkan Kerajaan Allah” “Kerajaan Allah adalah seperti…” tapi seringkali orang memisahkan Yesus Kristus dengan Kerajaan Allah
·         Dalam pengajaran Yesus, diskusi tentang Kerajaan Allah berkutat pada dua pertanyaan, yaitu tentang karakter dan kesegeraan (imminence) dari Kerajaan Allah itu.
·         Pandangan Yesus akan Kerajaan Allah dihubungkan dengan kontinuitas janji PL dihubungkan dengan apokaliptik Yudaisme khususnya Daniel namun berjalan melampaui pemikiran mereka:. Yesus yang datang itu melampaui pemikiran Israel dari konsep PL dan Yudaisme
·         Kerajaan Allah bersifat dinamis bukan geografis
·         Dihubungkan dengan tujuan (destiny) kedatangan Anak Manusia
·         Masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan berdasarkan perjanjian (covenant) atau mengurung (confined) ke dalam keyahudian
·         Kerajaan Allah bersifat pasti dan segera (definite and imminent) bukan sebuah pengharapan yang kabur, sehingga membutuhkan respon yang cepat.

Injil sinoptik menyajikan Yesus sejak awalnya dengan berita bahwa Kerajaan Allah telah dekat (the Kingdom of God was at hand NIV)  lih. Mrk 1: 15, karena itu harus diresponi dengan sebuah pertobatan. Kesannya adalah bahwa eschaton (akhir zaman) telah ditarik dekat; janji yang lama akan Kerajaan Allah hampir muncul/kelihatan; ada masa untuk memutuskan KA telah datang
Kerajaan Allah disampaikan dengan 2 cara, yaitu

1.      Kerajaan Allah membentuk inti atau pusat pengajaran Yesus
2.      Kerajaan Allah dikonfirmasi melalui karya-karya-Nya yang mahakuasa (Mt 4: 23; 9: 35). Dan komponen ketiga adalah bahwa Kerajaan Allah tidak dapat dipisahkan (inextrecably) namun dihubungkan dengan pribadi Yesus sebagai Anak Manusia. Setiap kali Yesus mengusir setan, menyembuhkan, memberitakan Injil dan ada orang yang bertobat, Kerajaan Allah ada disana

e.       Syarat & Tuntutan KA
Kerajaan Allah telah dekat, karena itu bertobatlah dan percaya kepada Injil - konversi (Mrk 1: 15; Mt 4: 17 “…….”). Mat 5-Mat 7 adalah etika/praktika hidup warga Kerajaan Surga, maka sebelum mereka dituntut memiliki etika warga Kerajaan Surga maka mereka harus menyambut datangnya kerajaan surga itu. Orang dituntut memiliki etika Kerajaan Surga jika dia sudah masuk dalam Kerajaan Surga. Ketika kita sudah lahir baru kita sudah masuk dalam Kerajaan Surga tapi belum (all ready but not yet), keselamatan sudah diterima ketika menerima Yesus Kristus sebagai jurusalamat, tapi kesempurnaan keselamatan itu akan kita terima ketika Yesus Kristus datang kedua kali, dipakai kata konversi artinya kita berhenti melakukan kejahatan sebagai pernyataan iman dan melangkah mengikut Yesus. 
Injil adalah Kabar Baik tentang kasih dan kemahakuasaan Allah, yakni apa yang sudah Allah kerjakan untuk menebus manusia berdosa. Injil berbeda dengan Taurat, taurat bukan kabar baik, karena taurat sebuah proses dimana kita melakukan tuntutannya supaya kita diselamatkan, dan hal itu tidak akan terjadi. Injil menjadi good news karena Allah telah mengerjakan sesuatu yaitu mengorbankan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dan membenarkan kita dan itu sudah terjadi. Injil adalah “what God has done” bukan “will do”. Iman yang dibutuhkan adalah iman seperti anak-anak agar bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mt 18: 3; Mrk 10: 14). Karena anak-anak itu memiliki ketulusan dan tidak perlu berpikir panjang untuk mengikuti orangtuanya.
Iman itu bukan lip service atau bahkan penggunaan nama Yesus untuk sebuah mujizat, melainkan menunjukkan atau melakukan kehendak Allahlah yang membuka pintu ke dalam Kerajaan Allah (Mt 7: 21-23 “bukan setiap orang yang berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga”). bukan menjadi sebuah mantera ketika mujizat terjadi, melainkan melakukan kehendak Allahlah yang membuka pintu kedalam Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah harus diarahkan ke seluruh aspek kehidupan baik bersifat vertikal maupun horizontal (bd. Lk 4: 18-19). Vertikal yang dilakukan Yesus Kristus adalah ketika orang beriman kepada Yesus Kristus, maka  ia pindah dari dalam kerajaan maut kepada Kerajaan Allah dan secara horizontal Yesus Kristus lakukan dengan penyembuhan dan pengusiran roh jahat  dari orang yang kerasukan. Menghadirkan Kerajaan Allah atau Injil Kerajaan Allah diberitakan menjadi sebuah kabar baik yang membawa pembebasan yang bersifat vertical dan horizontal. Yesus mengutip drLuk 4:18-19 “Roh Tuhan ada padaKu oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan  tahun rahmat Tuhan telah datang”, menghadirkan Kerajaan Allah bersifat holistik, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Maka sebagai orang yang beriman, wajib memiliki etika kerajaan surga.

f.        Etika Warga Kerajaan Allah
·         Sebagai kesinambungan etika PL berdasarkan hukum Taurat di mana tuntutan etika Yesus melampauinya (Mt 5-7; Lk 6: 17-49). Mat 5: “Kamu  telah mendengar firman :jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu : setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya, sudah berzinah dengan dia  di dalam hatinya.”  Tuntutan PL berzinah adalah hubungan fisik, tetapi tuntutan Yesus Kristus lebih tinggi, “menginginkannya”  adalah sudah berzinah.  Ini melampaui tuntutan PL.  Mat 22:37-40 “Hukum kasih” semua tuntutan taurat akan relasi kepada Alllah dihimpun dalam satu kalimat “mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi”.  Semua tuntutan Allah dari hukum 5-10 dihimpun dengan satu kalimat “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Injil Matius mengatakan bahwa etika warga Kerajaan Surga harus melampaui taurat dan juga berbeda sense, yaitu  sebagai ucapan syukur kapada Allah yang mengasihi manusia sehingga hal itu menjadi inner drive. Kita tidak berzinah bukan karena takut dihukum tapi karena saya mengasihi Allah dan ingin menyenangkanNya. Mat 5:17 “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum taurat…” jadi taurat tidak pernah dibatalkan justru digenapi dengan kedatangan, kematian kebangkitan Yesus Kristus. Jika orang Farisi dan Yahudi gigih ingin melakukan taurat supaya diselamatkan, bukankah kita yang sudah diselamatkan oleh Injil harus memiliki hidup yang lebih baik dari mereka?
·         Dengan iman percaya dan pertobatan (konversi) seseorang masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mt 4: 17), maka dia harus memiliki etika warga Kerajaan tersebut (Mt 5-7)
·         Etika warga Kerajaan didasarkan pada datangnya Kerajaan Allah yang membawa shalom kepada semua ciptaan. Yang diselamatkan hanya manusia berdosa yang beriman, tapi shalom Allah harus terjadi bagi seluruh ciptaan Allah. Inilah yang disebut dalam Wahyu 21 “langit dan bumi yang baru”

g.       KA dalam perdebatan Modern
Berpusat pada tiga pertanyaan:
1.      What is the essence?
2.      How is it related to Jesus’ person and work?
3.     When does it come?

h.      Kerajaan dan Anak Manusia
·         Tujuan Anak Manusia secara langsung dihubungkan dengan kedatangan Kerajaan Allah
·         Perbuatan Anak Manusia, khususnya mengusir setan-setan dan pengadaan mujizat merupakan bagian integral proklamasi Kerajaan Allah, namun hal itu harus dilihat bukan sebagai indikasi peristiwa aktual peristiwa KA tetapi penyataan Anak Manusia yang menentang kuasa si jahat dalam karya-Nya yang memungkinkan masuknya seseorang ke dalam Kerajaan Allah dalam sejarah manusia.  Totalitas hidup aspek manusia hrs mengalami pembaharuan dengan hadirnya Kristus, hadirnya Allah, kebenaranNya dinyatakan, otoritasNya diakui, itulah kehadiran Kerajaan Allah dalam hidup manusia.
Karena itu doa Bapa kami “datang lah KerjaaanMu di bumi seperti di surga” artinya Allah hadir, berdaulat, memimpin, kebenaranNya dinyatakan dan diikuti, kedulatanNya dibuktikan, kuasa dan kasihNya dinyatakan, itulah datangnya Kerajaan Allah yang kita doakan, kini dan disini. Perhatikan Mat 6:33 “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya”artinya : selain kita masuk dalam Kerajaan Allah bagaimana Kerajaan Allah bertahta dalam diri kita dan kita terhisap ke dalamnya kedalam etika, esensi, otoritas dan kebenarannya. Karena itu ada jaminan Tuhan akan memelihara.

i.         Kerajaan Allah & Gereja Masa Kini
Yesus mengambil konsep PL dan mentrasformasikannya dari pemikiran sempit akan pengharapan nasionalistik ke hal universal, tataran spiritual di mana manusia dapat mencapai kegenapannya pada keinginan yang ultima  (bukan parsial atau segmentatif) akan kebenaran, keadilan, damai, sukacita, kebebasan dari dosa dan kesalahan, dan restorasi hubungan dengan Tuhan, sebuah tatanan di mana Allah sebagai Raja. Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah dan menhadirkan Kerajaan Allah.
Gereja tidak berusaha supaya Kerajaan Allah menjadi dekat, melainkan karena Kerajaan itu telah dekat (is at hand) maka gereja bermisi. Kita tidak sedang membawa-bawa Kerajaan Allah kemana-mana, tapi karena Kerajaan Allah sudah “is at hand” maka gereja bermisi membawa org datang ke dalam Kerajaan Allah dengan memberitakan Injil dan kita memanggil orang untuk masuk kedalam Kerajaan Allah dengan misi yang holistik. Kerajaan Allah sudah dekat, maka bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat maka kita harus bermisi memanggill orang untuk beriman dan datang kepada Kristus.
Fakta bahwa persoalan mendasar manusia adalah dosa dan alienasi dari Allah adalah sebagai fakta kebenaran, maka berita Kerajaan Allah merupakan hal yang sangat relevan. Maka ada restorasi relasi, status antara Allah dan manusia berdosa melalui ini.
Every age has to find its own appropriate forms for expressing the ever-relevant message of Jesus on the Kingdom of God. Setiap generasi/zaman harus menemukan bentuk yang tepat untuk menyatakan hal-hal yang sangat relevan akan Kristus tentang Kerajaan Allah. Dalam bentuk apakah kita harus menghadirkan Kerajaan Allah?The forms may change but the essence remains. Metode, strategi, dan bentuk bisa berubah tapi esensinya tidak pernah berubah. Karena itu kita harus menghadirkan nilai kerajaan Allah dalam keluarga, pekerjaan, gereja, didalam perjalanan hidup kita, kita terhisap pada nilai kerajaan Allah dan misiNya. Yoh 3:3 “jikalau seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” . Kita yang telah beriman kepada Kristus bagaimana kita bedoa mendatangkan Kerajaan Allah yang telah dekat itu, dan bagaimana kita sebagai orang percaya mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya dan bagaimana kita terlibat dalam berita kerajaan  injil dan kerajaan Allah. 


SOLIDEO GLORIA

Jumat, 24 Agustus 2018

SPIRITUAL CHECK UP

Oleh : Herlina Silitonga, STh, MA



Hendry Nouwen seorang penkhotbah yang terkenal, di tahun 41 tahun pelayanannya barulah ia mengalami aapa artinya spritualitas. Apa yang dialami selama 40 th? Ia seorang pengkhotbah yg sangat banyak diundang berkhotbah. Ia merasakan bahwa dalam kesibukan pelayanannya justru ia kehilangan Tuhan. Dalam konseling dan pelayananya kelihatan ia sangat baik, tetapi ia mengalami kekeringan. Ia sampai pada titik, dimana ia bertanya apa yang sebenarnya ia cari.  Ia memutuskan untuk tinggal dipanti anak-anak cacat untuk melayani disana. Di tempat itu ia banyak menulis buku-buku tentang spiritualitas. Ketika ia hidup di antara anak-anak cacat itulah ia merasakan dan menikmati spiritualitas dengan Tuhan.


·         Apa itu Spiritualitas?
          J.H. Gondowijoyo mengatakan dalam bukunya Membangun Keintiman dengan Bapa: ”Hakikat kehidupan rohani kekristenan (spiritualitas)  yang sejati adalah perjumpaan – pertemuan, yaitu berjumpa dengan Bapa, berjumpa dengan Yesus dan berjumpa dengan Roh Kudus; Perjumpaan itu terjadi lewat hubungan (relasi).” Jadi spritualitas itu adalah perjumpaan, relasi antara kita orang-orang yang telah percaya kepada Kristus dengan Allah tritunggal. Sama seperti ketika kita memiliki relasi dengan seseorang karena kita sering bertemu.

          Vaughan Roberrts mengatakan : “semua orang Kristen adalah makhluk spiritual karena seperti yang dikatakan Paulus bahwa if anyone does not have the Spirit of Christ, they do not belong to Christ (Rom 8:9). Artinya bicara soal spiritul berarti bicara relasi/hubungan seseorang dengan Roh Kudus yang dianugerahkan Bapa dalam diri orang percaya, sehingga melaluiNya orang percaya dapat berinteraksi dengan Allah Tritunggal.”

          Peter Scazzero dalam bukunya Emotionally Healthy Spirituality mengatakan bahwa:”Spiritual itu tidak bicara tentang pengetahuan tentang Allah, terlibat dalam pelayanan dan aktifitas kristiani; tetapi bicara bagaimana pengaruh Kristus dalam batin/jiwa seseorang.” Spiritualitas bukan berbicara tentang apa yang kita ketahui tentang Tuhan, apa yang kita lakukan dalam pelayanan, hal-hal rohani yang kita lakukan, tetapi spiritualitas berbicara tentang pengaruh Kristus dalam batin atau jiwa seseorang. Sehingga perlu kita renungkan “Seberapa besar pengaruh Yesus didalam hidup kita?”

          Dari Artikel di internet disebutkan bahwa :
          Spiritual berasal dari kata spirit + ual , spirit mengandung arti semangat, kehidupan, pengaruh, antusiasme; spiritus adalah bahan bakar dari alkohol. Spirit itu mahluk, sesuatu yang hidup dan dapat diajak komunikasi. Sehingga interaksi dengan spirit yang hidup itulah yang disebut sebagai Spiritual.” Jika kita memiliki spiritual yang baik, berarti ada gairah,  ada bahan bakar yang membakar semangat kita,

          Kesimpulan :
          Bicara soal spiritual seharusnya bukan suatu yang ribet atau kompleksitas....tetapi bicara soal interaksi, komunikasi, gairah yang dinikmati antara dirinya dengan Tuhan. Bukan bicara tentang tingkah laku dan pikiran... tetapi jiwa/batin yang menikmati kehadiran Allah dalam hidupnya. Ada ikatan emosi, relasi antara kita dengan Tuhan.
Sekalipun spiritualitas bukan sesuatu yang kompleks tetapi juga sesuatu yang sulit untuk dilihat atau dialami terus menerus. Spiritualitas kita adalah sebuah komunikasi dengan Tuhan, bahkan lewat lagu yang kita nyanyikan dan ekspresikan, hati dan pikiran kita menyatu dengan lagu yang kita nyanyikan. Coba kita pikirkan apakah dalam 24 jam sehari, kita dapat merasakan dan mengalami kehadiran Allah. Di kantor atau tempat kerja, apakah kita bertemu dengan Tuhan dalam pekerjaan kita? Bagaimana kita sebagai orang yang sudah  sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan dapat menjadi garam dan terang bagi dunia, jika kitapun tidak/kurang mengalami kehadiran Allah dalam hidup kita sehari-hari?

Mari kita membaca dari Lukas 10:38-42
Di ayat 38 “Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumah nya yang menerima Yesus adalah Marta, bukan Maria.
Di ayat 39-10 ada paradoks, Maria duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Yesus, sementara Marta memilih untuk menyediakan semuanya dan tidak bersama Yesus, padahal yang menerima Yesus adalah Marta (ay 38) . Dalam NIV disebutkan “but Martha was distracted by all the preparation that have to be made”. Maria menikmati persekutuan dan pengajaran Yesus (ada relasi), tetapi Marta terdistraksi oleh persiapan-persiapan untuk melayani Yesus.ayat 40-42 kita melihat apa sebenarnya yang diinginkan oleh Yesus.
Ayat 40 "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."  Tetapi Yesus menjawab “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Marta mengira Yesus akan mendukungnya tetapi Yesus menginginkan apa yang dilakukan Maria, yaitu duduk bersama dengan Yesus, menikmati persekutuaan dengan Dia.

·         Ada 2 Point yang ditekankan dalam perikop ini :
1.   Ternyata Yesus menginginkan relasi, komunikasi, interaksi, kedekatan emosional yang terbangun. Yang mana relasi itu membentuk sebuah ikatan yang menggairahkan dan menghidupkan kita; semangat yang beda dalam hidup kita. Yesus menginginkan setiap orang mengalami relasi, keintiman dengan Tuhan. Kita perlu menemukan  momentum-momentum untuk terus merasakan kedekatan dengan Tuhan, di tengah-tengah kesibukan kerja atau pelayanan kita. Kita harus datang kepada Tuhan, menanti dalam diam pertolongan Tuhan
Henry Nouwen mengatakan “Tanpa memiliki kesendirian dengan Tuhan sangatlah tidak mungkin untuk hidup dalam suatu kehidupan yang rohani. Kesendirian berarti memberi tempat bagi Allah berbicara kepada kita”. Kita perlu memberi waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan
2.   Kekuatiran dan menyusahkan diri dengan banyak perkara menjadi hambatan untuk membangun relasi dengan Allah. Martha terdistraksi dengan persiapan-persiapan melayani Yesus. Ingin menjadi tuan rumah yang baik bagi Yesus dan murid-muridNya, ngin supaya tidak ada yang tidak beres.... menggeser fokus Martha dari Yesus kepada perkara yang bukan utama.
Martha ingin memberi pelayanan yang baik bagi Yesus dan murid-muridNya, tetapi hal itu menggeser fokus Martha pada pengajaran Yesus. Apa hal-hal yang bisa menggeser perjumpaan  kita dengan Tuhan?  Apakah kekuatiran, karir, penghasilan, kesehatan, keluarga? Hal-hal itu harus diatasi, supaya kita dapat kembali bisa menjaga relasi yang dekat dengan Allah. Kita juga masih bisa disibukkan oleh perkara-perkara yang akan membuat kita sulit memberi prioritas untuk berjumpa dengan Tuhan. Kita harus menyediakan waktu untuk Tuhan. Spiritualitas berbicara tentang keseluruhan hidup kita, bukan hanya persekutuan pribadi 15-30 menit setiap hari.
·         5 Point Membangun Spiritual
1.   Turning to-the Longing to see God’s face. Kita membuka perasaan-perasaan sedih kita supaya kita dapat berjumpa dengan Allah. Ketika kita mengalihkan perasaan sedih, negative yang sedang kita alami, di saat itulah kita bertemu dengan Allah.
2.   Stopping-the Turning point to Silence. Mengambil waktu istirahat beberapa menit/hari, per minggu, per bulan, per tahun. Dan dalam refleksi ini kita mengingat kembali apa yang terjadi dalam hidup kita, melatih untuk mendengarkan apa  yang Allah ingin katakan kepada kita. Jika ada waktu untuk bisa ret-ret pribadi adalah hal yang baik.
3.   Turning to-Meditation of Scripture. Membaca satu bagian firman Tuhan dan merenungkannya secara pribadi. Dapat divariasikan dengan membacanya di ruangan terbuka.
4.   Turning to-Examining my heart. Menguji apa yang menjadi motivasi kita melayani atau melakukan sesuatu. Apakah motivasi nya murni atau ada maksud-maksud lain dibaliknya.
5.   Turn to-Holines. Kita harus membangun kekudusan hidup. Jika kita tetap hidup didalam dosa, kita akan tertutup untuk menikmati kehadiran Tuhan dalam hidup kita (1 Kor 5:9)
Dimanakah posisi spiritualitas kita sebagai alumni yang sudah hidup didalam kasih Tuhan? Apakah kita merasa lebih dekat dengan Tuhan ketika kita baru bertumbuh? Seharusnya semakin dewasa iman kita, kedekatan kita kepada Tuhan akan makin meningkat. Tidak ada kata terlambat untuk membangun spiritualitas yang benar. Mari membangun spiritualitas yang benar pada Allah, makin menikmati Tuhan menyatakan kasihNya, damaiNya, diriNya kepada kita. Kiranya hal itu menjadi motivasi bagi kita untuk tidak semakin disibukkan oleh aktifitas-aktifitas kita tetapi kita makin menjalin relasi yang dekat dengan Tuhan. 

SOLIDEO GLORIA

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...