Jumat, 25 Agustus 2017

THE END OF ME

Oleh : Desmiyanti Tampubolon, STP




Matius 5;3-5,8
Khotbah di bukit berisi daftar paradoks yang mengejutkan, secara khusus dalam 4 hal :
1.       Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Miskin dihadapan Allah pastilah tidak berbicara tentang uang disini.  Ketika itu ada banyak orang miskin sehingga orang yang mendengar khotbah Tuhan Yesus pasti terkejut karena Yesus berkata bukan uang yang membuat berbahagia. Banyak orang berfikir bahwa hidup yang berbahagia adalah hidup yang memiliki uang berlimpah. Yesus berkata Kerajaan Allah berawal di dalam diri kita,  ketika kita sampai di akhir dari keakuan dengan menyadari bahwa kita tidak memiliki apapun yang bisa kita berikan. Kerajaan Allah berawal dari mengeluarkan semua persediaan yang ada pada kita dan berdiri tanpa menggenggam apapun, ketika kita tidak memiliki apapun, menurutNya kita justru sedang melangkah maju. Sebagai alumni, apa yang menjadi kebanggaan kita? Pekerjaan? Uang? Jika kita masih memilih pasangan hidup dengan melihat apa pekerjaannya, berarti kita belum mati bagi keakuan kita.
     Mari kita membaca Lukas 7:36-39. Simon seorang pemimpin agama Yahudi  mengundang Yesus ke perjamuan makan dirumahnya.Peraturan pada zaman itu,semua tamu harus disambut dengan mencium tangannya sebagai tanda ucapan selamat datang, membasuh kaki atau menyediakan pembasuhan kaki, sebagai budaya penyucian, juga mengurapi kepala sang tamu dengan minyak untuk tamu yang dihormati, dan Simon tidak melakukannya. Simon seorang pemimpin, memiliki kuasa, dihormati,mengabaikan peraturan agamawi. Ketika makan malam sedang berlangsung, seorang perempuan masuk dan merusak suasana, ia tidak membawa undangan, seorang yang “berdosa”. Perempuan itu sampai pada akhir dari keakuannya, ia menangis di kaki Tuhan Yesus, membasahi kakiNya dengan airmata, menyekanya dengan rambutnya, mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi.
Bagi Simon dengan posisi puncak yang dimilikinya, kesusilaan adalah nilai yang sangat penting.Perjamuan makan itu diperuntukkan bagi orang-orang saleh, sehingga kehadiran perempuan itu benar-benar sebuah aib baginya.
Kita seperti Simon ketika :
·         Kita mengabaikan penderitaan orang lain
·         Kita menunjukkan sikap saleh setelah sebelumnya marah-marah di perjalanan menuju ibadah.
·         Kita rela berutang besar-besaran supaya tidak ketinggalan zaman
·         Kita menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial hanya untuk menunjukkan bahwa hidup kita jauh lebih baik dari orang lain.
2.       Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur
William Barclay mengatakan kata Yunani untuk berdukacita yang digunakan disini adalah jenis penderitaan yang tidak bisa disembunyikan, bukan sekedar kesedihan yang membawa rasa sakit dalam hati, tetapi kesedihan yang mengguyurkan air mata yang tidak dapat ditahan mata
Pesan yang disampaikanNya berarti bahwa berkat tidak bergantung pada apa yang terjadi di luar, berkat bersumber dari pada apa yang terjadi di dalam, dan berkat hanya bisa ditemukan lewat tumpahan air mata
Ketika kita berdukacita, kita dihibur oleh Allah. “Anda diberkati saat anda merasa telah kehilangan sesuatu yang paling anda kasihi. Hanya dengan demikian, anda bisa dipeluk oleh Dia yang paling mengasihi anda”. Jika kita gagal menyadari realitas dosa, tidak akan ada dukacita, tanpa dukacita tidak akan ada keinsyafan, dan tanpa keinsyafan kita akan kehilangan berkat terbesar Allah yaitu   pengampunan dan kasih karuniaNya.Ketika kita banyak diampuni, kitapun akan banyak berbuat kasih (Luk 7:47). Kita perlu mengevaluasi diri, dosa apa yang kita lakukan akhir-akhir ini, siapa yang terluka karena dosa saya,apakah ada orang lain yang perlu saya sampaikan permohonan maaf?
3.       Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Praios (Yunani): lemah lebut, rendah hati
Yesus mengatakan bahwa jalan menuju ke atas adalah dengan bergerak kebawah.
Mari kita membaca dari Lukas 18:10-14. Orang Farisi adalah kelompok terhormat, terpelajar, berpengaruh, komit pada hukum taurat, sedangkan pemungut cukai adalah staf dinas perpajakan yang membawa teror. Ia tidak saja mengumpulkan pajak untuk kaisar Romawi, tapi juga diizinkan untuk menggaruk isi dompet orang lebih dalam lagi. Pemungut cukai adalah pengkhianat bagi bangsanya sekaligus pencuri yang disahkan. Kedua orang ini berjalan ke bait suci, sepertinya si Farisi mengintip sedikit di tengah-tengah doanya dan menggunakan pemungut cukai itu  sebagai batu pijakan untuk mendapat imbalan ekstra atas kesalehannya.
·         Kita akan menjadi seperti orang Farisi ketika :
·         Kita berkata “Jangan berkata seperti itu kepada saya”
·         Kita berkata “Saya tidak akan minta maaf”
·         Kita sulit mengampuni
·         Kita berkata “Apakah kamu sudah mendengar tentang…….”
·         Ketika kita berkata “Saya tidak butuh bantuan orang lain”
·         Ketika kita merayakan kegagalan orang lain
·         Ketika kita sangat yakin bahwa pendapat kita adalah pendapat yang benar
Beberapa penekanan penting dari orang Farisi ini adalah :
·         Mementingkan penampilan. Apakah kita membeli sesuatu untuk prestise atau kebutuhan?
·         Menekankan aspek peraturan yang harus diikuti
·         Melakukannya supaya dilihat orang (Mat 23:5)
Lima kali orang Farisi ini menyebutkan kata “Aku”, jika ada indeks keangkuhan, indeks itu pasti dihitung dari berapa kali kita mengucapkan kata aku dalam 100 kata. Sementara si pemungut cukai berdiri jauh-jauh, ia bahkan tidak menengadah ke langit, karena ketidaklayakannya di hadapan Allah. Doanya hanya beberapa kata, gambaran dari kerendahan hati, benar-benar ingin berjumpa dengan Allah. Tuhan Yesus memberi skor tinggi pada pemungut cukai dan bukan pada orang Farisi
Merendahkan diri berarti :
Saya dengan sukarela mengakui dosa
·         Saya memberi dengan penuh pengorbanan tanpa mencantumkan nama
·         Memperlakukan orang lain lebih dari saya memperlakukan diri sendiri
·         Siap untuk meminta tolong
4.       Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah
Suci hati berarti murni hati, tidak khawatir dengan penampilan didepan orang lain
·         Kita tiba di akhir keakuan kita jika tidak tertarik dengan apa yang dipikirkan orang, tepuk tangan atau perhatian
·         Ketika kita menjadi panitia/pengurus, seberapa besar hati kita dialokasikan untuk menyenangkan hati Allah dan seberapa besar bagian kita perduli pada siapa yang melihat dan terkesan dengan kita?
·         Ketika kita berdoa didepan umum, apakah kata-kata yang kita ucapkan ditujukan bagi telinga Allah atau telinga orang-orang yang mendengar?
Bagaimana Mengakhiri keakuan:
1.       Masuk melalui pintu gerbang kelemahan. Yesus lahir di sebuah kandang domba, sekalipun Allah bisa saja turun di salah satu kota besar dunia, lahir sebagai seorang milioner. Ia turun di tengah-tengah kemiskinan, kelemahan dan kita dapat melihat apa yang bisa dilakukan Allah.
2.       Matius 16:24 : menyangkal diri, memikul salib, mengikut Dia. Setiap kali kita harus mengutamkan Kristus itu berarti kita menyangkal diri kita.
3.       Dibentuk tiap-tiap hari. Mengakhiri keakuan begitu sukar karena hal itu harus terjadi tiap-tiap hari. Setiap hari kita harus membuat pilihan, hidup bagi diri sendiri atau hidup bagi Kristus. Mati bagi diri sendiri berarti kita harus melayani orang-orang yang tidak kita sukai atau pahami, bahkan orang yang telah menyakiti kita

Mati bagi keakuan adalah kematian dimana kita harus mati didalamnya, bukan sekali mati, bukan separuh mati, benar-benar mati setiap hari, hingga kita alami kehidupan yang sejati dan berkelimpahan di dalam Kristus.

Jumat, 18 Agustus 2017

TEAM WORK

Oleh : Ir. Simon Dertha Tarigan, MT AU




Soft skill adalah kombinasi dari emotional skill dan sosial skill. Soft skill adalah profesional skill. Soft skill berhubungan dengan karakter. Untuk menjadi berhasil dalam pekerjaan tidak cukup hanya memiliki hard skill (technical skill). Tidak mungkin sebuah pekerjaan dilakukan, tanpa melibatkan banyak orang. Kita tidak akan mampu melakukan pekerjaan seorang diri, sekalipun kita memiliki kepintaran dan kemampuan. Keberhasilan suatu pekerjaan harus merupakan perjuangan bersama-sama antara pimpinan  dan bawahan, karena itu dibutuhkan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama, supaya pekerjaan selesai tepat waktu dan memiliki kualitas kerja yang baik. Karena itu tidak cukup hanya dengan memiliki hard skill supaya berhasil, tetapi kita membutuhkan soft skill yang baik juga. Sebaliknya jika kita hanya memiliki soft skill yang baik tanpa kemampuan hard skill juga tidak akan berhasil. Kita harus memiliki hard skill yang baik, kecuali kita memiliki panggilan kerja yang berbeda dari hard skill kita.
Team Work.
Team work menurut Scarnati adalah proses kerja  sama yang membuat orang yang biasa (ordinary people) mendapatkan hasil yang luar biasa  (extraordinary results) Mari kita membaca dari Lukas 5:17-26.  Jika kita hanya berbicara tentang tujuan tetapi tidak perduli dengan orang lain, itu bukan kerjasama. Orang-orang biasa akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa karena bekerjasama dengan orang-orang yang luar biasa. Keempat orang dalam perikop ini bekerjasama membawa orang lumpuh ini bertemu dengan Yesus, mereka memiliki tujuan yang sama.  Tuhan Yesus menghargai iman dan kerjasama mereka.Jika tujuan sama, maka pemikiran-pemikiran kreatif akan muncul. 1 Korintus 12:12 “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, segala anggota itu sekalipun banyak merupakan satu tubuh”. Kita tidak diciptakan seperti superman yang bisa membasmi kejahatan sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan Allah mendisain kita untuk menjadi satu team sebagai bentuk anggota-anggota tubuh, harus ada model untuk kerjasama, kita semua dapat dipakai untuk bekerjasama dengan potensi kita masing-masing.
Presiden Amerika  Lydon Jonson berkata “Tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan jika bersama-sama dan sedikit sekali  masalah yang dapat dipecahkan sendiri” Mengapa Team work ini penting? Menurut buku Jesus on Leadership C Gene Wilkes adalah:
1.      Tim akan melibatkan banyak orang, dengan demikian lebih banyak sumber daya, energi daripada jika seorang diri. Ide-ide banyak (ide bisa datang dari orang-orang “bawah”), net work makin luas, kerugian juga bisa ditanggung bersama.
2.      Tim akan memaksimalkan potensi pemimpin dan menutupi kelemahannya.
3.      Tim akan memiliki banyak sudut pandang dalam mencapai tujuan dengan demikian bisa menemukan banyak alternatif dalam menyelesaikan masalah
4.      Tim akan saling berbagi kebanggaan dan juga kelemahan, kekalahan
5.      Tim menyelesaikan jauh lebih banyak dibandingkan dengan sendiri
Mengapa banyak juga orang yang lebih suka bekerja sendiri?
a.      Ego. Kerry Walls salah satu pendiri Injoy Group mengatakan “Memutar lebih banyak piring tidak membuat anda lebih berbakat tetapi malah membuat anda akan menjatuhkan lebih banyak piring”. Andrew Carnigie : “Menyadari bahwa orang lain bisa membantu melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada yang anda kerjakan sendiri adalah langkah besar dalam pengembangan diri”
b.      Rasa tidak aman. Merasa terancam akan kehadiran orang lain, dapat membuat pemimpin lebih suka dikelilingi oleh orang-orang lemah daripada orang kuat. Presiden Woodrow Wilson :”Kita seharusnya tidak hanya menggunakan semua kemampuan otak kita, tetapi kemampuan semua otak yang mampu kita pinjam”
c.       Kenaifan : orang yang meremehkan kesulitan dan menganggap dapat melakukan semuanya sendiri. Jika melakukan sekali lagi, saya akan minta tolong (Jhon Ghegan)
d.      Temperamen. Tidak terlalu ramah dan tidak pernah berniat membangun team. Ketika menghadapi tantangan, tidak pernah ingin melibatkan orang lain. “Orang yang dikenal mencapai hasil yang lebih adalah orang bekerjasama dengan orang lain, bukan melawan orang lain”(Dr.Allan Frome)
Potensi yang besar bisa menjadi masalah jika tidak dibangun. Team itu perlu perjuangan, kerendahan hati, proses.
Keberhasilan suatu team work tergantung kepada :
1.      Komitmen untuk membawa team sukses dan membagikan tujuan. Semua anggota team komit terhadap tujuan bersama dan setiap anggota team memiliki kemampuan yang jelas untuk memahami tujuan bersama. Pelatih Rugby Paul Bear Bryant “Untuk meraih kemenangan, team harus memiliki rasa persatuan. Setiap pemain harus mendahulukan team lebih dari tujuan pribadi”
2.      Saling ketergantungan. Semua anggota team saling ketergantungan dalam memberikan kontribusi untuk kepentingan team, lebih dari kepentingan pribadi. Hal ini akan membawa team mencapai hasil jauh dari yang dipikirkan.
·  Seseorang tidak akan sukses kalau anggota yang lain gagal
·  Semua anggota team harus saling bekerjasama di dalam mencapai tujuan
·  Semua saling membantu untuk meningkatkan kemampuan anggota yang lain
3.      Kemampuan berdiskusi/berkomunikasi antara team:
·  Semua anggota team harus saling perduli satu dengan yang lain
·  Semua anggota team harus saling membantu dan saling mendukung
·  Semua anggota team harus saling percaya
·  Semua anggota team harus saling menghormati
4.      Mengembangkan komunikasi yang terbuka :
·  Semua anggota team memberi dan menolak bukan dalam rangka mempertahankan diri
·  Semua anggota team mau saling mendengarkan
·  Memberi ruang untuk saling berdiskusi antara sesama anggota
·  Menghadapi perbedaan dan mampu bekerja dalam perbedaan
5.      Tunduk kepada aturan main : anggota team harus mengikuti aturan main “rule of game” yang telah ditetapkan
6.      Team harus memiliki komposisi yang ideal(sesuai dengan keahlian) :
·  Harus ada relasi  yang jelas antara sesama anggota team
·  Harus ada tanggung jawab yang jelas antara sesama anggota team
·  Perbedaan bukan untuk menghambat tapi memperkaya
7.      Komit terhadap proses, kepemimpinan dan keterbukaan :
·  Membiasakan membuat keputusan berdasarkan hasil konsensus, kesepakatan, melalui diskusi. Tidak mengambil keputusan sendiri
·  Anggota team harus menghargai, menghormati kepemimpinan yang ada
·  Mendorong partisipasi, konsensus
·  Terbuka terhadap perubahan, inovasi dan kreatifitas

Bisa saja banyak “duri-duri” dalam team work, kuasa Tuhanlah yang mengubahkan. Adalah baik ketika orang-orang dalam team mendapatkan manfaat dalam bekerjasama sehingga mereka bergerak dalam arah yang sama untuk satu tujuan. Team work itu harus dibangun dan diperjuangkan. 






SOLIDEO GLORIA

Jumat, 11 Agustus 2017

KEPEMIMPINAN

Oleh : Laksana Umanda Sitanggang, MT






Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu (1 Timotius 4:12). Jangan seorang pun menganggap engkau rendah, ini tidak mengarah pada hal fisik, tetapi karena Timotius akan menjadi pengajar, jangan orang menganggap dia rendah karena kemampuan, potensi yang ada padanya kecil. Intinya dia harus memperlengkapi dirinya sehingga dapat mengajar dengan tepat sehingga umur yang masih muda tidak menjadi alasan untuk menganggapnya rendah.Kemampuan dan ketrampilan itu harus mumpuni, dan menjadi teladan bagi orang percaya dalam hal perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, kesucian, secara etika harus jauh melebihi yang lain. Kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki harus kualitas unggul demikian juga soal karakter.
Hukum Kehidupan selalu berlaku dari seorang bayi yang baru lahir, tengkurap, duduk, merangkak, belajar berjalan dan akhirnya bisa berlari.Tidak ada satu tahap pun yang bisa dilompati,harus dilewati pada masanya, sama-sama penting menuju manusia dewasa. Hukum Pertanian, jika ingin mendapat buah yang baik harus diawali dengan  memilih benih yang baik, memilih media tanam yang baik, melakukan penanaman yang baik, pemeliharaan tanaman yang baik.
Dalam dunia fisik, sangat mudah memahami dan mengakui prosesnya. Dalam dunia psikis, emosional sangat susah, kita ingin melompatinya. Terkadang kita sangat ingin menjadi pemimpin sekalipun tidak memiliki kemampuan untuk itu. Kepemimpinan sering diartikan sebagai adanya jabatan/kedudukan , memiliki sejumlah orang bawahan,  mengorganisasi orang, menyuruh orang melakukan sesuatu, menjadi yang diutamakan dari beberapa orang, memiliki “Sesuatu yang lebih”(Kehormatan, Tanggungjawab, Penghasilan, Fasilitas). Jika tidak, dianggap belum menjadi pemimpin. Padahal sebenarnya Inti dari kepemimpinan adalah pengaruh bukan pengaruh. Kita bisa melihat orang menggunakan jabatannya itu untuk memberi pengaruh, bukan karena ia orang yang berpengaruh, tanpa jabatan itu ia tidak akan bias memerintah orang lain. Ketika kita dapat memberi pengaruh pada orang-orang di kantor kita, usulan kita menjadi acuan bagi pimpinan kita, sebenarnya kita sudah menjadi pemimpin sekalipun tidak dalam posisi pemimpin.

4 JENJANG KEPEMIMPINAN
1.      Personal layak dipercaya (intra pribadi)àsifat layak dipercaya
2.      Interpersonal kepercayaan (antar pribadi)àterbangun saling percaya
3.      Manajerial pemberdayaanàbekerjasama dengan orang lain
4.      Organisasional penyelarasanàmengorganisasi, mengarahkan, menggerakkan orang-orang (menyuruh orang bekerja
Dalam jenjang ini jenjang ke 4 adalah jenjang puncak. Seseorang tidak mungkin menempati posisi organisasional jika dia tidak memiliki kemampuan manajerial memberdayakan anggota, supaya kita dapat bekerjasama dengan orang lain, kita harus bisa dipercaya  jika tidak akan sulit bekerjasama, dan jika kita ingin bekerjasama maka kita harus menjadi orang yang layak dipercaya yang bisa bekerjasama dengan orang lain. Tanpa kualitas dasar ini kita miliki maka kepemimpinan itu akan gagal. Harus dimulai dari kita sendiri, bisa dipercaya, dapat bekerjasama dan akhirnya mampu memimpin. Kepemimpinan itu harus dimulai dengan apakah saya pantas dipercaya, terbangun kepercayaan dengan orang lain, dapat bekerjasama, akhirnya memimpin. Setiap tahap penting, tidak dapat dilompati.

Yusuf  selalu menjadi orang yang dipercaya dimanapun dia berada (dalam rumah Potifar, dalam penjara, hingga menjadi orang kedua setelah raja). Sebagai budakpun Yusuf layak dipercaya. Daniel tidak ditemukan melakukan satu kesalahanpun, menjadi orang yang dipercaya selama 5 pemerintahan raja yang berbeda, pastilah mereka bukan hanya layak dipercaya tetapi juga mereka memiliki kemampuan yang baik.
LAYAK DIPERCAYA dapat dilihat dari karakter dan ketrampilan. Orang yang secara karakter baik, ramah tetapi jika tidak memiliki ketrampilan tidak akan berguna, sebaliknya orang yang memiliki ketrampilan tapi karakternya buruk juga bukan seorang yang layak dipercaya.

A.     PERSONAL LAYAK DIPERCAYA
Ciri-ciri TIDAK LAYAK Dipercaya
1.      Sangat dipengaruhi lingkungan fisik. Faktor fisik menjadi alasan tidak optimal seperti cuaca, sibuk, memilih faktor fisik menjadi pengendali
2.      Sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Perilaku orang lain pengendali kita, misalnya ditegur atasan atau penilaian/komentar orang lain menjadi penghalang untuk bisa optimal bekerja.
3.      Berfokus pada kelemahan orang lain Mat 25 : 14-30. Perumpamaan tentang talenta ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki satu talenta fokus pada kelemahan orang lain (menganggap tuannya kejam) alat pembenar. Ketika kita fokus pada kelemahan orang lain, kita memberi kekuatan pada kelemahan orang lain untuk mengendalikan kita.
4.      Berharap sesuatu diluar sana yang berubah. Berharap orang lain yang berubah. Kalimat “JadilahTeladan” itu berarti terus  memperbaiki diri, tingkatkan kemampuan dan karakter, ini ciri orang yang layak dipercaya.
5.      Bahasanya membebaskan diri dari tanggungjawab. Kelemahan tidak dianggap sebagai tanggung jawab untuk memperbaiki.
6.      Suka berbohong/mengaburkan, memakai alasan yang masih bisa diatasi untuk tidak melakukan tanggungjawab.

Ciri-ciri LAYAK DIPERCAYA
1.      Digerakkan oleh nilai. 1  Kor  4:11-13, kelaparan, kehausan, hidup mengembara, melakukan pekerjaan yang berat (lingkungan fisik) tidak membuat Paulus mundur. Lingkungan fisik tidak terlalu mempengaruhi dia. Caci maki, pemukulan, penganiayaan (lingkungan sosial) tidak membuat Paulus patah semangat, tidak membuat dia mundur. Lingkungan sosial tidak dibiarkan mengendalikan semangat pelayanannya. Paulus berkata “Siap sedialah, baik atau tidak baik waktunya..”  nilai yang ada pada dirinya itulah yang menggerakkan Paulus memberitakan Injil. Kol 1:28-29 “Dialah yang kami beritakan…itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan. Roma 1:14-15 “Aku orang berhutang…Itulah sebabnya aku ingin memberitakan Injil”. Faktor penggeraknya dari dalam dirinya
2.      Mengendalikan/menguasai diri
1 Kor 9:27 “Tetapi aku melatih tubuhku dan mengasainya seluruhnya…” 1 Kor 4:11-13 : ketika dimaki memberkati, dianiaya sabar, difitnah menjawab dengan ramah.
Apakah ketika Paulus dimaki otomatis dia memberkati, sama sekali tidak terlintas pemikiran untuk balas memaki? Apakah ketika dianiaya, secara langsung dia sabar, seolah-olah sudah diprogram seperti itu dan tidak ada keinginan untuk berontak atau melarikan diri? Apakah ketika difitnah langsung menjawab dengan ramah, tanpa ada pergulatan dalam dirinya? Tentu tidak. Pasti ada pergumulan dalam dirinya, pasti ada banyak alternatif tindakan atau sikap yang terdorong untuk dilakukan, karena itulah dia perlu menguasai diri. Paulus perlu menguasai diri untuk memilih tindakan yang akan dilakukannya. Orang-orang yang layak dipercaya sadar, bahwa apapun yang dilakukannya adalah karena dipilih untuk dilakukan, bukan karena terpaksa. Bagi orang-orang ini, tidak ada yang terpaksa untuk dilakukan, semua dilakukan karena dipilih untuk dilakukan. Jika saya marah, kecewa, sakit hati, itu terjadi karena saya memilih untuk marah, kecewa, sakit hati bukan karena terpaksa. Sebab bukan yang terjadi pada kita yang lebih menyakitkan, tapi yang lebih menyakitkan adalah bagaimana kita menanggapinya. Orang yang tidak layak dipercaya tidak menyadari pilihan itu, mereka reaktif, ketika dicaci, dihina, diusir, maka rekasinya adalah mencaci, menghina dan sakit hati. Orang yang layak dipercaya tidak demikian, mereka proaktif. Ketika dicaci, dihina, diusir, mereka memberkati, mendoakan.

DAERAH PILIHAN Dimaki, dibenci, sakit hati, didoakan, diberkati
 



Aksi                                                       Reaksi
Dihina, dicaci, diusir                              berkati, doakan

Ada daerah pilihan untuk memilih balas mencaci atau memberkati dan mendoakan. Inti kepemimpinan terletak pada jarak antara aksi dan reaksi. Kualitas hidup ditentukan bagaimana kita memanfaatkan ruang diantara eksi dan reaksi
Mengapa hanya sedikit diantara kita yang melakukan sesuatu sebaik pengetahuan kita? Mengapa kita tidak melakukan apa yang kita tahu harus kita lakukan? Karena kita mengabaikan tali penghubung antar pengetahuan dan kelakuan kita. Kita tidak memilih respon kita. Sumber respon kita sebagai orang-orang percaya dan sumber kekuatan kita untuk melakukannya adalah firman Allah. Band. 2 Tim 3:16
3.      Mereka bekerja pada lingkaran pengaruhnya bukan lingkaran keperdulian kita yang tidak bisa kita kuasai, seperti pujian atau teguran  dari atasan tidak seharusnya mempengaruhi kita. Semakin banyak mereka bergerak pada lingkaran pengaruhnya, semakin banyak hal diluar lingkaran pengaruh itu yang mereka pengaruhi. Ketika kita bekerja dengan kinerja yang baik, akhirnya atasan kita juga dapat semakin mempercayai kita dan memberi pengaruh bagi pimpinan kita. Mereka memberi teladan.
B.     INTERPERSONAL
Pada saat masih bayi, Orang lain sumber kehidupannya, menjadi Beban bagi orang lain, Tidak produktif, Tidak bisa hidup sendiri, Resultan (-)àTERGANTUNG. Pada saat remaja, Cukup bagi diri sendiri, Tidak membebani orang lain, Tidak menyumbang pada orang lain, Resultan (1)à MANDIRI. Pada saat dewasa, siap menyumbang potensi pada orang lain, Orang lain sumbang pada kita, Resultan (> 2, 3, 4 dst)àSALING TERGANTUNG hanya dapat dibangun jika ada saling percaya
KETERGANTUNGAN BISA TERUS BERLANJUT
·         Sangat dipengaruhi lingkungan sosial
·         Sangat dipengaruhi lingkungan fisik
·         Berfokus pada kelemahan orang lain
·         Berharap sesuatu diluar sana yang berubah
·         Bahasa yang membebaskan diri
·         Suka mengaburkan

Ketika kita belum bisa berdiri diatas kaki kita sendiri tidak mungkin kita diikutsertakan dalam lari estafet
ENAM PARADIGMA INTERAKSI MANUSIA
1.      Menang/Menang à Prinsip Kepemimpinan Antar Pribadi . Melihat kehidupan sebagai arena koperatif bukan kompetitif, melihat CARA LAIN/ ALTERNATIF YG LBH BAIK
2.      Menang/Kalah. Pendekatannya  Otoriter, suka memaksakan kehendak, harus mendapat apa yang diinginkan, kurang menghargai orang lain
3.      Kalah/Menang. “Saya kalah, anda menang”, tidak mempunyai pendirian, hanya menyenangkan/memnuhi tuntutan orang lain, disukai banyak orang karena selalu menuru. Orang Menang/Kalah menyukai Kalah/Menang
4.      Kalah/Kalah. Dua orang Menang/Kalah berkumpul,  Ulet, Berkepala batu, Egois“Dari pada tu ho, tumagon tu begu”
5.      Menang. Yang penting mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka tidak harus menginginkan orang kalah. Mengamankan tujuannya sendiri dan menyerakan kepada orang lain tujuan mereka
6.      Menang/Menang atau Tidak Sama SekaliJika kita tidak sepakat memperoleh solusi yang akan menguntungkan kita berdua kita “sepakat untuk tidak sepakat”“Saya tidak mau mendapatkan apa yang saya inginkan dan membuat anda merasa tidak enak. Sebaliknya, saya rasa anda tidak akan merasa senang, jika anda mendapatkan apa yang anda inginkan sementara saya menyerah”

YANG MANA YANG TERBAIK? TERGANTUNG
Supaya kita bisa berelasi dengan orang lain adalah BERUSAHA MENGERTI TERLEBIH DAHULU bukan berusaha untuk dimengerti. Jika kita tidak yakin seseorang itu tidak mengerti tentang kita, maka nasehat baik tidak akan bermanfaat. Kita dapat mengerti orang lain, kita harus mau mendengar.
Empat dasar komunikasi : berbicara, mendengar, menulis, membaca
Empat tingkatan mendengar :
1.      Mengabaikan. Kita tidak benar-benar mendengarkan, hanya berpura-pura mendengarkan
2.      Mendengar secara selektif, hanya mendengar bagian-bagian tertentu dari percakapan
3.      Mendengar secara atentif. Kita menaruh perhatian hanya pada kata-kata yang diucapkan. Mendengar hanya untuk menjawab
4.      Mendengarkan empatik. Mendengar dengan maksud untuk mengerti, untuk melihat dunia dengan cara mereka melihat untuk merasakan perasaan mereka. Dalam mendengar empatik, anda tidak akan mengevaluasi (benar-salah, setuju-tidak setuju), tidak akan menyelidik, tidak akan menafsirkan dan tidak akan menasehati sebelum benar-benar memahami. Intisari mendengar empatik bukanlah anda setuju dengan seseorang, tetapi anda sepenuhnya secara mendalam mengerti orang itu baik secara emosional maupun intelekual

C.     MANAJERIAL :tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan bersama orang lain (team). Pada jenjang ini masing-masing kita bertanggung jawab untuk saling memberdayakan, untuk menggali potensi setiap orang. Empat langkah pemberdayaan:
1.      Akui bahwa mereka terampil, punya kemampuan dan potensi yang besar untuk digali. Bagaimana kita memandang seseorang begitu kita memperlakukannya. Perlakuan kita bergantung pada cara pandang kita
2.      Libatkan mereka. Komitmen akan muncul dari keterlibatan. Ketika orang terlibat, mereka akan merasa memiliki. Dan jika seseorang telah mempunyai rasa memiliki dia akan bersedia memberi. Sebab bagaimana mungkin seseorang memberi, jikalau dia bahkan tidak memiliki? Apabila orang terlibat dalam permasalahan (turut memiliki) mereka akan sungguh-sungguh mencari solusi.
3.      Hargai perbedaan. Inti sari kerjasama kreatif adalah adanya penghargaan akan perbedaan. Kunci untuk menghargai perbedaan adalah menyadari bahwa semua orang melihat dunia, bukan sebagaimana dunia adanya, tetapi sebagaimana mereka adanya
4.      Pendelegasian. Ketika anda mendelegasikan, anda mendorong orang untuk bertumbuh. Ketika anda menolak untuk mendelegasikan, anda memboroskan sangat banyak waktu dan menurunkan produktifitas. Anda akan menjadi orang kunci yang terkunci.

Dua jenis pendelegasian :
1.      Pendelegasian suruhan . Kerjakan ini, kerjakan itu, beritahu saya kalau sudah selesai. Pendelegasian pengawasan, pendelegasian yang kurang efektif
2.      Pendelegasian Pengurusan. Pendelegasian yang berfokus pada hasil dan bukan metode. Pendelegasian ini memerlukan pengertian timbal balik yang jelas dan terbuka serta adanya komitmen sehubungan dengan harapan dalam 5 bidang yaitu :
·         Hasil yang diinginkan. Apa yang harus dicapai bukan bagaimana mencapainya, hasil, bukan metode
·         Patokan. Bukakan apa yang tidak boleh, rambu-rambu apa yang harus dihindari, dan jangan bukakan apa yang harus dikerjakan, biarkan tanggungjawab dimanfaatkan untuk mencapai hasil
·         Sumber daya. Identifikasi sumber daya manusia, keuangan, teknis yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai hasil
·         Tanggung jawab. Bukakan perangkat evaluasi
·         Konsekuensi. Bukakan apa yang akan menjadi konsekuensi keberhasilan atau kegagalan mereka dalam melakukan tugas
Kelima elemen ini harus dimengerti secara jelas oleh kedua belah pihak, sehingga tidak timbul kekecewaan karena tidak terpenuhinya harapan.


D.    ORGANISASIONAL :Penyelarasan seluruh potensi untuk mencapai tujuan

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...