Tampilkan postingan dengan label MENEMUKAN TITIK PUKUL VOKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MENEMUKAN TITIK PUKUL VOKASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2018

Yesus Sang Guru Agung

Oleh : Ir. Indrawaty Sitepu, MA





Pendahuluan
Yesus adalah sang Guru Agung tetapi “Benarkah Yesus adalah Guru Agung Bagi Saudara?”, “Benarkah saudara adalah murid dari Yesus Sang Guru Agung?”, “Bagaimana Yesus Sang Guru Agung, memanggil dan membuat kriteria untuk menjadi murid Nya?”
Mari kita membaca dari  Lukas 9.23 “Kata Yesus kepada mereka semua:” Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”. Perikop ini membahas bagaimana Yesus memangggil murid-muridNya dan kriteria apa yang harus dimiliki sebagai  murid-muridNya
A.     Panggilan menjadi murid  Yesus Sang Guru Agung
Ø  ‘Setiap orang’
Ingat konteksnya waktu itu banyak orang berbondong-bondong ‘mengikuti Yesus’. Persyaratan  berikut ini tanpa kecuali-siapa saja/ setiap orang yang mau mengikut Dia. Yesus tidak takut kehilangan’penggemar’ karena Dia mencari pengikut. ada banyak penggemar Yesus dan tidak sungguh-sungguh mengikuti Yesus, Yesus mencari murid, Ia tidak tertarik dengan penggemar yang hanya sekedar mengagumiNya.
Ø  ‘menyangkal diri’ bd Bukan KehendakKu tapi kehendakMu (Doa Di Getsemani-Mat 26:36-42) Yesus berdoa sampai 3x supaya penderitaan itu lalu daripadaNya, tapi di ketiga kalinya Ia mengatakan “jadilah kehendakMu”. Pergumulan berat untuk menghadapi salib tidak membuat Yesus menyerah tetapi betul-betul menyerahkan diriNya.
Menyangkal diri itu ada dalam semua bidang kehidupan. Tidak ada hal yang tidak menuntut kita untuk tidak menyangkal diri, seperti di pekerjaan, menyangkal diri ketika nilai-nilai kebenaran sulit ditegakkan, apakah pekerjaan yang santai membuat kita juga menjadi santai atau kita bekerja sangat keras hingga melupakan Tuhan. menyangkal diri dalam memilih teman hidup, menyangkal diri dalam waktu luang kita (ingat waktu luang Daud justru membuat dia berdosa dengan Batsyeba).
Ø  ‘memikul salibnya setiap hari’
·         Di mata orang Yahudi  salib adalah alat eksekusi hukuman mati . Berbicara tentang salib berarti tidak ada lagi agenda lain, mata dan hatinya tertuju ke sana , pada kematian.
·         Salib adalah simbol penghinaan. Bangsa Romawi punya banyak cara menghukum mati tapi mereka akan memilih penyaliban jika ingin menghina secara terbuka
·         Salib adalah simbol penderitaan. Kita tidak dapat memikul salib tanpa menderita. Tuan Yesus dipukuli, dicambuk dan setelah setengah mati, Ia harus memikul salib- balok yang berat. Tidak ada cara yang nyaman untuk memikul salib
Sebagai murid kita dituntut untuk mernyangkal diri dan pikul salib, tidak ada lagi agenda pribadi, mata kita tertuju pada salib. Ketika kita katakan ya mengikut Yesus itu berarti kita setuju memikul salib setiap hari= memikul=memilih=aktif, setiap hari=bukan sekali seumur hidup tapi setiap hari. Memikul salib adalah kata kerja, aktif, dengan sadar setiap hari untuk memikul salib. Apakah setiap hari kita memikul salib atau memilih untuk menghindari salib? Budaya instan yang mengutamakan harus cepat kadang-kadang tanpa kita sadari merasuki kita juga, padahal bicara pemuridan, mengikuti Yesus sering kali membutuhkan waktu yang lama, sebagai pembentukan kita sebagai murid. Jika kita mengatakan “Ya pikul salib” berarti  kita siap setiap hari untuk pikul salib. Memikul salib ini harus setiap hari bukan sekali-sekali. jika kita hidup terlalu nyaman, jangan-jangan kita sedang tidak memikul salib.
Mari kita membaca dari Lukas 9.57-62
“Ketika Yesus dan murid-muridNya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang ditengah jalan kepada Yesus:”Aku akan mengikut Engkau, kemana saja Engkau pergi,” Yesus berkata kepadaNya:”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “ Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Dan seorang lain lagi berkata:” Aku akan mengikut Engkau, Tuhan tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata:” setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

B.      Berbagai sikap “Mengikut Yesus Sang Guru Agung”

·         Orang 1. Orang pertama ini mengajukan diri untuk mengikut Yesus, tetapi Tuhan Yesus justru mengatakan menjadi pengikutNya tidak akan punya tempat untuk meletakkan kepala.
Pada waktu itu konteksnya ketika seorang talmid akhirnya diterima menjadi pengikut sang rabi, ia harus meninggalkan rumah demi mengikut sang rabi kemanapun ia pergi. Yesus menjelaskan bahwa mengikut Dia adalah perjalanan penuh resiko dan ketidakpastian. Jangan berharap fasilitas apalagi kenyamanan. Saat seseorang memutuskan mengikut Yesus , berarti berkata tidak pada kenyamanan bahkan siap walau tidak tahu kemana  akan pergi. Sebagai alumni, banyak yang menacari fasilitas dan kenyamanan ketika bekerja, Yesus mengatakan jangan pernah berharap fasilitas apalagi kenyamanan. mengikut Yesus berarti berkata tidak pada kenyamanan. dalam mengikut Yesus seringkali tidak jelas mau kemana.\
·         Orang ke 2
Orang ini diundang  dan diajak Yesus. Responnya ya tapi nanti dulu, setelah menguburkan orang tua. Kelihatannya sangat masuk akal tapi apa jawaban Yesus? Biarlah orang mati menguburkan orang mati. Ini adalah istilah menunda. ini adalah jenis ‘Mengikut Yesus besok’ , ’ Mentaati Yesus besok ’ Hari esok yang tak akan pernah terjadi
Bahaya dari ‘mengikut Yesus besok’ bd Hari ini cash besok boleh Bon. ini artinya kesempatan itu tidak pernah ada. Sama seperti orang yang ingin diet selalu berjanji “Mulai besok akan diet”, atau “Mulai besok akan olahraga”.Harus dimulai hari ini karena bisa  hilang kesempatan  antara hari ini dan besok
Ibr 3.15 pada hari ini jika kamu mendengar suaraNya jangan keraskan hatimu,…
·         Orang ke 3
Aku akan mengikut Engkau, Tuhan tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Ada ‘ikatan’, ‘tergantung’. Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk kerajaan Allah
Berbagai contoh keterikatan/ketergantungan
·         Ada pembabtisan ksatria bersama pedangnya namun pedangnya tidak ikut terbenam karena ia tidak mau pedangnya ikut bertobatàterikat pada pedangnya.
·         Bagi pemuda kaya-yang datang ingin mengikut Yesus menjadi sedih karena Yesus menyuruhnya menjual hartanya. Harta adalah keterikatannya
·         Bagi orang ketiga ini keterikatananya adalah hubungan keluarganya
·         Ada pemuda yang keterikatannya adalah pacarnya.
Apa yang menghambat kita untuk taat kepada Yesus Sang Guru Agung itu?
C.      Bagaimana Menjadi Murid Yesus Sang Guru Yang Agung
1.      Periksa motivasi kita mengikut Yesus.
Apa yang mendorong kita mengikut Yesus?  Apakah ada yang  ingin kita dapatkan?
Siap sediakah kita menderita? Dalam Filipi 2: 6-8, Yesus dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan TAAT SAMPAI MATI, BAHKAN SAMPAI MATI DI KAYU SALIB. Look to the cross. Yesus adalah teladan kita yang merendahkan diri dan taat sampai mati. salib apa yang kita pikul setiap hari? Atau  justru kita menghindari salib? Adakah Yesus yang menjadi teladan dan pusat dari pikiran kita, sehingga Look to the cross menjadi spirit kita untuk memikul salib?
2.      Periksa prioritas hidup kita
Adakah Tuhan yang utama? Apakah  kita siap kapanpun, bukan nanti tapi sekarang, kita siap dan sedia ikut, taat padaNya. “Hati manusia biar kecil, namun jika seisi dunia diisi kedalamnya tetap tidak akan memuaskannya, hanya sang Pencipta yang bisa memuaskannya.” (Blaise Pascal). Ujian sejati menjadi pengikut Kristus itu bukan ketika kita mahasiswa tapi ketika kita alumni. Tidak usah mencoba sesuatu untuk memuaskan diri karena tidak ada yang dapat memuaskan kita selain Allah. Kepuasan sejati tidak akan pernah kita dapatkan dari CIPTAAN (seseorang atau sesuatu), namun hanya dari PENCIPTA.
3.      Periksa ikatan
Adakah ikatan atau kondisi atau masa lalu yang menghambat kita mengikut/mentaati Dia
Siap dan sediakah kita melepaskan apapun untuk bisa mengikut/mentaati Dia.
Manusia adalah CIPTAAN ALLAH. Allah adalah pencipta kita, penguasa dan pemilik hidup kita, tuan kita. Jika orang bisa hidup  liar, karena mereka tidak tahu siapa pemilik hidupnya. kita sudah mengerti bahwa kita milik Allah,
MANUSIA adalah CIPTAAN ALLAH berarti . MANUSIA ADALAH MILIK ALLAH, HAMBA ALLAH=HAMBA KEBENARAN. Tidak ada agenda lain dalam hidup kita selain melakukan kebenaran, itulah total obedience kita, apapun status kita, apapun bentuk pekerjaan atau aktifitas kita, semuanya kita lakukan sebagai hamba Allah, hamba kebenaran. Sebagai guru dan dosen jadilah hamba kebenaran disana, sebagai pegawai instansi, jadilah hamba kebenaran. Jika kita hidup  dalam dosa, berarti kita tidak sedang hidup sesuai dengan status kita, ada penyimpangan. Jika menyimpang, kita harus segera bertobat, karena jati diri dan status kita sebagai hamba kebenaran, harus hidup di jalan yang lurus.

SOLIDEO GLORIA


Jumat, 21 September 2018

KEBAKTIAN PENYEGARAN IMAN 2

Oleh : Dr. Efraim Hutagalung, MKes


2 Timotius 2:1-13 ; Filipi 1:21-26 

Kita akan belajar dari paulus.mari kita membaca dari 2 Tim 2:1-13 dan Filipi 1:21-26. Dalam 2 Tim 2 kita melihat perjalanan hidup kita, sesungguhnya tujuan hIdUp kIta apa, apa yang kita kejar. Apa yang menjadi tujuan hidup kita akan mempengaruhi seluruh hidup kita, untuk apa kita melakukannya, bagaimana kta melakukannya dan berapa banyak waktu dan tenaga yang akan kita habiskan dalam mencapai tujuan itu. 

Jika kita membaca 2 Timotius ini dikatakan “sebab itu hai anakku. Jadilah oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus”, kata “sebab itu” ada alasan pada ayat-ayat sebelumnya, karena itu kita perlu membaca dari pasal 1. Surat ini dituliskan ketika Paulus di penjara, menjelang ajalnya, waktunya sudah dekat, keadaan semakin sulit untuk mempersiapkan seseorang menggantikan Paulus untuk memberitakan Injil. Kristus Yesus telah mengalahkan maut, kata “sebab itu “ merujuk pada : 

· Injil telah mematahkan kuasa maut dan dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim 1:10), orang yang seharusnya dibinasakan, mendapat hidup kekal, sebab itu jadilah kuat. Injil telah mengalahkan maut. Kristus yang mengalahkan kematian, kita memiliki kebangkitan, dihidupkan bersama -sama Kristus. Yesus sendiri adalah injil itu yang telah mengalahkan maut dan memberikan hidup yang kekal. 

· Oleh karena Injillah Paulus ditetapkan sebagai pemberita (2 Tim 1;11), Injil yang telah menghidupkan semua orang, karena itulah Timotius harus kuat. Karena injil yang telah menghidupkan dan menyelamatkan itulah kamu menjadi pemberita 

· Injil itu adalah harta yang terindah (2 Tim 1:14), harta yang tak terperi, yang sangat berharga karena menyelamatkan, membebaskan, mematahkan kuasa maut, oleh karena itulah Paulus meminta Timotius untuk tetap kuat. 

Nenek dan ibu Timotius adalah orang yang setia dan tekun kepada Allah, tetapi Timotius itu orangnya pemalu, pesakitan dan Paulus pernah menasihatkan Timotius untuk meminum anggur untuk kesehatannya. Hal yang mendesak adalah kemungkinan ajal Paulus sudah dekat dan sudah ada pembelokan-pembelokan, banyak penatua-penatua yang hampir murtad, meinggalkan pemberitaan Injil, dan ini mendesak Paulus untuk mencari pengganti. Profil Timotius ini lemah, kurang meyakinkan. Kalimat “jadilah kuat oleh aksih karunia Allah” seolah-olah bertolak belakang dengan Timotius yang lemah. Paulus menegaskan sebab Injil menghidupkan, mematahkan maut, lupakan tentang dirimu yang pemalu, jadilah kuat, ambillah kekuatan Injil yang melimpah-limpah itu. Paulus meminta Timotius untuk mengarahkan hidupnya pada Yesus Kristus. Kecenderungan kita yang sering mengasihani diri sendiri, berfokus pada diri sendiri bisa menghalangi kita untuk melayani. Seperti di 2 Kor 4:1 “Oleh kemurahan Allah, kami telah menerima pelayanan ini, karena itu kami tidak tawar hati”, dalam pelayanan kita, tidak pernah berbicara tentang diri kita, tetapi tentang Kristus. 

Ayat 2. Setelah memusatkan perhatian pada Allah, Paulus memerintahkan “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai”. Dalam 2 Kor 4 ; 1 kata “Tawar hati” itu artinya kecewa, berita Injil itu benar, sekalipun pada masa itu banyak orang yang meragukan Injil. Paulus tahu bahwa Timotius akan mengalami resiko yang sama , penderitaan, ditinggalkan. 

Ayat 3-6 Paulus berbicara tentang 3 metafora : prajurit, olahragawan, petani. 

1. PRAJURIT ; seorang yang aktif, biasanya hormat dan taat pada komandan. 

Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang parajurit tidak pernah memusingkan soal makanan, mau tidur dimana, hanya menunggu perintah. Timotius diminta untuk taat hanya kepada Allah, jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, taatlah kepada Kristus. Berbicara soal ketaatan pada zaman ini adalah hal yang sulit, hal itu dipengaruhi dengan siapakah Kristus dalam hidup kita. Apakah Kristus menjadi tujuan hidup kita? Kristus adalah Injil itu sendiri. Penaklukan hanya pada Kristus dalam keadaan apapun harus menjadi bagian kita, murid yang membayar harga adalah yang taat kepada Kristus, ditengah banyaknya tawaran-tawaran dan ambisi-ambisi kita, apakah Kristus menjadi tujuan hidup kita. 

2. OLAHRAGAWAN 

Peraturan menjadi seorang atlit itu sangat ketat, mereka memiliki disiplin dalam latihan, menjaga porsi makanan, juga istirahat yang cukup. Jika seorang atlit melanggar aturan, dia akan gagal bertanding. Banyak orang akan menyerang, melawan karena itu Timotius diminta untuk dapat mengendalikan diri dalam keadaan apapun, jangan marah, bahkan dalam relasi dengan Allahpun kita mengalami dinamika rohani, sehingga ketika ada masalah tidak boleh tawar hati, atau putus asa. Dalam pelayanan ini, kita hanya berbicara tentang Kristus, sehingga jika ada yang menolak, jangan tawar hati, arahkanlah seluruh hidup kita kepada Allah. 

3. PETANI 

Seorang petani harus mengetahui musim menanam sesuai dengan cuacanya, pekerja keras mengolah lahannya untuk memperoleh hasil panen. Seorang prajurit atau atlit yang berprestasi akan mendapat penghargaan, tetapi seorang petani tidak mendapatkan apresiasi dari siapapun. Sebagai alumni kita dituntut untuk bekerja keras, jangan malas. Orang yang memiliki etos kerja pasti akan bekerja lebih keras dari orang lain. Bekerja keraslah demi pemberitaan Injil, jangan cengeng, jangan mengharapkan apresiasi. 

Karena Injil itu menghidupkan, untuk itulah kita bekerja keras. Kita mengalami kekuatan bukan karena diri kita tapi karena kasih karunia Allah. Abad ini membutuhkan orang-orang yang seperti itu. Ada banyak orang yang sangat mudah mengabaikan hal-hal yang sangat berharga untuk sesuatu yang kurang berharga. Seberapa berharga Injil itu, akan menentukan perjuangan kita dalam pelayanan dan pekerjaan kita. Bukankah Kristus itu yang menyelamatkan dan menghidupkan kita dari kemaytian, untuk itulah kita harus bekerja keras untuk memberitakan Injil, mengabaikan diri kita dan mengambil kekuatan dari Injil supaya kita mengalami semangat, kerja keras oleh karena anugrah Allah yang telah menyelamatkan itu. 

Mari kita membaca dari Fil 1:21-25. Paulus sedang mengalami penderitaan dan kalimat ini ditujukannya bagi dirinya “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”, bagi Paulus tujuan hidupnya adalah Kristus, hidup bagi Kristus. Jika ia harus mati adalah sebuah keuntungan, karena ia bertemu dengan Kristus, tidak ada lagi penderitaan. “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu bagiku bekerja memberi buah”. Hidup didalam Kristus harus memberi buah, sekalipun ada banyak kesulitan. Jika ia hidup seluruh tujuan hidupnya adalah untuk Kristus, dan ketika mengalami penderitaan, Paulus memandang kematian itu menyenangkan. Ayat 23 “aku didesak dari dua pihak, aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus-itu memang jauh lebih baik”Ayat 24 “tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu”, ia memilih tinggal menahankan penderitaan asalkan orang-orang itu mengenal Yesus. Paulus menghadapi penderitaan Injil itu “karena kamu”, supaya orang-orang diselamatkan dan mengalami pertumbuhan rohani. Karena itu apa yang menjadi tujuan hidup kita akan menentukan apa yang kita pilih dalam hdiup ini. 

Ayat 7 “Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu” meskipun banyak hal yang tidak dimengerti Timotius, tapi nanti Tuhan akan memberi pengertian. Jika kita bekerja keras, kita akan menuai, kita akan memanen orang-orang yang mengenal Dia. Biarlah Tuhan bekerja, mengubah karakter kita, ketaatan kita supaya hasilnya berlimpah. Orang yang terus setia kepada Tuhan, pasti karakternya akan semakin baik, hati kita makin berkenan pada Allah. 

Ayat 8-10 karena Injil inilah yang menyelamatkan dan menghjdupkan inilah Timotius juga harus menderita .Paulus telah mengalami penderitaan, tetapi Timotius harus meneruskan pelayanan itu supaya orang-orang mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam iman. 

Ayat 11-12, kita sering kali hanya mengingat Allah itu setia mengampuni tapi kita lupa, Ia juga dapat menghukum semua pelanggaran-pelanggaran kita. Ia adalah Allah yang akan menolong kita tapi juga akan menghukum orang yang tidak setia pada Tuhan. 

Marilah kita terus hidup berkarya bagi Kristus, kita tahu apa yang kita pilih, kita mengarahkan SELURUH HIDUP KITA PADA Kristus, mempengaruhi seluruh hidup kita, dan mengarahkan seluruh hidup kita pada Kristus dan memberikan seluruh hidup kita total kepada Allah. 

Hidup ini hanya 1x, baiklah hidup yang 1 x ini menghasilkan karya-karya yang terbaik bagi Allah, supaya hidup yngg satu x ini adalah hidup yang bermakna, hidup yang bmanfaat bagi semua org, karena kita membawa semua orang kepada Kristus, berkarya bagi Tuhan melalui pekerjaan didalam seluruh kehidupan berbangsa, bernegara, bernasyyarakat supaya slkuruh hidup kita memuliakan Allah. 

SOLIDEO GLORIA

Jumat, 07 September 2018

MENJADI MURID KRISTUS DI DUNIA NYATA

Oleh : David Siagian, SKM, MKes


PENDAHULUAN
Mengapa dunia alumni sering disebutkan sebagai dunia nyata? Beberapa perbandingan ketika mahasiswa dan setelah menjadi alumni:
·         Ketika MAHASISWA, kita selalu memikirkan studi, fokus pada studi sedangkan di alumni kita memikirkan pekerjaan.
·         Pelayanan mahasiswa, bersemangat dan bergelora, tapi ketika alumni sangat mudah memberi alasan untuk tidak terlibat melayani. Ketika mahasiswa, semua dikorbankan, tidak ada rasa lelah, mimpin kelompok, rapat, dll, tidak akan terasa lelahnya,  bahkan masih sanggup menyelesaikan tugas. Tapi di alumni akan semakln sulit.
·         Integritas adalah hal yang selalu dibicarakan ketika mahasiswa,  tapi di dunia alumni mungkin mulai kompromi,  bekerja dengan baik saja sudah sangat bersyukur.
·         Waktu mahasiswa , saat  teduh 30-45 menit itu terlalu singkat rasanya tetapi di dunia alumni akan sangat sulit memberi waktu 5-10 menit, apalagi jika sudah berkeluarga dan memiliki anak yang tentunya akan semakin menyita waktu
·         Membicarakan  Visi ketika mahasiswa dilakukan setiap waktu,  dibahas/digumulkan, setelah alumni mendengar visi hanya jika dating pemaparan atau evaluasi program.
·         Ketika mahasiswa sering menjadi tempat curhat, siapa yang datang sharing dilayani, dinasehati dengan kata2 bijak, kita bisa memberi waktu untuk mendengarkan masalah. Tapi di alumni menjadi sangat sulit, hari sabtu dan Minggu aadalah waktu untuk keluarga, istirahat, pergi ke café.
·         Perpuluhan/persembahan ketika mahasiswa  selalu memberi, tapi di alumni bisa lalai memberi perpuluhan  apalagi dengan banyaknya cicilan yang haruds dibayar.  Lama kelamaan lupa memberi perpuluhan
·         Masa mahasiswa adalah masa dimana Iman mereka paling kuat dan masa pelayanan menjadi hal yang paling menyenangkan
Dunia alumni yang nyata, sangat banyak hal-hal yang kita kompromikan menjadi hal yang biasa. Sehingga jangankan untuk memimpin KTB, mungkin spiritualitas kita pun bisa dipertanyakan

KENAPA
1.      Tuntutan keadaan Label Alumni
2.      Mengubah pola pikir
3.      Tentang Uang
·         Alumni itu harus menghasilkan, dengan tuntutan keluarga kita harus segera bekerja, harus menabung untuk rencana-rencana ke depan, mungkin harus membantu keluarga.
·         Penghasilan sendiri sehingga menggunakan sendiri
·         Waktu mahasiswa 500rb cukup, di alumni 3 juta tidak cukup, dengan menambah fasilitas yang kita miliki termasuk memilih tempat kost yang lebih nyaman yang pada akhirnya menambah budget pengeluaran
·         Menabung untuk masa depan
·         Membantu keluarga
·         Bekerja untuk hidup Sehingga cari uang terus

4.      Tentang gaya hidup
Gaya hidup alumni berubah, sudah memilih tempat makan minum mana yang lebih nyaman, sambil ngobrol dengan teman-teman, semata-mata menghilangkan suntuk dengan tertawa bersama, akan menghabiskan uang untuk membeli apa, apa yang harus dilakukan di waktu senggang. Jika sudah menikah, memikirkan kapan akan membeli rumah dan di daerah mana, rumah seperti apa, memiliki kendaraan dll.  Dan hal ini bisa melupakan disiplin rohani kita.
5.      Tentang pekerjaan
Tekanan pekerjaan bisa menghabiskan tenaga, pikiran kita, waktu kita, apakah karena tekanan dari atasan atau target-target yang harus kita selesaikan. Bekerja tidak sesuai keahlian (hal baru, dunia baru),  sehingga kita harus banyak belajar hal-hal baru yang  selama ini belum kita pahami akan membuat kita focus ke hal itu.

Memasuki Dunia Nyata
·         Hidup seperti apa yang kita harapkan. Markus 8:34” Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-muridNya dan berkata kepada mereka “Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” menjadi murid Kristus hrs mengikut Dia, menyangkal diri”. Ketika baru alumni, masih memiliki rencana akan bekerja dimana, dan tetap komit memimpin KTB, tapi setelah 6 bulan belum bekerja, mungkin ada perubahan rencana dan keputusan, termasuk pindah ke luar kota.
·         Perubahan seperti apa yang telah dan akan terjadi ketika kita sudah menjadi alumni. Apakah kita akan tetap melayani dan mengikuti persekutuan yang ada.
·         Hubungan sosial seperti apa yg akan dijalani. Kita juga harus memberi batasan berelasi sosial dengan lingkungan kita, apalagi jika komunitas kita berada di kalangan orang-orang dengan posisi tinggi.
·         Gaya hidup seperti apa yang akan diperankan
Menjadi murid di kehidupaan nyata, caranya :
1.      Kita harus terus menjadikan Allah sebagai Pusat hidup kita.
·         Hubungan pribadi dengan TUHAN, sehingga masih mengingat Tuhan dalam setiap rencana. Masihkah kita mengutamakan persekutuan pribadi kita setiap hari?Tidak ada yang salah dengan perencanaan, untuk memiliki masa depan yang baik.  karena memang perlu dipikrkan mana yang lebih baik, tetapi apakah kita melibatkan Tuhan dalam rencana kita, dan hidup kita yang berpusat pada Allah.
·         Kita harus memiliki Hati yang masih melayani dan Keterlibatan dalam pelayanan. Alumni akan dengan mudah mengatakan tidak punya waktu untuk melayani dengan beberapa alasan “saya sangat sibuk” “saya masih dalam masa transisi dan tidak dapat memberi diri untuk hal lain, pekerjaan saya masih berjuang, perlu belajar sehingga hal-hal lain belum terpikirkan” “saya perlu mengatasi masalah saya sendiri”, “saya takut kelelahan” “saya tidak punya waktu, jadwal saya terlalu padat” “saya tidak tahu apa karunia saya”. Hal-hal inilah yang membuat kita tidak lagi terlibat di pelayanan. Untuk menjadi murid Kristus di dunia nyata salah satunya adalah dengan tetap memimpin KTB. Kita dapat memberi waktu memimpin di hari Minggu atau sore hari setelah kerja. Bertahan di dunia nyata, akan kelihatan dalam keterlibatan kita memuridkan orang-orang yang Tuhan telah percayakan kepada kita.
2.      Intelektual. Ketika kita memiliki intelektual, kita akan lebih mampu mengatasi tekanan-tekanan dalam pekerjaan.
·         Memiliki pengetahuan yang luas
·         Ketrampilaan yang mumpuni
·         Pemikiran yang kritis dan menciptakan jalan keluar. Kita bisa sangat tersita waktu di pekerjaan, karena tidak mengetahui jalan keluar dari suatu masalah dan kita akan memiliki banyak waktu untuk hal-hal lain.
·         Ketrampilan relasional yang baik
3.      Memiliki Karakter yang baik
·         Integritas / memiliki prinsip. Hal ini harus tetap dipertahankan di alumni.  Ketika kita membiarkan orang lain melakukan hal-hal yang tidak jujur, bisa membuat kita aklhirnya melakukannya juga.
·         Dapat diandalkan (kerja keras, kredibel)
·         Memiliki jiwa kepemimpinan yang baik
4.      Keterlibatan / hubungan sosial. Apakah perasaan berbelas kasih masih ada pada kita? Kita harus memiliki kemurahan hati/belas kasihan
·         Peduli pada lingkungan sekitar
·         Kesederhanaan (cukupkan diri dengan apa yang ada). Tidak memaksakan diri untuk harus segera memiliki rumah, mobil, kartu kredit, jalan-jalan ke luar negeri. Hal ini membuat kita kehabisan waktu karena hal-hal di luar jangkauan kita.
5.      Komunitas Kristen/Persekutuan
Yoh 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Komunitas Kristen sangat menolong kita berbuat dalam kehendak Tuhan, karena komunitas Kristen lah yang menerima kita apa adanya, tidak seperti komunitas lain yang sering bertanya pencapaian-pencapaian dan harta apa yang kita miliki. Komunitas Kristen menerima semua orang karena kasih. Karena itulah penting untuk terlibat dalam pelayanan. Lingkungan, pergaulan kita sangat meneruskan langkah kita ke depan.  Dalam komunitas itulah kita saling mengingatkan.

Kita harus belajar dari persekutuan/komunitas Kristen (jemaat mula2 di Kisah Para Rasul 2:41-47), yang bukan hanya merasakan kesatuan tapi juga menjadi pelayanan, bertambahnya orang percaya. Menjadi murid Kristus di dunia nyata memang hal yang sulit, tapi tetap harus belajar seumur hidup. Murid di dunia nyata bukan saja hanya sekedar tidak ikut dalam kehidupan dunia ini tapi  harus sampai pada memuridkan, menjadi gembala. Dengan janji yang tidak akan pernah tidak ditepati bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita sampai akhir zaman (Mat 28:118-20). Kita harus mengurangi asumsi-asumsi yang cukup banyak mempengaruhi kita, dan hal itu yang membawa kita tidak dalam rencana awal bahkan mungkin akan lari dari jalan yang Tuhan inginkan. Murid adalah orang yang memuridkan. Di Matius 3:18-22, Tuhan Yesus memanggil 12 orang murid-muridNya. Panggilan murid2Nya untuk mengikut Dia adalah untuk memuridkan dan itu jugalah panggilan Tuhan bagi kita untuk memuridkan. 

SOLIDEO GLORIA

Jumat, 20 Juli 2018

Ayub II

Oleh : Ir. Indrawaty Sitepu,MA



Pendahuluan
1.      Jika saudara sedang berduka, pilu, perih, apa yang saudara harapkan dari sahabat saudara?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………………………………..

2.      Jika sahabat saudara sedang berduka, pilu, perih, apa yang saudara lakukan kepada sahabat saudara tersebut?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………….........................................................................
Terkadang di saat-saat kita sedih, merasa pilu, perih,kita hanya membutuhkan kehadiran sahabat-sahabat kita untuk mendengarkan curahan hati kita. Bahkan di saat-saat dukacita, kadang terlalu banyak bicara justru tidak menolong.
Penderitaan Ayub bertubi-tubi
1.  Kehilangan harta
2.  Kehilangan keluarga
3.  Kehilangan kesehatan
4.  Ucapan berbisa dari pasangan
                 
a.      Masa hening berakhir
Setelah tujuh hari, tujuh malam terpukul, terpaku dan berdiam diri, terdengarlah ratapan Ayub. Puisi pasal 3 membawa kita  ke bilik hati Ayub dan merasakan kepiluan hatinya. Di Ayub 3 ayat 1-26, Ayub meratap. Pada bagian ini Ayub mengutuki hari kelahirannya, dia tidak mengutuki yang lain (Allah, Orang lain). Dia mengajukan banyak pertanyaan mengapa? Mungkin ada banyak pertanyaan mengapa yang kita ajukan setiap kali kita mernghadapi kesedihan/penderitaan. Salah satu pertanyaan yang sangat memilukan adalah mengapa? Mungkin dalam hidup kita juga banyak pertanyaan mengapa
Ayub tahu bahwa hidupnya dalam tangan Allah dan ia yakin bahwa Allah baik, tapi akhir-akhir ini sepertinya Allah tidak seperti yang Ayub kenal selama ini, Dia seperti Allah yang asing bagi Ayub, seolah-olah ia tidak mengenali Allah. Apakah kita pernah merasakan Allah begitu asing bagi kita? Ia tidak seperti Allah yang dulu kita kenal, sembah dan layani? Allah sepertinya tidak menjawab doa kita bertahun-tahun? Hal inilah yang dirasakan Ayub.
b.     Sahabat-Sahabat  Ayub

1.      Elifas (pasal 4-5,15,22)
Di sini Elifas mulai berbicara. Elifas menganggap Ayub menuai semua ini karena ada dosa yang dia lakukan. Seperti firman Tuhan dalam  1 Pet 3:12 “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat”,, Mzm 34 ayat 12-16, Gal 6:7 “Jangan sesat! Alalh tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya”., Berdasarkan prinsip teologis,kalimat Elifas dapat dibenarkan.  Artinya orang yang melakukan kejahatan pasti akan menuai kejahatan. “Apa yang ditabur akan dituai” tidak boleh dibalik “Apa yang dituai karena apa yang ditabur” , seolah-olah semua penderitaan yang dialami, selalu karena kita telah melakukan dosa sebelumnya. Memang ada penderitaan yang terjadi karena dosa tertentu, tapi tidak berlaku untuk semua orang. Elifas menerapkan prinsip teologis itu terbalik, sebab – akibat. Hal ini tidak berlaku bagi Ayub, karena ia seorang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, tiba-tiba mengalami penderitaan atas izin Allah dan bukan karena dosa. Kesimpulan Elifas salah.
Filsuf Pascal  mengatakan “Tahapan terakhir dalam upaya penalaran ialah pengakuan bahwa masih banyak hal yang tidak terselami oleh nalar”. Filsuf ini mengakui ada hal-hal yang tidak bias kita pahami, jangan memaksakan hubungan sebab akibat. Tuhan Yesus sendiri juga menderita, dan Ia tidak pernah berdosa.
Di penghujung abad 20 timbul Teologi Kemakmuran dimarakkan oleh Elifas Elifas modern. Paham ini mengajarkan bahwa orang-orang yang diberkati Tuhan akan hidup makmur dan tidak akan menderita.  Kebenaran mendampakkan kemakmuran dan  dosa mendampakkan penderitaan , asas berpikirnya sama dengan Elifas. Elifas menyajikan kebenaran dari satu sisi
Ada kalanya Allah memalingkan wajahNya terhadap orang baik dan saleh, bukan hanya orang jahat saja. Selanjutnya Elifas menegur, menantang dan memperlihatkan kekesalan terhadap Ayub (Ayub 15), ia menyalahkan Ayub. Elifas melukiskan orang fasik sedmikian rupa, sehingga Ayub termasuk orang fasik , jadi wajar jika alami malapetaka di Ayub15: 25

Pasal 22
Elifas berusaha menghadapkan Ayub pada kemahakuasaan Allah, Elifas menunjuk Ayub melakukan hal-hal yang jahat (22:5,6, 7,9-11), kejahatannya besar maka Ayub ditimpa malapetaka. Elifas menganggap Allah begitu tinggi sehingga Allah tidak mungkin mau memperhatikan Ayub pribadi. Elifas membujuk Ayub kembali kepada Allah (Ayub 22: 21-30)
Elifas berusaha menolong Ayub, dengan mengesampingkan persoalan Ayub yang mendasar. Bd  pasal 5:8,”tetapi aku tentu akan mencari Allah, dan kepada Allah aku akan mengadukan perkaraku” 5:24 ; 15:9-10 “Apakah yang kau ketahui yang tidak kami ketahui?Apakah yang kau mengerti, yang tidak terang bagi kami? Di antara kami juga ada orang yang beruban dan yang lanjut umurnya daripada ayahmu” ; 22:5 “Bukankah kesalahanmu besar dan kesalahanmu tak berkesudahan?”. Elifas ingin mengatakan, bahwa orang benar pasti akan hidup lanjut dan tidak menderita.
 Ayub menjawab  di pasal 6-7( ia kecewa terhadap sahabat-sahabatnya) ,16-17 (mengeluh tentang perlakuan Allah) ,23,24 (ayub membela diri di hadapan Allah, seolah-olah Allah acuh tak acuh terhadap kejahatan)
2.      Bildad (8,18,25,26 ayat 5-14)?
Bildad berpegang teguh pada tradisi dan peraturan, berdasarkan ilmu pengetahuan.Jika Elifas menekankan kemahakudusan Allah, Bildad menekankan kemahakuasaan dan keadilan Allah
Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan yang mahakuasa membengkokkan kebenaran? Allah mustahil melakukan yang salah. Bildad dan Elifas sama sama tidak mendengar, tidak mengerti apa penderitaan Ayub sehingga tidak tepat dan tidak menolong. Mendengar adalah kata kunci seorang sahabat, penolong, pengkotbah
Ayub menjawab  di pasal 9-10,19,26-27)
3.      .Zofar
Ayub pasal 11:4-5 “Katamu pengajaranmu murni dan aku bersih di matamu. Tetapi mudah-mudahan Allah sendiri berfirman, dan membuka mulutNya terhadap engkau” ,20,27 :13-23). Zofar berlagak pintar. Pasal 11 ayat 4-5 Zofar menghina Ayub karena Ayub telah bertahan bahwa ia tidak bersalah dan menyatakan bahwa ia diperlakukan tidak adil. Allah mengenal penipu ayat 11.
Ayub 11:13-15 “Jikalau engkau ini menyediakan hatimu dan mendahkan tanganmu kepadaNya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan  ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut”
Empat langkah pertobatan dan berkat pertobatan (menyediakan hatimu, menadahkan tanganmu kepadaNya, menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu)
Ucapan Zofar benar bahwa dasar kehidupan orang beriman adalah pertobatan dan ketaatan . Zofar salah karena ia melupakan kenyataan, bahwa ada waktunya Allah mengizinkan penderitaan yang tak terduga dan yang nampaknya tidak adil Zofar kelihatannya gagal menjadi sahabat dan penolong. Ayub menjawab di pasal 12-14dan 21
Menurut Charles Truax dan Robert Carhuff , sahabat dan penolong mutlak membutuhkan sikap mengenal diri dan kelemahan diri, menghormati dan tidak menghakimi orang yang ditolong, empati yaitu kemampuan menempatkan diri diposisi orang yang ditolong .
Kesimpulan tentang ketiga sahabat Ayub
Ketiganya menyatakan sebagian dari kebenaran. Ketiganya bertitik tolak dari pandangan masing-masing tentang Allah, lalu masing-masing menerapkan pandangannya itu dalam menolong Ayub.
Sahabat-sahabat Ayub tidak mengenal diri dan kelemahan diri. Ucapan-ucapan mereka menyombongkan diri, menyudutkan Ayub. Dibutuhkan sikap yang tidak menghakimi, jika ingin menjadi konselor yang baik. Ketika ada orang yang sharing masalahnya dengan kita, kita harus bersikap empati, memiliki “kesediaan memakai sepatunya”, memahami jika kita benar-benar ada pada posisi dia. Masing-masing sahabat Ayub memahami sebagian , tidak utuh, tidak lengkap, mereka memiliki pandangan masing-masing tentang Allah, sehingga cara menolong Ayub juga berbeda.
Kalau kita sama dengan Elifas yakni memandang  Allah terutama adalah kudus, maka kekudusan akan sangat mewarnai pendekatan kita. Seorang seperti Elifas akan memberi nasehat “kamu harus bertobat, kamu mengalami ini karena kamu melakukan dosa”. Kalau kita sama dengan Bildad, yakni memberi penekanan utama pada keadilan Allah. Jika kita seperti Bildad akan memberi nasehat “Allah itu adil, tidak mungkin Ia mengizinkan kamu mengalami ini jika sebelumnya kamu tidak melakukan dosa”.Bila kita sama dengan Zofar, menjadikan kemahatahuan Allah sebagai tema utama. Orang seperti Zofar akan member nasehat “Allah itui maha tahu, jangan menjadi seorang penipu”.
Masing-masing sahabat Ayub berpegang pada citra Allah yang berbeda.
Ini peringatan bagi kita. Pengenalan kita akan Allah akan mempengaruhi kita termasuk cara menolong sahabat kita, cara kita melayani. Apa yang kita yakini akan menjadi penggerak bagi hidup kita.
Mereka berusaha menolong Ayub tetapi gagal  dan juga Allah murka kepada mereka karena tidak berkata benar tentang Allah (42 ayat 7). Ketiganya memberi gambaran Allah yang statis tetapi Ayub menghadapkan kita pada Allah yang dinamis dan hidup. Ia bertindak dalam kemahakuasaanNya tapi dengan hikmatNya yang tak terselami. Sulit memahami Allah yang mengasihi Ayub tapi mengizinkan Ayub menderita. Sama seperti Allah yang mengasihi Yesus Kristus, tapi mengorbankanNya di kayu salib.
Sadar atau tidak mereka menyiksa Ayub.Tidak mudah menyadari bahwa ketiga sahabat itu salah, mereka orang beriman yang berusaha menolong Ayub. Kadang-kadang sahabat lebih menyakitkan, karena kita memiliki harapan pada mereka, jika sahabat “menikam” kita, itu sangat menyakitkan. Apalagi jika mereka adalah orang yang sudah mengenal kasih Tuhan yang memberi komentar negatif, tidak mendukung kita, mungkin jika mereka belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan, kita lebih memakluminya.
Kita dapat mengetahui kesalahan mereka dari cara Ayub menaggapi mereka.Berulang kali Ayub menegur mereka karena nasihat mereka sia-sia dan ngawur. Ayub mengeluh karena sahabat sejati seharusnya menopang sahabatnya yang dilanda keputusasaan (pasal 6 ayat 15,21,27,pasal 12 ayat 2,3, pasal 13 ayat 2,5,13, pasal 16 ayat 2,3).
Kesalahan berikutnya adalah pengertian tentang iman. Bagi ketiganya iman adalah suatu sistem keyakinan yang rasional, terlepas dari realitas hubungan pribadi yang hidup dengan Allah (Elifas) atau iman adalah kebenaran yang dipegang karena perkataan orang lain (Bildad) atau iman adalah pandangan dunia yang sesuai dengan akal sehat (Zofar)
·         Iman bagi Ayub
Hubungan yang dinamis dengan Allah yang hidup, yang Ayub pertahankan terus kendati Allah nampaknya mengecewakan dia. Walaupun Allah seakan-akan berubah (asing). Bagi Ayub iman adalah pemberiaan allah yang memampukan dia tahan hidup ditengah-tengah kebingungan dan ketidakpastian. Jika semua sudah pasti, iman tidak dibutuhkan lagi, justru karena semua belum pasti, kita membutuhkanj iman. Iman  mungkin tidak memberi jawaban, tapi berperan sebagai tangan yang menuntun kita dalam kegelapan, dimana Allah nampaknya tidak hadir, agar kita teguh meyakini bahwa Allah adalah kawan bukan lawan.
Kita juga belajar kelemahan pelayanan ketiga sahabat Ayub. Pentingnya penerapan praktis teologis terhadap kebutuhan sesama manusia, lebih berarti dan bermanfaat melalui pendekatan dalam perbuatan daripada omongan saja. Lebih banyaklah mendengar sebelum menasehati.
Sebagaimana teladan Kristus,Dia datang kepada kita ketempat kita dan melibatkan diriNya dengan kita dalam hal-hal biasa. Allah peduli pada hal-hal biasa, Ia memperhatikan satu per satu, bagian demi bagian Pelayanan bukan hanya menunjukkan seseorang jalan kepada Allah tapi juga merelakan diri bersama dia, membuka diri untuk mendengar, merasakan dan memahami pergumulan batin yang sedang ia alami agar teologi, tuturan dan pertolongan kita relevan dan bermakna bagi dia pada saat yang tepat dan di tempat yang tepat. Jangan terjadi kesenjangan teologis dengan praktek hidup sehari-hari. 

SOLIDEO GLORIA



Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...