Jumat, 23 Februari 2018

MENIKAH : ANUGRAH ATAU MUSIBAH

Oleh : Dr.Surya Sembiring &  Dra.Kasihani Sinulingga






A.     Dasar Pernikahan

Kejadian 2:18-20.
Dalam Kej 1 Allah menciptakan segala sesuatu dengan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada  hanya dengan berfirman dengan kekuasaanNya dan kesempurnaanNya. FirmanNya yang hidup berkuasa menciptakan segala sesuatu. Di dalam kacamata Allah segala sesuatu itu semourna. Jika Allah memandang sesuatu itu baik, maka itulah yang terbaik. :tidak baik jika manusia itu seorang diri saja”
Keluarga adalah inisiatif Allah (Kej 2:18). Allah yang mempertemukan seorang laki-laki (tidak menjumpai penolong yang sepadan, Kej 2:20c) dengan seorang perempuan (diciptakan Tuhan Allah dari rusuk manusia, dengan membuatnya tidur nyenyak, Kej 2:21-22), kemudian  membawa perempuan itu kepada manusia (Kej 2:22c), memberkati dan menyertai keluarga tersebut. Karena keluarga adalah inisiatif Allah,  Allahlah yang bertanggung jawab mempertemukan laki-laki dan perempuan, Allah yang bertanggungjawab menyertai pernikahan manusia.  Kepada keluarga tersebut, Tuhan Allah memberikan mandat dan perintah untuk taat kepada-Nya, (Kej 2: 15; Kej 2:16-17).
Empat prinsip kunci dalam membangun fundasi pernikahan  yang Alkitabiah ( sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa) dalam Kej 2: 24-25, yaitu : (1)  seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya → keterpisahan/satu loyalitas yang baru. Ketika belum menikah kita memiliki keluarga dengan loyalitas kepada orangtua dan keluarga dan setelah menikah, kita akan loyalitas kepada pasangan kita. (2) bersatu dengan isterinya → bersifat permanen/komitmen, sehingga keduanya menjadi satu daging → kesatuan/keterikatan, dan (3) telanjang dan tidak merasa malu → keintiman/rasa saling percaya. (4)Dasar pernikahan setelah manusia jatuh dalam dosa tidak berubah (sebelum manusia jatuh dalam dosa) berdasarkan perkataan Tuhan Yesus, dalam Matius 19:1-6. Allah menghendaki  kedua orang yang menikah memasuki ikatan kesatuan fisik, emosi dan rohani yang baru; ikatan kesatuan ini permanen dan tidak boleh diputuskan. Tidak ada pernikahan yang dapat dipisahkan kecuali oleh kematian.

B. Tujuan Pernikahan Kristen
Prinsip-prinsip setiap keluarga yang sudah dipersatukan dalam pernikahan kudus, pasti menginginkan menjadi  keluarga yang berkenan kepada Tuhan, ini nampak dari doa-doa yang ditulis dalam undangan. Kita akan belajar dari Firman Tuhan, keluarga seperti apa yang dikehendaki Tuhan.
1.      Keluarga yang bertumbuh bersama (growth) menjadi satu  Kej 1: 24; Mat 19:5 dan Ef 5:31. Allah menghendaki kedua orang yang menikah memasuki ikatan kesatuan fisik, emosi dan rohani baru; ikatan kesatuan ini bersifat permanen dan tidak boleh diputuskan.
2.       Keluarga yang berpusatkan kepada Kristus : Ef 5:32                 
 




Tiap keluarga harus berpusatkan pada Kristus, tanpa Kristus tidak mungkin 1+1 =1. . suami dan istri harus sama-sama semakin dekat dengan Kristus, sehingga jika suami-istri akan semakin dekat juga relasinya. Dalam keberdosaan kita, tidak sanggup untuk menerima pasangan kita tanpa Kristus. Setiap keluarga pasti pernah mengalami konflik, tetapi dengan kehadiran Kristus semua konflik akan sanggup dihadapi. Di luar Kristus kita tidak sanggup mengampuni pasangan kita.  Dalam segitiga ini menunjukkan kita harus memiliki relasi yang baik dengan Kristus. Keluarga bukan saja rencana Allah, tetapi pelaksana kehendak Allah. Suami-istri terus menerus berjuang memiliki relasi dengan Allah. Saat teduh, doa secara pribadi dan bersama-sama itulah komitmen Yosua ( Yosua 24:15c). Ketika suami-istri berpisah karena pekerjaan, maka sebelum memutuskan, berdoalah dan mendiskusikan dengan baik, karena ada konsekwensinya yang harus ditanggung: 1 Kor 7:5

3. Keluarga yang Menghasilkan keturunan ilahi: Malaeki 2:15
1)      Allah inginkan pernikahan orang percaya menghasilkan keturunan ilahi, jadi anak-anak Allah. Ketika anak diberikan kepada kita, kita memilkiki tanggung jawab untuk membesarkan mereka menjadi anak-anak Allah yang mencintai Tuhan.
2)      Adalah tanggung jawab orangtua Kristen untuk menolong anak-anak mereka mengenal Tuhan dan percaya kepada Tuhan. Ini dapat dilakukan melalui kesaksian hidup orangtua melalui pengajaran orangtua tentang nilai-nilai hidup yang akan menjadi poedoman bagi anak-anak, sehingga anak-anak dididik dengan pemahaman rohani yang baik.
3)      Mereka bersaksi melalui hidup dan kata-kata agar anak-anak mereka mau mentaati firman Tuhan
4)      Jika anak- anak mereka belum lahir baru dan menjadi murid Kristus   maka tugas mereka belum selesai : KPR 18:2-3; 11:24-28, Roma 16:3-5a. tanggung jawab sebagai orangtua adalah membawa anak-anak untuk percaya dengan sungguh-sungguh dan lahir baru.

4. Keluarga melakukan misi: Kej 1:28; Mat 28:18-20.
            Contoh keluarga  Aquila dan Priskila : KPR 18:2-3; 11:24-28, Roma 16:3-5a. ketika kita menikah, pikirkanlah pelayanan apa yang akan dikerjakan bersama-sama
C.  Menikah: Anugrah atau Musibah
Pernikahan menjadi anugrah atau musibah dipengaruhi oleh pengaruh internal dan eksternal. Pengaruh internal  yang mempengaruhi pernikahan, misalnya perbedaan dua orang yang menikah karena  perbedaan latar belakang (suku, selera,pendidikan, latar belakang keluarga, hobi dan lainnya). Pengaruh eksternal keluarga yang ikut campur, kawan-kawan lama yang mungkin berpengaruh, dan lainnya. Pernikahan menjadi anugerah jika pernikahan itu dijalani dengan ketaatan pada Tuhan, dan pernikahan menjadi musibah jika pasangan memilih untuk tidak taat pada Tuhan.
        Keluarga dalam PL:  hal-hal yang mempengaruhi pernikahan.
1.      Keluarga Abraham: sepakat berdusta bahwa Sarai adalah saudaranya kepada raja ,  anak, calon isteri bagi Ishak. Ketika pasangan memilih untuk tidak taat, maka pernikahan dapat menjadi musibah. Sarai ambil solusi sendiri dengan memberikan Hagar kepada Abraham. Ketika Sarai memilih untuk mencari solusi sendiri, hal inilah menjadi konflik di kemudian hari. Tidak ada jaminan tidak akan ada masalah, tetapi kita harus memilih untuk tetap taat kepada Tuhan. Untuk memilih calan istri Ishak, Abraham memilih untuk taat pada Tuhan dalam mencari teman hidup Ishak. Keluarga Abraham ada saatnya mereka jatuh dan mengalami masalah, ada jatuh bangun yang dialami, tetapi yang penting adalah dating kepada Tuhan
2.      Keluarga Ishak: anak keturunan; berkat menjadi konflik, tapi solusinya datang kepada Tuhan. Ribka seorang yang mandul tetapi Ishak memilih untuk meminta pertolongan Tuhan dan akhirnya mereka memiliki anak Yakub dan Esau. Hal yang tidak mungkin bagi manusia, adalah hal yang mungkin bagi Allah
3.      Keluarga Yakub: perbedaan komunikasi diantara anak-anak; ada iri hati karena perbedaan perlakuan (Yakub)
4.      Keluarga Daud: perselingkuhan; dan konsekwensi karena dosa tersebut, sehingga anak itu meninggal dan terjadi perpecahan kerajaan di pimpin oleh anak Daud di kemudian hari.
Dari keluarga-keluarga dalam PL ini kita melihat jika pasangan-pasangan memilih tidak taat, maka masalah akan muncul.

Keluarga dalam PB:
1.      Zakaria dan Elisabeth sudah lama tidak memiliki anak, tetapi mereka tetap taat kepada Tuhan, hingga akhirnya Tuhan mengaruniakan anak. Menikah tidak harus memiliki keturunan, tidak berarti jika pasangan tidak memiliki anak, menjadi ketidakbahagiaan dalam keluarga.
2.      Ananias dan Safira: mereka mau melakukan pekerjaan untuk Tuhan tetapi sepakat untuk berdusta dan akhirnya mengalami kematian. Ketika pasangan memilih untuk berdusta mungkin ini bisa dikatakan pernikahan yang menjadi musibah.
Apa perbedaan pernikahan Kristen dan dunia?
·         Pernikahan dunia ini tujuannya adalah supaya berbahagia.
·         Pernikahan dunia ini pusatnya adalah diri sendiri (suami-istri), sehingga wajarlah jika merasa tidak bahagia, memilih untuk berpisah. Siapapun tidak akan bisa membahagiakan kita kecuali oleh Kristus, bukan pasangan yang bisa membahagiakan kita.
Pernikahan menurut alkitab adalah,  pasangan itu harus bertumbuh bersama , kebahagiaan itu adalah anugerah dari Allah jika kita taat kepada Allah. Tidak ada pertumbuhan yang makin hari makin sempurna kecuali dalam pernikahan. Karena didalam pernikahanlah, pasangan akan mengenal secara  dalam, ada sebuah perjuangan didalam Tuhan untuk saling menerima. Pernikahan Kristen, pusatnya Kristus. Jika salah satu pasangan saja yang taat, pernikahan itu akan gagal, sehingga kelanggengan pernikahan membutuhkan perjuangan kedua pihak. Jadi tujuan pernikahan Kristen adalah bertumbuh bersama dengan karakter yang sama, walaupun kadang  ada sakit hati tetapi kita akan bisa saling mengampuni dan sama-sama taat. Dengan tujuan pernikahan seperti itu, tentulah tidak mudah memutuskan untuk menikah, bukan sekedar coba-coba. Perlu kita pikirkan, apa kriteria teman hidup saya supaya tercapai tujuan permikahan Kristen. Dan bagi yang sudah menikah, tetap harus diresapi apa peran suami/istri supaya tercapai tujuan pernikahan Kristen.
CS Lewis :”Kami berpesta dalam cinta, dalam setiap keadaannya, susah maupun senang, romantis maupun realistis kadang-kadang begitu dramatis ,bagikan badai kadang2 menyenangkan, dan tidak terasa seperti mengenakan sandal yang lunak. Wanita itu adalah murid  dan hamba,  teman yang setia, rekan sekapal , teman seperjuangan yang kupercaya, istri namun pada saat yang sama juga merupakan teman”. Mari kita menemukan sahabat seumur hidup yang menjadi teman hidup kita.
Apa yang seharusnya saya cari cari sebagai kriteria pasangan hidup kita : apakah saya bertumbuh dengan dia, apakah saya bisa mewujudkan rancangan Allah? Hal; ini akankelihatan  dalam masa-masa pacaran. Bagi yang sudah menikah, bagi suami :“Dapatkah saya memenuhi peran saya sebagai suami untuk merawat dia,mengayomi dia, mengasihi mendukung dia, menerima dia apa adanya? Bagi istri :”Apakah saya bisa tunduk pada suami terus menerus didalam kebenaran untuk mewujudkan rancangan Allah dalam pernikahan?”
Doa seorang anak Tuhan menjelang pernikahan “Kiranya supaya aku bisa lebih dekat kepadanya. Tariklah aku lebih dekat kepadaMu daripada kepadanya supaya aku bisa mengenalnya. Buatlah aku mengenal Engkau lebih daripada mengenalnya supaya aku bisa mengasihinya dengan kasih yang sempurna dan sepenuh hati. buatlah aku mengasihi Engkau lebih daripadanya dan lebih dari apapun”

D. PENUTUP
Dalam pernikahan ada janji kepada Tuhan. Menikah menjadi berkat jika suami isteri terus berjuang menjadi satu. Hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Menikah menjadi musibah, jika suami dan isteri memilih tidak taat kepada Firman Tuhan. Ada tiga disiplin rohani untuk menjaga dan memelihara jiwa pernikahan: (1) beribadah bersama: merenungkan Firman Tuhan bersama, (2) berdoa bersama, dan (3) melayani bersama. Dengan catatan, suami isteri hidup dalam kebenaran Firman Tuhan.


SOLIDEO GLORIA


Jumat, 09 Februari 2018

AKWILA DAN PRISKILA

Oleh : Raymond Simanjuntak, ST dan Juni Purba, S.Psi






Kisah Para Rasul 18


Akwila dan Priskila adalah pasangan yang paling popular di alkitab, beberapa tokoh hanya disebutkan satu nama saja tanpa nama pasangannya.

·      Pertemuan Paulus dengan Akwila dan Priskila di Korintus (1):
Ini merupakan titik balik bagi keluarga akwilla dan Priskila. Paulus datang dari Atena ke Korintus (ay 1).Akwila seorang Yahudi dari Pontus dan Priskila datang dari Italia ke  Korintus (ay 2). Kaisar Klaudius memerintahkan agar orang Yahudi meninggalkan kota Roma (ay 2). Seorang ahli sejarah mengatakan bahwa Kaisar Klaudius (41-54M) mengusir orang-orang Yahudi dari Roma karena mereka melakukan kekacauan dibawah pimpinan seseorang yang bernama Chrestus. Ada yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan Chrestos ini pasti adalah Christos (kata Yunani untuk Kristus), tetapi ada juga yang menganggap orang lain.
·      Pertemuan Paulus dengan Akwila dan Priskila di Korintus (ay 2)  
Paulus bertemu dan tinggal bersama-sama (Ay.2) dengan Akwila dan Priskila di Korintus karena mereka sama-sama tukang kemah dan menjadi partner (Ay.3). Ini terjadi selama 1,5 Tahun. Priskila dan Akwila menyertai Paulus berlayar ke Siria.
·      Di Kota Efesus.
Sesampai di Efesus, Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Mereka minta kepada Paulus untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya. Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah Paulus dari Efesus ke Kaisarea. Rupanya ini merupakan rencana Tuhan, karena kemudian datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria.. Apolos disebut Alkitab "Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci".  Paulus dan Apolos tidak pernah melayani di kota yang sama, sehingga mereka melayani dapat lebih luas.Ia adalah salah satu pengkhotbah penting pada zaman itu. Pada saat itu pemahaman Apolos tentang Injil terbatas. Dia telah menerima baptisan Yohanes dan percaya kepada Yesus sebagai Mesias yang disalib dan dibangkitkan. Yang belum dipelajarinya ialah bahwa Yesus sendiri kini membaptiskan semua orang percaya dalam Roh Kudus. Para murid di Efesus berada dalam situasi yang sama (Kis 19:2,6).Karena itu setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. Akwila dan Priskila orang-orang yang awam soal firman Tuhan tapi dapat menjelaskan hal-hal yang penting kepada Apolos. Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus, tampaknya termasuk Priskila dan Akwila, mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka Apolos, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. Apolos diperlengkapi oleh Akwilla dan Priskila sehingga semakin baik dalam memberitakan Injil.
·      Di Kota Roma (16 Tahun setelah perjumpaan di Korintus)           
Dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma (diperkirakan ditulis sekitar tahun 56-57 M), tersirat bahwa Priskila dan Akwila tinggal di Roma pada waktu surat itu ditulis. Paulus mengirimkan salam kepada mereka berdua dan menulis mereka sebagai "teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku.Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi."

Hal-hal Menarik:

1.    Alkitab selalu menyebut nama Akwila dan Priskila secara bersama-sama. Karena disebut bersama paling banyak di Alkitab, mereka dinamakan "pasangan paling populer" di kalangan orang Kristen.Nama kedua orang ini disebutkan 7 kali di dalam Alkitab, dua kali di surat rasul Paulus, beberapa kali di dalam Kisah Para Rasul, dan satu kali di dalam kitab Timotius.

2. Priskila dan Akwila dicatat bekerja dengan tekun untuk menguatkan gereja mula-mula.Pasangan ini merupakan penginjil keliling dan pemimpin gereja di jemaat-jemaat yang didirikan Paulus.Pelayanan dan kepemimpinan mereka sebagai orang awam memberi inspirasi bagi pasangan suami-istri anggota-anggota gereja sampai saat ini dalam bekerja sama sebagai guru dan pengabar Injil di manapun mereka berada.

3. Priskila (Latin), yang memiliki makna "yang patut dimuliakan". Juga dipanggil Priska.Pada 2 Tim 4:19 tertulis: "Salam kepada Priska dan Akwila dan kepada keluarga Onesiforus". Nama Priskila (istri) disebut didepan nama Akwila (suami). Padahal dalam tradisi Yahudi, nama perempuan jarang dicatat, jarang disebut apalagi ditulis didepan nama suaminya.

Akhir Kisah menurut Tradisi Gereja
Menurut tradisi gereja, Akwila tidak tinggal lama di Roma, karena Paulus mengutusnya menjadi penilik jemaat di Asia Kecil. Kitab Apostolic Constitutions (7.46) mencatat Akwila bersama Nicetas adalah uskup-uskup pertama di Asia Kecil. Tradisi juga melaporkan bahwa Akwila mati syahid bersama istrinya, Priskila. Mengulang: Paulus menulis pada Roma 16:3 - 4: Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman- teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku.Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Priskila dan Akwila dianggap sebagai  santo oleh gereja-gereja yang mengakui orang-orang kudus. Gereja Ortodoks memperingati mereka berdua bersama-sama tanggal 13 Februari. Gereja Lutheran memperingati mereka di hari yang sama dengan Apolos. Gereja Ortodoks lain memperingati hanya Akwila sebagai rasul tanggal 14 Juli. Gereja Katolik Roma memperingati mereka berdua tanggal 8 Juli.
Refleksi
·      Apakah kita telah mengerjakan panggilan kita dengan setia? Jangan melihat besar / kecilnya peran yang kita kerjakan. Apakah alumni masih melayani setelah menikah dan memiliki anak? Banyak alumni yang telah dihasilkan pelayanan mahasiswa, yang seharusnya dapat kita cari jika kita berada di suatu kota atau sedang mengurus surat-surat. Tetapi faktanya, banyak alumni yang sudah kehilangan integritasnya yang dulu dimiliki waktu masih dibina.Terlibatlah dalam pekerjaan pemberitaan Injil dimanapun kita berada.Mari melayani Tuhan bersama pasangan kita dengan sungguh-sungguh. Bagi yang belum punya, carilah pasangan yang seperti itu. Akwila dan Priskila tidak hanya melakukan pekerjaan bersama- sama dan bertumbuh dalam Firman bersama, tapi mereka juga melayani Tuhan bersama-sama.
·      Akwila dan Priskila adalah pasangan yang sepadan. Terkadang nama Priskila ditulis mendahului nama Akwila. Beberapa penjelasan dikemukakan, tapi yang paling masuk akal adalah, kelihatannya Priskila lebih terampil daripada keduanya dan mengambil peranan yang lebih penting. Tapi itu tidak pernah mempengaruhi kasih keduanya, saling pengertian, juga kemampuan mereka dalam bekerja sama.Jangan takut miskin karena mengerjakan pekerjan Tuhan.
·      Apakah motivasi kita untuk datang ke MBA pada bulan February? Sering kali Jemaat MBA "membludak" menjelang Valentine (Pebruari), lalu berangsur-angsur turun pada bulan berikutnya.
·      Berbicara tentang Akwila dan Priskila, jauh dari kesan “wah” seperti Abraham yang hidupnya memiliki banyak harta benda.  Hidup di dalam Tuhan tidak diukur dari status single atau menikah, hidup wah atau tidak, terkenal atau tidak, tetapi kesetiaan mengikut Tuhan dan melayani Tuhan.  Bagi yang belum memiliki pasangan hidup, berhati-hati memilih teman hidup yang tidak didalam Tuhan yang nantinya akan menghalangi dalam pertumbuhan dan pelayanan. Alumni yang telah memiliki anak, dan masih memiliki beban untuk terlibat dalam pelayanan, tentu akan menjadi teladan yang hidup bagi banyak orang. Priskila dan Akwila memilih untuk hidup bersama, jika mereka tidak bersama-sama, mungkin pelayanan mereka tidak akan menjadi maksimal. Karena itu menikah seharusnya bersama-sama dan tidak berbeda kota. Esensi keluarga yang melayani ditentukan dengan kebersamaan dalam keluarga. Dan tidak mungkin kita bisa melayani bersama pasangan, jika pasangan kita juga bukan orang yang sudah hidup sungguh-sungguh didalam Tuhan. Akwila dan Priskila sangat setia melayani Tuhan dengan segala kesederhanaannya. Penting untuk melakukan konseling sebelum menikah, sehingga masalah-masalah yang mungkin muncul dapat lebih teratasi. Jika kita menikah, mari persiapkan diri untuk memiliki komitmen untuk melayani sekecil apapun yang bisa kita lakukan. 



SOLIDEO GLORIA

Jumat, 02 Februari 2018

SINGLE BUT HAPPY

Oleh : Betty Sianipar, MTh



Filipi 4:4-9


Ada orang yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan sejak lama  sudah meyakini bahwa ia akan hidup single. Tetapi ada juga yang dalam perjalanan imannya, baru meyakini dengan persekutuan yang baik kepada Tuhan yang meyakini akan single, ada juga orang-orang yang usianya sudah  “melewati” usia menikah tetapi tetap meyakini akan menikah. Jadi keputusan untuk tidak menikah, bukan karena tidak ada lagi harapan untuk menikah. Apa yang disampaikan alkitab tentang bagaimana memilih pasangan hidup? Apakah cukup hanya sekedar lahir baru, atau harus memiliki pelayanan dan cinta Tuhan? Kalau melihat Filipi ini, sepertinya ada kontradiksi, karena penulis pada saat ini, penulis tidak mungkin bersukacita karena sedang di dalam penjara. Paulus dipenjara tanpa melakukan kesalahan, tidak mendapat keadilan, dia yang menceritakan kabar baik, tapi dipenjarakan, dan Paulus berkata harus bersukacita. Sukacita itu tidak datang dari luar, situasi dari luar seharusnya tidak mempengaruhi kondisi jiwa kita secara pribadi. Kata bersukacita dalam bahasa aslinya adalah “kegembiraan yang meluap-luap” yang datang dari dalam bukan dari luar. Jadi setiap orang yang sudah percaya dalam Kristus, sukacita sejati itu sudah ada dalam hatinya, sehingga sukacita itu tidak bisa dipengaruhi oleh apapun yang datang dari luar dirinya, termasuk pergumulan hidupnya. Sukacita yang ada di dalam orang percaya harus nampak keluar.
Ay 4 “bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” , ada bersukacita diluar Tuhan, dan ada bersukacita di dalam Tuhan. Bersukacita di luar Tuhan adalah sukacita yang kita usahakan dengan uoaya kita.  Jika kita memikirkan dengan cara-cara tertentu dapat memelihara sukacita, hasilnya tidak akan lama, dan salah besar, karena hanya di dalam Tuhan sukacita kita akan penuh, dan sukacita itu dari dalam, bersifat permanen/kekal, sukacita yang tidak  tergantikan dan kita ekspresikan kepada orang lain.
Ay 6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir  tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. Kita sering berbicara topik tentang doa tapi sulit untuk masuk dalam kehidupan doa, kita malas berdoa. Kita perlu memiliki kualitas dalam doa kita termasuk dalam lamanya berdoa. Akan sulit bagi kita untuk bersukacita jika waktu-waktu pribadi kita hanya 10-20 menit. Jika kita memiliki keintiman hubungan dengan Tuhan, kita tidak akan memikirkan lagi apakah kita masih single atau tidak. Banyak orang berpasangan tetapi tidak merasa bersukacita, bahkan sebelum menikah juga perlu berbicara tentang komit bersama dan pelayanan. Ketika menikah, mulai mengalami kemerosotan-kemerosotan, mempunyai target-target untuk memiliki sesuatu, berbeda dengan target-target kita ketika  masih mahasiswa. Kita harus berdoa dalam segala hal keinginan kita dalam doa. Dengan memiliki kualitas hubungan dengan Tuhan, kita akan memiliiki kepekaan mendengar pimpinan Tuhan. Tanpa memiliki kualitas hubungan pribadi dengan Tuhan, akan sulit bagi kita mengetahui apa maksud Tuhan dan pimpinanNya memilih pasangan kita. Kita juga harus merenungkan firman Tuhan yang berbicara tentang memilih pasangan hidup.
“Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”(ay 7). Jika kita melakukan ay 6, maka damai sejahtera Allah akan melampaui kondisi sedih, galau yang kita alami, sehingga kita merasa tenang. Ay 8”semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”, karena kita memiliki hubungan yang sangat baik/intim dengan Tuhan tidak akan muncul pikiran-pikiran yang buruk. Sehingga sekalipun tidak menikah, kita akan tetap merasa sukacita.
Pasangan yang seimbang itu harus di dalam Tuhan, gelap dan terang tidak bisa bersatu. Jangan memulai hubungan dengan orang yang belum sungguh-sungguh percaya. 2 Kor 6:14 “Janganlah kamu  merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya.Sebab persamaan apakah yang terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap”. Ini berbicara pada ketaatan kita pada Tuhan, belial dan Tuhan tidak akan bersatu. Melakukan kebenaran firman Tuhan bukan saja memuaskan pikiran kita tetapi berbicara tentang kebutuhan kita akan Tuhan. Jika kita memilih untuk tidak menikah, harus dibicarakan dengan seluruh keluarga besar sehingga dapat mendukung. Perlu diingat bahwa sukacita itu tidak diciptakan dari luar, tetapi berasal dari dalam, sudah termetrai, sudah mengendalikan. Pauluspun dalam penderitaannya mengatakan untuk bersukacita. “sekali lagi kukatakan bersukacitalah” perlu penekanan  sekali lagi untuk bersukacita. Kita seharusnya yang menciptakan sukacita itu bisa berdampak bagi orang lain. Kualitas hubungan vertikal kita dengan Tuhan akan membuat kita tetap sukacita. Kita yang sudah sama-sama percaya, haruslah terlibat dalam pelayanan, mengabarkan kabar sukacita itu sehingga sukacita kita makin meluap. Apa yang sudah kita pelajari harus dilakukan, jika tidak, sukacita kita akan tetap terpelihara. Seharusnya kita single dan tetap bersukacita.
Matius 19:12 “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti”. Ada orang yang memilih untuk tidak menikah karena memang ia dilahirkan demikian, cacat sejak lahir. Jika kita memilih untuk tidak menikah, haruslah dilakukan untuk Kerajaan Sorga, akan semakin maximal melayani dan mengabarkan kabar baik bagi sesama. Jadi apakah kita menikah atau tidak, lakukanlah itu untuk Kerajaan Sorga. Dan semua itu akan membuat kita dapat tetap bersukacita. 


SOLIDEO GLORIA

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...