Jumat, 19 Februari 2016

Visi & Panggilan

(Kotbah ini merupakan Kotbah MBA yang dibawakan oleh Pdt. Parlindungan Situmorang M.Th pada Jumat 17 Januari 2014)


Setiap pribadi harus punya visi, jika tidak maka hidupnya akan berantakan. Visi membuat kehidupan seseorang memiliki arah kemana harus berjalan. Visilah yang menentukan kemana tujuannya. Dan visi harus dimiliki bersama dengan strategi untuk mencapainya agar tidak sekedar impian belaka.


Anak-anak Tuhan seperti kita, saatnya punya pribadi punya visi. Dalam Ams 29:18 dikatakan, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Dalam terjemahan NIV kata yang dipakai untuk wahyu adalah vision. Jadi jika tidak ada visi, maka rakyat akan menjadi liar. Liar di sini bukan menunjukkan rakyat yang sedang huru-hara atau terlibat dalam kerusuhan, tetapi rakyat yang rakyat yang tidak memiliki arah yang jelas.


Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita juga harus memiliki visi agar hidup kita jelas mau kemana. Dengan kata lain kita seharusnya sudah menetapkan mau jadi apa kita 10 tahun lagi. Hal ini bukan mengada-ada tetapi sesuatu yang terencana di mana dalam 10 tahun ke depan kita sudah menetapkan dasar yang membuat kita disebut mapan dalam hidup ini. Supaya hidup kita tidak lagi terombang-ambing ke sana kemari khususnya dalam dunia kerja.


Sebagai anak Tuhan, visi kita dalam dunia kerja haruslah jelas. Mengapa demikian? Jika kita tidak memiliki visi yang jelas maka akan berdampak kepada beratnya pekerjaan yang kita lakukan. Visi yang jelas akan melahirkan misi atau strategi yang mantap untuk mencapai visi itu. Jadi, jika kita tidak memiliki visi, maka tidak ada strategi untuk bisa mengerjakan satu pekerjaan dengan baik, dan hal ini membuat beban pekerjaan itu menjadi sesuatu yang memberatkan. Hal inilah yang membuat anak-anak Tuhan tidak maksimal dalam dunia pekerjaan bahkan cenderung berpindah-pindah pekerjaan.


Saya tidak sedang mengatakan bahwa anak-anak Tuhan dilarang untuk pindah pekerjaan dan harus menggeluti satu pekerjaan sampai akhir. Tidak! Tetapi apa yang membedakannya adalah visi. Ada saat-saat tertentu dimana kita harus ‘banting setir’ dalam pekerjaan karena kita menangkap panggilan Tuhan bagi kita untuk segera bekerja di tempat lain. Semua didasari oleh visi. Visi membuat kita untuk fokus dan lebih maksimal dalam dunia kerja. Dunia juga memahami benar pentingnya sebuah visi demikian juga dengan motivator-motivator terkenal dalam dunia ini.


Banyak orang (dan juga terjadi kepada orang percaya) yang menganggap pekerjaan sebagai kutuk karena mereka tidak memiliki visi. Dalam pandangan mereka pekerjaan itu adalah beban yang merongrong hidup. Keluhan-keluhan senantiasa keluar dari orang-orang seperti ini, khususnya pada hari Senin.


Ada sebuah kisah yang menyedihkan mengenai orang yang tidak memiliki visi ini, yang notabene adalah orang percaya:


Ada teman saya pejabat di departemen dalam pemerintahan. Dia dipercaya atasannya menangani penyaringan penerima beasiswa untuk study lanjut dari Korea Selatan. Dia kemudian membedakan alumni pelayanan mahasiswa dan non alumni pelayanan (atau beragama lain). Hasilnya menyedihkan karena justru betapa yang bukan alumni pelayanan yang jauh lebih baik dalam merespon beasiswa itu, baik dari segi mempersiapkan berkan dan surat lamaran dan juga dari segi semangat dan kuatnya keinginan mereka untuk beasiswa tersebut. Kerinduan mereka yang besar ditunjukkan dengan mempersiapkan diri dengan baik. Akhirnya yang paling banyak menerima beasiswa itu adalah mereka yang bukan Kristen. 


Yang menyedihkan dari kisah di atas adalah bukankah nanti mereka – yang menerima beasiswa – yang akan banyak menempati posisi sebagai pemimpin ketika mereka kembali dari studynya? Hal ini terjadi karena kita tidak memiliki visi dalam hidup kita yang menganggap pekerjaan sebagai kutuk. Sedangkan bagi orang-orang yang memiliki visi, pekerjaan adalah anugerah dan tanggung jawab Allah kepada manusia yang harus dikerjakan dengan tanggungjawab. Visi yang jelas membuat mereka memiliki energy yang meluap dan semangat dalam mengerjakan pekerjaannya.


Visi dalam dunia kerja harus mantap. Jangan menganggap pekerjaan formal itu adalah kutuk karena dosa. Pekerjaaan adalah sesuatu yang alkitabiah. Jangan pernah dualisme dalam memandang hidup dimana kita memandang suasana rohani hanya pada hari minggu, sedangkan sisa hari lainnya itu bukan dunia rohani, tetapi sekuler. Pandangan ini bisa membuat kita memiliki sikap bahwa di luar hari Minggu tidak membutuhkan hal-hal yang rohani. Ini dualisme dan TIDAK alkitabiah. Kita dipanggil bukan untuk dualisme seperti ini. Keseluruhan waktu kita (setiap harinya) adalah waktu untuk Tuhan dan harus mempermuliakan Tuhan. Panggilan bagi kita semua adalah agar tetap mempermuliakan Tuhan di manapun kita berada dan apapun profesi kita. Semua kegiatan dalam mencari nafkah dalam arti positif, adalah tempat bagi kita untuk bisa melayani Tuhan. Jadi bidang apapun kita baik itu kesehatan, pemerintahan, hukum, guru, bisnis, ataupun entertanintment, semuanya adalah ranah atau ladang dimana nama Tuhan harus dipermuliakan. Jadi sepanjang hari kita melayani Tuhan. Jika memahami hal ini dengan baik, ketika kita masuk dalam dunia pekerjaan kita bisa melihat bahwa di sini Tuhan memanggil saya dan saya harus memberikan yang terbaik.

Dalam Mat 9:35-36 dikatakan, “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”, dan dalam Luk 4:18-19, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Bagian Firman ini menggambarkan dunia yang kita layani. Sebuah dunia yang lebih baik ketika kita hadir dan berkarya di situ.


Anak-anak Tuhan tidak hanya dipanggil untuk pelayanan formal (seperti kotbah, dll), tetapi juga dalam dunia kerja. Di tempat kerja kita bisa melakukan banyak hal yang positif seperti mengangkat hidup harkat hidup orang lain sehingga mereka jauh lebih baik hidupnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan seturut dengan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan teladan dalam hal meembuang sampah dan menjaga kota ini tetap bersih, mendidik anak-anak di sudut lorong agar memiliki budaya bersih, juga adalah sesuatu yang baik, dunia dimana kita dipanggil Tuhan. Artinya semua lini kita bisa ambil bagian untuk menunaikan panggilan Tuhan.

Dalam Mat 9:35-36 tadi Yesus mengajar kita bagaimana melihat orang banyak itu. di sini bukan sekedar melihat sepintas dan tidak berbuat apa-apa. Cara melihat kita harus seperti cara melihat Yesus. Bagaimana kita melihat tempat di mana kita bekerja. Bagaimana kita melihat atasan, perusahaan, teman-teman kolega, bawahan, orang yang lalu lalang datang ke kantor, melihat siswa, atau melihat orang tua yang mengantar anak ke sekolah. Apakah kita hanya sekedar melihat sepintas? Sebagai guru bagaimana kita melihat murid-murid? Apakah kita hanya sekedar mengeluarkan ilmu dan seperti senjata menembakkannya kepada mereka? Atau kita ingin anak ini suatu hari kelak menjadi orang yang berguna. Ada passion kita, doa kita, rindukan terhadap murid-murid.

Semua bidang yang bisa kita garap adalah bidang di mana kita bisa memuliakan Tuhan maka di sana cobalah memiliki integritas yang mantap. Kita harus menunjukkan identitas kita sebagai orang percaya yang mungkin salah satunya adalah melalui persekutuan kantor yang kita usahakan. Kita bersyukur bahwa di Medan sekarang banyak kantor-kantor yang sudah memiliki persekutuan. Ini menjadi tempat bagi mereka untuk saling menopang dan menjaga kualitas hidup mereka. Mari bertindak nyata untuk membangun kerohanian yang baik dalam dunia kerja masing-masing. Jangan tinggalkan atau lupakan persekutuan atau upaya untuk memajukan Kerajaan Allah, apapun pekerjaanmu.


Dalam mengerjakan hal ini kita juga butuh pengaturan waktu yang baik. kita harus tahu kapan haru melayani dan kapan harus bekerja. Mari bertanggung jawab terhadap waktu kita ketika berada di tempat kerja. Kita juga harus menunjukkan bahwa kita adalah orang yang suka kerja keras. Jangan sampai dikatakan orang bahwa kita adalah seorang yang pemalas. Tetapi kita dengan semangat yang kuat mengerjakan setiap pekerjaan kita dan hal ini menjadi berkat bagi orang lain.


Kemudian kita juga memerlukan ketekunan agar jangan cepat menyerah. Mari melakukan yang terbaik. Kita juga harus menjaga kejujuran. Jangan sampai ada anak-anak Tuhan yang ditangkap oleh KPK. Sekecil apapun kita harus jujur termasuk dalam penggunaan keuangan. Bertanggung jawab dan sikap positif dalam situasi apapun. Inilah keistimewaan anak-anak Tuhan.


Jika kita memiliki cara pandang seperti ini, visi dan panggilan hidup seperti ini kita jalani, pasti kita keluar sebagai yang terbaik dari antara yang baik. Ada banyak orang di luar sana yang baik-baik, tetapi kita bisa muncul menjadi yang terbaik. Panggilan mari terus menerus memaksimalkan hidup untuk memuliakan nama Tuhan.


Solideo Gloria!

DATING & INTIMACY

Oleh : Drs.Tiopan Manihuruk, MTh 





Jenis cinta: Agape: spiritual love, giving – not getting from each, cinta yang sejati seharusnya saling member, jika tidak, nafsulah yang menguasai dan akan muncul eksploitasi. Dalam cinta agape ada pengampunan tanpa batas. Jika dalam masa pacaran kita sulit untuk mengampuni, akan sulit untuk menikah.


Tujuan hubungan yang pertama: keduanya saling mendorong untuk lebih dekat kepada Tuhan, jika dia tidak mendorong kita makin dekat dengan Tuhan, makin setia dan taat, mungkin perlu dievaluasi apakah kita benar-benar akan meneruskan hubungan. Kedua : laki-laki memimpin, perempuan menginspirasi, pria harus menjadi pemimpinnya/imamnya, dan wanita menginspirasi. Pria memimpin agar lebih murni dan suci jalan hidup mereka; Wanita mendorong, menguatkan dan menyegarkan sang pemimpinnya Sex is like a fire!Sex goes wrong for the same reason that a fire destroys (Time – Place – Flame) Seks itu seperti api, jika tidak digunakan, akan aman, tapi jika api dinyalakan akan dapat membakar bahkan menghanguskan. Tujuan seks diberikan Allah adalah :recreation and reproduct. Manusia akal budinya menguasai seks sedangkan binatang hidupnya dikuasai seks.


Lima Rumus dalam dating Pertama : Avoid the ‘steady relationship’ until God’s time. Terlalu lama dan sering bertemu membuat terlalu familiar/biasa dan dapat menimbulkan masalah karena lebih toleran akan hal yang salah. Hindari hubungan yang sangat dekat/intim, sampai waktunya menikah. Kedua : keep busy and active, tetaplah memiliki kesibukan. Ketiga : stay away from ‘bad scenes and discussions’, hindari topik yang berhubungan dengan pornografi/pornoaksi, pacaran ditempat gelap akan membuat godaan untuk berbuat dosa. Keempat : prepare and ready for marriage spiritually, physically, emotinally and mentally, mari membangun persiapan dalam pacaran itu secara rohani, batin, emosi dan mental, bukan fisik, karena itu tidak akan ada seks sebelum pernikahan. Kelima : don’t get involved with anyone until your wedding date (no primarital sex), jangan pernah melakukan keintiman dengan siapapun sebelum pernikahan. Be satisfied with spiritual communion and conversation, puaskah kita berpacaran dengan dia secara rohani, dan dapat berkomunikasi dengan nyaman? Keep your life holy and pure. To stay clean, stay away. Tubuh adalah Bait Allah, karena itu jaga tubuh kita dengan menjaganya tetap kudus 1 Kor.6: 19; 1 Kor.10: 23. bd. Kol.3: 17, 23.Lust can only wait for five minutes; Love can wait for five years, nafsu hanya akan tahan menunggu 5 menit tetapi cinta dapat menunggu bertahun-tahun, karena itu hindari hal-hal yang dilakukan yang dapat menimbulkan birahi. Jika dia benar-benar mencintai, dia akan sanggup menunggu. 


Salah satu ujian cinta sejati: dapatkah anda mendaftarkan 5 cara bagaimana anda bisa menarik dia lebih dekat kepada Tuhan.Bila ya, engkau tulus mencintainya! Hawa nafsu akan terjadi saat seseorang diperbudak oleh sensasi-sensasi erotis, Hawa nafsu tidak akan memberi kepuasan melainkan ketagihan dan kebencian bd. Kasus Tamar dan Amnon, mendorong kepada perlakuan seks yang tabu atau patologis dengan segala bentuk pornografi serta kecanduan yang berlebihan dan akan sulit untuk bisa lepas dari dosa ini, dominasi hawa nafsu seks akan melahirkan eksploitasi ,Unless a dating couple can be satisfied in Christ alone, they are NOT in love, jika pacaran itu tidak mencapai kepuasan dalam Kristus maka itu bukan cinta.Kedekatan fisik (bukan hati) dapat menimbulkan sebuah BOM yang dapat meledak kapan saja.Petting, necking, hugging and kissing adalah proses alami menuju hubungan sexual dalam pernikahan Pria tertarik/terangsang dengan pandangan mata; Wanita melalui sentuhan dan pendengaran, maka bagi wanita berpakaian sopan akan menghindari godaan ini, dan hindari sentuhan yang dapat merangsang hormonal bereaksi. Masa pacaran adalah kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam, mengerti, menerima, memperhatikan dan membangun , karena itu gunakan untuk proyek bersama, misal: baca buku; KTB, jam doa, pelayanan dan kunjungan Kemesraan adalah keharmonisan dalam kesucian . Masa pacaran adalah salah satu tahapan untuk mencari pimpinan Tuhan.


Beberapa indikator pacaran yang benar :
* Apakah selama pacaran keduanya semakin bertumbuh dan mengasihi Tuhan?
* Bangun kebersamaan yang kondusif dan membangun. 1 Kor.10: 23
* Jauhi pornografi dan aksi
* Hindari obrolan,bacaan dan tontonan yang dapat merangsang birahi. Kol.3: 17,23
* Isi hidup dengan kegiatan yang membangun – jangan ada kekosongan. Misal: olah raga, musik, game dll. bd. Daud. 2 Sam.11: 1-5
* Bangun relasi yang dekat dengan Tuhan. Mzm.119: 9-11


Kesucian dalam hal seks, kita dapat belajar dari Yusuf (Kej.39: 6b-12, 20), ia menolak (8); sadar batasan antara hak dan kewajiban (9); tahu bahwa hal itu sebuah kejahatan besar (9); tidak mau berdosa terhadap Allah (9); tetap tegar meskipun berkali-kali dirayu (10); lari dari pencobaan (12); rela atau memilih menderita masuk penjara dari pada berdosa (20) Godaan dari istri Potifar ditolak Yusuf, dengan kalimat “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada dirumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknyapada kekuasaanku, bahkan dirumah ini ia tidak lebih besar kuasanya daripadaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain daripada engkau,sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej 39:8-9), walaupun dari hari ke hari, Yusuf dibujuk, ia tidak mau (39:10), dan Yusuf rela difitnah telah melakukan zinah, dan masuk penjara walau ia tidak berbuat salah. 


Dalam masa bertunangan perlu ditambahkan cinta ‘Philia’, friendship, sharing, soulish not selfish yang membuat batin makin menyatu. Tujuan hubungan: sharing yang lebih dalam, mendiskusikan rencana masa depan: keluarga, pekerjaan, anak, gereja, pelayanan, tempat tinggal dst .Capai penuh pertimbangan dan kesiapan mental Jika kita akan merencanakan pernikahan, bicarakanlah tentang kondisi keluarga, akan menjadi jemaat gereja apa, tinggal di kota apa, dalam rangka menyamakan visi.Capai penuh pertimbangan dan kesiapan mental.




Solideo Gloria



Selasa, 09 Februari 2016

YOKE FELLOW

(Kotbah MBA tanggal 30 Januari 2015 yang dibawakan oleh Desmiyanti Tampubolon, STP)



1 Tesalonika 5 :11, 14
Dalam bukunya The Four Loves, C.S Lewis mengatakan: “kekasih-kekasih pada umumnya berdiri berhadapan muka, saling terpikat satu sama lain, teman-teman berdiri berdampingan, terpikat pada minat yang sama. Pernyataan khas yang membuka persahabatan biasanya seperti ini: “Apa? Kamu juga? Kukira cuma aku”. 

Allah menciptakan kita sebagai mahluk-mahluk yang tumbuh lewat interaksi satu sama lain. Dalam Pengkhotbah 4:9-12 dikatakan, “Berdua lebih baik daripada seorang diri karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya. Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan” Keuntungan jika berdua: ada upah yang lebih baik ,kalau ada yang jatuh bisa menolong, tidak mudah dikalahkan.” 

Kata ‘Yoke’ (Ing) memiliki arti ‘kuk’, ‘beban’, sedangkan ‘Fellow’ (Ing) berarti teman atau sahabat. Jadi, Yoke fellow bisa diartikan sebagai teman sejawat atau sahabat, khususnya patner dalam sebuah pernikahan. Itulah sebabnya pasangan disebut sebagi yoke fellow. Yoke fellow juga bisa berarti sahabat berbagi beban, sahabat dalam suka dan duka, sahabat sepenanggungan. Persahabatan menimbulkan goresan bahkan kesakitan, tetapi saat kita berbenturan satu sama lain dalam konflik, kita saling mengasah sehingga terkikis sisi-sisi yang menghambat kita menjadi apa yang Allah rancangkan. Kita saling memerlukan satu sama lain, kadang-kadang kita jatuh, dan membutuhkan orang lain untuk menolong kita. 


Orang bisa saja tidak menikah, tetapi setiap orang harus memiliki sahabat. Dalam persahabatan, kita harus bergaul dengan orang yang memiliki passion yang sama, sehingga dapat saling menguatkan. Jika kita berdiskusi tentang kerinduan kita menjadi pengurus/ melayani pada orang yang sudah kehilangan passion, ia pasti meminta kita untuk tidak usah lagi melayani. Seperti bara api, bara tersebut akan terbakar jika diletakkan di sekeliling bara yang terbakar. Jika bara api kita letakkan sendiri, maka bara api itu akan padam. Karena itu jangan berdiskusi dengan “pemadam” passion.

Kita harus memiliki komunitas yang dapat menolong kita bertumbuh dan tetap setia. Keuntungan hidup dalam komunitas orang beriman:

  • Relasi yang banyak akan membuat pribadi kita lebih baik, bergaul dengan lebih banyak karakter, latar belakang, akan membuat kita semakin dewasa dan bertumbuh.
  • Komunitas memberi rasa saling memiliki dan kebutuhan dicintai. Jika kita memiliki sahabat, kita bisa berbagi suka dan duka bersama, kunjungan di saat sakit/kemalangan.
  • Menyediakan ruang untuk memberi pengaruh yang sehat sehingga dapat berpikir dan bertindak lebih baik.
  • Mampu mengambil keputusan sesuai dengan iman yang dipercayai.
  • Memberi prinsip hidup benar ditengah-tengah pengaruh buruk lingkungan kerja/masyarakat.
  • Mengizinkan kita untuk menguji iman kita apakah sudah sesuai dengan pilihan-pilihan di dunia kerja, jadwal sehari-hari, “pertempuran” pribadi, keputusan-keputusan atau prilaku.
  • Orang yang kurang berteman bisa menjadi orang yang egois, kaku, dan jarang merasakan kesusahan orang lain serta kurang mendapat dukungan dalam masa kesusahan. Orang yang terlalu sibuk dengan masalah sendiri biasanya tidak punya waktu untuk menolong orang lain.

Dalam 1Tes 5:11, 14 kita menemukan ada beberapa hal yang terjadi dalam persahabatan, yaitu:

  • Saling menasihati
  • Saling membangun.
  • Tegorlah mereka yang hidup tidak tertib, kesalahan sahabat harus ditegur agar dia menjadi lebih baik dan tidak menjadi sandungan bagi orang lain.
  • Hiburlah mereka yang tawar hati. Kehadiran sahabat di saat dukacita, sakit, akan sangat menghibur, perhatian-perhatian kecil akan menolong hati yang berduka.
  • Belalah mereka yang lemah. 
  • Sabarlah terhadap semua orang.
  • Kenyataannya, cukup sulit menemukan sahabat sejati seperti itu dalam hidup kita, karena untuk menemukan sahabat sejati, diperlukan komunikasi yang intens, proses kebersamaan yang akan membuat persahabatan itu langgeng.

Hal-hal yang dapat menjadi penghalang menjalin persahabatan:
Perbedaan usia. Akan lebih mudah bersahabat dengan orang yang sebaya dengan kita dibanding dengan mereka yang jauh lebih tua/muda. Orang yang lebih senior cenderung lebih ditakuti untuk dijadikan teman karena merasa tidak mungkin cocok dengan orang yang jauh lebih tua.
Perbedaan karakter. Misalnya perbedaan temperamen seperti Itrovert - ekstrovert, sanguine – melankolis – plegma - kolerik. Seorang yang pendiam cenderung sulit berteman dengan orang yang senang bicara, yang selalu dapat berteman dengan siapa saja.

Perbedaan pertumbuhan rohani. “Dewasa” rohani vs “muda” rohani. Orang yang dewasa rohani, apalagi dia seorang senior, dapat membuat orang-orang semakin takut berkenalan apalagi bersahabat
Perbedaan gender. Perbedaan gender (pria - wanita) juga mempengaruhi. Persahabatan pria-wanita sering dicurigai dapat berujung dengan saling jatuh cinta, sehingga sering dihindari kedekatan dengan lawan jenis, walaupun kenyataannya sahabat berbeda gender tetap bisa bersahabat tanpa saling jatuh cinta.

Perbedaan latar belakang. Misalnya asal fakultas/universitas. Jika kita hanya memiliki teman dari satu fakultas/universitas, kita akan segera kehilangan teman, karena pekerjaan bisa membuat kita dipisahkan oleh kota yang berbeda.
Perbedaan jenis/bidang pekerjaan. Bersahabat dengan orang yang bekerja di bidang yang sama bisa lebih mudah, karena topik pembicaraan tentang pekerjaan akan membuat obrolan menjadi lancar.

Perbedaan minat/hobby. Orang yang sama-sama hoby elektronik akan sangat cocok mengobrol tentang kemajuan/info tentang elektronik dan akan membosankan bagi mereka dengan minat yang berbeda.Tapi dalam alkitab kita melihat persahabatan yang dapat terjadi dengan perbedaan seperti di atas. 

Contoh:
Persahabatan Rut dan Naomi (Rut 1:16 “sebab kemana engkau pergi,kesitu jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam”). Dari segi usia, pastilah Naomi usianya jauh lebih tua dari Rut, dan secara rohani, Naomi pasti lebih lama mengenal Allah dibanding Rut seorang Moab. 

Persahabatan nabi Natan dan Daud (2Sam 12:7-12). Status Daud sebagai raja tidak menghalangi nabi Natan untuk menegur dosanya. Natan berani menegur Daud seorang pemimpin, akan dosanya, dan teguran itu tidak membuat persahabatan mereka berakhir. Orang yang berada di posisi puncak, sering merasa kesepian, karena tidak ada teman yang berani bersahabat dengan dia, tapi Natan menjadi sahabat seorang raja seperti Daud
Persahabatan Tuhan Yesus dengan Lazarus, Maria dan Marta (Yoh 11:1-44, Yoh 12:1-8). Tuhan Yesus Anak Allah bisa bersahabat dengan sebuah keluarga sederhana.

Persahabatan Daud dan Yonatan (1Sam 18:1-3, 1 Sam 20). Yonatan yang seharusnya menjadi pewaris tahta kerajaan dari ayahnya Saul, justru bersahabat dengan Daud yang akan menjadi raja menggantikan ayahnya. Yonatan bersedia mengingatkan Daud dan rela dimarahi ayahnya karena melindungi Daud. Bahkan persahabatan mereka dibuktikan Daud dengan mengangkat Mefiboset (anak Yonatan) menjadi anaknya, setelah Yonatan meninggal.

Kriteria seorang Yoke fellow :
  • Warmth (hangat).
  • Genuineness (tulus).
  • Empathy (merasakan penderitaan orang lain).
  • Perhatian.
  • Mendengar (listening).
  • Support (memberi dukungan).
  • Good interpersonal in God (memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan).
  • Responding (meresponi).
  • Model persahabatan sejati
  • Seorang sahabat sejati selalu berkomunikasi.
  • Memiliki prinsip hidup yang sama, ada kecocokan dalam percakapan tentang apa saja.
  • Saling membangun dan memperkaya.
  • Mau menerima dan dapat dipercaya (Ams 11:12).
  • Bersedia berkorban, bersedia ditegur, bersedia berubah.
  • Jujur, saling mengampuni.
  • Saling mendoakan.
  • Menghindari konflik (Ams 25:8, “Jangan terburu-buru kau buat perkara pengadilan, karena pada akhirnya apa yang engkau dapat lakukan, kalau sesamamu telah mempermalukan engkau?”).
  • Menjaga rahasia (Ams 11:12).
  • Mengusahakan keterbukaan.
  • Ikut serta dalam setiap kemajuan (Ams 2:11, “kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau”).
  • Respon yang tulus.
  • Sahabat sejati adalah seseorang yang kepadanya anda berani untuk berbicara tanpa rasa takut/malu menghadapi kegagalan, memberitahukannya semua kemajuan yang anda capai, orang yang kita percayakan semua rahasia kita.


Apakah bukti seseorang/anda sudah menjadi yoke fellow bagi sesama?
Seorang sahabat yang bisa dengan tersenyum menatap dan bertanya “ada apa”. Hanya sahabat yang akan mengangkat telepon kita pada pukul 4.00 pagi.
Mereka yang bisa melihatmu terluka dari matamu disaat orang lain percaya dengan senyummu. Kepadanya kita tidak dapat menyembunyikan kesedihan/masalah kita.
Sahabat yang bukan menghampirimu ketika butuh namun tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.

Sahabat yang ketika melihatmu akan menangis, akan mengeluarkan hal terkonyol yang akan bisa membuatmu kembali tersenyum.
Sahabat sejati terdiri dari telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami dan tangan yang siap menolong.

Penutup
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Apakah anda ingin ada seorang yoke fellow dalam hidup anda? Mulailah dengan menjadi yoke fellow bagi orang lain, dan anda akan mendapatkan banyak sahabat yang menjadiyoke fellow juga bagi anda.


Solideo Gloria!

Jumat, 05 Februari 2016

Single atau Menikah??

Oleh : Drs.Hasoloan Marpaung & Desmiyanti Tampubolon, STP 



Mari kita membaca dari 1 Korintus 7:8-9, 32-35

Berdasarkan survey menunjukkan ada beberapa sikap/respon orang yang masih melajang :

1. Hidup menutup diri, orang-orang dalam kondisi ini selalu murung, tidak bergairah dan penuh penyesalan, bahkan ada yang benar-benar menutup diri dan tidak menerima lagi ada seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya.
2. Rapuh dan sensitif ,
3. Mementingkan diri sendiri
4. Pergumulan sehubungan dengan masalah sex
5. Kekuatiran akan masa depan, apalagi berbicara tentang masa tua
6. Merasa bersalah, bisa terjadi jika dulu memiliki standar yang terlalu tinggi dalam mencari pasangan hidup
7. Gelisah bila menghadapi pria/wanita
8. Menolak diri sendiri, perasaan ditolak karena penampilan yang kurang menarik hingga akhirnya menolak diri sendiri
9. Kesepian
10. Menerima status lajang sebagai pembentukan Allah untuk menjadi pria/wanita sejati.



Paulus menjawab pertanyaan orang Korintus tentang perkawinan, melajang dan perceraian Dalam 1Kor 7:7 dinyatakan alangkah baiknya jika semua orang seperti Paulus, yaitu tidak menikah, dengan alasan pada 1Kor 7:32-35: Pertama: Memusatkan diri pada Tuhan dan untuk fokus pada Tuhan , sehingga dapat melayani dengan maximal, Kedua: untuk melayani tanpa gangguan, dapat mengambil pelayanan dengan bebas tanpa harus terikat dengan urusan keluarga.



Hal ini tidak berarti ada larangan menikah, karena menikah adalah hal yang baik dan bukan pula lebih “rendah” posisinya dari mereka yang tidak menikah. Tetapi Jika harus melajang pun tetap harus memiliki alasan yang tepat .Dari Matius 19:11-12 ada beberapa alasan kenapa melajang, yaitu:
  • Ada orang yang tidak menikah karena kelainan tertentu (cacat sejak lahir)
  • Karena orang lain (mis.trauma, sakit hati, di istana zaman dulu pengurus istana raja dikebiri)
  • Karena kemauan sendiri (dalam karunia Tuhan memilih untuk sendiri)

Pada 1 Kor 7:8-9 dijelaskan tentang “kawin” dan “kawin lagi”, jadi jelas ada yang single karena melajang dan ada yang single karena sudah menjadi janda/duda (menjadi duda/janda karena kematian, jika bercerai bukan karena kematian, dia harus tetap hidup tanpa pasangannya atau berdamai dengan pasangannya (1 Kor 7:10-11). Bagi Paulus orang-orang seperti ini lebih baik tidak menikah, tetapi diingatkan lagi, hal ini tidak boleh dipaksakan, karena tidak ada nilainya dan yang muncul hanya kehangusan .Jika sampai sekarang masih melajang itu karena ketaatan, penyerahan diri dan kerajaan Allah.Melajang sendiri mempunyai tantangan tersendiri (1 Kor 7:2) yaitu bahaya percabulan, orang Korintus tinggal di sebuah kota yang banyak penyembahan berhala yang berhubungan dengan perzinahan, sehingga pernikahan pada zaman itu tidak dianggap sebagai hal yang kudus, karena banyak yang sudah menikah melakukan perzinahan dalam penyembahan berhala, dan menimbulkan pemikiran apakah jemaat lebih baik melajang.Melajang atau menikah punya tantangan dan pergumulan masing-masing.


Kenapa kita harus menikah nanti akan dijelaskan lebih lanjut.Jika kita yakin akan menikah, pertanyaan berikutnya adalah dengan siapa anda akan menikah? 2 Kor 6:14 “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah yang terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap”. Semua orang percaya pastilah menginginkan pasangannya memiliki karakter kuat dan bertumbuh dalam Tuhan dan mengejar kekudusan. Tapi dalam masa menanti pasangan hidup yang sudah didalam Tuhan inilah banyak yang jatuh dengan pilihan yang salah. Pada kenyataannya, tidak sedikit yang menganggap memilih pasangan hidup sebagai perkara enteng “yah memang karakter dan kesalehan itu penting, tetapi kupikir pacarku juga cinta Tuhan…tentu dengan caranya sendiri”,”dia baik, rajin ke gereja, dia mendukung saya tetap melayani,dia tidak merokok” menjadi alasan klise ketika ditanya tentang kehidupan iman pacarnya, menghabiskan energi untuk menutup-nutupi ketiadaan iman dan kelemahan pacarnya supaya bisa diterima oleh teman- teman dan komunitasnya. Kelemahan para pria lebih terpikat pada wanita yang cantik, Amsal 31 sudah mengingatkan untuk memilih seorang istri yang lebih banyak bobot dalam perkara-perkara yang kekal (‘Istri yang cakap siapakah mendapatkannya? Ia lebih berharga dari permata’ Amsal 31:10). Faktanya tubuh perempuan mengalami perubahan lebih cepat daripada karakternya . Jika kita mendapatkan pasangan yang cantik/ganteng dan bertumbuh didalam Tuhanitu adalah sebuah berkat yang luar biasa, tetapi penampilan fisik jangan menjadi prioritas utama dalam memilih teman hidup.


Jika dia bukan jenis pria/wanita yang mendasarkan hidupnya pada misi kudus saat berpacaran, apa yang akan membuatnya mengejar kekudusan setelah resepsi pernikahan? Banyak yang dengan gampang menganggap bahwa nantinya pasangannya itu pasti bisa bertobat, bisa berubah lebih baik, bisa taat pada Tuhan, dan kenyataannya banyak terjadi kegagalan dan luka selama pernikahan itu. Pastikan anda mengenali calon pasangan anda dengan baik, sehingga tidak melangkah ke pernikahan dengan tergesa-gesa, orang yang berhikmat bersedia menunggu, sabar, memutuskan tanpa berpikir atau bertindak diatas dasar perasaan yang sedang berkobar-kobar memang menggoda tetapi bodoh (Amsal 29 :20 “Kau lihat orang yang cepat dengan kata-katanya, harapan lebih banyak bagi orang bebal daripada bagi orang itu” ). Memutuskan menikah dengan tergesa-gesa sama seperti memutuskan mendaki gunung Everest tanpa latihan, tanpa mempersiapkan perlengkapan apa yang perlu dibawa seperti berapa paku pemancang untuk mendaki, sepatu apa yang harus dipakai, berapa banyak jaket pelindung dan penutup kepala untuk menahan dinginnya gunung Everest.


Bagaimana mengisi masa penantian dengan bahagia dan penuh makna ?
  • Berdoa (Mat 7:7-11), jika kita yakin menikah mari mendoakannya dengan sungguh-sungguh
  • Tujuan seorang Kristen adalah menjadi serupa dengan Kristus
  • Matangkan pemahaman tentang pernikahan Kristen sesuai dengan rancangan Tuhan
  • Menjalin friendship, mengenal keunikan dan bergaul dengan lawan jenis secara positif
  • Terus belajar untuk peka akan kehendak Allah
  • Bertumbuh dan melayani tanpa gangguan
  • Atasi dorongan sexual dengan datang kepada Tuhan
  • Hadapi tuntutan keluarga dengan menunjukkan teladan , berikan penjelasan kepada keluarga supaya mereka mengerti konsep kita, jangan menghindarinya
  • Jadilah pria/wanita sejati bukan patung dingin
  • Trust and obey
Sekarang kita berbicara mengenai pernikahan, kita membaca dari Kejadian 1:26-28. “God blessed them and said to them , be fruitful and increase in number; fill the earth and subdue it . Rule over the fish and the birds of the air and over every living creature that moves on the ground” (ayat 28 versi NIV).Ini adalah cara Tuhan memakai manusia untuk memimpin bumi, mengelola seluruh semesta, jika manusia tidak jatuh kedalam dosa pasti tidak ada illegal logging, kerusakan alam.

Hakikat Pernikahan Kristen adalah : komitmen total diantara seorang laki-laki dan seorang perempuan dihadapan Tuhan dan sesama. Dasar Pernikahan yang baik :
Kesadaran bahwa pernikahan adalah kemitraan mutual yang melibatkan Tuhan (FirmanNYa) secara proaktif dalam segala pengambilan keputusan (tidak ada satu keputusan penting dalam hidupnya yang tidak disesuaikan dengan kehendak Tuhan)
Merupakan rencana ilahi yang special
Pernikahan Kristen ; Perjanjian (covenant) ‘to love and to be loved’ dicintai dan mencintai
Menurut R.C. Sproul : pernikahan bukan hasil dari suatu perkembangan kebudayaan manusia. Institusi pernikahan ditetapkan seiring dengan penciptaan itu sendiri. Menurut John Stott: perkawinan bukanlah temuan manusia . Ajaran kristen tentang topik ini diawali dengan penegasan penuh kegembiraan bahwa perkawinan adalah gagasan Allah, bukan gagasan manusia. Perkawinan sudah ditetapkan sebelum masa kejatuhan manusia ke dalam dosa. For married and to be married couple (bagi orang-orang yang akan menikah ataupun yang telah menikah harus sungguh-sungguh mencermati keberadaan Allah (Pay close attention to God’s existence), serahkan (surrender) semua otoritas dalam lembaga ini kepada Tuhan ( FirmanNya) pengambilan keputusan melalui trialog bukan dialog (suami, Isteri dan Tuhan), komitmen perjanjian sumur hidup(hal ini berarti tidak ada perceraian, sekalipun disakiti akan tetap bertahan, tidak ada alasan untuk tidak menepati janji). Kenapa?? Karena janji ini bukan hanya janji pada lembaga tetapi janji pada Tuhan bukan pada manusia, karena itu bergantung pada kekuatan Allah dalam menjalani pernikahan. 


Pernikahan Kristen pada dasarnya juga adalah suatu kesaksian(kesaksian Kristen melalui wadah keluargayang menjadi teladan/pola),merupakan tempat persiapan dan latihan anak-anak menjadi suami isteri dan orang tua (anak-anak akan belajar dari orangtuanya, jika orangtuanya tidak mengasihi, maka anak-anak pun kurang mengasihi, jika orangtua sulit memberi, maka anak-anak pun akan demikian),Gained patron implemented (pola yang didapat dalam keluarga akan menjadi pola anak-anak), Pasangan nikah merupakan reflektor kasih bagi anak(apapun yang dilakukan orangtua bagi anak-anak itulah persepsinya tentang kasih Allah). Kerena itu lakukan dimensi kasih Allah dalam pernikahan melalui: sikap yang penuh peduli, tanggungjawab, disiplin, murah hati, respek (menghargai),pengenalan forgiving (pengampunan)


Tujuan pernikahan Umum : psikologis (membutuhkan pasangan), menghindari kesepian/kesendirian,memenuhi kebutuhan biologis (sex), memberi rasa aman, menghasilkan keturunan. Tujuan pernikahan Kristen : pertumbuhan (agar suami isteri melayani Allah dan menjadi berkat bagi sesama), menjadi semakin serupa dengan Kristus,God’s new society mengimplementasikan kasih Allah /love new society),menjadi semakin serupa dengan Kristus, sanctification (pengudusan “sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1Ptr 1:16 ). Syarat pertumbuhan, sudah menerima pengampunan Kristus sehingga mampu mengampuni anggota keluarga yang tidak sempurna, mampu beradaptasi (memahami bukan memaksa, memberi bukan menuntut, menerima kekurangan/kelemahan pasangan.


God’s New Society mencerminkan : menjadi berkat dan kesejahteraan bagi sesama, Allah memilih keluarga jadi sarana mensejahterakan manusia tebusanNya (Kel.Abraham, Isak, Yakub kemudian Maria dan Yusuf ),menghasilkan anak-anak perjanjian (Anak-anak Tuhan) mengurusi bumi ciptaanNya (Kej 1:26-28). Pernikahan Kristen akan menghasilkan keturunan ilahi (anak-anak tebusan Kristus).


Committed marriage menurut Elizabeth Achteimeier:Total commitment ; dalam semua kondisi dan situasi, komitmen menerima (Roma 15: 7 ”Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”) ,komitmen secara eksklusif,komitmen secara terus meneruskomitmen yang bertumbuh( Efesus 4 : 13 “Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”), komitmen yang berpengharapan.


Menurut Stephen Tong, manusia diciptakan di dalam sifat relatif (manusia harus hidup di dalam satu hubungan antar manusia secara relatif), manusia diciptakan sebagai bagian dari keseluruhan (manusia bukan dicipta sebagai keseluruhan, sehingga tidak ada seseorang yang bisa melakukan segala sesuatu dengan kekuatan sendiri), manusia diciptakan untuk menolong dan ditolong(ini adalah dalam arti relativitas sifat ko-operasi). 




Solideo Gloria

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...