Jumat, 29 September 2017

GIVE THANKS

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTH




Mazmur 103 :1-5
Mari membaca dari Mazmur 103:1-5..Mazmur ini dapat dibagi  3 bagian  yaitu :ay 1-5 (inti dari Mazmur itu), ay 6-19 (dasar untuk bersyukur kepada Allah, apa karya  Allah dalam hidup Daud, ayat 20-22a (ajakan/dorongan baik para malaikat, orang lain untuk sama-sama memuji Tuhan) dan diakhiri dengan pernyataan Pujilah Tuhan hai jiwaku dalam ayat 22b. jika kita perhatikan ayat 1-2 bersifat personal artinya berbicara kepada dirinya dan sebuah pemahaman jika orang tidak bisa memuji Tuhan tidak akan  mungkin dia dapat mengajak orang lain untuk bersyukur memuji Tuhan.  Ketika Daud berkata supaya dirinya memuji Allah , barulah ia mampu mengajak orang-orang untuk bersama-sama memuji Allah (ayat 20-22). Setelah pemujian personal, maka lahirlah pemujian koektif artinya mampu mengajak orang lain bersyukur, berterimakasih kepada Tuhan.
Ayat 1 adalah sikap/cara pemujian yang benar, maka ia berkata “Pujilah Tuhan hai jiwaku” yang diseebut  self talk (pembicaraan terhadap diri sendiri), dorongan kepada diri sendiri, karena  orang dapat mengatakan mari memuji Tuhan tetapi belum tentu ia sendiri juga hatinya memuji Tuhan. Daud tidak mau terjebak dalam hal itu, karena itu ia berkata “Pujilah Tuhan hai jiwaku”.
Dalam ayat 2 ia berkata “pujilah Tuhan hai segenap batinku”  terjemahan lain mengatakan the most being (my inner heart) artinya bagian batinku yang paling dalam, bahwa pemujian kepada Allah itu tidak sekedar muncul dari perkataan tetapi pemujian  yang dikatakan Daud sebagai ucapan syukur itu adalah dari bagian diriku yang paling dalam. Orang bisa saja “bersyukur” tetapi belum tentu lahir dari segenap hati, karena itulah Israel ditegur oleh Tuhan dalam Matius 15:8-9 “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripadaKu, percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia”. Yesus menegur orang Israel percuma mereka beribadah karena yang mereka lakukan adalah tradisi, adat istiadat, kebiasaan manusia.   Hari ini kita diajak kembali supaya kita bernyanyi memuji Tuhan  itu haruslah lahir dari segenap hati kita dari bagian hati kita yang paling dalam, bukan sekedar ungkapan kosong yang tanpa makna.sehingga ketika kita bersyukur, kita bisa meneteskan airmata tanda sukacita. Ketika kita menyadari dan bersyukur bagaimana Allah bekerja dalam dirinya maka mampu menaikkan syukur yang tulus. Ada 3 hal yang mau kita pelajari dalam hal ini.
1.      Ketika kita memuji Allah penting ada ketulusan. Ketika memuji Allah harus lahir dari segenap hati.
Ada keseriusan memuji Allah dan inilah pemujian yang berkenan kepada Allah. Karena itu penting pemujian dengan ketukusan dan segenap hati supaya Allah dipuaskan dengan ucapan syukur dan pengagungan yang kita sampaikan
2.      Mengingat segala kebaikan Tuhan.
Saat ini agak sulit orang untuk bersyukur, lebih banyak orang mengeluh, dapat dilihat di media sosial berapa banyak orang yang mengeluh dan bersyukur, lebih mudah menyampaikan kemarahan, kekecewaaan, kegelisahan, kekhawatiran hidupnya sehingga sulit untuk menaikkan pujian dan syukur kepada Allah. Salah satu persoalan utama ialah ketika kita fokus kepada persoalan kita, fokus kepada penyakit kita, fokus kepada pergumulan, tantangan di dunia  kerja, fokus kepada kesulitan-kesulitan  yang kita hadapi, fokus kepada apa yang belum kita miliki, fokus kepada  persoalan diri dan keluarga kita, fokus pada persoalan yang menyakitkan bagi kita, fokus kepada penolakan orang pada kita, fokus kepada kegagalan-kegagalan kita maka selama itulah kita pasti tidak bisa bersyukur dengan tulus. 
Bagaimana supaya kita bisa beryukur? Mari kita perhatikan ayat 2b “dan janganlah lupakan segala kebaikanNya”.  Ketika orang lupa karya Allah dalam dirinya, lupa akan kebaikan-kebaikan Allah dalam dirinya, maka sulit sekali untuk bersyukur dengan tulus. Rahasianya adalah mari belajar fokus menghitung kebaikan-kebaikan dan berkat Tuhan, jangan lebih berfokus pada apa yang belum kita miliki, persoalan-persoalan kita. Ketika kita fokus kepada pergumulan-pergumulan kita, malah itu melemahkan iman kita, membuat kita menjadi khawatir, tertekan dan makin sedih, membuat kita tidak punya pengharapan, kehilangan sukacita, membuat makin larut dalam kedukaan/kesedihan. Tetapi ketika kita mengarahkan mata kita berfokus kepada karya Allah, fokus pada kebaikan Allah pada saat itulah kita dapat berkata “Engkau sangat baik bagiku ya Tuhan”. Inilah yang dialami oleh Daud sehingga dia mampu bersyukur. Jika kita tetap fokus kepada tantangan, apa yang belum dicapai, penyakit yang belum sembuh atau persoalan keluarga atau dukacita, maka kita akan kehilangan damai, sukacita dan kita tidak mampu berterimakasih, bersyukur kepada Allah. Maka Daud mengatakan “Jangan lupakan segala kebaikanNYa”. Persoalan kita adalah kita kita lebih mudah mengingat persoalan dan kekurangan daripada kebaikan Tuhan yang telah kita terima. Karena itu marilah kita belajar kembali untuk bisa bersyukur dengan tulus, mengingat semua kebaikan Allah. Setiap kali kita bersyukur sebelum  tidur fokuslah kepada kebaikan-kebaikan Allah, jangan berfokus pada persoalan-persoalan.  Mari belajar menghitung semua kebaikan-kebaikan/berkat-berkat Tuhan, pertolongan Tuhan, karya Tuhan didalam hidup kita
3.      Daud melihat semua kebaikan Tuhan itu dalam ayat 3-4. “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, yang memberi kekuatan baru pada masa mudamu (ay 5).
Daud dalam pergumulan yang beratpun, mampu melihat karya Allah didalam hidupnya. Karena itu seberat apapun pergumulan, tantangan, persoalan, kesulitan yang kita hadapi,  mari kita mampu menghadapi dengan mata rohani melihat karya Allah didalam hidup kita. Daud tidak berfokus pada posisi dan harta yang dia raih. Ia bisa saja berkata “Engkau yang menempatkan aku menjadi raja  dan Engkau yang memberiku kekuasaan besar di Israel”. Ia juga tidak berkata Allah telah memberinya harta yang banyak, pengaruh yang luar biasa, Daud tidak fokus pada hal ini. Daud melihat itu semua bukan sebagai main goal, dan bukan melihatnya sebagai hal yang terpenting dalam hidupnya,tetapi hal yang paling diingat Daud hal yang mendasar dalam dirinya yaitu yang dibutuhkan setiap orang adalah pengampunan atas dosa dan kesalahan. Hal ini berelasi pada dua hal : jika orang telah diampuni dosanya dengan pembenaran oleh Allah, dimana pembenaran terjadi karena pengampunan dan dengan pengampunan ada pembenaran dan dengan pembenaran ada rekonsiliasi dengan Allah, maka Daud melihat ketika Allah mengampuni dosanya itu menyadarkan Daud bahwa yang paling penting, yang paling mahal, paling utama didalam hidupnya telah diberikan oleh Allah, itulah keselamatan jiwanya.  Daud tidak membanggakan jabatannya sebagai raja tetapi ia melihat hal yang lebih penting yaitu rekonsiliasi dengan Allah, pengampunan kan dosa. Dilepaskan dari lobang kubur identik dengan bahwa Daud telah mendapatkan yang terbaik, terpenting, terbesar dalam hidupnya, itulah keselamatan jiwanya. Jika kita mengacu ke perjanjian baru dalam Markus 8:36 “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya”, sehebat apapun kita jika kita kehilangan jiwa, maka apapun tidak ada artinya. Daud melihat keselamatan jiwanya lebih penting dari jabatan sebagai raja, ketenaran, kekuasaan dan harta yang dia miliki. Daud tahu ketika ia mendapatkan pengampunan dosa dari Allah, dilepaskan dari lobang kubur, itu artinya
  1. Dia telah mendapatkan yang terpenting. Wajarlah Daud bersyukur dengan segenap jiwa dan batinnya oleh karena yang terbaikpun sudah Tuhan berikan, apalagi yang lain. Semuanya yang lain itu adalah berkat tambahan seperti jabatan raja, harta yang AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua. Bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala  sesuatu kepada kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Yesus saja AnakNya yang tunggal dikorbankan oleh Allah bagi kita supaya kita selamat, bagaimana mungkin yang lain tidak diberi? Karena itu Daud fokus bukan kepada hal yang lainnya. Daud bersyukur karena Allah telah mengampuni dosa dan kesalahannya, membebaskannya dari lobang kubur, itu jauh lebih penting/utama , yang lain akan mengikuti. Hal itu juga yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Matius 6 : 33 “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Mazmur 23 :6 “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa”.  Terlalu banyak alumni mengejar harta, uang, jabatan akhirnya bisa melupakan Tuhan. Tetapi ingatlah Mazmur 23:6 ini, bukan kita yang mengejar berkat dan kebajikan, kesuksesan, tetapi itu mengikuti kita. Ini berelasi dengan Matius 6 :33, semuanya yang lain akan ditambahkan. Ada banyak alumni tidak punya waktu untuk KTB, melayani karena terlalu banyak target untuk mendapatkan sesuatu. Kebajikan dan kemurahan Allah bukan dikejar tetapi mengikuti kita seumur hidup dan lahirlah komitmen Daud “dan aku akan diam di rumah Tuhan sepanjang masa” .  Penting untuk bersyukur karena ketika kita lahir baru, yang terpenting dan terbaik telah kita terima dari Allah, apalagi yang lain. Kita seringkali takut untuk tidak memiliki sesuatu, jabatan dan harta hingga kebenaran dan kerajaan Allah kita abaikan. Mari kita mengubah paradigma berpikir kita hari ini bahwa kebajikan dan kemurahanlah yang mengikuti kita seumur hidup.
  2. “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu dan melapaskan dari lobang kubur,  ketika dia mengklaim pengampunan itu artinya Daud telah mengalami karya Allah yang terbesar yaitu persoalan dan pergumulannya yang paling berat, komplek, telah diselesaikan oleh Tuhan.  Rom 6:23 “Sebab upah dosa ialah maut tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Persoalan manusia terbesar adalah dosa dan akibatnya yaitu maut, tidak bisa diselesaikan oleh manusia, tapi hanya bisa diselesaikan tuntas oleh Allah. Maka ketika  Daud berkata  “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, melepaskan dari lobang kubur yaitu maut” itu artinya persoalan kita yang terbesar telah diselesaikan oleh Tuhan. Jika persoalan terbesar telah Tuhan selesaikan, persoalan yang lain pasti juga akan Tuhan selesaikan. Ini yang mendasari Paulus berkata dalam Fil 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia  yang memberi kekuatan kepadaku”. Hal inilah yang membuat kita dapat bersyukur kepada Allah.  Meskipun persoalan kita masih banyak, ingatlah persoalan kita yang terbesar  telah diselesaikan oleh Allah, maka yang lain hadapilah denga sukacita.
Jadi supaya kita mampu bersyukur denga tulus pada Tuhan, mari berfokus pada dua hal ini : yang terbaik pun sudah Tuhan berikan dan persoalan yang terbesar telah diselesaikan Tuhan, yang lain akan kita hadapi bersama dengan Allah. Inilah yang membuat Daud bisa memuji dengan syukur dan tulus kepada Allah. Ayat 4 “Dia yang memahkotai” artinya sebuah penghormatan, penerimaan, Allah mempermuliakan dan Allah menghormati Daud dan Daud melihatnya sebagai sebuah kebanggaan yang luar biasa sehingga mampu bersyukur “Pujilah Tuhan hai segenap jiwaku, dan jangan lupakan segala kebaikanNya” Daud merasa terhormat ketika dosanya diampuni, persoalannya yang terbesar telah diselesaikan.
Setelah itu muncul kekuatan baru di ayat 5 “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan sehingga masa mudamu menjadi baru seperti burung rajawali”. Hanya Allah yang bisa melakukan seperti Maz 103:3, Allah memberikan yang terbaik, Allah menyelesaikan yang terbesar, Hanya Allah yang bisa memuaskan hasrat kita. Maz 27 10 “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku”. Kasih Allah melebihi kasih orangtua kepada kita.  Yang membuat Daud bisa bersyukur kepada Allah karena Allah yang memuaskan hasratnya dengan kebaikan, Allah tidak pernah mengecewakan, yang Ia beri pasti baik, bahkan terbaik dalam hidup kita. Jika ada doa kita yang tidak diberikan Tuhan justru karena Tuhan sayang kepada kita, karena Ia telah menyediakan yang terbaik menurut Allah bagi kita. 

Akibatnya dalam ayat 5b “masa mudamu menjadi baru seperti burung rajawali” inilah kuasa dari thanks giving  to God, memberi kesegaran, kekuatan baru, semangat baru.   Karena itu orang yang selalu bersyukur akan terlihat lebih muda wajahnya. Mari belajar mengucap syukur seperti dalam 1 Tesalonika  5:18 “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu”. Semakin kita bersyukur memberikan kekuatan dan semangat baru. Yes 40;30-31”Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. Mari berhenti mengeluh, belajar untuk bersyukur. Mari bersyukur untuk ulangtahun PAK yang ke 24 tahun, semua hal yang Tuhan kerjakan , mari fokus pada kebaikan-kebaikan dan berkat Allah, jangan fokus kepada yang lain. 



SOLIDEO GLORIA

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...