Tampilkan postingan dengan label Walk by Faith (YOSUA 3). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Walk by Faith (YOSUA 3). Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2019

YESUS SANG PEMBUAT MURID

Oleh : Dra.Kasihani Sinulingga



Topik pemuridan adalah topik yang sering kita bicarakan dan diskusikan  tetapi pertanyaannya adalah : Apakah kita sedang dalam proses pemuridan dan terus membentuk murid? Kita yang sudah dibina sejak mahasiswa pastilah sudah menikmati dan mengalami indahnya dimuridkan dan emuridkan orang lain. Saat ini kita akan belajar sekali lagi tentang pemuridan dari telada Tuhan Yesus :

a.      Mengapa pemuridan penting?
·         Pemuridan adalah proses menjadi murid dan menjadikan murid.
·         Pemuridan berkaitan dengan diri kita, harus saya duluan menjadi murid baru bisa memuridkan orang lain. Tidak mungkin kita bisa memuridkan orang lain kalau kita sendiri belum menjadi murid. Bagaimana kita dapat menolong orang lain melakukan persekutuan pribadi jika kita sendiripun tidak taat dalam persekutuan pribadi kita
·         Melalui pemuridan akan jelas progres pertumbuhan :
Ø  Seseorang menerima Kristus, meyakini keselamatan dan praktek iman dalam kehidupan sehari-hari’
Ø  Petobat baru ditolong untuk terus bertumbuh menjadi murid Kristus dalam seluruh aspek hidupnya. Tetap dalam Firman(Yoh 8:31, saling mengasihi(Yoh 13:35) menghasilkan buah (Yoh 15:8), bersedia menyangkal diri dan mengutamakan Kristus
Ø  Seorang murid terus bertumbuh menjadi pembuat murid ditandai dengan kualitas kepemimpinan yang melayani, teladan hidup, bersedia membagi hidup serta kemampuan membimbing orang yang dilayani menjadi seorang murid (Mat 28:18-20). Semua akan terlihat dari kualitas memimpin, menggunakan karunia-karunianya dan siap memimpin orang lain menjadi murid juga.
Ø  Pemuridan akan membuat orang terlibat dalam amanat agung
Seorang pembuat murid tidak akan dihasilkan jika kita tidak ikut dalam pemuridan itu sendiri. Tahapan-tahapan menjadi pembuat murid itu harus dilewati dengan segala tantangannya.

b.      Prinsip Pelayanan Tuhan Yesus
Yesus memulai pelayananNya dengan pemuridan (Mrk 3: 13-15) dan mengakhirinya dengan memberi mandat kepada paara rasul untuk memuridkan (Mat 28:18-20).
Tuhan Yesus konsentrasi kepada beberapa orang, sekalipun Ia juga melayani secara umum dengan mengajar, menyembuhkan orang sakit dll. Yesus melayani orang banyak, memberitakan Injil Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan lain-lain(Mrk 1:14, 21-34. Yesus mencari dan memanggil muridNya untuk dibentuk, Dia mau lebih konsentrasi kepada murid-murid.Yesus melayani banyak orang dan menyembuhkan orang. Ia mengabarkan berita Injil kepada banyak orang. Tetapi ketika Yesus mengatakan bahwa Ia adalah roti hidup (Yoh 6 :56) banyak  orang yang mengundurkan diri. Di saat tertentu banyak orang yang berteriak “Hosana hosanna” tetapi mungkin orang yang sama mengatakan “salibkan Dia” Ada hasil yang dilakukan Yesus secara umum seperti di Lukas 8;1-2 ada perempuan-perempuan yang melayaniu Dia, juga Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea, adalah orang-orang yang mengenal Dia dari pengajaranNya secara umum. Pengajaran umum kepada orang banyak itu: sedikit sentuhan pribadi, sedikit latihan,tersaring ada banyak yang tidak setia


Yesus membuat standard atau kualitas murid (Mat 4:19; Luk 14:25-27). Standar yang Tuhan mau dari murid-murid itu cukup tinggi, bisa kita baca dari Matius 4:19, juga di Lukas 14:25-27, kualitas murid harus mengutamakan Yesus daripada saudara-saudaranya, bahkan menyangkal diri. Kualitas seperti ini tidak mungkin akan dimiliki orlah orang-orang yang tidak pernah melewati proses pemuridan Ini adalah Buah dari proses pemuridan yang dilakukan dengan serius.  Kualitas itu akan tercapai sebagai buah dari suatu proses pemuridan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Karena itu Ia melatih 12 murid dan ada 3 orang yang bersama-sama dengan Yesus menyaksikan kuasa Allah.
Yesus konsentrasi untuk melatih 12 orang menjadi pemimpin.Caranya Yesus berdoa, prosesmemanggil orang yang mau dan bersedia menjalani proses. Dari 12 murid itu kepada 3 (Yakobus,Yohanes, Petrus) Yesus memberikan kesempatan lebih banyak terlibat dalam pelayanan :
ü (Mrk 5:36-43anak Yairus dibangkitkan). Hanya 3 murid yang menyaksikan anak Yairus dibangkitkan. pastilah hal ini akan membuat 3 murid ini terkagum-kagum melihat kuasa Yesus
ü  Luk 8:28-36Yesus dimuliakan diatas gunung. Tiga murid menyaksikan Yesus dimuliakan menjadi suatu pengalaman yang pasti akan selalu terngiang bagi keriga murid ini.
ü  Mrk 14:32-34Doa di taman Getsemani. Yesus membutuhkan ketiha murid ini bisa bersama-sama dengan Yesus untuk berdoa. Kita juga sangat membutuhkan orang-orang yang akan terus mendoakan kita, Kita membutuhkan teman-teman KTB yang akan menguatkan, menolong dan menghibur kita di saat sedih, teman-teman yang mengerti kita dengan baik karena sudah mengenal kita.

c.       Prinsip Kepribadianindividu, progresif dan kedalaman
ü  Yesus punya pengenalan secara pribadi kepada tiap murid-murid, mengenal Yudas yang akan mengkhianati Dia. Ia menegur murid-muridNya yang salah (Luk 9:51-56)
ü  Dia memanggil mereka satu demi satu, mengajar mereka
ü  Menemani murid-murid, mengijinkan murid-murid mengalami kegagalan
ü  Memahami kekhususan murid-murid,
ü  Membawa mereka kepada potensi yang Tuhan taruhkan dalam dirinya
Inilah yang dilakukan Yesus kepada murid-murid, memanggil, mengajar dan membentuk semua murid-murid, masuk ke dalam kehidupan murid, tahu latar belakang dan kesulitan setiap murid. Ini adalah hal yang sulit untuk kita lakukan, tetapi kita harus terus mengerjakan pemuridan dan jika kita semua serius memuridkan, maka gereja, masyarakat, bangsa kita akan mengalami perubahan besar.
Mari kita membaca Efesus 4:13. Ini adalah tujuannya supaya kita semakin dewasa dalam pengajaran, moral, karunia. sehingga kita diharapkan akan siap dengan ajaran-ajaran yang tidak benar, moral dan karunia-karunia. Sehingga setiap KTB harus ada kedewasaan dalam 3 hal ini, bukan hanya sekedar kumpul dan sharing. Mari kita bel;ajar seperti Yesus mengajar murid-murid. Pemuridan itu harus terus berkelanjutan, dengan tetap memuridkan supaya tetap dihasilkan murid berkualitas. Jika kita menyadari bahwa pertumbuhan adalah hal yang kita butuhkan, pastilah kita akan selalu ingin tetap dalam pemuridan. pemuridan adalah proses menjadi dan menjadikan murid, tidak akan pernah berhenti. Apakah kita sedang menjadi murid dan terus memuridkan? Sangat berbahaya jika kita terus terlibat dalam pelayanan di sana sini tetapi tidak lagi dimuridkan.

Penutup
ü  Pemuridan adalah proses seumur hidup. Setiap alumni membutuhkan pemuridan (KTB), supaya terus diproses menjadi murid Kristus.. Kita membutuhkan orang lain untuk mendukung kita tetap menjadi murid
ü  Setiap alumni yang menjadi murid dipanggil untuk memuridkan orang lain (Yoh 17:18). Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan, memberitakan Injil dan Ia konsentrasi memuridkan beberapa orang. Kita diutus Tuhan untuk memuridkan.
ü  Doakan dan cari orang yang mau dimuridkan dan bersedia memberi waktu. Mari berjuang memimpin orang lain dalam kelompok kecil.
ü  Teladani prinsip pelayanan Tuhan Yesus, supaya bisa konsentrasi memuridkan. Jangan terjebak dengan pelayanan secara umum, fokuslah memuridkan pada beberapa orang.
ü  Waspada dengan pelayanan secara umum dengan mengabaikan pemuridan
Mari bersama-sama berkomitmen memuridkan dan terus menjadi murid, dimana kita bisa memuridkan, di gereja, mahasiswa atau alumni, karena pemuridan adalah hal yang sangat penting. Ikutlah teladan Yesus yang memuridkan dengan serius dan mengenal murid-muridNya dengan baik.


SOLIDEO GLORIA

Jumat, 21 Juni 2019

EKSPOSISI ESTER

Oleh : Desmiyanti Tampubolon, STP, MDiv



Kitab ini ditulis tahun 460 SM, . Kitab Ester sangatlah unik sebab dalam kitab Ester nama Allah atau pun nama YHWH tidak ada tertulis. Namun Allah bekerja melalui Mordekhai dan Ester. Dalam kitab Ester konteks keadaan berada di Susan, ibu kota Persia. Sampai saat ini belum dapat dipastikan siapa pengarang kitab Ester. Ada yang mengatakan ,yang menulis kitab Ester adalah seorang dari Synagoge, ada juga  berpendapat bahwa Mordekhai adalah pengarang dari kitab ini (bad. Est. 9:20). Pendapat lain mengatakan bahwa Ezra atau Nehemiah yang menulis kitab ini, tetapi berdasarkan bukti linguistik tidak ada kecocokan style dan diksi antara kitab Ester dengan Kitab Ezra atau Nehemiah. Pandangan yang lain mengatakan bahwa seorang Yahudi Persia yang tidak diketahui namanya yang menuliskan kitab ini untuk menjadi kitab pencatatan sejarah, sehingga nama Allah tiak dicantumkan secara tertulis. Walaupun tidak diketahui dengan pasti siapa yang menulis kitab ini namun dengan rasio kita dapat menyimpulkan kemungkinan penulis kitab ini adalah (1) seorang Yahudi, yang pro tindakan Yahudi dan mengetahui budaya Yahudi, dan (2) Seorang Yahudi Persia yang menjadi saksi mata kejadian yang terjadi dan sepertinya punya akses terhadap catatan Persia (9:20)
Mari kita membaca Ester pasal 4
Siapakah Ester ?
Ia adalah seorang Yahudi, yatim piatu anak saudara ayah Mordekhai dan diangkatnya menjadi anak (Est 2:7). Ester asalnya bernama Hadasa (Est 2:7), nama Ibrani yang berarti tanaman "murad" (inggris:Myrtle). Hadasa (Ibrani) artinya dihiasi dengan keindahan. Semua orang-orang Yahudi yang tinggal di Persia harus mengganti nama mereka dengan nama Persia, sehingga nama Hadasa diganti dengan nama Ester.
Ada anggapan bahwa nama "Ester" berasal dari kata "Astra" yang dalam bahasa Media Persia berarti tanaman murad. Ada pula anggapan bahwa nama Ester berasal dari nama dewi Ishtar, berdasarkan catatan Kitab Daniel bahwa orang-orang Yahudi dalam pembuangan diberi nama dewa-dewa Babel, sebagaimana nama "Mordekhai” dapat diartikan "hamba dewa Marduk”, salah satu dewa Babel. Nama Ester dengan kata Persia artinya "bintang" (bahasa Inggris: star) menjelaskan bahwa Ester diberi nama demikian karena cantiknya seperti bintang yang bercahaya
Kisah Ester menjadi ratu dimulai dari pasal 1.Suatu saat Raja Ahasyweros mengadakan pesta di istana bersama para pembesar dan kaum bangsawan, raja memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya sampai 180 hari (Est 1:1-4),kemudian raja memanggil ratu Wasti untuk memperlihatkan dirinya kepada semua tamu yang hadir, tapi ratu Wasti menolak, hal ini membuat raja marah dan memecat ratu Wasti (Est 1:11-12). Akhirnya raja mulai mengumpulkan perempuan di daerah kerajaannya untuk menggantikan ratu Wasti dan Ester terpilih menjadi ratu
Proses pemilihan ratu menghasilkan Ester, seorang Yahudi yang dibesarkan oleh paman dan ayah angkatnya Mordekai. Dia memerintahkan Ester untuk merahasiakan asal usulnya dan hubungan dengannya.(Est 2:10). Mengapa Ester ikut dalam kontes pemilihan ratu tidak diketahui pasti, kemungkinan karena menyembunyikan statusnya sebagai orang Yahudi sehingga ia ikut serta, atau semua wanita cantik memang harus ikut dalam pemilihan ini (Ester 2:8).
Di Ester 2:21, Mordekhai mengetahui persekongkolan Bigthana dan Teresh untuk membunuh raja, yang kemudian diberitahukan kepada Ester, dan dilaporkan kepada raja memakai nama Mordekai. Bigthana dan Teresh disulakan pada tiang. Raja biasanya menghargai kesetiaan, tapi untuk suatu alasan Mordekhai tidak diberi penghargaan, dan hal ini terlupakan, walau ditulis dalam tulisan raja saat dia mencarinya (Ester 6:2). Di pekerjaan mungkin kita juga akan mengalami seperti Mordekhai, kita sudah melakukan banyak prestasi kerja, bekerja keras, tetapi orang lain yang mendapat penghargaan, posisi. Mordekhai tidak menuntut penghargaan apapun walau telah berjasa bagi raja.
Di pasal 3 tiba-tiba Haman, karakter baru, diperkenalkan. Raja mengangkat  dia diatas semua orang dan sangat mempercayai dia. Raja memerintahkan semua warganya menunjukan hormat pada Haman, dengan berlutut dan sujud kepada Haman, tetapi Mordekhai tidak berlutut dan sujud didepan Haman (Ester 3:2). Haman marah (Est 3:5) dan berniat  menyingkirkan Mordekai dan setiap Yahudi didalam kerajaan. Dia memberitahu raja bahwa ada ras tertentu yang mau memberontak (Est 3:8-9), yang tidak mau tunduk, dan raja harus menyingkirkan mereka. Dia menawarkan uang yang sangat besar pada raja untuk menyatakan hari tertentu dimana setiap orang dalam kerajaan bisa membunuh setiap orang Yahudi yang mereka temui dan merampas milik mereka. Upahnya adalah 10.000 talenta perak (1 talenta= 34 kg, di Perjanjian baru 1 talenta =6000 dinar, 1 dinar= upah dalam sehari), jika dihitung dalam dinar berarti jumlahnya 10.000 x 6000 =60.000.000 dinar, jika dibagi upah perhari dalam setahun : 60.000.000/365 hari = gaji 164 tahun. Jumlah yang sangat besar.
Nama dari ras ini tidak diberitahu pada raja, dan dia juga tidak memintanya. Ahasyweros memberikan cincinnya kepada Haman, seperti memberi cek kosong. Sekarang Haman memiliki otoritas untuk membuat hukum apapun yang disukainya dengan nama raja. Saat Mordekhai tahu hukum apa yang sedang dibuat oleh Haman, dia mulai berkabung (Est 4:1). Dia tidak berkabung secara pribadi, tapi didepan umum; sangat terbuka. Mordekai pergi ketengah kota dan ke “gerbang raja.” Dia tidak masuk gerbang, karena terlarang bagi yang berkabung. Raja menjauhkan dirinya dengan kesedihan. Sangat tidak popular menunjukan kesedihan di istananya (lihat Nehemiah 2:2). Raja abad pertengahan tidak memiliki “tempat berkabung” hanya tempat bergurau.
Melihat Mordekai berkabung sangat menekan Ester. Tapi, usaha awalnya bukan mempelajari kenapa Mordekai berkabung tapi membujuknya untuk berhenti berkabung (Est 4:4). Apakah ini karena hal itu menekan yang lain dan berbahaya (Mordekhai sedekat mungkin dengan istana, tapi tidak melewati gerbang raja)? Dia mengirim pakaian kepada ayah angkatnya, berharap bisa membujuknya berhenti berkabung. Tapi Mordekai tidak bisa dinasehati. Esther perlu mengetahui apa yang terjadi, jadi dia mengirim pelayan terpercayanya kepada Mordekai untuk menyelidiki kenapa dia berkabung dan tidak mau berhenti.
Mordekhai melaporkan pada Hatah semua yang terjadi padanya (ayat 7). Dia mengatakan jumlah harta yang dijanjikan Haman dan salinan keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Hal ini diperintahkan kepada Hatah untuk dikatakan pada Ester, bersama dengan perintah agar dia menghadap raja dan memohon bagi bangsa Yahudi.
Ester mengatakan pada Mordekai melalui Hatah (Est 4:10) bahwa menghadap raja tanpa dipanggil, melawan hukum. Hukumannya adalah kematian.  Ester tidak bisa menghadap tanpa diundang, satu-satunya harapan adalah dia diperintah oleh raja. Inilah masalahnya; sudah 30 hari Ester tidak diundang bersama raja. Jawaban apalagi yang bisa diberikan kepada Mordekhai selain“tidak” ? Setiap orang yang menghadap raja adalah karena diundang raja, peraturan ini juga berlaku bagi ratu, setiap orang yang melanggar akan mendapat hukuman mati.
Kapan kita pernah bertindak seperti Ester? Dengan kedudukan dan kuasa yang kita miliki, pernahkah kita memperjuangkan bawahan kita untuk mendapatkan haknya, penilaian kerja yang tidak adil dan kita perjuangkan supaya mendapat posisi yang lebih baik?
Mordekhai mengingatkan, untuk berpikir dengan baik. Keputusan dari Haman mencakup semua orang Yahudi, sekalipun Ester berada di istana raja, akan diketahui jika ia ternyata seorang Yahudi juga, dan jika Ester terluput dari hukuman ini, kaum keluarganya akan binasa (4:13). “Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain….Siapa tahu mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu”. Mordekhi mengingatkan resikonya pada Ester, ia juga pasti tidak akan terluput dari hukuman ini dan seandainya ia terluput, seluruh keluarganya juga akan binasa. Jika saat ini Ester menjadi ratu, mungkin memang ia disiapkan untuk hal ini.
Resiko seperti apa yang kita hadapi ketika Allah menempatkan kita di pekerjaan? Apakah kita pernah menghadapi ancaman akan dipecat jika bersikap jujur dan berintegritas? Posisi apa yang Tuhan percayakan pada kita saat ini dan untuk tujuan apa kita ditempatkan Allah disitu? Sebagai apa dan posisi apapun dalam pekerjaan, mari berjuang mempertahankan hidup benar di hadapan Tuhan.
Sebelum Ester menghadap raja, Ester memberikan perintah kepada Mordekhai agar Mordekhai mengumpulkan seluruh orang Yahudi di Susan dan berpuasa baginya. Jangan ada yang makan atau minum selama 3 hari, siang dan malam (Ester 4:16). Dia dan pelayannya akan melakukan itu, dan kemudian akan pergi menghadap raja. Dia akan melawan hukum dan mempertaruhkan nyawanya.Yang menarik pada bagian ini adalah bagaimana pernyataan dari Ester untuk membela kaumnya umat Yahudi yaitu, “. . . kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Ester 4:16b). Ester meminta dukungan semua orang Yahudi untuk berpuasa selama 3 hari. sebuah permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah sebelum ia masuk menghadap raja. Seberapa sering dan lama kita pernah berdoa bagi orang lain, bagi bangsa dan Negara kita, bagi provnsi dimana kita tinggal dan bekerja?
Setelah semua orang Yahudi berpuasa selama tiga hari, Ester mempertaruhkan nyawanya dengan menghampiri raja tanpa diundang (Est 4:1-17). Pada hari yang ketiga (Est 5:1) Ester,berdiri di pelataran dalam istana raja. Hal ini dilakukannya agar ia mendapat perhatian dari raja. Saat itu, raja sedang bersemayam di atas tahta kerajaannya, di dalam istana raja.
Patut dicatat bahwa pelataran dalam istana raja merupakan tempat khusus bagi raja. Hukuman mati disediakan bagi mereka yang berada di pelataran dalam istana raja itu jika raja tidak berkenan memanggil (bdk. Est 4:11a). Oleh karena itu, tak heran bila Ester berusaha untuk tampil semenarik mungkin, yakni dengan mengenakan pakaian ratu. Besar harapan Ester agar raja tertarik saat melihatnya dan berkenan memanggilnya! Strategi Ester dengan berpenampilan sebaik mungkin dan mengenakan pakaian ratu, supaya raja mengizinkan dia untuk masuk dan berbicara.
Ester berhasrat untuk mendapat perhatian raja karena Ester berniat untuk memohonkan sesuatu kepada raja berkenaan dengan nasib bangsanya (Yahudi!). Bangsanya sedang berada di ujung tanduk, sebab Haman, seorang petinggi istana, telah merencanakan untuk membantai seluruh orang Yahudi di kerajaan Ahasyweros, karena ia merasa telah dilecehkan oleh Mordekhai, seorang Yahudi, paman sekaligus pengasuh Ester (bdk. Est 3:2-4:17). Usaha Ester rupanya  berhasil,raja berkenan kepadanya, ketika ia melihat Ester berdiri di pelataran.
Raja lantas mengulurkan tongkat emas kepada Ester. Uluran tongkat emas tersebut merupakan sebuah tanda penerimaan raja kepada Ester. Dengan mengulurkan tongkat emas, raja juga menyatakan kuasa yang dimilikinya pada Ester (bdk. Est 4:11; 8:4). Raja bertanya pada Ester perihal maksud dan keinginannya dikuti dengan pernyataan raja “Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu” (Est 5:3)
Permintaan Ester sederhana “Jikalau baik pada pemandangan raja, datanglah kiranya raja dengan Haman pada hari ini ke perjamuan yang diadakan oleh hamba bagi raja. Ia hanya meminta agar raja bersama dengan Haman (seorang petinggi istana raja yang berencana untuk memusnahkan orang Yahudi di kerajaan Ahasyweros karena merasa telah dilecehkan oleh Mordekhai (Bdk Est 3:1-5) datang ke perjamuan yang ia adakan. Biasanya, perjamuan selalu diselenggarakan dengan intensi atau tujuan yang dianggap penting (bdk. Est 2:18; 9:22.Lewat perjamuan tersebut, Ester rupanya hendak mengadukan perbuatan jahat Haman yang telah berencana untuk membunuh semua orang Yahudi di wilayah kerajaan Ahasyweros. Oleh karena itu,ia hendak memohon keselamatan bagi bangsanya  dan dirinya sendiri pada raja (bdk Est 7:1-6).
Malam itu raja tidak dapat tidur (Est 6:1) dan ia meminta dibacakan kitab pencatatan sejarah dan menemukan catatan Mordekhai yang melaporkan persekongkolan Bightan dan Teresh yang ingin membunuh raja, dan Mordekhai tidak mendapatkan anugrah apapun (Est 6:4). Raja bertanya kepada Haman apa yang harus  dilakukan kepada orang yang ingin dberi penghormatan oleh raja (Ester 6:6). Haman mengira raja akan memberi penghormatan bagi dia dan bukan untuk Mordekhai. Lalu Haman mengusulkan supaya  ia mengenakan pakaian yang biasa dipakai raja, menaiki kuda yang biasa dikendarai raja, mengenakan mahkota kerajaan  dan diarak keliling lapangan kota sambil berseru-seru :”Beginilah  dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya” (Ester 46:7-9). Lalu raja memerintahkan supaya semua yang dikatakan Haman itu dilakukan kepada Mordekhai dan Haman sendiri yang memimpin acara penghormatan itu.
Tibalah pada acara perjamuan Ester dengan raja dan Haman, Ester mengatakan bahwa ia  dan orang-orang sebangsanya (Yahudi) yang berada dalam kerajaan Ahasyweros terancam punah karena bakal dibunuh dan dibinasakan (Ester 7:4). Lebih jauh, Ester menambahkan bahwa dalang dari kemalangan yang menimpa Ester dan orang-orang sebangsanya adalah Haman. “Lagipula tiang yang dibuat Haman untuk Mordekhai, orang yang menyelamatkan raja dengan pemberitahuannya itu telah berdiri didekat rumah Haman” (Est 7:9), raja memerintahkan agar Haman disula kan pada tiang itu
Usaha Ester (dan Mordekhai) berhasil menyelamatkan orang Yahudi, dan tindakan serta euforia orang Yahudi dalam merayakan pembebasan mereka dari usaha pemusnahan yang dilancarkan Haman(Ester 8-9). Ester berhasil mendapat kuasa dari raja Ahasyweros untuk menetapkan surat titah yang bisa menyelamatkan nyawa orang Yahudi. Pasal 9 berkisah tentang tindak lanjut orang Yahudi atas surat titah tersebut, diceritakan tentang bagaimana orang Yahudi membantai semua orang yang dulu pernah memusuhinya, serta penetapan hari raya Purim sebagai peringatan sukacita lolosnya orang Yahudi dari bahaya maut yang mengancam mereka.
Tokoh Ester mengajar kita:
·         Untuk bergantung sepenuhnya pada Allah (Ester 4:15-17), karena Dia memelihara kita
·         Untuk percaya kepada Allah, sebab waktu Tuhan sangat sempurna
·         Untuk melakukan apa yang benar, diplomatis, punya strategi dan pendekatan (Est 5:1-8; 7:1-6)
·         Untuk bertindak, dengan berani menerima resikonya (Est 4:6)
·         Untuk tekun berdoa melewati masa-masa kritis dan meminta dukungan doa dari banyak orang

Kisah Ester menunjukkan:
·         Pemeliharaan Allah berarti bahwa Ia berkuasa penuh atas dunia. Ia Allah yang berotoritas dalam hidup kita, Ia mampu mengubahkan segla sesuatu menjadi baik.
·         Allah selalu ingat akan umat-Nya, ketika banyak orang Yahudi  di Persia berpikir bahwa Allah telah melupakan mereka
·         Allah mengatur segala peristiwa. Allah menempatkan Ester pada kedudukan penting pada waktu yang tepat. Pada waktu diperlukan, Dia bahkan membuat Raja Ahasyweros tidak dapat tidur (Est 6:1)! Allah sungguh-sungguh bekerja
Mari belajar seperti Ester, berani berjuang untuk orang lain, dimanapun kita bekerja dan sebagai apapun, berani bertindak, memiliki doa yang sungguh-sungguh untuk sebuah perubahan karena Allah kita adalah Allah yang berotoritas dan selalu memelihara kita.

SOLIDEO GLORIA


Jumat, 12 April 2019

KEPEMIMPINAN MUSA (Berkarya bagi Allah dalam dunia profesi)

Oleh : Drs Tiopan Manihuruk, MTh



A.  Keadaan Israel di Mesir saat Musa lahir
Setelah Yusuf meninggal dan raja yang memerintah di Mesir digantikan oleh orang yang tidak mengenal Yusuf,  Firaun yang kemudian memerintah di Mesir melakukan penindasan yang keras terhadap orang Israel  (Kel. 1: 1-22)
Dalam kondisi seperti ini lahirlah Musa dari keturunan kaum Lewi (Kel. 2: 1-2) dan untuk menyelamatkannya dari genosida Firaun, oleh ibunya dan dalam pengawasan kakaknya, Musa ditempatkan ditepi sungai Nil. Kemudian putri Firaun mengadopsi dia (Kel. 2: 3-10)
B.  Concern & Compassion
Lahirnya beban dan kepedulian Musa saat melihat kaumnya tertindas (Kel. 2: 11-12). Melarikan diri ke Midian sebagai perjalanan hidup 40 tahun yang kedua dan menikah dengan Zipora (Kel. 2: 13-22). Kehidupan Musa 40 tahun pertama mendapatkan pendidikan di Mesir dan 40 tahun kemudian dididik dan belajar sebagai seorang gembala
Kehidupan di Mesir dan Midian merupakan cara Tuhan membentuk dan memperlengkapi Musa sebelum dipanggil berkarya bagi Dia. Sengsara Israel karena perbudakan dan teriakan mereka sampai dan diperhatikan oleh Allah - concern (Kel. 2: 23-25). Panggilan Musa untuk membebaskan orang Israel dengan keharusan meninggalkan zona aman (Kel. 3: 1-6)
C.  Panggilan Musa
Allah menjumpai Musa dan memperkenalkan diri-Nya (Kel. 3: 1-6) – pentingnya mengenal siapa yang memanggil. Kel 4:13 Allah memanggiil Musa untuk memimpin Israel keluar dari Mesir., Musa menolak karena ia tidak pintar bicara, seorang plegmatik.. Allah membukakan keadaan Israel – sharing (Kel. 3: 7-9) –
(a) Allah  telah tahu dan memperhatikan penderitaan orang Israel (ay. 7); (b) Allah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka ke Kanaan (ay. 8); (c) Seruan atau teriakan orang Israel telah sampai kepada Allah (ay. 9)
D.  Perintah Allah & Respon Musa
Pergilah, Aku mengutus engkau ke Firaun untuk membawa umat-Ku keluar dari Mesir (3: 10). Allah memperkenalkan diri – Keadaan dibukakan/sharing beban – Musa dipanggil, diperintahkan & diutus dengan tugas yang jelas sebagai alat Allah untuk membebaskan umat-Nya
E.  Respon dan Dalih Musa
1.    Merasa tidak layak (3: 11) – ’siapakah aku ini, maka aku yang menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?’
Perintah Tuhan disertai dengan jaminan penyertaan-Nya dengan tanda bahwa Tuhan yang mengutus dia, yakni mereka akan beribadah kepada Allah di sebuah gunung (3: 12)
2.    Takut legitimasinya dipertanyakan (3: 13) – ‘bagaimana tentang nama-Nya dan apa jawabanku?’
Pentingnya keabsahan diutus oleh Allah sehingga tidak sembarang mengklaim
Pengenalan pribadi Allah yang mengutus sangatlah penting sebagai legitimasi panggilan dan pengutusan. Allah memperkenalkan diri-Nya (Tuhan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, itulah nama Allah untuk selama-lamanya dan sebutan nama-Nya turun temurun) kemudian menekankan kembali bahwa Dialah yang mengutus Musa (3: 14-15).
Setelah menegaskan siapa diri-Nya, Allah kembali memerintahkan Musa untuk pergi (3: 16) dengan strategi atau metode kerja sbb:
·         Berbicara kepada key person Israel (3: 16)
·         Bukakan bahwa telah bertemu dengan Allah yang telah mengindahkan mereka atas perlakuan orang Mesir (3: 16b)
·         Tuhan akan menuntun Israel keluar dari Mesir menuju Kanaan yang berlimpah susu dan madunya (3: 17)
·         Bekerjasama dengan key person menghadap Firaun dan minta izin keluar ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan di sana (3: 18)
·         Tuhan mengingatkan bahwa Firaun tidak akan membiarkan Israel pergi kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat (3: 19-22) – Ini penting supaya Musa dan org Israel tahu bahwa bukan karena kekuatan mereka yang membuat Firaun mengizinkan keluar, melainkan kuasa Tuhanlah yang memungkinkan hal itu
3.    Takut kredibilitasnya dipertanyakan – takut ditolak (4: 1) – ‘bagaimana jika mereka tidak percaya dan tidak mendengar perkataanku dan berkata bahwa Tuhan tidak menampakkan diri kepadaku?’ Tuhan meneguhkan panggilan-Nya dengan memberikan kuasa kepada Musa, melalui berbagai mujizat (4: 2-9)
4.    Merasa kurang kapabilitas/kemampuan – takut gagal (4: 10) – ‘tidak pandai bicara sebab berat mulut dan berat lidah sejak dahulu’
Tuhan meneguhkan Musa dengan berkata bahwa Dialah sumber segala sesuatu dan bagi Dia tidak ada yang mustahil. Tuhan akan mengajar dan memampukan Musa (4: 11-12)

5.    Mengelak karena merasa ada orang yang lebih patut daripada dirinya (4: 13) –rendah hati atau rendah diri?
Allah murka dan membukakan bahwa Musa punya saudara/orang lain yang bisa dipakai-Nya untuk mendampingi serta diberi kuasa atau tongkat untuk mengadakan mujizat  (4: 14-17) – team-work
F.   Ketaatan Musa
Musa pamit mohon izin dari mertua (4: 18). Tuhan memberitahukan kepada Musa bahwa orang Mesir yang ingin mencabut nyawanya telah mati (4: 19). Musa berangkat dengan membawa keluarga (co-partner) 4: 20. Ada perintah Tuhan agar memperbuat mujizat di depan Firaun, namun Tuhan akan mengeraskan hati Firaun sehingga orang Israel tidak diizinkan pergi (4: 21-23). Tuhan mengutus Harun sesuai janji-Nya untuk membantu Musa (4: 27)
Musa sharing beban dengan Harun dan bersama-sama menjumpai tua-tua Israel untuk memberitahukan mandat Allah (4: 28-30). Beban lahir ketika mengetahui keadaan orang lain karena kepedulian (concern) –untuk membangun kepemimpinan atau pelayanan terlebih dulu bagikan beban bukan langsung berbicara soal tugas.  Orang yang memiliki jabatan/posisi tanpa memiliki beban,. ia tidak akan bekerja. tetapi orang yang memiliki beban, menangkap visi,  pasti akan bekerja sekalipun tidak memiliki posisi. Respon Israel kepada Allah yang mengindahkan kesengsaraan mereka: Mereka berlutut dan sujud menyembah Allah (4: 31) bd. Neh. 2: 16-18
G.  Tugas Dimulai
Musa menghadap Firaun, namun ditolak hingga akhirnya Tuhan sendiri yang bekerja (psl. 5-11). Tidak mundur begitu ditolak oleh Firaun (5: 2-3). Diprotes oleh para mandur Israel karena dianggap sebagai menambah beban dan sengsara mereka. Musa dianggap membusukkan nama dan mau membunuh mereka (5: 20) –yang ditakutkan Musa sebelumnya kini menjadi kenyataan. Melaporkan penolakan Firaun dan protes Israel pada dirinya dan sekaligus protes kepada Allah yang memerintahnya (5: 22-23). Diteguhkan Tuhan kembali dengan janji penyertaan dan kuasa-Nya yang menjamin pembebasan Israel (5: 24; 6: 1-7). Hal ini penting karena Musa mengalami penolakan dari 2 sisi (dari Firaun dan orang Israel). Sebagai pemimpin ketika menghadapi kesulitan di dalam pelayanan atau pekerjaan jangan cepat mundur, cepat datang kepada Tuhan. Ketika ada pimpinan yang keras dan kejam, belum tentu itu bukan pimpinan Tuhan kita bekerja disana. Tempat kerja yang nyaman belum tentu pimpinan Tuhan, tempat kerja yang tidak nyaman, belum tentu karena Tuhan tidak memimppin kita. Setelah janji Tuhan meneguhkan Musa, Musa terus ditolak Firaun (sampai kali ketiga, 7: 10-13) dan berkali-kali diprotes dan ditolak Israel (6: 8) namun kembali diteguhkan oleh Tuhan (6: 9-12)
Pada awal kepemimpinan Musa dia mendapat penolakan dari Firaun dan dari Israel. Wajarkah jika Musa langsung melarikan diri? Wajar, tetapi Musa tidak mundur karena jelas panggilannya.. Dalam pekerjaan kita bisa  mendapat penolakan dari 2 sisi (pimpinan dan bawahan), apakah kita mundur? Mari belajar dari Musa yang terus maju walaupun mengalami pergumulan.
Belajar dari Musa, ditolak berkali-kali dan disalahkan Israel Musa berkali-kali, tetapi Musa tetap teguh memimpin Israel. Menghadapi hal ini , Musa kembali protes kepada Tuhan (6: 29), tetapi Tuhan kembali meneguhkan panggilannya (6: 22-7: 9). Cat: Ketika menghadap Firaun, usia Musa sudah 80 tahun. Ia 40 tahun di Mesir, 40 tahun di Midian, 40 tahun di padang gurun. Musa memimpin usia 80 tahun dan ditolak berkali-kali.
Musa diberi kuasa oleh Tuhan mendatangkan tulah (10x)  sehingga Firaun mengizinkan Israel pergi (7: 3-5, 14-12: 42).
Catatan: Dipanggil Tuhan demi umat-Nya bukan berarti tanpa rintangan dan tantangan, tetapi ada penyertaan Tuhan di dalamnya
Pada tulah ke 10 orang Israel yang memiliki tanda darah di pintunya dilewatkan oleh malaikat dan tidak ada kematian anak sulung, dan di Mesir semua anak sulung meninggal dan akhirnya Firaun membiarkan Israel pergi. Hal inilah yang dirayakan orang Yahudi tentang Paskah sampai hari ini, mengingat kelepasan Allah keluar dari Mesir. Kini paskah dirayakan karena kebangkitan Yesus pada hari yang ketiga. Yesus adalah korban yang sempurna. Sehingga bagi orang Kristen, paskah ada 2 : kelepasan Israel dari Mesir dan kebangkitan Yesus.
H.  Tugas yang lain
Musa bukan saja membawa Israel keluar dari Mesir, tetapi juga  membangun spiritualias umat (12: 1-28, 43-51). Musa bukan nabi, Musa adalah seorang tokoh politik, penguasa yang  memiliki karunia kenabian. Jika kita memiliki posisi pemimpin di pekerjaan , kita tidak sebatas pemimpin di perusahaan, tapi pemimpin kerohanian dalam arti membangun nilai-nilai etika, dan integritas dalam profesi kita. pekerjaan kita tidak boleh lepas dari nilai intrinsik kerja yaitu :kita bekerja dan menghadirkan kerajaan Allah (membangun nilai, kesejahteraan dan  hadir menjadi berkat)àMisi. Mandat kita ada 2 :mandat Injil,dan mandat budaya . Inilah yang disebut  misi holistik/integral (apa yang disebut penyelesaian dosa sosial terintegrasi untuk menyelesaiakan dosa vertikal). Misi Injil dan misi sosial ini dilakukan sesuai kebutuhan , mana yang lebih mendesak, hal itu yang dilakukan lebih dulu,
Israel kembali protes karena kondisi ‘terjepit’ dikejar Firaun (14: 1-13) – ‘lebih baik bekerja diperbudak di Mesir daripada mati di padang gurun’ (ay. 11-12). Inilah mental budak orang Israel, lebih suka hidup enak, takut menghadapi resiko. Peluang dan tantangan berada pada satu ruang dan waktu yang sama, dan kita harus melihat dengan jeli..Musa mengatakan bahwa Tuhanlah yang berperang bagi Israel (14: 13-14). Pemimpin harus berani mendukung orang lain. Ketika melihat ancaman, seorang pemimpin akan tegar dan mampu menguatkan anggotanya. Maka pemimpin bukan sebatas posisi, tetapi pengaruh. Adakah kehadiran kita bisa menyelesaikan yang kacau, bisa menenangkan dan memberi semangat orang-orang di sekitar kita, berarti kita adalah pemimpin. The real leader adalah yang memiliki pengaruh. Mungkin kita bisa saja tidak menjadi pemimpin di pekerjaan, tapi ketika  kita bisa mengarahkan kantor itu berintegritas, mengarahkan melihat peluang ke depan, kita adalah pemimpin. Kita mungkin bukan kepala sekolah, tapi ide kita digunakan dan kita dihormati di sekolah, kita adalah pemimpin. Di gereja mungkin kita bukan pendeta, tapi ide kita dapat membangun  gereja, kita adalah pemimpin. Jangan  kejar ambisi posisi tapi memiliki pengaruh.
Oleh kuasa Tuhan yang menyeberangkan mereka di laut Teberau dan sekaligus membuat Firaun serta pasukannya mati, membuat Israel percaya pada Tuhan dan Musa (14: 15-31) – adakalanya karya nyata sebagai bukti kuasa Tuhan dan keabsahan panggilan. Kadang-kadang dibutuhkan sebuah konfirmasi dari Tuhan untuk sebuah panggilan., Konfirmasi dengan pernyataan kuasa Tuhan, konfirmasi ketika kita lepas dari kekacauan, konfirmasi ketika kita bisa menggatasi kesulitan. Dalam kondisi kesulitan (chaos), kita bisa dipakai Tuhan, dan itu sebagai konfirmasi dari Tuhan bahwa kita adalah seorang pemimpin. Musa bernyanyi dengan orang Israel, memuji Tuhan atas kasih dan kuasa-Nya bersama Israel (15: 1-21)
Diperhadapkan kembali pada sungut-sungut Israel karena tidak ada air yang dapat diminum di gunung Horeb (Mara dan Meriba) 15: 23-24. Secara geografis, orang Israel paling lama tiba di Mesir itu 40 hari dan akhirnya mereka tiba 40 tahun karena dosa Israel. Orang Israel mengeluhkan air, makanan dan akhirnya Tuhan menurunkan manna untuk orang Israel hingga mereka sampai di Mesir.
Menghadapi sungut-sungut/protes Israel saat berangkat dari Elim ke gurun Sin (antara Elim dengan gunung Sinai) pada hari ke-15 bulan kedua setelah keluar dari Mesir, di mana Israel mengeluhkan makanan yang tidak selezat di Mesir (16: 2-3) sehingga Tuhan menurunkan manna (16: 4-36)
Musa bertengkar dengan Israel dari gurun Sin ke Rafidim karena tidak air (17: 1) dan menganggap Musa mau membunuh mereka bersama istri dan anak-anaknya (17: 2-3) sehingga mereka mempertanyakan apakah Tuhan ada ditengah-tengah mereka (17: 7). Musa selalu diperhadapkan dengan sungut-sungut dan protes orang Israel ketika kesulitan tiba, namun Musa melihat hal itu dialamatkan bukan pada dirinya melainkan kepada Tuhan (16: 8). Pernahkah kita bertanya apakah Tuhan benar-benar menempatkan kita di tempat ini? Jika jelas panggilan Tuhan, kita harus tetap bertahan disitu. Penolakan dan protes Israel dipandang Musa bukan kepada dirinya tapi kepada Allah, karena Allah yang memangil, Allah yang menyertai dan Allah yang menolong.
Musa diiberi kuasa oleh Tuhan (tangan Musa terangkat) sehingga menang melawan serangan Amalekh (17: 8-16), Jika tangan Musa turun, Israel kalah perang, jika tangan Musa naik, Israel menang perang. Karena itu sangat penting wibawa rohani. bukan hanya posisi. Mari memiliki wibawa rohani dengan hidup suci dan dalam kebenaran.Musa seharian harus mendengar masalah dari seluruh Israel dan Yirtro menegur Musa.  Musa mau menerima nasehat orang lain (Yitro, mertuanya)  dengan mengangkat pemimpin 1000, 100 dan 10 dengan kualifikasi yang tepat (18:1-25). Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang mau mendengar masukan, mau mendelegasikan tugas dan tanggung jawab. Tidak ada pemimpin yang bisa maju jika ia tidak mau mendengar nasehat. seperti ditulis dalam Amsal “semakin banyak penasehat, maka semakin baik” tapi tergantung penasehatnya baik atau tidak. Di gurun Sinai Musa menghadap Allah (19: 3-25) dan menerima hukum Taurat (20: 1-17) dan peraturan ibadah dan tatanan masyarakat Israel (psl. 20-23). Dua loh batu bertulis hokum taurat adalah kitab suci yang pertama.
Naik gunung Sinai selama 40 hari/malam untuk menerima loh batu hukum dan perintah yang ditulis Tuhan (24: 12-18) dan peraturan kemah suci serta tatanan peribadahan Israel (psl. 25-31). Marah ketika dia turun ditemukannya Israel telah menyembah patung anak lembu emas (32: 15-20) karena menurut orang Israel Musa mengundur-undur waktu di Sinai (32: 1-6) dan Musa memarahi kakaknya, Harun (32: 21-24). Mari tetap memelihara kondisi rohani yang sehat supaya kita peka terhadap dosa, jangan kompromi dengan dosa. Musa tegas kepada Israel dan marah kepada Harun. Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang tegas dengan dosa dan komitmen tegas terhadap kebenaran. Musa tidak sungkan menegur abangnya sendiri Harun.
Musa membela Israel di hadapan Tuhan dan memohon belaskasihan-Nya (32: 11-14) – ciri pemimpin yang bertanggungjawab atas kesalahan anggotanya. Ada banyak pemimpin “cuci tangan” terhadap kesalahan anggotanya. Pemimpin bertanggung jawab atas kelemahan, kekurangan anggotanya. Musa merestorasi iman dan peribadahan Israel dengan memberikan mereka kebebasan memilih apakah ikut Tuhan atau tidak (32: 25-29). Musa kembali naik ke Gunung Sinai menerima Taurat Tuhan dan membela Israel kembali mohon pengampunan Allah (32: 30-35) dan rela berkorban demi Israel (32: 32). Seorang pemimpin harus belajar bertanggung jawab bagi orang yang dipimpinnya tapi juga belajar merestorasi iman mereka.
Tidak mau melanjutkan pemimpin Israel menuju Kanaan apabila Tuhan tidak mau menyertai Israel kembali (33: 12-17) karena sebelumnya Tuhan mau menyuruh malaikat saja karena Israel yang tegar tengkuk (33: 2-3). Musa menolak untuk pergi jika Allah tidak menuntun mereka. Sangat dibutuhkan kehadiran dan penyertaan Allah didepan Israel, Karena tanpa kehadiran Allah secara langsung karena Musa takut kepemimpinannya gagal membawa Israel masuk ke Kanaan.Musa kembali ke Sinai untuk menerima Taurat dengan loh yang dibuat Musa sendiri (psl. 34:19.Berdoa bagi Israel yang dipimpinnya (34: 8-9)

Dengan puasa supra-natural selama 40 hari/malam (34: 28), Musa menerima dan menuliskan Taurat Tuhan kembali (34: 10-27). Kedekatannya dengan Tuhan membuat wajah Musa bercahaya sehingga tidak seorangpun mampu menatap wajahnya setelah dia turun dari Sinai (34: 29-35) – wibawa rohani seorang pemimpin. Wibawa rohani membuat wajah kita bercahaya, bukan karena anggota takut karena posisi kita sebagai pemimpin.  Mari kita baca Ulangan 34:4 Musa tidak akan memasuki Kanaan sehingga di Ulangan 31, Musa mempersiapkan Yosua sebagai pengganti. Bukan hal yang mudah memikirkan ia tidak akan masuk ke tanah Kanaan dan harus menyiapkan seorang pengganti. Mari mempersiapkan kaderisasi, supaya ketika kita pergi tetap ada yang dapat melanjutkan pelayanan/pekerjaan kita.

SOLIDEO GLORIA

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...