Tampilkan postingan dengan label Eksposisi Yakobus 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eksposisi Yakobus 2. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2019

UNLIMITED GOD, UNLIMITED BLESSING

Oleh : Dr.Ir.Surya Sembiring, MS





Mari kita membaca Keluaran13 :17-21 . Saat ini kita akan belajar bagaimana perjalanan Israel keluar dari Mesir ke tanah Kanaan karena kuasa Allah yang luar biasa memberi berkat. Allah yang berkuasa itu yang membedakan bangsa Israel dari bangsa2 lain. Allah yang berkuasa itu membawa Israel keluar, karena pekerjaan Allah sendiri menyertai dengan tiang api pada malam hari  dan tiang awan pada malam hari. Hanya Allah yang tidak terbatas yang mengerjakannya, ini yang dialami, dilihat oleh orang Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Kita membaca dari Keluaran 14 :1-14àisrael membuat kemahnya persis menghadap laut Teberau, itu adalah perintah Tuhan untuk berkemah disana. Kel 14;11 tentra Mesir datang dengan kendaraan berkuda, Kel 14:6-7, semua sumber daya Firaun dibawa untuk membawa kembali orang Israel ke Mesir. orang Israel sangat ketakutan, di belakang mereka ada tentra Mesir dan didepan ada laut Teberau “apakah karena tidak ada kuburan di Mesir maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini?” (Kel 14:11).  Unlimited God menunjukkan unlimited blessing dalam situasi ini, secara pikiran manusia tidak mungkin mereka selamat, bangsa Israel sekitar 603ribu pemuda diatas 20 tahun selain anak-anak dan perempuan, jumlah yang besar, mereka sedang dikejar tentra Firaun dan didepan mereka ada laut Teberau. Apa yang dikerjakan Allah dalam Kel 14: 21, Tuhan mengulurkan tanganNya ke atas laut dan laut itu terbelah dan menjadi kering. Inilah unlimited God yang memberi unlimited blessing. Ada satu pengalaman rohani bagi mereka (nyanyian pujian Musa: keluaran 15:2,3,6,11,13,16,18), semua menunjuk pada satu pribadi yaitu Allah sendiri yang berkuasa. Alllah menunjukkan kuasa dan kasih setiaNya pada umat pilihanNya bangsa Israel. Ketika mereka melihat, mereka semakin takut dan hormat kepada Tuhan.
Mari kita membaca Kel 15:22, mereka dituntun ke padang gurun Syur dan sampai ke Mara dan tidak dapat minum karena airnya pahit. Mereka sudah berjalan 3 hari dan tidak mendapat air. Bagaimana dengan kita, jika sudah 3 hari tidak bisa minum? Orang Israel bersungut-sungut kepada Musa (Kel 15:24), sekali lagi Allah yang berkuasa menunjukkan berkatNya, Musa melemparkan tongkat ke dalam air dan air itu menjadi manis. Secara pikiran manusia tidak mungkin air yang pahit menjadi manis hanya karena dilemparkan kayu didalamnya. Inilah unlimited God memberi unlimited blessing. Tuhan memelihara dan mencukupkan mereka dengan apa yang dibutuhkan. Dari Mara mereka berangkat ke elim (Kel 15:27), dan mereka mendapatkan 12 mata air. Allah tidak pernah tidak memberkati mereka sepanjang mereka taat pada Allah. Dari elim mereka berangkat ke Sin (Kel 16:1), disini orang Israel bersungut-sungut karena tidak dapat mendapat makanan, sekalipun mereka sudah melihat pemeliharaan Tuhan selama ini (Kel 16:3), dan Allah memberikan mereka makanan dalam bentuk manna, makanan yang diberikan langsung dari langit (Kel 16:6-7). Unlimited God menunjukkan unlimited blessing dengan pemberian manna ini.
Kel 16:35, Allah memelihara dengan memberi manna selama 40 tahun hingga tiba di perbatasan Kanaan. Unlimited God bukan hanya untuk sehari memberikan berkatNya, tapi sepanjang perjalanan mereka menuju Kanaan, kasih dan pemeliharaan Allah diperlihatkan pada mereka.
Kel 17:1, sekali lagi mereka tidak mendapat air. Perjalanan dengan Tuhan tidak selalu berjalan mulus, umat pilihan Tuhan tidak ada garansi tidak ada persoalan dalam hidupnya tetapi satu garansi yang pasti Allah yang mengeluarkan mereka dari Mesir akan terus memelihara, penyertaanNya tidak pernah berubah. Orang Israel selalu bersungut-sungut ketika menghadapi masalah sekalipun telah melihat begitu banyak berkat Tuhan, unlimited God tetap menunjukkan unlimited blessing, Musa memukul gunung batu Horeb dan keluar air untuk diminum (Kel 17:6). Setiap perkataan Allah yang disampaikan Tuhan tidak pernah gagal. Unlimited God tidak pernah gagal, apa yang disampaikan Allah pada Israel pasti digenapi, pasti ditepati, Allah yang penuh kasih setia terus memberkati.
Kel 17:8 , orang Israel akan berperang melawan orang Amalek, mereka tidak pernah berlatih perang, mereka budak, tidak dipersiapkan menjadi prajurit dan berhadapan dengan orang Amalek yang ahli dalam berperang, bagaimana mungkin? Tapi dalam situasi  ini apa yang terjadi ? Kitabaca Kel 17:8-16, kuncinya ada di ayat 16 “Tangan diatas panji-panji TUHAN. TUHAN berpeang melawan Amalek turun temurun” , secara logika tidak mungkin Israel menang melawan Amalek. Ketika Musa mengangkat tangannya, orang Isarel yang dipimpin Yosua menang berperang, ketika tangan Musa turun mereka kalah. Mereka menang karena pekerjaan unlimited God. Apapun situsai yang dihadapi Israel :masalah kebutuhan dasar,masalah internal mereka, Allah tidak pernah meninggalkan mereka
Kel 19:2, unlimited God menunjukkan apa yang harus dilakukan umatNya. Musa mendengarkan apa yang disampaikan Allah. semua yang tertulis di Keluaran 20-29 adalah firman Tuhan yang diberikan Allah pada Musa. Israel harus melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan. Dalam kasih dan rencana Allah, Allah mempersiapkan suatu hukum bagi Israel supaya bangsa Israel berbeda dari bangsa lain, supaya mereka takut pd Tuhan ,  supaya Israel yang telah melihat mengalami kuasa Tuhan dapat mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan kapada Allah. Tapi ketika Musa berada di gunung Sinai, dalam sekejab orang Israel berubah (Kel 32:1), mereka telah melihat kuasa dan kemuliaan Allah, tetapi kini berbalik dari Tuhan. Kel 32:5, orang Israel merayakan kurban keselamatan pada lembu emas. Mereka mengalami kuasa Tuhan, tapi  dalam waktu sekejap mereka meninggalkan Allah yang telah mengeluarkan mereka dari Mesir.
Keluaran 32:9, bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, Allah menunjukkan kasihNya bukan karena kebaikan mereka. Kel 32:10, Allah murka karena pemberontakan mereka dan keputusan Allah akan membinasakan mereka. Tetapi Musa meminta pengampunan Tuhan (Kel 32:11), 40 hari 40 malam Musa terus berdoa meminta supaya Tuhan jangan membinasakan bangsa Israel. Dalam kekuasaan Tuhan ada unlimited blessing karena doa Musa kepada Tuhan (Kel 32:12-13). Musa mengingatkan Tuhan bahwa Israel adalah bangsa pilihanNya, yang Ia bersumpah akan memelihara dan menunun apakah Allah akan membinasakan? Lalu Allah membatalkan hukumanNya (Kel 32:14). Ada relasi yang dekat antara Allah dan Musa yang berhasil melunakkan hati Tuhan.
Kel 32:31 dalam kasih Allah, keadilan Allah akan dosa akan dinyatakan. Allah mengatakan siapa yang berdosa namanyalah yang akan dihapuskan (Kel 32:33).  Sifat Allah tidak bisa dipertentangkan, Ia adalah Allah yang kasih tapi juga Allah yang adil yang harus menghukum umatNya yang berdosa. Setelah Israel menyembah lembu emas, Allah tidak mau lagi memimpin Israel (Kel 33:3), Ia mengutus seorang malaikat berjalan didepan Israel. Meskipun org Israel telah berbuat dosa, tapi unlimited blessing Allah tetap menyertai melalui malaikatNya. Dalam kasih dan kekuduusan Allah, Ia tidak akan berkompromi dengan dosa, tapi berkat Allah tetap akan ada bagi Israel. Kel 33:12 Musa menolak jika malaikat yang menyertai mereka. Kel 33:13 Musa memohon supaya Allah menyertai mereka. Dalam Kel 33;1àMusa berhadapan muka dengan Allah seperti berbicara dengan temannya, ini adalah relasi yang dekat dengan Allah, Musa memohon supaya Allah memberi kasih karunia dengan menyertai orang Israel. Kel 33:16 yang membedakan Israel dari bangsa lain adalah penyertaan Allah. Kel 33:17 à Allah sangat dekat dengan Musa  dan bersedia menyertai orang Israel. Kel 33:18 Musa meminta supaya Allah menunjukkan kemuliaanNya, Musa meminta Allah menyertai untuk 39 tahun lagi perjalanan ke tanah Kanaan, karena tanpa penyertaan Tuhan. Musa tidak akan mampu membawa Israel ke tanah Kanaan. Musa di mata Allah namanya dikenal, mendapat kasih karunia.
Didalam apakah kita mendapat kasih karunia? Yaitu dalam Yesus Kristus yang sudah mati di kayu salib bagi kita. Ketika kita berbicara unlimited God unlimited blessing melalui pengorbanan Yesus yang telah menebus kita dari dosa dengan kebangkitanNya.  Kel 34:9 inilah yang kita minta kepada Tuhan sebagai unlimited God unlimited blessing,  kita berharga dimata Tuhan (Rom 8:32 Allah sendiri tidak menyayangkan AnakNya sendiri) pastilah kita pun disayang, dipelihara, diberkati oleh Tuhan, inilah unlimited blessing dari Unlimited God.
Ini kiranya menjadi komitmen kita di awal tahun ini “Jika aku mendapat kasih karuniaMu Tuhan berjalanlah didepanku, jadikanlah kami milikMU” Allah yang sama akan menyertai kita melalui tahun 2029. Ia memelihara, menyertai, menolong kita. sekalipun ada masalah-masalah, ketakutan2 kita, tapi jika Allah menyertai, maka kita pasti akan ditolong dan dipelihara. Mari menjalani 2019 bersama dengan Tuhan, alamilah kuasa dan penyertaan Tuhan. kalau Allah menyertai kita, tidak ada persoalan yang tidak dapat kita selesaikan. Mungkin manusia meninggalkan kita, tidak perduli dengan kita, tapi ada satu pribadi yang tidak akan meninggalkan kita yaitu Tuhan. Penyertaan Tuhan akan membuat kita tenang dalam ombak kehidupan yang akan kita alami di tahun ini. Selamat menjalani 2019, alamilah penyertaan dan kuasa Tuhan yang akan terus memelihara kita. SOLIDEO GLORIA

Jumat, 26 Oktober 2018

REFORMASI IMAN DAN ADAT

Oleh : Pdt.Heler Pasaribu, MDiv



Mari kita membaca Yehezkiel 36:25-28. Dalam perjalanan sejarah ada perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan kekristenan. Sebelum Injil masuk ke tanah Batak, orang Batak ketinggalan 50 tahun dari suku-suku lain. Tapi setelah Injil masuk ke tanah Batak, banyak perubahan yang pesat di tanah Batak.  Perintis kekristenan tidak hanya berhadapan dengan suatu kekuatan saja, tapi Injil mereformasi segala bidang. Walaupun pada saat itu  orang-orang Batak belum berpendidikan, tetapi karena iman,  mereka mengalami reformasi kekristenan. 
Ada saatnya manusia mengalami pergumulan yang berat, pada keadaan demikian, rasa putus asa membayang-bayangi. Hal ini bukan saja dialami oleh orang yang tidak mengenal Tuhan. Bahkan Daud mengatakan “mengapa kau gelisah hai jiwaku?”. Kondiri ini sering dialami bahkan oleh umat Israel yang dalam pembuangan, seolah-olah mereka adalah orang yang tidak memiliki harapan, putus asa. Kisah pembuangan tidak pernah terlupakan bangsa Israel, karena ini adalah peristiwa yang amat pahit dalam hidup mereka. Bait Allah adalah identitas, kehadiran Allah hadir di tengah-tengah bangsa Israel, dan Bait Allah itu telah dirobohkan. Mereka sangat takut karena Bait Allah sebagai kebanggaan, symbol kehadiran Allah telah hancur. Mereka telah terpisah dari keluarga seperti pohon yang tercabut dengan akar-akarnya (Yeh 36:17), sebuah kondisi yang seolah tanpa harapan, mereka jatuh dalam penyembahan berhala.
 Dalam adat Batak, dunia dibagi 3 bagian : banua ginjang (atas: langit), banua tonga(tengah), banua toru(bawah), ada langit ke 5 yang ditempati dewa dan ada 1 pohon yang sudah menuliskan nasib seseorang seperti apa dia nanti, sudah menjadi suratan nasib. Tetapi ini sangat bertentangan dengan kekristenan, karena kita tidak pernah setuju dengan nasib.  Orang Batak yang selamat dari suatu kecelakanan, sering diberikan beras di atas kepala yang dikenal dengan istilah beras sipirni tondi dengan mengatakan “semoga tondi(roh)mu kembali”.  Ketika kita selamat dari kecelakaan, dapat didoakan sebagai ucapan syukur karena Tuhan selamatkan. Beras sipir ni tondi jangan lagi dengan kalimat yang seolah-olah roh kita diminta kembali. Termasuk acara adat tujuh bulanan kehamilan, karena bagi orang Batak, angka yang baik itu ganjil (3,5,7). Mengadakan acara tujuh bulanan tentu baik untuk mendoakan kondisi janin dan kesehatan ibunya, tetapi jangan melakukannya karena hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
 Orang Israel dibuang karena mereka menyembah berhala dan Allah murka. Ketika kita melakukan adat yang bertentangan dengan Alkitab adalah sebuah sikap sinkretisme, memberhalakan adat. Ulangan 18 :9-11, Allah jijik melihat orang yang berbicara/meminta berkat dari orang yang sudah meninggal. Adat  Batak mengenal tor-tor (tarian)yang meminta  arwah orang mati itu marsahala (memberi berkat pada keluarga).  Hal ini sangat bertentangan dengan Alkitab, Allah menentang hal ini.
Ayat 26 “Tuhan akan mencurahkan air jernih” fungsi air adalah untuk membersihkan dari segala berhala., supaya kita disucikan, dibasuh dari keberdosaan, itu adalah anugrah. Kita tidak disucikan karena kebaikan kita tapi Allah yang menyucikan kita. “Kamu akan kuberikan hati yang baru dan Roh yang baru (Rom 8:15).  Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”, bahwa saya telah mengalami pembaharuan/direformasi dapat dilihat apakah kita sudah mengalami damai sejahtera, apakah saya sudah yakin sebagai anak-anak Tuhan yg telah disucikan dari dosa. Kita telah dikuduskan  oleh Allah, hati kita telah diambil, roh kita telah diganti dengan roh ketaatan. Tuhan akan menjauhkan kita dari tubuh kita hati yang keras (ay26) dan memberi hati yang taat. Ini adalah reformasi yang besar bagi manusia, sebuah ketaatan. Ayat 27, Roh Tuhan akan berdiam didalam hati kita, ketika kita memberikan kekuasaan kepada Allah, maka makin meningkat ketaaatan kita kepada Allah. Roh Kudus lah yang membuat kita yakin dan percaya Yesus adalah Tuhan dan juruslamat, dan Roh Kudus itu tinggal tetap dalam hati. Pencurahan Roh Kudus itu bersifat sejahtera. Rom 8:16, oleh Roh itu kita bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah, ketaatan kita adalah kesukaan, bukan karena terpaksa. Karena itu adat istiadat yang tidak sesuai dengan kekristenan, harus kita tolak. Jika Roh Allah berdiam di dalam hati kita, iman kita pasti akan teguh. Iman yang bertumbuh dan kokoh menjadi dasar untuk melihat mana yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.
“Kamu akan diam di negeri” (28),selama-lamanya, kita akan hidup dalam persekutuan, kehadiran Allah masa kini dan masa yang akan datang. Memiliki keyakinan akan Kerajaan Allah itu berarti kita telah masuk kedalam negeri yang dijanjikan Allah, kita akan mengalami berkat hidup didalam Allah. Kita yakin ada jaminan pemeliharaan Tuhan, apapun permasalahan yang kita alami, Allah itu adalah Allah yang ajaib. 


SOLIDEO GLORIA

Jumat, 13 Juli 2018

AYUB I

Oleh : Ir. Indrawaty Sitepu


Ayub pasal 1 dan 2


Pengantar
  • Apakah saudara pernah menderita karena ditinggal oleh orang yang saudara kasihi dan yang mengasihi saudara?
  •  Apakah saudara pernah menderita karena penyakit yang menimpa saudara?
  • Apakah saudara pernah menderita karena,….
  • Jika kita mengatakan “ya” untuk pertanyaan diatas, mungkin kita bisa merasakan  sedikit penderitaan Ayub. Bahkan untuk orang yang kita tidak kenalpun, kita bisa merasa sedih ketika mereka mengalami bencana.
  • Apakah saudara pernah menderita karena ditinggal oleh orang yang saudara kasihi dan yang mengasihi saudara, penyakit, kehilangan semua yang saudara miliki sekaligus?
  • Bagaimana tindakan saudara ? Apa yang saudara pikirkan tentang Allah pada situasi itu?

Hal-hal apa yang kita rasakan dan pikirkan ketika kita mengalami penderitaan/kesedihan, apalagi ketika penderitaan itu datang sekaligus? Mungkinkah kita bertanya “Dimana Tuhan ketika saya mengalami hal ini?” “Mengapa Tuhan tidak menjaga saya?”, “Mengapa Tuhan mengiznkan saya mengalami hal ini?” atau mungkin pertanyaan-pertanyaan lain ada dalam pikiran kita ketika kita mengalami kepedihan/kesedihan, kehilangan orangtua dll.


Pendahuluan Kitab Ayub 
Siapakah Ayub? Beberapa fakta menunjukkan bahwa Ayub mungkin hidup sekitar zaman Abraham (2000 SM) atau sebelumnya. Fakta-fakta  tersebut antara lain : 
  • Ayub masih hidup selama 140 tahun setelah peristiwa-peristiwa dalam kitab ini (Ayub 42 ayat 16), yang menyarankan jangka hidup yang hampir 200 tahun (Abraham hidup 175 tahun);
  • kekayaannya dihitung dari jumlah ternak ( Ayub 1 ayat 3, Ayub 42 ayat 12);
  • 3.      pelayanannya sebagai imam dalam keluarganya, seperti Abraham, Ishak, dan Yakub (Ayub 1 ayat 5);
  • sistem keluarga pimpinan ayah menjadi kesatuan sosial mendasar seperti pada zaman Abraham ( Ayub 1 ayat 4-5,13);
  • serbuan orang-orang Syeba ( Ayub 1 ayat 15) dan orang Kasdim ( Ayub 1 ayat 17) yang cocok dengan zaman Abraham;
  • sering kali (31 kali) penulis memakai nama yang dipakai para patriarkh bagi Allah, yaitu Shaddai (Yang Mahakuasa);
  • tidak ada petunjuk sama sekali kepada sejarah Israel atau hukum Musa sehingga memberi kesan tentang zaman pra-Musa (sebelum 1500 SM).

·         Kapan kitab Ayub ditulis?
Ada tiga pandangan utama mengenai tanggal kitab ini ditulis. Kitab ini mungkin disusun.
  • Selama zaman para leluhur (sekitar 2000 SM) tidak lama sesudah semua peristiwa ini terjadi dan mungkin ditulis oleh Ayub sendiri; 
  • Selama zaman Salomo atau tidak lama sesudah itu (sekitar 950-900 SM), karena bentuk sastra dan gaya penulisannya mirip dengan kitab-kitab sastra hikmat masa itu; atau 
  • Selama masa pembuangan (sekitar 586-538 SM), ketika umat Allah sedang bergumul mencari arti teologis dari bencana mereka.

 Ada beberapa pandangan tentang siapa penulis kitab Ayub. Ada yang mengatakan Ayub sendiri. Ada juga yang mengatakan bukan Ayub. Jikalau bukan Ayub sendiri, pastilah  orang yang memiliki sumber-sumber lisan atau tertulis yang terinci dari zaman Ayub, yang dipakainya di bawah dorongan dan ilham ilahi untuk menulis kitab ini sebagaimana adanya sekarang. Beberapa bagian dari kitab ini pasti telah diberikan melalui penyataan langsung dari Allah (mis. Ayub 1 ayat 6  2 ayat 10).

·         Struktur Kitab Ayub
Kebanyakan ahli membaginya menjadi  tiga bagian dan memisahkan prosa dan  sajak/syair
1. Prosa pembukaan pasal 1-2
2. Sajak/Syair pasal 3 ayat 1 - pasal 42 ayat 6
3. Prosa penutup pasal 42 ayat 7-17

·         Pasal 1-2
Siapa Ayub?

Ia adalah seorang laki-laki dari tanah Us (keberadaan tanah Us juga tidak dapat dipastikan, tetapi banyak ahli beranggapan bahwa tanah Us terletak di sebelah tenggara Palestina dan Laut Mati atau di bagian utara Arab.Yang lain beranggapan bahwa tanah Us terletak di bagian timur laut Danau Galilea, dekat Damsyik
Apa yang langka di dunia ini, ternyata ada di dalam diri Ayub yang berintegritas. Tentang integritas dirinya itu, empat kata digunakan : saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (ayat 1). Karena sikapnya di hadapan Allah (spiritualitas) dan terhadap sesama (segi-segi hidup dalam dunia ini) saling menunjang, maka terciptalah suatu kepribadian yang berintegritas. Bahkan di saat sekarang inipun, keempat sifat ini tidak banyak orang yang memiliki keempat sifat ini. integritas artinya utuh, tidak terpecah, sama sikapnya kepada Tuhan, kepada sesama, dalam pekerjaan, semuanya dilakukan dengan sikap jujur dan saleh.
"Saleh" mengacu kepada integritas moral Ayub dan komitmen sepenuh hati kepada Allah; Saleh berpasangan dengan takut akan Allah, adalah prinsip yang membuatnya jujur serta menjauhi kejahatan. Orang saleh pasti hidupnya takut akan Tuhan dan pasti menjauhi kejahatan. Kesalehan adalah akibat dari orang takut akan Allah; integritas moral adalah akibat dari orang memiliki integritas spiritual. "Jujur" menunjukkan kebenaran dalam perkataan, tindakan, dan pikiran. Spiritual yang benar pasti akan menjadikan relasi dengan sesama juga baik.
Pernyataan tentang kebenaran Ayub 1 ayat 1 ini diulangi oleh Allah lagi dalam  Ayub 1 ayat 8  dan Ayub 2 ayat 3.Dengan demikian  menegaskan bahwa melalui kasih karunia-Nya Allah dapat menebus manusia yang berdosa sehingga menjadikan mereka sungguh-sungguh benar, baik, dan menang atas dosa. Pernyataan ini menegaskan  kesalahan ajaran dewasa ini yang  mengajarkan bahwa : 
  1. Tidak ada orang percaya di dalam Kristus, dapat mengharapkan dirinya tanpa cacat dan jujur di dalam hidup ini; dan 
  2. Orang percaya tak usah terkejut apabila mereka berbuat dosa tiap hari dalam perkataan, tindakan, dan pikiran tanpa harapan untuk menaklukkan tabiat berdosa selama hidup ini.

Dengan melihat Ayub 1: 8 berarti orang yang hidupnya sudah ditebus oleh Tuhan, pasti dapat hidup dengan keempat sifat itu (saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan)
Ayub adalah ayah dari 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan (ay 2),waktu itu dipahami mengisyaratkan kesempurnaan. Dia seorang konglomerat, terkaya dari semua orang di sebelah Timur (ay 3). Menurut kebudayaan Ibrani, kemakmuran biasanya dianggap pertanda berkat Allah , semakin jelas bahwa dia adalah orang yang diberkati Allah . Ayub adalah imam bagi keluarganya (ay 4-5). Ia berusaha menjaga kekudusan keluarganya, jangan sampai ada yang  berbuat dosa karena mengutuki Allah. Ayub paham benar bahwa mengutuki Allah adalah dosa, karena itu ia selalu mempersembahkan korban menguduskan anak-anaknya setelah mereka berpesta, Ayub pagi-pagi sekali (Ibrani=rajin dan teratur)mempersembahkan korban bakaran . hal itu ia lakukan bukan Cuma sekali-sekali tetapi rajin dan teratur, dilakukannya senantiasa (Ayub 1:5). Ayub diakui oleh Allah sebagai Hamba Allah (ayat 8) HambaKU, “tiada seorangpun di bumi seperti dia (ayub 1:8).

·         Penderitaan Ayub bertubi-tubi
Ayub 1 ayat 14-19
Iblis mempertanyakan keagamaan Ayub kepada Tuhan (ay 9), apakah jika ia tidak memiliki apapun, dia akan tetap takut akan Tuhan, bukankah Allah memberkati dia dengan segala miliknya dan memagari dia? Allah mengizinkan iblis untuk mengulurkan tangannya pada harta milik Ayub ((ay12). Hingga datanglah malapetaka :  
  • Orang Syeba menyerang dan merampas.
  • Api ,…membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga.
  • Orang-orang Kasdim,…menyerbu unta-unta dan merampasnya serta membunuh penjaganya dengan mata pedang. 
  • Angin ribut melanda,…semua anak Ayub mati.

Malapetakan demi malapetaka terjadi bersamaan, bahkan sebelum orang pertama selesai melaporkan, sudah datang orang berikutnya yang akan melaporkan bencana yang lain, hal ini dapat dilihat dari kalimat ‘sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata”(ayat16,17,18). Malapetaka datang bertubi-tubi, ada perampasan, peperangan, bencana, bahkan anak-anaknya pun mati. Tentulah ini hal yang berat untuk diterima oleh Ayub, ia pasti sedih dan terkejut. Tetapi apa respon Ayub atas malapetaka ini ?
  • Ayub 1 ayat 20-21Sujudlah  ia dan menyembah.
  • Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.
  • Dalam semua malapetaka itu Ayub melihat tangan Allah, mengakui kedaulatan Allah.  Allah yang memberi dan mengambil.

Ia tidak meratapi nasib, tidak mengutuki Allah, tidak meratapi cuaca.
Bagaimana mungkin terjadi pengakuan dan pujian demikian dalam kemalangan, seandainya Ayub menganggap harta dan anak-anaknya itu adalah miliknya? Bagaimana ia dapat tetap benar merespons kemalangan andaikata ia selama ini menjalani hidup yang tidak benar? Jika Ayub hidupnya tidak benar di hadapan Tuhan, tidak mungkin ia dapat berkata seperti itu.

·         Mengapa Ayub bisa bersikap demikian?
Paling tidak kita bisa melihat dan belajar 3 hal berikut: 
  • Ayub memiliki persepsi yang berbeda tentang harta. Ia meyakini bahwa apa yang dimilikinya sekarang adalah kepunyaan Allah, datangnya dari Allah. Ayub menyikapi harta miliknya sebagai titipan Allah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan.
  • Persepsinya tentang harta membuat Ayub harus bertanggung jawab terhadap kepunyaan Allah tersebut. Itu sebabnya Ayub tidak merasa terikat dengan hartanya, juga oleh anak- anaknya. Ayub menempatkan anak-anak sebagai titipan Allah yang harus diasuh dan dididik dalam iman. Karena harta adalah titipan Tuhan, maka ketika Allah mengambil, kita seharusnya senang karena tanggung jawab kita mengelolanya sudah selesai. Jika kita memiliki gaji yang besar, tanggungjawabnya juga besar. Anak juga adalah titipan Allah, bukan milik kita, karena itu semuanya harus dipertanggungjawabkan untuk kemuliaan Tuhan.
  • Ayub menyadari bila tiba saatnya Allah akan mengambil kembali milik-Nya.

Ayub pasal 1 ditutup dengan sangat indah “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut, melainkan mengakui kedaulatan Allah”

Pasal 2
Dialog  Allah dengan Iblis tentang Ayub, setelah Iblis mencobai Ayub dengan 4 malapetaka. David Atkinson  mengatakan bahwa Allah mempercayai Ayub benar-benar tidak mengecewakan. Ayub tidak mengutuk Allah walaupun dicobai dengan 4 malapetaka sekaligus. Apakah kita adalah orang yang dipercayai Allah? Ayub membuktikan bahwa ia adalah orang yang hidup taat, berintegritas dan layak dipercaya, sekalipun mengalami banyak bencana.
Tetapi iblis masih menantang Allah, dengan mengatakan bahwa bencana yang dialami Ayub masih diluar dirinya, ia sendiri belum mengalami penderitaan langsung. Sehingga atas izin Allah , maka iblis menimpakan kepada Ayub suatu penyakit yang sangat menjijikkan dan menyakitkan  (ayat 7). Penyakitnya menyerang sekujur tubuhnya dari telapak kakinya sampai ke ubun-ubunnya dan ini dialaminya setelah 4 malapetaka sebelumnya bertubi-tubi datang menimpanya. Penderitaan masih berlanjut,..

·         Istri Ayub tampil
Apakah selama ini dia hadir tapi diam karena bingung?
Dan sekarang berkata kutukilah Allahmu dan matilah! Mengapa?
  • Karena ledakan beban jiwa?  Memang betapa perih  hidup dengan orang yang  kita kasihi dalam keadaan sekarat tanpa kita bisa menolongnya, hal yang sulit jika pasangan sekarat dan kita tidak dapat melakukan apa-apa.
  • Ataukah ledakan nurani penuh iba, sehingga ia ingin sekali penderitaan Ayub berakhir seketika?
  • Ataukah istri Ayub marah kepada Allah yang mengizinkan bahkan menyebabkan penderitaan yang demikian keji?


Tidak diketahui dengan pasti mengapa istri Ayub bereaksi demikian.
Apapun arti reaksi istri Ayub, yang jelas itu tidak menolong Ayub , sebaliknya beban Ayub makin berat dengan kesadaran bahwa dalam keadaannya yang sangat kritis demikian, ia dan istrinya berbeda keyakinan. Ia berbeda pandangan dengan istrinya  tentang kedaulatan Allah, penderitaan berat jika didukung oleh pasangan mungkin akan lebih baik, tapi tidak dengan istri Ayub. Ayub menyebut istrinya gila ( Ayub 2 ayat 10 bd  Ayub 1 ayat 5)
·         Sahabat Ayub-hadir ( Ayub 2 ayat 11-13)
Sampai pada bagian ini  tindakan sahabat-sahabat Ayub sangat mengharukan, cara yang lazim pada waktu itu menyatakan dukacita dengan menangis dengan suara nyaring, mengoyak jubah,menaburkan debu di kepala, mereka 7 hari,7malam duduk ditanah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ada kalanya penghiburan menjadi hambar jika kita terlalu banyak berbicara, apalagi jika yang kita bicarakan tidak menghiburkan orang lain. Ada saatnya kita tidak perlu bicara dalam saat-saat duka, cukup berdiam diri, mendengar dan menangis bersama. Kata pertama dari konseling adalah mendengar, mungkin dengan mendengar saja pun, kita sudah menolong sebanyak 50%.
Dengan berdiam diri mereka telah menyatakan sesuatu lebih dari apa yang dapat diungkapkan dengan kata-kata.Kehadiran adalah kesediaan menderita bersama.Hadir untuk menderita adalah pelayanan kasih tanpa kata dan pelayanan demikian punya makna tersendiri.
·         Iblis
Setan- Iblis- si Penggoda-Pendakwa kerjanya mendakwa manusia di hadapan Allah dan mencobai manusia di bumi. Iblis mendakwa,mencela  dan menantang Allah (Ayub 1 dan 2).Iblis diizinkan mencobai Ayub.
Iblis adalah lawan Allah yang harus tunduk pada kuasa dan aturan serta batasan yang Allah tentukan, sama seperti seekor binatang buas yang terantai.

·         Tuduhan Iblis tentang keagamaan Ayub
Bandingkan dengan pendapat psikologi agama yaitu agama ekstrinsik dan agama intrinsik.Ekstrinsik ( agama digunakan untuk tujuan lain), misalnya status sosial, agar rasa cemas berkurang dan keuntungan yang berpusat pada diri. Iblis mendakwa Ayub hanya akan setia jika ia secara status sosial terjamin dan akan berubah setia jika sebaliknya.Intrinsik (menghayati dan fokus serta tertuju kepada Allah)

Pertanyaan bagi kita :
  • Mengapa kita menyembah dan melayani Allah?
  • Apakah agar kita menerima sesuatu?
  • Atau karena iman berdasarkan persekutuan sejati dengan Allah yaitu demi Allah sendiri?


Refleksi
Dari Ayub pasal 1 dan 2, paling tidak kita belajar hal berikut: 
  1. Menolak pandangan  yang menyatakan bahwa semua penderitaan adalah akibat dosa. 
  2. Orang saleh, jujur, takut akan Tuhan, menjauhi kejahatan dan diakui Allah sebagai hambaNya  bisa saja mengalami penderitaan tanpa alasan yang kita ketahui dengan jelas.
  3. Tanpa sepengetahuan seseorang, ia dapat menjadi alat Allah demi tujuan Allah. Penderitaan menjadi berarti karena kaitannya dengan tujuan Allah bagi dunia ini. Dalam penderitaan Ayub, Allah sedang mengerjakan tujuan-tujuan kasih karuniaNya. Ketika kita mengalami penderitaan, biarlah itu menjadi pengakuan akan kedaulatan Allah. Penderitaan yang Allah izinkan, tidak pernah terjadi tanpa tujuan, ia mengerjakan kasih karuniaNya atas hidup kita.
  4. Menghayati  dan mengakui kedaulatan Allah.



SOLIDEO GLORIA

Jumat, 22 Juni 2018

HECTIC


Oleh : Danni Fellipe Bukitz, SST,M.Si






Hidup kita sebagai alumni penuh dengan segala kesibukan (hectic). Kita sadari atau tidak, skedul kerja harian kita telah menyita banyak waktu, sehingga waktu-waktu istirahat kitapun kadang-kadang terasa sangat sedikit, dan kita dikejar jadwal pekerjaan maupun pelayanan yang harus kita lakukan. Beberapa hal berikut akan membuktikan hidup kita hectic :
·         Apakah anda jenuh untuk pergi bekerja?
·         Apakah anda mengalami rasa letih dan kurang bersemangat dalam bekerja?
·         Apakah hubungan-hubungan anda menegang karena stress?
·         Apakah anda berharap bisa masuk ke Rumah sakit, hanya supaya bisa tidur?
Ketika kita merasa jenuh dengan pekerjaan kita, malas bekerja di hari Senin  “I hate Monday”, relasi kita dengan keluarga, teman-teman menjadi terganggu karena kita stress dengan pekerjaan, bahkan ingin bisa berbaring di rumah sakit hanya untuk bisa tidur dengan tenang. Jika kita menjawab Ya untuk salah satu atau beberapa pertanyaan tersebut, berarti kita sudah memiliki hidup yang hectic. Faktanya  memang hidup kita sedemikian hectic. Kita terbiasa dengan multi tasking, mengerjakan beberpa hal sekalgus, belajar sambil memegang ponsel dan  mengecek sosmed atau email. Padahal manusia tidak dilahirkan untuk multi tasking, kita seharusnya fokus mengerjakan satu hal dan tidak mengerjakan beberapa hal dalam waktu bersamaan. 98 perssen manusia tidak dapat melakukan multi tasking dengan efektif.
Jika kita selalu melakukan multi tasking, hal-hal yang terjadi adalah : IQ akan berkurang 10 poin, waktu untuk bisa tidur pulas berkurang 10 poin,  dan menjadi 2x lebih buruk ketika seseorang juga merokok, dan produktifitas akan berkurang 40 %. Sebagai  contoh, dalam perjalanan kita ke kantor, akan ada banyak hal yang mengganggu konsentrasi kita, misalnya lalulintas yang ruwet, hal-hal yang kita lihat di jalan, dll. Richard tiheme  mengatakan “Ketika kita mengerjakan dua hal secara bersamaan, maka sesungguhnya kita telah mengalihkan sekitar tiga puluh persen perhatian kita dari tugas utama “.  Ini akan mengakibatkan over loaded syndrome, seperti sebuah truk pengangkut yang kelebihan muatan dan terguling di jalan. Karena terlalu banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan setiap hari, membuat kita mengalami overloaded syndrome.
Karena itu kita membutuhkan margin. Margin adalah ruang yang dulu pernah ada diantara beban kita dan batas-batas kita. Margin adalah ruang diantara vitalitas dan keletihan Margin adalah situasi yang bertolak belakang dengan kelebihan beban, dan karenanya itu merupakan pencegahan terhadap kondisi yang menjengkelkan . kita harus mengetahui batasan kemampuan kita melakukan sesuatu sehingga tidak memaksakan diri mengerjakan hal-hal yang sudah melebihi batas kemampuan kita. Richard Swenson mengatakan “Margin is the space between our load and our limits” (Margin adalah ruang diantara beban dan batasan kita). Ketika margin kita turun, tingkat stress kita meningkat, dan relasi kita menurun. Ketika margin kita naik, tingkat stress kita menurun dan relasi kita meningkat. “Busyness is not a synonym of Kingdom work-it is only busyness. All activities need to be assessed to their spiritual authenticity”- Richard Swenson. Artinya hidup yang sibuk bukanlah sinonim dari lingkup pekerjaan, itu hanyalah sebuah kesibukan. Setiap aktivitas kita harus dinilai dari  kehidupan spiritual kita yang otentik.

Christian World View menggambarkan alkitab dengan 4 fase : penciptaan, Kejatuhan manusia dalam dosa, penebusan dan pembaharuan.
Alkitab, sebuah drama 4 babak:
         Babak 1: Creation – Allah mendirikan KerajaanNya
         Babak 2: Fall – Pemberontakan dalam Kerajaan itu
         Babak 3: Redemption dimulai – Sang Raja memilih Israel
ü    Redemption dituntaskan – Sang Raja sendiri datang
ü    Redemption diberitakan – Memperluas Kerajaan itu
         Babak 4: Glorious Pembaharuan– Kembalinya Sang Raja
Alkitab berisi 6 fase yaitu :
Masnusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kemudian manusia melakukan dosa, ada janji penebusan, Kristus menebus dengan kematianNya di kayu salib, manusia ditebus, dan dihasilkan manusia yang sudah dibaharui.
Kita harus FOKUS ( Follow One Course Until Succesfull) dengan cara :
  • Do one Thing well (lakukan satu hal dengan baik)
  • Our brains weren’t built to multitask (otak kita tidak didesain untuk multi tasking)
  • Our brains are designed to focus on one thing at a time, and bombarding them with information only slows them down  (Otak kita didesain untuk focus pada satu hal pada satu waktu, dan jika kita memasukkan semua informasi, hanya akan membuatnya bekerja lebih lambat)
Ketika Tuhan Yesus yang berkunjung kerumah Maria dan Marta (Luk 10:39-40) dengan para murid, membuat banyak tamu dirumah Marta, dan Marta sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menjamu tamu, sedangkan Maria duduk dekat kaki Tuhan Yesus mendengar Ia berbicara. Hal itu mengganggu Marta dan bertanya “Tuhan tidakkah Engkau perduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” (ayat 40). Marta bukan hanya terganggu dengan Maria, tetapi juga marah kepada Tuhan Yesus karena tidak menegur Maria. Maria melakukan itu bukan karena ia malas atau tidak perduli, tetapi karena ia melakukan satu hal yang perlu (fokus) dan telah memilih bagian yang terbaik, yaitu mendengar Tuhan Yesus berbicara (ayat 42). Teguran Tuhan kepada Marta adalah ia kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu hal yang pemting yaitu mendengarkan Ia berbicara. Hidup kita seharusnya  member i ruang bagi kebenaran Allah, firman Allah yang menjadi penerang dalam hidup.
“Superaciality is the course of our age. The doctrine of instant satisfaction is a primary spiritual problem. The desperate need today is not for a greater number of intelligent people or gifted people , but dor deep people”—RichardJ.J.Foster. Hidup kita bertujuan untuk memuliakan Tuhan . Pusat hidup kita bukan diri ataupun dunia namun Tuhan . Kebutuhan zaman ini adalah Relasi bersama Tuhan. “Your relationship with God is more important than any you’ll ever have, because you know for sure, that’s a relationship that will last forever”. Karena itu penting untuk tetap menjaga persekutuan pribadi kita dengan Tuhan, tetap tekun dalam KTB, belajar kebenaran firman Allah lewat persekutuan bersama, yang akan menolong kita  memiliki relasi yang baik dengan Allah. “When we understand our relationship with God, we also understand our relationship to one another”- Dallin H.Oaks. 



SOLIDEO GLORIA

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...