Jumat, 28 September 2018

MISI

Oleh : Apni Naibaho, SE, M.Min



Siantar Sehat dimulai bulan April 2013 Berawal dari keprihatinan melihat kondisi petani konvensional di Sumatra Utara dimana petani masih berhubungan dengan tengkulak atau rentenir yang seakan-akan membantu petani meminjamkan modal tetapi sebenarnya menindas dengan bunga yang cukup tinggi sehingga petani susah hidupnya. Siantar Sehat bermitra dengan petani yang mau bertani secara organik. Sise dalam bahasa Batak artinya tersenyum atau ramah. filosofinya: dengan bertani secara organik, petani binaan. Siantar Sehat akan tersenyum karena terjadi peningkatan pendapatan; pertanian organik ramah lingkungan karena tanah yang diolah subur; pembeli pun akan tersenyum dan sehat karena mengkonsumsi sayur sehat yang diolah secara organik. Ketika bertani dengan system organik, sayur itu akan dijual lebih mahal dan lebih sehat untuk dikonsumsi. Pupuknya juga dibuat dengan menggunakan dari alam dengan cara fermentasi sehingga tidak memakai pupuk sintetis dan pestisida sintetis, semuanya menggunakan yang organik. Tetapi penghalangnya adalah belum tentu petani ini mau mengikuti cara tanam dan pemeliharaan yang sudah kita lakukan.

Visi : Petani makmur sejahtera, bebas dari tengkulak dan tanah yang diolah secara organik pun subur serta masyarakat (pembeli) bisa mengkonsumsi sayur yang sehat
Misi :
 Memotivasi dan mengajak petani konvensional untuk beralih bertanam sayur(bayam, kangkung, dll) secara organik di lahan masing-masing.
 Mengajari cara bertanam sayur, membuat pupuk dan pestisida secara organik yang bahan-bahannya bisa didapat dari alam.
 Mendampingi petani binaan Siantar Sehat mulai dari awal bertanam sayur secara organik sampai panen dan saya yang menjadi distributor yang menjual sayur yang dihasilkan petani.
 Menciptakan pasar sendiri yaitu menjual sayur ke kantor-kantor pemerintah, swasta, sekolah, perbankan, termasuk delivery order ke rumah-rumah di sekitar Pematangsiantar-Sumatera Utara
Sise juga membuat sayur dalam olahan stik sayur. Dengan mencari informasi membuat olahan sayur akhirnya dapat membuat olahan stik sayur ini. Banyak petani malu jika anak-anaknya menjadi sarjana dan kembali ke kampung untuk bertani. Jika kita ingin pulang dan membangun kampung kita jangan malu, kita dapat membenahi kampung kita meningkatkan kesejahteraan kampung kita dan melayani mereka dengan kebenaran firman Tuhan
Dalam membina petani-petani dengan belajar pertanian sendiri dan mengajak mereka bertani dengan cara penanaman tanpa penggunaan bahan kimia. Disamping mengajarkan system pertanian organik, juga mengajarkan mereka tentang nilai-nilai hidup kebenaran. Visinya dua hal :  mengajarkan mereka tentang hal-hal rohani dan membuat mereka beralih menjadi petani organik. Petani harus didampingi karena petani terlilit masalah, ketiadaan uang dan tengkulak memberikan modal dan benih dan hasilnya dijual murah kepada tengkulak, hal inilah yang perlu kita atasi supaya mereka bisa mandiri. Walaupun banyak juga petani yang tidak mau bergabung karena tidak mau repot dan capek (pada awalnya memang cukup repot mengolah tanah). Fenomena petani digital juga bisa dengan mempertemukan petani dengan konsumen dengan menyertakan hasil panen dan dapat bernegosiasi secara on line dengan harga yang lebih meyakinkan, dan kita dapat membantu petani menjual hasil panen secara on line. Dengan jadwal panen teratur 2 x seminggu, petani dapat mengantarkan hasil panen kepada konsumen yang sudah memesan secara  on line. Jumlah petani yang mau mengolah secara organic memang jumlahnya masih sedikit dan membutuhkan lebih banyak petani untuk mau beralih ke pertanian organik.
Salah satu program Sise adalah menerima kunjungan siswa-siswa untuk mengajarkan pertanian organik ini supaya ada regenerasi pertanian ini de organic.ngan cara. Salah satu stigma orangtua adalah menyekolahkan anak-anaknya menjadi sarjana bahkan menjadi sarjana pertanian dan merasa malu jika anak-anaknya pulang kampong untuk menjadi petani, padahal sebagai orang-orang muda yang berpendidikan, diperlukan untuk menjadi petani yang  mengolah pertanian dengan lebih baik dan dapat memasarkan secara on line. Jika kita ingin pulang kampung dan menjadi petani, mungkin ada banyak yang  tidak mendukung, apalagi bagi orangtua dan keluarga yang mempertanyakan mengapa menjadi petani padahal sudah sarjana, karena itu perlu didoakan dengan serius dan pada akhirnya orangtua dan keluarga juga pasti satu saat ada jalan dan keluarga mendukung. Tetap mengingat 1 Kor 10:13, setiap tantangan akan bisa diatasi karena ada Tuhan yang menolong kita, jangan ragu atau takut kalau mau memulai pertanian, mengira modal harus banyak, padahal tidak, karena petani sudah memiliki lahan, dan kita memiliki ilmu untuk mengolah lahan. Kita dapat bekerjasama dengan bagi hasi 70% untuk petani dan 30% untuk kita. Prinsipnya adalah Mat 6:33 , kita cari dulu kerajaan Allah, yang  lain akan Tuhan tambahkan, dan cukupkan.
Ada 2 sistem organik : Benih dari mana saja tapi setelah itu dikeloloa denga  organik (Amerika)dan benih dari awal itu sudah organik (British). Bibitnya bisa dibeli dari toko yang satu kemasannya bisa untuk 3 x nanam untuk lahan sekitar 200 M. Menggunakan pupuk alam yang dibuat sendiri, untuk pupuk urea (NPK),   N nya dari ampas ikan dicampur gula merah, difermentasi 10 hari, untuk KCl diperoleh dari dari sabut kelapa yang  difermentasi 2 minggu,TSP dibuat dari cangkang telur campur air kelapa difermentasi 1 bulan, dan semua bahannya dari bahan sampah yang dapat kita minta dari penjual dan harganya gratis. Dengan turun ke daerah-daerah/kampung kita, sekaligus kita dapat bermisi untuk penginjilan di kampung kita. Apapun pekerjaan kita, semuanya adalah rohani, yang setiap bagian kerja kita, dapat kita gunakan untuk bermisi di profesi masing-masing. 

SOLIDEO GLORIA

Jumat, 21 September 2018

KEBAKTIAN PENYEGARAN IMAN 2

Oleh : Dr. Efraim Hutagalung, MKes


2 Timotius 2:1-13 ; Filipi 1:21-26 

Kita akan belajar dari paulus.mari kita membaca dari 2 Tim 2:1-13 dan Filipi 1:21-26. Dalam 2 Tim 2 kita melihat perjalanan hidup kita, sesungguhnya tujuan hIdUp kIta apa, apa yang kita kejar. Apa yang menjadi tujuan hidup kita akan mempengaruhi seluruh hidup kita, untuk apa kita melakukannya, bagaimana kta melakukannya dan berapa banyak waktu dan tenaga yang akan kita habiskan dalam mencapai tujuan itu. 

Jika kita membaca 2 Timotius ini dikatakan “sebab itu hai anakku. Jadilah oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus”, kata “sebab itu” ada alasan pada ayat-ayat sebelumnya, karena itu kita perlu membaca dari pasal 1. Surat ini dituliskan ketika Paulus di penjara, menjelang ajalnya, waktunya sudah dekat, keadaan semakin sulit untuk mempersiapkan seseorang menggantikan Paulus untuk memberitakan Injil. Kristus Yesus telah mengalahkan maut, kata “sebab itu “ merujuk pada : 

· Injil telah mematahkan kuasa maut dan dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim 1:10), orang yang seharusnya dibinasakan, mendapat hidup kekal, sebab itu jadilah kuat. Injil telah mengalahkan maut. Kristus yang mengalahkan kematian, kita memiliki kebangkitan, dihidupkan bersama -sama Kristus. Yesus sendiri adalah injil itu yang telah mengalahkan maut dan memberikan hidup yang kekal. 

· Oleh karena Injillah Paulus ditetapkan sebagai pemberita (2 Tim 1;11), Injil yang telah menghidupkan semua orang, karena itulah Timotius harus kuat. Karena injil yang telah menghidupkan dan menyelamatkan itulah kamu menjadi pemberita 

· Injil itu adalah harta yang terindah (2 Tim 1:14), harta yang tak terperi, yang sangat berharga karena menyelamatkan, membebaskan, mematahkan kuasa maut, oleh karena itulah Paulus meminta Timotius untuk tetap kuat. 

Nenek dan ibu Timotius adalah orang yang setia dan tekun kepada Allah, tetapi Timotius itu orangnya pemalu, pesakitan dan Paulus pernah menasihatkan Timotius untuk meminum anggur untuk kesehatannya. Hal yang mendesak adalah kemungkinan ajal Paulus sudah dekat dan sudah ada pembelokan-pembelokan, banyak penatua-penatua yang hampir murtad, meinggalkan pemberitaan Injil, dan ini mendesak Paulus untuk mencari pengganti. Profil Timotius ini lemah, kurang meyakinkan. Kalimat “jadilah kuat oleh aksih karunia Allah” seolah-olah bertolak belakang dengan Timotius yang lemah. Paulus menegaskan sebab Injil menghidupkan, mematahkan maut, lupakan tentang dirimu yang pemalu, jadilah kuat, ambillah kekuatan Injil yang melimpah-limpah itu. Paulus meminta Timotius untuk mengarahkan hidupnya pada Yesus Kristus. Kecenderungan kita yang sering mengasihani diri sendiri, berfokus pada diri sendiri bisa menghalangi kita untuk melayani. Seperti di 2 Kor 4:1 “Oleh kemurahan Allah, kami telah menerima pelayanan ini, karena itu kami tidak tawar hati”, dalam pelayanan kita, tidak pernah berbicara tentang diri kita, tetapi tentang Kristus. 

Ayat 2. Setelah memusatkan perhatian pada Allah, Paulus memerintahkan “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai”. Dalam 2 Kor 4 ; 1 kata “Tawar hati” itu artinya kecewa, berita Injil itu benar, sekalipun pada masa itu banyak orang yang meragukan Injil. Paulus tahu bahwa Timotius akan mengalami resiko yang sama , penderitaan, ditinggalkan. 

Ayat 3-6 Paulus berbicara tentang 3 metafora : prajurit, olahragawan, petani. 

1. PRAJURIT ; seorang yang aktif, biasanya hormat dan taat pada komandan. 

Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang parajurit tidak pernah memusingkan soal makanan, mau tidur dimana, hanya menunggu perintah. Timotius diminta untuk taat hanya kepada Allah, jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, taatlah kepada Kristus. Berbicara soal ketaatan pada zaman ini adalah hal yang sulit, hal itu dipengaruhi dengan siapakah Kristus dalam hidup kita. Apakah Kristus menjadi tujuan hidup kita? Kristus adalah Injil itu sendiri. Penaklukan hanya pada Kristus dalam keadaan apapun harus menjadi bagian kita, murid yang membayar harga adalah yang taat kepada Kristus, ditengah banyaknya tawaran-tawaran dan ambisi-ambisi kita, apakah Kristus menjadi tujuan hidup kita. 

2. OLAHRAGAWAN 

Peraturan menjadi seorang atlit itu sangat ketat, mereka memiliki disiplin dalam latihan, menjaga porsi makanan, juga istirahat yang cukup. Jika seorang atlit melanggar aturan, dia akan gagal bertanding. Banyak orang akan menyerang, melawan karena itu Timotius diminta untuk dapat mengendalikan diri dalam keadaan apapun, jangan marah, bahkan dalam relasi dengan Allahpun kita mengalami dinamika rohani, sehingga ketika ada masalah tidak boleh tawar hati, atau putus asa. Dalam pelayanan ini, kita hanya berbicara tentang Kristus, sehingga jika ada yang menolak, jangan tawar hati, arahkanlah seluruh hidup kita kepada Allah. 

3. PETANI 

Seorang petani harus mengetahui musim menanam sesuai dengan cuacanya, pekerja keras mengolah lahannya untuk memperoleh hasil panen. Seorang prajurit atau atlit yang berprestasi akan mendapat penghargaan, tetapi seorang petani tidak mendapatkan apresiasi dari siapapun. Sebagai alumni kita dituntut untuk bekerja keras, jangan malas. Orang yang memiliki etos kerja pasti akan bekerja lebih keras dari orang lain. Bekerja keraslah demi pemberitaan Injil, jangan cengeng, jangan mengharapkan apresiasi. 

Karena Injil itu menghidupkan, untuk itulah kita bekerja keras. Kita mengalami kekuatan bukan karena diri kita tapi karena kasih karunia Allah. Abad ini membutuhkan orang-orang yang seperti itu. Ada banyak orang yang sangat mudah mengabaikan hal-hal yang sangat berharga untuk sesuatu yang kurang berharga. Seberapa berharga Injil itu, akan menentukan perjuangan kita dalam pelayanan dan pekerjaan kita. Bukankah Kristus itu yang menyelamatkan dan menghidupkan kita dari kemaytian, untuk itulah kita harus bekerja keras untuk memberitakan Injil, mengabaikan diri kita dan mengambil kekuatan dari Injil supaya kita mengalami semangat, kerja keras oleh karena anugrah Allah yang telah menyelamatkan itu. 

Mari kita membaca dari Fil 1:21-25. Paulus sedang mengalami penderitaan dan kalimat ini ditujukannya bagi dirinya “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”, bagi Paulus tujuan hidupnya adalah Kristus, hidup bagi Kristus. Jika ia harus mati adalah sebuah keuntungan, karena ia bertemu dengan Kristus, tidak ada lagi penderitaan. “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu bagiku bekerja memberi buah”. Hidup didalam Kristus harus memberi buah, sekalipun ada banyak kesulitan. Jika ia hidup seluruh tujuan hidupnya adalah untuk Kristus, dan ketika mengalami penderitaan, Paulus memandang kematian itu menyenangkan. Ayat 23 “aku didesak dari dua pihak, aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus-itu memang jauh lebih baik”Ayat 24 “tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu”, ia memilih tinggal menahankan penderitaan asalkan orang-orang itu mengenal Yesus. Paulus menghadapi penderitaan Injil itu “karena kamu”, supaya orang-orang diselamatkan dan mengalami pertumbuhan rohani. Karena itu apa yang menjadi tujuan hidup kita akan menentukan apa yang kita pilih dalam hdiup ini. 

Ayat 7 “Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu” meskipun banyak hal yang tidak dimengerti Timotius, tapi nanti Tuhan akan memberi pengertian. Jika kita bekerja keras, kita akan menuai, kita akan memanen orang-orang yang mengenal Dia. Biarlah Tuhan bekerja, mengubah karakter kita, ketaatan kita supaya hasilnya berlimpah. Orang yang terus setia kepada Tuhan, pasti karakternya akan semakin baik, hati kita makin berkenan pada Allah. 

Ayat 8-10 karena Injil inilah yang menyelamatkan dan menghjdupkan inilah Timotius juga harus menderita .Paulus telah mengalami penderitaan, tetapi Timotius harus meneruskan pelayanan itu supaya orang-orang mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam iman. 

Ayat 11-12, kita sering kali hanya mengingat Allah itu setia mengampuni tapi kita lupa, Ia juga dapat menghukum semua pelanggaran-pelanggaran kita. Ia adalah Allah yang akan menolong kita tapi juga akan menghukum orang yang tidak setia pada Tuhan. 

Marilah kita terus hidup berkarya bagi Kristus, kita tahu apa yang kita pilih, kita mengarahkan SELURUH HIDUP KITA PADA Kristus, mempengaruhi seluruh hidup kita, dan mengarahkan seluruh hidup kita pada Kristus dan memberikan seluruh hidup kita total kepada Allah. 

Hidup ini hanya 1x, baiklah hidup yang 1 x ini menghasilkan karya-karya yang terbaik bagi Allah, supaya hidup yngg satu x ini adalah hidup yang bermakna, hidup yang bmanfaat bagi semua org, karena kita membawa semua orang kepada Kristus, berkarya bagi Tuhan melalui pekerjaan didalam seluruh kehidupan berbangsa, bernegara, bernasyyarakat supaya slkuruh hidup kita memuliakan Allah. 

SOLIDEO GLORIA

Jumat, 14 September 2018

NEHEMIA : A GOD’S SERVANT IN A TIME OF CHANGE

Oleh : Christian Tampubolon, SP

Nehemia 1 dan Nehemia 2

Tuhan selalu memanggil dan membangkitkan seseorang menjadi hambaNya dengan cara yang unik juga dari berbagai latar belakang yang unik. Dia pernah memanggil seorang penggembala muda dari Betlehem ( Daud) , seorang gembala berumur yang juga buronan dari dari Mesir (Musa), seorang anak muda yang dibenci dan dijual saudara- saudaranya (Yusuf) , dan berbagai tokoh-tokoh lain baik dengan kisah yang besar atau yang biasa saja. Mereka semua adalah Hamba Tuhan yang dipanggil melayani di zamannya. Sekali lagi Tuhan memang selalu punya cara unik memanggil seseorang untuk menjadi hambaNya, dan kali ini Kisah Nehemia menunjukkan Tuhan memanggil seseorang dengan cara yang berbeda. Tuhan memanggil seseorang yang hidup di dalam kemewahan dan kebesaran istana sang penguasa di tahun 500 SM. Nehemia adalah seorang Hamba Tuhan di Masa Perubahan ( A God’s Servant in a time of change : hamba Tuhan di masa-masa pembaharuan). Nehemia adalah tanda hidup bagi kaum Israel yang terbuang bahwa kemurahan Tuhan masih hadir dalam pembuangan itu. Melihat kehidupan Nehemia kita akan melihat hidup seseorang yang mau menghambakan diri kepada Allah,. Beralih dari hamba seorang Raja Persia menjadi hamba Allah. Hamba yang berkarya bagi umatnya di negeri pembuangan 

PENDAHULUAN

Ketika tentara Babel mengepung kota Yerusalem tahun 586 SM, kota itu menjadi kota hancur bahkan bait suci megah yang dibangun Salomo 400 tahun sebelumnya juga hancur berkeping- keping, tembok kota dan bangunan didalamnya terbakar oleh api. Kota itu telah ditundukkan dan dimiskinkan oleh Babilonia, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi yang berani melawan keperkasaan kekaisaran Babilonia. Semua orang- orang muda yang potensial diangkut ke Babel. Hanya orang- orang miskin dan tak berdaya yang tertinggal di Yerusalem. Israel bangsa yang dipilih itu kini telah terbuang oleh karena ketidaktaatan dan keberdosaan mereka. Walaupun suara pertobatan telah diserukan oleh para nabi seperti Yesaya dan Yeremia tetapi bangsa itu tidak bertobat dan akhirnya harus dihukum dengan dibuang ke Babel. Hampir 140 tahun telah berlalu sejak Nebukadnezar menghancurkan Yerusalem, keadaan kota dan penduduk yang tinggal masih juga terhimpit dalam kemiskinan yang kronis. Ditengah keterpurukan bangsa yang tidak taat itu, Tuhan memanggil seseorang yang tinggal di istana penjajah atau penguasa. Entah bagaimana mulanya namun kemudian kita mengetahu bahwa Nehemia mendapat pekerjaan sebagai juru minum di Puri susan, istana raja Persia yang sudah berhasil mengambil alih kekuasaan kerajaan Babilonia. Seorang yang lahir se abad kemudian setelah pembuangan. Kita akan belajar 3 hal dari Nehemia. Mari kita m,embaca Nehemia 1:1-4

1. HAMBA DAN KEPEDULIANNYA 

Setelah Persia mengalahkan Babel, orang Israel diizinkan pulang. Datanglah Hanani ke puri Susan, dan Nehemia menanyakan keadaan orang-orang Yahudi kepadanya. Sudah 140 tahun Yerusalem ditaklukkan oleh Babel, kemungkinan besar Nehemia sudah lahir di tanah pembuangan. Secara jarak memang Nehemia terpisah ratusan mil dari Yerusalem, tetapi jarak itu tidak bisa memisahkan hati Nehemia dari kota asalnya itu. Ratusan mil dan ratusan tahun tidak menghalangi Nehemia untuk mencari tahu keadaan orang-orang Yahudi, identitasnya sebagai orang Yahudi sangat terasa. Nehemia punya sebuah sikap ingin tahu tentang Israel. dia sangat peduli dengan kondisi Yerusalem. Nehemia bertanya tentang kondisi Yerusalem. Jika kita tidak memiliki rasa ingin tahu, mungkin kita juga tidak akan perduli. Untuk perduli kepada Indonesia pun harus dimulai dengan keinginan untuk tahu kondisi bangsa kita. 

Ketika Hanani dkk datang dari Yehuda, Nehemia bertanya kondisi Yerusalem. Tindakan bertanya adalah sebuah tindakan aktif. Nehemia mungkin pernah mendengar sejarah bangsanya dan sepertinya dia mengikuti setiap update kondisi bangsanya. Dia ingin tahu dan dia mencari tahu. Kepedulian bukan perasaan tetapi kepedulian adalah tindakan. Tindakan bertanya yang dilakukan oleh Nehemia adalah sebuah tindakan kepedulian. Di pekerjaan kita juga dituntut keperdulian untuk melihat masalah dan kondisi yang ada sebagai bentuk keperdulian. Mungkin saja bukan karena kita tidak tahu kondisi bangsa Indonesia, tapi karena tidak mau tahu. Keperdulian dimuali dengan keinginan mau tahu. Jangan berharap m,enajdi hamba yang perduli, jika kita tidak mau tahu.

Tetapi sepertinya pertanyaan ini bukanlah basa- basi tetapi sebuah pertanyaan yang serius itu terlihat dari respon sang hamba. Dia bukan pura- pura pengen tahu tetapi benar- benar mau tahu. Lihatlah respon nya. Hanani mengabarkan sebuah berita ; “ Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu- pintu gerbangnya telah terbakar.” Mari lihat respon Nehemia. Duduk. Menangis. Berkabung. Semua tindakan ini adalah gambaran keprihatinan. Mengapa harus bersedih dengan kondisi ini ?

Sebuah tembok adalah struktur yang sangat simbolis. Tembok bukan hanya sebuah penghalang dari batu dan semen. Tembok adalah sebuah pernyataan. Pernyataan apa ? Dalam kisah Yosua, kita berjumpa dengan tembok Yerikho. Tembok ini melambangkan kesombongan/arogansi bangsa yang tidak bertuhan itu. Tembok yang dibanggakan sebagai perlindungan. Ketika tembok diruntuhkan berarti Yerikho hancur/runtuh. Kita juga mengenal Tembok Berlin. Tembok Berlin bukan hanya lambang keterpisahan jerman Barat dan Jerman Timur tetapi lambang kekuatan komunisme maka ketika itu dirobohkan maka itu juga pernyataaan runtuhnya komunisme. Salah satu tembok paling besar di dunai yakni Tembok raksasa China yang panjangnya 1.500 mil (8.850 km) dengan tinggi 30 kaki dan lebar 25 kaki .Tembok yang dibangun pada masa dinasti China abad ke 3 SM dengan jelas menyatakan “ Jangan pernah berpikir untuk menyerbu negeri kami “. Inilah yang biasa dilambangkan oleh tembok yaitu : kekuatan dan perlindungan. Di masa purbakala, tembok- tembok merupakan garis pertahanan yang pertama, terakhir dan satu- satunya. Runtuhnya tembok berarti runtuhnya keamanan dan perlindungan bangsa Yerusalem. Runtuhnya tembok adalah runtuhnya dan terganggunya kehidupan umat Tuhan, dan untuk ini Nehemia duduk menangis dan berkabung.

Ada siswa-siswa yang mengalami tembok yang runtuh, seperti perlakuan kekerasan dari keluarga. Perlindungan dan keamanannya sedang runtuh . Apakah kita perduli dan mau tahu dengan itu? Lihatlah tembok- tembok yang sedang runtuh. Dengarlah tembok yang sedang runtuh. Kita semua telah bertemu dengan orang- orang yang pertahananya telah runtuh. Mereka telah menjadi manusia yang terkatung- katung di sepanjang jalan, tidak berpengharapan dan tidak berdaya dan banyak kesukaran. Lihatlah tembok yang sedang runtuh di dunia pendidikan hai calon- calon guru, Lihatlah dan dengarlah tembok- tembok yang sedang runtuh hai para ahli kesehatan, hai ahli hukum, hai ahli pertanian, hai ahli jiwa. Mari melihat dan mendengar. Mari mau tahu. Duduklah, bersedih, berdoa, berkabung. Kita lanjutkan membaca ayat 4-11. Coba rasakan kegusaran hati Nehemia itu. Kegusaran yang dibawa di dalam doa yang otentik dan natural. Ya. Dia memang hamba yang peduli.

2. HAMBA DAN TINDAKANNYA (Neh 2)

Selang waktu antara pasal 1 dengan pasal 2 adalah sekitar 4 bulan. Selama berdoa, Nehemia sedang merencanakan sesuatu. Selama kurun waktu itulah kemungkinan besar Nehemia berdoa dan terus merenung bahkan berpuasa dicatat di pasal 1. Barangkali setiap hari dia berpikir keras dan menyusun rencana (1 : 11 b). Pasti ada keraguan yang dialami selama bergumul. Tetapi agaknya berita yang dia dengar benar- benar menggusarkan hatinya sampai terlihat di dalam ekspresinya di ayat 1. Muka yang muram tidak bisa ditutupi oleh Nehemia. Sampai akhirnya raja bertanya kepada sang hamba tentang kondisinya. Lihatlah apa yang dilakukannya, kesedihan tidak akan menjawab masalah. Tindakanlah yang akan menyelesaikan masalah. Dan ya, dia akan meninggalkan istana. Meminta izin membangun Yerusalem. Dalam ketakutan dan tidak lupa berdoa dia lupa dia berkata kepada raja : “ Jika raja menganggap baik dan berkenanan kepada hambamu ini, utuslah aku aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.” Pernyataan ini adalah sebuah rencana yang harus diakhiri dengan tindakan. Doa yang dipanjatkan tidak berhenti menjadi seruan minta tolong kepada Tuhan, tetapi doa itu mendorong sang hamba untuk bertindak. Masalah saya dan kita semua adalah minim di dalam action. Bicara tentang konsep dan perasaan saya yakin kita semua punya, tetapi tindakan saya kira kita akan berpikir 2 kali.

Kesedihannya tidak akan menyelesaikan masalahnya, tetapi tindakanlah yang akan menyelesaikan. Kepedihan kita terhdap bangsa ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah ini jika tidak dilakukan dengan tindakan. Perasaan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi tindakan. Nehemia adalah hamba Tuhan yang bertindak. Ketika kita melihat realita yang tidak baik, pasti kita bersedih, tetapi tidak bertindak. Permasalahan negeri ini membutuhkan tindakan- tindakan dari orang yang melihatnya. Dari tindakan kecil hingga tindakan besar. Betapa susahnya bertindak. Kita juga mungkin sering tidak bertindak ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan. Hal-hal yang tidak baik kita lihat di kantor/pekerjaan, berpikirlah untuk mengambil tindakan.

Ketika Raja bertanya apa yang dia inginkan, Nehemia sudah memikirkan sesuatu untuk membangun. Ada satu sisi penting dari Nehemia yakni “ Plan before action” Dari pasal satu ada sebuah rencana yang jelas sepertinya yang tersusun dengan baik selama dia berdoa. Ketika raja bertanya apa yang harus dilakukannya mari kita lihat ayat 7-9. Nehemia menganalisa, betapa seriusnya dia ingin bertindak. Dia berpikir, menghitung, dan merencanakan dengan baik. Tidak hanya sampai disana lihatlah apa yang dilakukannya ayat 11-16. Melakukan survey supaya melihat dengan jelas apa yang menjadi kebutuhan dalam pembangunan tembok sehingga dengan mantap dia berkata mari kita membangun. A good plan needed to have action. Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Rencanakanlah apa yang ingin kita lakukan dan lakukanlah apa yang sudah kita rencanakan. Rencanakanlah sesuatu untuk menolong orang lain dan melakukannya, bukan hanya memiliki rencana tanpa melakukannya.

3. HAMBA DAN TANTANGANNYA 

Keperdulian hanya bisa dilkakukan dengan tindakan, tapi faktanya tindakan bisa tidak terjadi karena adanya tantangan. Bagian terakhir yang ingin saya bagikan dari Nehemia adalah bagaimana dia menyikapi tantangan. 

a. Ayat 1 menjelaskan bahwa ketika menyajikan minum bagi raja, Nehemia murung dan sebelumnya tidak pernah terjadi sampai raja bertanya kepada dia (ayat 2). Tantangan pertama yang dihadapi oleh Nehemia adalah dirinya sendiri.

Pasal 1 ditutup dengan sebuah penjelasan akan posisinya sebagai seorang juru minum raja. Pilihan untuk meninggalkan istana adalah pilihan untuk meninggalkan kenyamanan (zona nyaman). Kenikmatan istana diganti dengan kesusahan di lapangan. Pegawai kantor di istana raja berganti menjadi mandor lapangan. Dan dia harus selesai dengan dirinya sendiri. Dia harus tingalkan istana tempat nyaman itu. Tempat nyaman apa saat ini yang sedang kita nikmati ? Tantangan kita biasanya adalah diri kita sendiri, zona nyaman kita. Kenyamanan hidup bisa menghalangi kita untuk bertindak. Apa kenyamanan kita yang menghalangi berindak, apakah pekerjaan, gaji yang tinggi, karakter kita?

b. Nehemia lalu harus menghadapi sang raja yang saat ini dilayaninya, mukanya muram karena sedih. 

Walaupun dia mungkin sudah selesai dengan dirinya sendiri tetapi dia harus berhadapan dengan pemimpinnya. Agaknya memang dia sangat ketakutan menghadapi ini. Suasana hati yang sedih terekspresi juga di dalam mimik Nehemia yaitu dia murung. Ayat 1 menjelaskan bahwa ketika menyajikan minum bagi raja, Nehemia murung dan sebelumnya tidak pernah terjadi sampai raja bertanya kepada dia (ayat 2). Banyak penafsir menduga bahwa hari itu adalah hari raya yang meriah dan apa yang dilakukan Nehemia adalah sesuatu yang bahaya dan dia memang sangat takut. Bermuka muram didepan raja dapat berakhir dengan hukuman mati.Tetapi apakah Nehemia mundur ? Tidak. Dia melangkah dan menyampaikan rencananya. Sesuatu yang sudah direncanakan dan didoakannya. Tantangan memang ada tetapi bukan untuk dihindari. Ketakutan wajar kita alami, tetapi ketakutan jangan menghalangi. 

Kita bisa saja mengalami perjuangan ketika mengambil sebuah keputusan yang akan mendapatkan pertentangan dari orangtua dan keluarga. Petrus juga ketakutan ketika dia berjalan di atas air, tapi ia memilih untuk berjalan, walaupun akhirnya dia tenggelam. Adakah sesuatu atau hal berat yang membuat kita takut melakukan hal yang benar atau mengambil tindakan ? Menakutkan kita atau membuat gentar ? Majulah dengan doa. Berpengalamanlah dengan Tuhan maka kita akan melihat cara Tuhan bekerja walaupun mungkin harus tenggelam dulu. 

c. Tantangan lain yang juga ditemukan adalah preman setempat seperti Sanbalat, Tobia, orang Amon dkk. (Neh 2:10)

Mereka tidak senang dengan karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan Israel. Lihatlah aksi mereka dalam ayat 19-20. Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, Gesyem, orang Arab, mendengar itu, mereka mengolok- olokkan dan menghina kami. Kata mereka : “ Apa yang kamu lakukan itu ? Apakah kamu mau berontak terhadap raja ?. Tidaklah mudah membawa perubahan. Akan ada orang- orang yang sepanjang waktu terus menjadi penentang. Pernyataan ini bisa mengganggu rencana yang sudah berjalan. Krena orang Yehuda punya masa lalu yang kurang baik. Jika kita lihat dalam kitab Ezra Jika kita bandingkan dalam dalam Ezra 4 : 1-7, 24. Oleh karena lawan pembangunan Bait Allah digagalkan. Dan pernyataan Sanbalat dkk adalah ancaman yanng bisa melemahkan semangat orang lain. Mereka punya pengalaman masa lalu pernah gagal membangun bait suci karena ada perlawanan. Tetapi lihatlah jawaban Nehemia dalam ayat 20. Aku menjawab mereka, kataku : “ Allah semesta langit, Dia lah yang membuat kami berhasil ! Kami, hamba- hambaNya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem. “. Kita juga pasti akan menghadapi teman-teman satu kerja yang tidak senang ketika kita menlakukan kebenaran. Tantangan memang ada tetapi bukan untuk dihindari. Ketakutan wajar kita alami, tetapi ketakutan jangan menghalangi. Alih- alih fokus kepada ancaman, Nehemia fokus kepada Allah. Dia tidak menhabiskan energi kepada pergumulan atau tantangan tetapi fokus kepada Allah. Benarlah Dia memang adalah Hamba Allah. Bukan hamba yang lain.

PENUTUP

1. Nehemia adalah tanda hidup bagi kaum Israel yang terbuang bahwa kemurahan Tuhan masih hadir dalam pembuangan itu. Melihat kehidupan Nehemia kita akan melihat hidup seseorang yang mau menghambakan diri kepada Allah, Tuhan sedang memanggil orang-orang yang mau menghambakan diri kepadaNya. 

2. Nehemia bukanlah seorang Kesatria, namun kualitasnya keberaniannya jelas mencerminkan karakter seorang kesatria yang handal. 

3. Nehemia bukanlah seorang Nabi, namun ucapan tindakannya tidak kurang dari karakter seorang Nabi Allah. 

4. Nehemia juga bukanlah seorang imam, namun ia membawa umat Allah untuk hidup beribadah dan mencintai taurat Allah. Sang Hamba yang mau peduli, bertindak, dan menghadapi tantangan demi menghambakan diri kepada Tuhan membawa pembaharuan di tanah pembuangan. 

Nehemia adalah hamba Tuhan yang perduli, bertindak sekalipun ada banyak tantangan. Indonesia membutuhkan juga orang-orang yang demikian. Apapun yang menjadi bidang kita, kondisi kita. Allah memanggil kita untuk menghambakan diri kepadaNya melalui keperdulian, kemauan dan bertindak. Efesus 2 : 10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya”. Be A Servant in a time of change. (Kepedulian, Tindakan, Tantangan). 



SOLIDEO GLORIA

Jumat, 07 September 2018

MENJADI MURID KRISTUS DI DUNIA NYATA

Oleh : David Siagian, SKM, MKes


PENDAHULUAN
Mengapa dunia alumni sering disebutkan sebagai dunia nyata? Beberapa perbandingan ketika mahasiswa dan setelah menjadi alumni:
·         Ketika MAHASISWA, kita selalu memikirkan studi, fokus pada studi sedangkan di alumni kita memikirkan pekerjaan.
·         Pelayanan mahasiswa, bersemangat dan bergelora, tapi ketika alumni sangat mudah memberi alasan untuk tidak terlibat melayani. Ketika mahasiswa, semua dikorbankan, tidak ada rasa lelah, mimpin kelompok, rapat, dll, tidak akan terasa lelahnya,  bahkan masih sanggup menyelesaikan tugas. Tapi di alumni akan semakln sulit.
·         Integritas adalah hal yang selalu dibicarakan ketika mahasiswa,  tapi di dunia alumni mungkin mulai kompromi,  bekerja dengan baik saja sudah sangat bersyukur.
·         Waktu mahasiswa , saat  teduh 30-45 menit itu terlalu singkat rasanya tetapi di dunia alumni akan sangat sulit memberi waktu 5-10 menit, apalagi jika sudah berkeluarga dan memiliki anak yang tentunya akan semakin menyita waktu
·         Membicarakan  Visi ketika mahasiswa dilakukan setiap waktu,  dibahas/digumulkan, setelah alumni mendengar visi hanya jika dating pemaparan atau evaluasi program.
·         Ketika mahasiswa sering menjadi tempat curhat, siapa yang datang sharing dilayani, dinasehati dengan kata2 bijak, kita bisa memberi waktu untuk mendengarkan masalah. Tapi di alumni menjadi sangat sulit, hari sabtu dan Minggu aadalah waktu untuk keluarga, istirahat, pergi ke café.
·         Perpuluhan/persembahan ketika mahasiswa  selalu memberi, tapi di alumni bisa lalai memberi perpuluhan  apalagi dengan banyaknya cicilan yang haruds dibayar.  Lama kelamaan lupa memberi perpuluhan
·         Masa mahasiswa adalah masa dimana Iman mereka paling kuat dan masa pelayanan menjadi hal yang paling menyenangkan
Dunia alumni yang nyata, sangat banyak hal-hal yang kita kompromikan menjadi hal yang biasa. Sehingga jangankan untuk memimpin KTB, mungkin spiritualitas kita pun bisa dipertanyakan

KENAPA
1.      Tuntutan keadaan Label Alumni
2.      Mengubah pola pikir
3.      Tentang Uang
·         Alumni itu harus menghasilkan, dengan tuntutan keluarga kita harus segera bekerja, harus menabung untuk rencana-rencana ke depan, mungkin harus membantu keluarga.
·         Penghasilan sendiri sehingga menggunakan sendiri
·         Waktu mahasiswa 500rb cukup, di alumni 3 juta tidak cukup, dengan menambah fasilitas yang kita miliki termasuk memilih tempat kost yang lebih nyaman yang pada akhirnya menambah budget pengeluaran
·         Menabung untuk masa depan
·         Membantu keluarga
·         Bekerja untuk hidup Sehingga cari uang terus

4.      Tentang gaya hidup
Gaya hidup alumni berubah, sudah memilih tempat makan minum mana yang lebih nyaman, sambil ngobrol dengan teman-teman, semata-mata menghilangkan suntuk dengan tertawa bersama, akan menghabiskan uang untuk membeli apa, apa yang harus dilakukan di waktu senggang. Jika sudah menikah, memikirkan kapan akan membeli rumah dan di daerah mana, rumah seperti apa, memiliki kendaraan dll.  Dan hal ini bisa melupakan disiplin rohani kita.
5.      Tentang pekerjaan
Tekanan pekerjaan bisa menghabiskan tenaga, pikiran kita, waktu kita, apakah karena tekanan dari atasan atau target-target yang harus kita selesaikan. Bekerja tidak sesuai keahlian (hal baru, dunia baru),  sehingga kita harus banyak belajar hal-hal baru yang  selama ini belum kita pahami akan membuat kita focus ke hal itu.

Memasuki Dunia Nyata
·         Hidup seperti apa yang kita harapkan. Markus 8:34” Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-muridNya dan berkata kepada mereka “Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” menjadi murid Kristus hrs mengikut Dia, menyangkal diri”. Ketika baru alumni, masih memiliki rencana akan bekerja dimana, dan tetap komit memimpin KTB, tapi setelah 6 bulan belum bekerja, mungkin ada perubahan rencana dan keputusan, termasuk pindah ke luar kota.
·         Perubahan seperti apa yang telah dan akan terjadi ketika kita sudah menjadi alumni. Apakah kita akan tetap melayani dan mengikuti persekutuan yang ada.
·         Hubungan sosial seperti apa yg akan dijalani. Kita juga harus memberi batasan berelasi sosial dengan lingkungan kita, apalagi jika komunitas kita berada di kalangan orang-orang dengan posisi tinggi.
·         Gaya hidup seperti apa yang akan diperankan
Menjadi murid di kehidupaan nyata, caranya :
1.      Kita harus terus menjadikan Allah sebagai Pusat hidup kita.
·         Hubungan pribadi dengan TUHAN, sehingga masih mengingat Tuhan dalam setiap rencana. Masihkah kita mengutamakan persekutuan pribadi kita setiap hari?Tidak ada yang salah dengan perencanaan, untuk memiliki masa depan yang baik.  karena memang perlu dipikrkan mana yang lebih baik, tetapi apakah kita melibatkan Tuhan dalam rencana kita, dan hidup kita yang berpusat pada Allah.
·         Kita harus memiliki Hati yang masih melayani dan Keterlibatan dalam pelayanan. Alumni akan dengan mudah mengatakan tidak punya waktu untuk melayani dengan beberapa alasan “saya sangat sibuk” “saya masih dalam masa transisi dan tidak dapat memberi diri untuk hal lain, pekerjaan saya masih berjuang, perlu belajar sehingga hal-hal lain belum terpikirkan” “saya perlu mengatasi masalah saya sendiri”, “saya takut kelelahan” “saya tidak punya waktu, jadwal saya terlalu padat” “saya tidak tahu apa karunia saya”. Hal-hal inilah yang membuat kita tidak lagi terlibat di pelayanan. Untuk menjadi murid Kristus di dunia nyata salah satunya adalah dengan tetap memimpin KTB. Kita dapat memberi waktu memimpin di hari Minggu atau sore hari setelah kerja. Bertahan di dunia nyata, akan kelihatan dalam keterlibatan kita memuridkan orang-orang yang Tuhan telah percayakan kepada kita.
2.      Intelektual. Ketika kita memiliki intelektual, kita akan lebih mampu mengatasi tekanan-tekanan dalam pekerjaan.
·         Memiliki pengetahuan yang luas
·         Ketrampilaan yang mumpuni
·         Pemikiran yang kritis dan menciptakan jalan keluar. Kita bisa sangat tersita waktu di pekerjaan, karena tidak mengetahui jalan keluar dari suatu masalah dan kita akan memiliki banyak waktu untuk hal-hal lain.
·         Ketrampilan relasional yang baik
3.      Memiliki Karakter yang baik
·         Integritas / memiliki prinsip. Hal ini harus tetap dipertahankan di alumni.  Ketika kita membiarkan orang lain melakukan hal-hal yang tidak jujur, bisa membuat kita aklhirnya melakukannya juga.
·         Dapat diandalkan (kerja keras, kredibel)
·         Memiliki jiwa kepemimpinan yang baik
4.      Keterlibatan / hubungan sosial. Apakah perasaan berbelas kasih masih ada pada kita? Kita harus memiliki kemurahan hati/belas kasihan
·         Peduli pada lingkungan sekitar
·         Kesederhanaan (cukupkan diri dengan apa yang ada). Tidak memaksakan diri untuk harus segera memiliki rumah, mobil, kartu kredit, jalan-jalan ke luar negeri. Hal ini membuat kita kehabisan waktu karena hal-hal di luar jangkauan kita.
5.      Komunitas Kristen/Persekutuan
Yoh 13:34-35 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Komunitas Kristen sangat menolong kita berbuat dalam kehendak Tuhan, karena komunitas Kristen lah yang menerima kita apa adanya, tidak seperti komunitas lain yang sering bertanya pencapaian-pencapaian dan harta apa yang kita miliki. Komunitas Kristen menerima semua orang karena kasih. Karena itulah penting untuk terlibat dalam pelayanan. Lingkungan, pergaulan kita sangat meneruskan langkah kita ke depan.  Dalam komunitas itulah kita saling mengingatkan.

Kita harus belajar dari persekutuan/komunitas Kristen (jemaat mula2 di Kisah Para Rasul 2:41-47), yang bukan hanya merasakan kesatuan tapi juga menjadi pelayanan, bertambahnya orang percaya. Menjadi murid Kristus di dunia nyata memang hal yang sulit, tapi tetap harus belajar seumur hidup. Murid di dunia nyata bukan saja hanya sekedar tidak ikut dalam kehidupan dunia ini tapi  harus sampai pada memuridkan, menjadi gembala. Dengan janji yang tidak akan pernah tidak ditepati bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita sampai akhir zaman (Mat 28:118-20). Kita harus mengurangi asumsi-asumsi yang cukup banyak mempengaruhi kita, dan hal itu yang membawa kita tidak dalam rencana awal bahkan mungkin akan lari dari jalan yang Tuhan inginkan. Murid adalah orang yang memuridkan. Di Matius 3:18-22, Tuhan Yesus memanggil 12 orang murid-muridNya. Panggilan murid2Nya untuk mengikut Dia adalah untuk memuridkan dan itu jugalah panggilan Tuhan bagi kita untuk memuridkan. 

SOLIDEO GLORIA

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...