Jumat, 16 Juni 2017

MERAJUT KEBHINEKAAN

Oleh : Ir. Benget Manahan Silitonga




Membersihkan dan merawat tempat Berpijak

Berbicara tentang bhineka, pancasila sering kali kita berbicara soal posisi dan psosisi yang kita ambil itu adalah defensif. Istilah-istilah yang sering kita dengar adalah soal mayoritas, minoritas, agama besar, agama kecil. Berbicara keindonesiaan, kebhinekaan kita diajak diberi suguhan-suguhan yang sangat politis, elitis seolah-olah hal itu jauh sekali. Karena itu saya memberi judul membersihkan dan merawat kita berpijak.

Dasar Berpijak 

Kebhinekaan atau Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada satu pun yang 100 persen sama di dunia ini (fisik, non fisik (pikiran)). Berbicara tentang kebinekaan adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak, pasti ada perbedaan. Setiap asal suku bangsa itu berangkat dari satu titik yang membuat kita tumbuh, bukan tiba-tiba muncul ke permukaan, karena itu patutlah kebhinekaan itu menjadi dasar berpijak. 
Kita diciptakan segambar dengan Allah (imago dei), kita semua diciptakan berbeda secara fisik, ini adalah sebuah maha kreasi Allah sebagai pencipta. Perbedaan itu harus dilihat sebagai anugerah dan berkat Tuhan. Karena dasar berpijak itu kita juga mempunyai kearifan lokal masing-masing. Nilai-nilai Kearifan lokal hidup dan bisa ditemukan dalam beragam tradisi, kebudayaan, dan tatanan masyarakat adat :Kesetaraan, toleransi, dan solidaritas. Di tahun-tahun 1980, ketiga hal ini masih sangat baik di lingkungan masyarakat, dalam tiap perayaan agama apapun, masih ada kunjungan antar keluarga yang berbeda keyakinan. Hal ini mulai menurun pada saat ini. Kebhinekaan/Tempat berpijak yang alami ini sebenarnya sudah diberi resep untuk mengelolanya dengan 3 praktek diatas. Nilai-nilai kearifan lokal itulah yang kemudian diintisarikan oleh Soekarno menjadi Pancasila.

Dimana Kita Sekarang/Apa yang Terjadi saat ini

Apakah Kebinekaan dan Persatuan Indonesia sungguh benar-benar terancam/kritis? Apakah hanya di media sosial berkonflik, atau di dunia nyata juga terjadi konflik? Fenomena2 sosial yang terjadi saat ini pasti mempengaruhi kita, membuat kita was-was dengan kebhinekaan.
Apakah pihak/gerakan Radikalisme yang mengancam Kebinekaan/Persatuan Indonesia sudah begitu dominan/mengkhawatirkan?? Apakah jika pemerintah akan membekukan ormas adalah sebagai bentuk kegentingan ancaman kebhinekaan?

Deskripsi berbasis Riset
Hasil survei opini publik terkini yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 4/6/2017 menemukan bahwa,

1. Dari 66,4% responden yang tahu ISIS (negara Islam Irak dan Syiria), 89,6% menyatakan tidak atau sangat tidak setuju dengan perjuangan mereka. Bahkan 91,3% di antaranya mendukung negara melakukan pelarangan.

2. Bahwa 9 dari 10 (89,3%) rakyat Indonesia menganggap ISIS adalah ancaman pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. 92,9% menyatakan ISIS tidak boleh hidup di Indonesia.

3. Bagaimana dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga memiliki gagasan dan perjuangan mirip dengan ISIS? Dari 28,2% warga yang tahu, 56,7% mengetahui HTI memperjuangkan gagasan khilafah, 68,8% warga menyatakan menolak perjuangan mereka. Sementara dari 75,4% yang tahu niat pemerintah membubarkan HTI, 78,4% menyetujuinya.

4. Sikap umum masyarakat Indonesia (99%) yang bangga sebagai warga negara Republik Indonesia. Ketika ditanya apakah bersedia menjadi relawan penjaga NKRI, 84,5% menyatakan bersedia dan sangat bersedia.

5. Dukungan pada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 nampak masih sangat solid dalam temuan ini, yakni 79,3%.

Apakah kita Puas? Jangan dulu !! 

Survey SMRC tersebut juga menemukan ada 9,2%(sekitar 20 juta) rakyat yang menganggap bahwa bentuk NKRI perlu diganti menjadi negara Islam atau khilafah yang bersandar pada al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama tertentu.

Survei ini juga menemukan 14,5% warga menganggap Indonesia sekarang ini melemah dan karenanya berada dalam ancaman besar. 89,3% di antaranya menganggap hal itu adalah masalah yang sangat serius. Bahkan 75% (10% dari total populasi nasional) di antaranya menganggap Indonesia akan terjerumus dalam perang saudara.

Tentu data ini bisa diperdebatkan.

Apa Penyebabnya?

I. Indonesia menghadapi ancaman fundamentalisme

Masalahnya bukan horizontal, bukan pada rakyat, tapi pada relasi antara warga dengan Negara.Walau kita telah masuk pada ikdalam iklim demokrasi, relasi ini antara pemerintah,DPR dan rakyat masih belum baik. Rakyat masih belum puas dengan kinerja pemerintah sehingga pelariannya ke kekuatan fundamental agama. Yang kedua terjadi tranksaksi dalam fundamentalitas pasar, hak suara ada harganya. Karena itu kalau orang sudah berfikir fundamentalis agama dan fundamentalisme akan melakukan apa yang menguntungkan di pihaknya.


2. Politisasi Agama dan Agamanisasi Politik

Politisasi Agama,Keyakinan dan kredo keagamaan dijadikan pilihan-pilihan, keputusan atau ideologi politik

Agamanisasi Politik,fakta, pilihan-pilihan atau ideologi Politik (Profan) yang profane (sementara), dijadikan sebagai masalah dan keyakinan agama dogmatik, yang bersifat sufi. Keyakinan politiknya itu diagamakan. Istilah minoritas dan mayoritas sebenarnya tidak ada dalam nomenklatur tata Negara, istilah2 itu adalah fakta2 politis yang dijadikan keyakinan agama; “karena kami lebih banyak, pasti kami menang”.

3. Sentimen Negatif Kedigdayaan Teknologi (Sosial Media). Teknologi sosial media juga mengubah gaya hidup kita

Apa yang bisa dilakukan? 

MEMBERSIHKAN DAN MERAWAT TEMPAT BERPIJAK KITA!!

1. Mendoakan dan Mengusahakan Pemerintah yang Melindungi dan Mensejahterakan semua warga negaranya dengan Adil.

Perlu juga ada forum-forum bertemu/bertukar pikiran tentang tantangan yang mereka hadapi, memberi kekuatan, mempersiapkan kita,adek-adek, ketika nanti ditempatkan melakukan tugas-tugas pemerintahan, mungkin dapat memperbaiki apa yang terjadi, juga penting untuk mengawal, mengkritisi dan memberi saran2 yang konstruktif untuk perbaikan pelayanan

2. Memproduksi Kebaikan

I Timotius 4;12b ;Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmudan dalam kesucianmu”.Agar bisa MEMPRODUKSI KEBAIKAN, kita haruslah keluar dari KEMINDERAN MINORITAS. Karena memproduksi kebaikanlah maka orang-orang diperhitungkan dan mempengaruhi Negara. Kita harus memiliki misi propetik yang terdiri dari tiga unsur:

  • 1. Misi Liberasi yang berarti kita mengemban amanah untuk membebaskan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi, sosial, budaya, dan aspek lainnya. Di bidang ekonomi, kita dituntut untuk terus mengasah kreativitas hingga mampu menghasilkan solusi tepat bagi masyarakat kita hingga tercipta perekonomian yang mandiri. Selain itu, kita juga wajib memupuk nasionalisme ke-Indonesiaa hingga mampu menyaring segala jenis informasi dan menyerap kebudayaan yang berpotensi merusak Dasar Berpijak Kita.
  • 2. Misi Humanisasi yakni kita mampu menanamkan rasa kemanusiaan di tengah-tengah kekerasan dan kemajemukan bangsa Indonesia. Kita harus memiliki empati pada rakyat, sensitif atas permasalahan yang terjadi, dan berperilaku manusiawi. Hal tersebut sangat jarang ditemukan saat ini. Kita tidak lagi mengenal dan bertegur sapa dengan tetangga. Kita tak lagi menjadikan RW, Lingkungan, Desa, sebagai Rumah Paguyupan Bersama. Pejabat negara yang belum menunjukkan kinerjanya malah terlebih dahulu menuntut kenaikan gaji. Padahal rakyat masih menjerit-jerit oleh keterpurukan ekonomi. Sungguh tidak manusiawi.
  • 3. Misi Transendensiyakni kita harus memiliki nilai-nilai luhur dalam menjalankan kewajibannya. Kesucian niat merupakan kunci utama dalam merealisasikannya. Tekad dalam mengabdi harus dijaga dengan kesucian hati hingga terwujud satu perbuatan yang mulia dan bermanfaat bagi sesama. Dalam hal ini,kita harus siap setia dan tekun mengerahkan idealisme melawan kondisi riil yang terjadi di negara saat ini. Bukan rahasia, banyak diantara kita yang menggadaikan idealisme malah tergiur dengan harta dan kekuasaan saat dirayu oleh sebuah kepentingan individu atau kelompok.
Supaya peran Liberasi, Humanisasi, dan Transendensi itu optimal bergaul, berbaur, belajar, dan bahkan bersekutulah dengan orang lintas SARA . 

Sebab dengan itulah kita bisa mengkonsolidasikan potensi dan kekuatan untuk senantiasa merawat dan membersihkan Tempat Berpijak kita. 

Dengan bersekutu bersama orang lintas SARA, kita bisa mengorganisir kebaikan .Dengan bersekutu kita bisa belajar tentang perbedaan dan persatuan.


Jumat, 09 Juni 2017

Sembuh dari Luka Batin

Oleh : Debbie Silitonga , MACL


Defenisi sehat Menurut WHO “Suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial; tidak hanya bebas dari penyakit”. Defenisi sehat Menurut kementrian kesehatan RI UU No. 23 thn 1992 tentang kesehatan :“Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi”. Jadi sehat tidak berarti hanya fisik yang sehat, tetapi juga mental, jiwa harus sehat, sehingga penting untuk membicarakan kesehatan mental, jiwa. Karena itu banyak orang memberi waktu untuk mengobrol bersama teman-teman.

Tahukah Anda bahwa BPJS menanggung penyakit kejiwaan. Ada tiga penyakit jiwa yang ditanggung oleh BPJS :
  • Gangguan campuran anxietas (gangguan kecemasan) dan depresi (merasa tidak berdaya, tidak punya harapan).
  • Gangguan psikotik seperti schizophrenia.
  • Insomnia (susah tidur)
Apa itu luka batin? Hal-hal yang terjadi di sekitar kita : perselingkuhan, perceraian, bencana alam, tidak ada harapan, aborsi, kemiskinan, keterpisahan, KDRT (suami terhadap istri, istri-suami, orangtua-anak), bunuh diri.

Tanda-tanda orang dengan luka batin: Mudah marah, Mudah tersinggung, Emosi tidak terkendali, Sulit bergaul, Suka memberontak, Sering sakit kepala/migraine, Sakit maag, Gatal-gatal, Diare, Jantung berdebar, Agresif, Sulit mengampuni, Dendam, Suka membual, Over acting, Homosexual, Lesbianism dll

Dalam Bahasa Inggris batin ((pikiran, perasaan, emosi) disebut mind. Batin itu ada dua:
(pikiran, perasaan, emosi)

1. Conscious Mind (batin sadar). Proses kerja pikiran sadar seperti: belajar sesuatu yang baru, bertindak sesuai alasan, berpikir analitik/logis/intelektual, berdebat dengan rasional. Menyimpan memori jangka pendek, terbatas.

2. Subconscious Mind (batin bawah sadar). Proses kehidupan fisik manusia yaitu proses kerja organ tubuh, hal-hal yang bersifat kreatif, imajinatif, intuitif, tidak logis, bertindak berdasarkan sensor syaraf/refleks. Berisikan memori jangka panjang termasuk masa lalu (unlimited). Tujuh puluh persen metabolisme kita diatur oleh batin tidak sadar seperti detak jantung.

Luka batin : Tumpukan emosi negatif yang tersimpan di bawah alam sadar akibat pengalaman hidup yang menyakitkan pengalaman hidup yang menyakitkan ini tidak selalu sama pada tiap orang, bahkan pengalaman menyakitkan yang sama dapat memberi reaksi yang berbeda pada masing-masing orang. Luka batin ini :
  • Ada di lapisan terdalam dari batin
  • Non fisik, tidak terlihat (band. luka fisik)
  • Bisa tidak disadari orang yang mengalami
Tanda-tanda seseorang memiliki luka batin : 
  • Sulit mengasihi (tidak ada unsur-unsur kasih: ramah, suka menolong, senyum, menghargai, menghormati, melayani, dsb). Sebaliknya yang kelihatan adalah : acuh, sinis, suka memberontak, kata-kata/kritik yang tajam, tidak santun,dll
  • Menutup diri, agar jangan disakiti lagi. Juga tidak mau berhubungan dengan orang-orang/menjauh.
  • Menyerang: bersikap kasar, lebih baik melukai daripada dilukai, cenderung memaki, mudah menghakimi apa saja yang dilihatnya, merasa diri paling benar, lebih suka menjadi pengamat (agar bisa mencari kesalahan orang lain).
  • Sangat sensitif/peka: gampang marah, gampang tersinggung, gampang merasa tertuduh, sulit mengakui kesalahan, menolak setiap nasihat/teguran/kritik bahkan yang membangun sekalipun, gampang curiga.
  • Suasana batin yang tidak stabil: saat tertentu terlihat baik, ramah, bahagia, tetapi di saat lain pemarah, murung, kasar, baik kepada orang tertentu dan sebaliknya kepada yang lain, tidak tulus.
Apa yang menyebabkan luka batin:
  • Pengalaman traumatis, misalnya kehilangan/dikhianati /disakiti/dilecehkan oleh orang yang sangat dekat. Ada traumatis yang sama dialami, tapi efeknya bisa berbeda diresponi masing-masing orang.
  • Peristiwa yang berlangsung untuk waktu yang relatif lama, atau berulang-ulang. Seperti sering dipukuli, disekap oleh orangtuanya atau orang dekat yang seharusnya melindunginya.
  • Kejadian/peristiwa yang dilakukan orang dengan sengaja untuk menyakiti, bukan kecelakaan. Seperti pembunuhan yang direncanakan.

Faktor-faktor yang memperburuk luka batin:

1. Mempunyai bakat sensitif, perasa, sedih. Ini bisa didapat dari lingkungan seperti rumah/keluarga. Misalnya jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan akan menjadi lebih rentan, karena mood itu menular (seperti sedih, cemas, gembira).

2. Banyak mengalami hal buruk di masa lalu. Orang yang sebelumnya sudah banyak mengalami hal buruk akan lebih terpengaruh jika ada hal buruk terjadi kemudian.

3. Sudah mempunyai masalah sebelumnya.

4. Tidak mempunyai support system(system pendukung) selama dan setelah peristiwa terjadi. Sistem pendukung ini misalnya teman, keluarga akan sangat membantu dalam masa-masa sulit.

Bagaimana menyembuhkan luka batin:

1. Mengakui dengan jujur bahwa luka batin itu ada. Kita harus akui kejadiannya, peristiwanya.

2. Mengidentifikasi perasaan yang ada secara spesifik dan pengaruhnya. Respon kita ketika peristiwa itu terjadi. Misalnya: marah, dendam, benci, iri, kecewa, malu, terharu, dll. Jika mungkin, bisa diukur.

3. Pengampunan diri sendiri dan orang yang menyakiti. Arti Pengampunan= Pembebasan dari hukuman atau tuntutan. Seperti melepaskan narapidana, kita terbelenggu oleh emosi-emosi negatif kita, kita memutuskan untuk tidak membalas dendam, Band. Mat 18:21-35 (Perumpamaan tentang pengampunan)

Mengapa kita harus mengampuni? Karena Allah sudah lebih dahulu mengampuni kita. Kolose 3:13 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain, apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatjugalah demikian”. Menolak mengampuni orang berarti menghalangi pengampunan Tuhan bagi kita. Markus 11:25 “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu”

Bagaimana kita sanggup mengampuni?

1. Pengenalan akan Allah dan firmanNya. Seluruh isi alkitab menggambarkan kasih Allah akan dunia. Allah menginginkan kita mengasihi karena Allah adalah kasih. I Yoh 4:16 “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”. I Yoh 4:8 “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih

2. Penerimaan diri. Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka”Pada hakekatnya yang memberi identitas manusia adalah Allah yang menciptakannya. Kita sering tergoda untuk menetapkan identitas kita melalui pencapaian, prestasi, jabatan, keberhasilan, banyaknya relasi, popularitas, banyaknya aktivitas rohani, dll. Jadi kita bukanlah apa yang kita pikirkan atau orang lain pikirkan akan kita. Identitas kita ada di dalam Allah yang menciptakan dan menenun kita. Kita sangat dikasihiNya. 

3. Pengenalan akan sesama manusia. Tidak ada manusia yang tidak berdosa. Roma 2:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Dunia ini diisi oleh orang-orang berdosa jadi kita tidak mungkin menutup kemungkinan adanya hal-hal yang tidak menyenangkan yang diperbuat orang (baca: luka batin) kepada kita. Kemungkinan itu akan selalu terbuka selama kita hidup. Kemungkinan kita untuk menyakiti dan disakiti pasti akan terus ada selama kita hidup.

Pandangan yang salah tentang Pengampunan. 
  • Pengampunan bukan suatu perasaan, tetapi keputusan; suatu tindakan berdasarkan niat. Kita memilih untuk mengampuni
  • Tidak sama dengan melupakan; tidak menghapus fakta bahwa perasaan itu pernah ada, hanya tidak lagi dibelenggu olehnya.
  • Tidak menghilangkan bekas luka/sakit tetapi menyembuhkannya (healed memory, not deleted memory). Bekasnya mungkin masih ada, tapi efeknya sudah tidak ada, diganti dengan sukacita, penerimaan, rasa syukur.
  • Tidak membutuhkan dua pihak 
  • Tidak selalu diakhiri dengan rekonsiliasi
Sikap yang salah dalam menghadapi luka batin:
  • Menyangkal bahwa : itu tidak terjadi pada saya, bukan itu maksudnya, rasa sakit/luka itu tidak ada, saya baik-baik saja.
  • Menghindar: semua hal yang berhubungan dengan kejadian itu (orangnya/pelakunya, tempat kejadian).
  • Melupakan : Memang terjadi tapi saya sudah lupakan.
Hal-hal yang bisa membantu pemulihan luka batin :
  • Carilah bantuan dari orang yang Anda percaya (sahabat, keluarga, pembimbing rohani, dll), atau bisa juga memulihkan diri sendiri dengan menuliskan jurnal semua perasaan-perasaan negatif hingga akhirnya meminta pengampunan (proses menceritakan menjadi terapi), perlu ada orang lain dalam terapi ini untuk meningkatkan akuntabilitas dan akhirnya meningkatkan kemungkinan untuk berhasil 
  • Lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Terapi untuk mengalihkan fokus kepada diri sendiri kepada sesama.
  • Lakukan hobbi atau usaha baru. Semangat akan datang bila ada kegiatan yang mengasikkan. Hobbi terbukti meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Cari dan temukan hobbi baru.
  • Olahraga. Olah fisik akan menghasilkan hormon endorfin (zat kimia yang membuat perasaan/mood bahagia) ke dalam aliran darah. 
  • Manajemen stress dan faktor pemicu.
  • Bangun sistem pendukung: komunikasi dan relasi yang sehat dengan keluarga, sahabat, kolega, lingkungan.
  • Memiliki kehidupan spiritualitas yang sehat.

Bebas dari luka batin:
  • Mengenal diri sendiri.
  • Produktif.
  • Bertanggung jawab.
  • Bisa mengekspresikan emosi dengan baik.
  • Memiliki relasi yang baik dengan orang lain.
  • Bisa menghargai orang lain.
  • Mengakui kelebihan orang lain.
  • Adaptif terhadap perubahan.
  • Menerima kritikan dengan wajar.
  • Bisa dipimpin/diarahkan.
  • Bertumbuh di dalam kematangan dalam semua aspek hidup.

Jika kita merasa memiliki luka batin, kita dapat melakukan self healing, atau juga meminta bantuan pada psikiatri jika memerlukan penanganan medis. Jangan merasa sungkan untuk melakukannya, karena luka batin yang dipendam lama akan semakin buruk akibatnya nanti.

Jumat, 02 Juni 2017

CONTENTMENT IN GOD

Oleh : Dra Adelina Sitepu



2 Timotius 3:1-4

Ditengah-tengah tantangan zaman yang berat kita dihadapi, tidak mudah untuk hidup dalam kesederhanan. Tapi itulah yang harusnya kita jalani, karena kita hidup untuk melakukan keinginan Tuhan. Jika ditanyakan bagi beberapa orang, bagaimana pandangan hidup sederhana, mungkin masing-masing memiliki pendapat yang berbeda-beda. Didalam firman Tuhan, secara rinci dan secara detail tidak ditemukan bagaimana hidup sederhana itu. Tapi firman Tuhan memberitahukan dan mengajarkan kita menjalani hidup supaya menjadi bijksana.

Apa itu sederhana?

Menurut KBBI hidup sederhana berarti hidup yang bersahaja, tidak berlebih-lebihan, hidup secukupnya, hidup sesuai dengan kebutuhan. Kita mungkin mampu membeli barang seharga 10 juta, misalnya ponsel, tapi kita bisa tidak membeli barang dengan harga semahal itu, karena dengan ponsel seharga 3 juta sudah memenuhi kebutuhan kita. Jika kita memutuskan membeli sesuatu karena memang kita membutuhkannya, tentu tidak salah. Karena itu hidup sederhana tidak berarti harus hidup miskin. Tapi kita harus membeli barang yang sesui dengan kebutuhan. Ditengah zaman yang penuh godaan, banyak tantangan, kita bisa saja tergiur untuk tidak lagi hidup sederhana Banyaknya iklan-iklan yang menawarkan kita untuk membeli barang-barang mewah. Paulus pernah mengingatkan ini tentang materialisme dan hedonisme. Mari kita membaca dari 2 Timotius 3:1-4

Materialisme dan hedonisme yang akan kita renungkan dalam bagian ini sehubungan dengan kesederhanaan. Pada zaman masa lalu hal ini telah terjadi. Paulus mengatakan, pada “hari-hari terakhir” yaitu ketika Kristus akan datang untuk kedua kalinya yang kita tidak tahu kapan pastinya, akan datang masa yang sukar. Apa yang terjadi? Ada beberapa hal yang terjadi: 

· Manusia akan mencintai dirinya sendiri, 

· Menjadi hamba uang, 

· Tidak dapat mengekang diri, 

· Tidak perduli dengan orang lain, 

· Lebih menuruti hawa nafsu, 

· Tidak perduli dengan Allah.

Kalimat Paulus tidak hanya berhenti disini. Tapi apa yang ia katakan pada Timotius? Ayat 5b, “jauhi lah mereka itu”, Timotius didorong untuk menjauhi mereka. Ayat 14, dalam pasal yang sama mengatakan “tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu”. Ingatlah dari kecil kita sudah berpegang pada kitab suci. Ingat kitab suci yang dapat memberi hikmat dan menuntun kita kepada iman oleh Yesus Kristus”. Maka ketika ada godaan, apa yang menguatkan kita? Jauhi, ingat Firman Tuhan, ada kitab suci yang menuntun kita pada kebenaran. Timotius juga diberi perintah bukan hanya untuk bertahan supaya tidak tergoda dengan itu, tapi 2 Tim 4: 2, “beritakanlah firman, siap sedialah , baik atau tidak baik waktunya, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran“. Orang-orang seperti itu harus ditegur karena hidup seperti itu dan dinasehati dengan segala kesabaran.

2 Tim 4:5, “Tetapi Kuasailah dirimu dalam segala hal…. dan tunaikan tugas pelayananmu”. Sebagai alumni kita harus belajar menguasai diri dengan keinginan-keinginan kita yang banyak. Sehingga tidak lagi hidup didalam kebenaran firman Tuhan. Tegurlah kalau ada yang kita lihat salah, walaupun tidak mudah menegur orang, tapi kita tetap harus menegur dengan kesabaran.

Apa sebenarnya yang membuat kita menjadi orang yang mengejar materi dan hamba uang? Kita bisa saja mendaftarkan beberapa hal. Tapi saat ini kita hanya membatasi pada point-point dibawah ini :
1. Kita bisa tergoda menjadi orang yg khawatir, khawatir dengan masa depan kita. Mari membuka Matius 6:25-34. Kita sering terjebak kepada hal-hal dimana kita menerapkan standar hidup yang duniawi. Itulah yang banyak diterapkan orang menjadi standar hidupnya. berdasarkan apa yang dia pakai, punya, makan, minum . Kalau hal-hal ini yang menjadi standar hidup kita pantaslah kita khawatir, karena kita memakai standar duniawi, bukan standar hidup Allah. Ada kekuatiran untuk memiliki harta di masa tua, bahkan takut untuk keluar dari pekerjaan dan rela melakukan apapun demi uang. Kuatir dengan penilaian orang, seolah-olah keberhasilan kita ditentukan dengan apa yang kita miliki..Jika kita menggantungkan hidup kita pada materi, kita tentu akan kawatir. Karena itu jangan memakai standar ini.

2. Jangan salah prioritas hidup. Yang kita kejar adalah hal-hal yang sementara, karena itu Yesus mengatakan “janganlah kamu khawatir”(31), “semua hal itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (32). Jika ini menjadi tujuan hidup kita,dimanakah iman kita? Bukankah hidup kita adalah milik Tuhan dan Allah kita sanggup untuk memenuhi kebutuhan kita, karena itu kenapa kita menjadi materilialistis?. Tuhan Yesus berkata, “Cari dahulu kerjaaan Allah dan kebenaranNya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu”. Jika kita kuatir tentu wajar, tapi jangan menjadi khawatir secara berlebihan.

3. Prestise
Orang yang hidup dalam duniawi selalu mengukur kesuksesan dengan hal duniawi. Kesuksesan diukur dari materi. Selalu melihat orang dari apa yang mereka miliki. Terkadang kita menghargai dan menghormati seseorang dari apa yang dia miliki. 

4. Ambisius
Kita tidak menyadari ada dorongan terus menerus untuk mengumpulkan harta. Orang bisa menjadi ambisisus karena dia pernah memiliki pengalaman dengan kemiskinan, kesulitan untuk makan dan bersekolah. Kemiskinannnya telah menjadi cercaan orang, dan itu membuatnya tidak siap. Dia marah pada orang yang telah menghinanya. Karena dorongan itu bisa membuat seseorang menjadi ambisisus. Tapi ada juga orang yang telah hidup atau lahir dari keluarga yg berkecukupan, juga ambisius, mungkin untuk mendapat pujian, kehormatan, sehingga ambisius mengejar harta. 

5. Hedonisme
Pola hidup hedon: Melakukan banyak hal yang membuat senang, tidak pernah perduli apakah itu dosa atau tidak. Setiap orang dari umur berapapun, bisa tergoda untuk mengejar kesenangan.
  • Tren, tidak bisa berbeda dengan zaman. Apakah kita selalu harus mengikuti zaman yang berubah? Demi mengikuti tren, kita berubah menjadi hedon.
  • Kegelisahan dan perasaan kekosongan.Banyak orang pulang dari bekerja tidak langsung pulang kerumah. Banyak orang pulang bekerja menghabiskan sisa waktunya ke cafe, nonton ke bioskop. Ada sesuatu yang menggelisahkan dalam dirinya, kekosongan dalam dirinya yang membuat hidup menjadi hedonis. Jadi hati-hati kalau ada sesuatu yang gelisah dan kosong dalam hidup kita. Jangan melarikan diri dari masalah, takut menghadapi masalah, lalu mengatasinya dengan hidup hedon.
  • Besar pasak dari tiang. Pola hidup hedon membuat banyak pengeluaran. Akibatnya kita sulit memberi persembahan, sulit membantu orang lain, sulit membantu pelayanan. Ini fakta yang cukup mengejutkan, karena kita bisa tanpa pikir panjang dapat mengeluarkan uang untuk nonton, membeli pakaian baru dll, tetapi sulit untuk membantu hal-hal yang lebih berguna. Pemakaian kartu kredit juga dapat membuat kita terjebak dengan hutang yang banyak, jika kita tidak bijaksana menggunakannya.
  • Hedon adalah manajemen hidup yang gaggal dan tidak bertanggung jawab, karena apa yang kita punya bukan milik kita, itu milik Tuhan. Karena itu kita harus mengeloanya dengan baik.

Apa pandangan alkitab tentang uang?

Menjadi kaya tidak salah, uang juga tidak salah, ada banyak tokoh di alkitab adalah orang yang sangat kaya dan diberkati oleh Tuhan. Mari kita membaca Ayub 1:1-3. Ayub disini memiliki hidup yang “sempurna”, memiliki anak laki-laki, perempuan, memiliki harta. Dia adalah orang terkaya dari semua orang di sebelah Timur. Ayub ini seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah. Cara Ayub mendapatkan kekayaan, berarti dengan cara yang benar, bukan dengan menindas, tidak korupsi, dia tidak melakukan kejahatan. Dimana kita bisa menemukan orang-orang seperti ini? Orang kaya seperti Ayub bisa diberkati Tuhan dengan cara-cara yang saleh dan jujur. 

Apa yang salah dengan uang? Mencintai uang dan menjadikan uang sebagai Tuan didalam hidup kita, itulah yang salah. Mari kita baca Matius 6:19-24. Jangan menjadi hamba atau abdi uang, kita harus memilih mengabdi kepada Tuhan atau kepada mammon. Sikap materialistis bisa melahirkan banyak tindakan kejahatan, seperti korupsi, pemerasan terhadap orang yang tidak berdaya, menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang, sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”(1 Tim 6:10). Mari kita evaluasi, siapa yang kita cintai sekarang ini, apakah yang kita cari didalam dunia ini, apa yang kita upayakan dalam pekerjaan kita masing-masing, apakah uang telah menjadi tuan dalam hidup kita?

Bagaimana membangun sikap yang benar terhadap kekayaan? Mari kita baca 1 Tim 6:17-19. Ternyata ada sisi negatif dari kekayaan, yaitu “peringatkan orang-orang kaya agar tidak tinggi hati,jangan berharap pada hal yang tak tentu seperti kekayaan”(ayat 17). Ketika kita menikmati berkat dari Tuhan, kita bisa saja lupa siapa Tuhan yang telah memberikan berkat itu. Jika kita menjadi kaya, berbuat baiklah, suka berbagi (ayat 18), tidak pelit. Ketika kita berpenghasilan kecil mungkin lebih mudah memberi persepuluhan, tetapi ketika kita memiliki penghasilan puluhan juta apakah kita tetap bisa setia memberi persepuluhan kita? Karena itu tetaplah berbuat baik dan berbagi pada orang lain, untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Bagaimana membangun hidup sederhana dan tidak menjadi hedon dan materialis?
  • Puas dan bersyukurlah atas apa yang kita punya. Biasanya kita melihat kepada apa yang sudah dimiliki orang lain dan apa yang tidak kita miliki, sehingga kita sulit bersyukur. Kita harus melihat berkat-berkat Tuhan baik berkat materi maupun non materi yang kita miliki (seperti memiliki kesehatan, bisa hidup bahagia, diberi kesempatan untuk melayani).
  • Puaslah dengan apa yang kita punya. Bukan membuat kita berhenti bekerja keras meningkatkan taraf hidup kita. Tapi ada usaha meningkatkan taraf hidup kita supaya bisa berbagi dengan orang-orang disekitar kita. Sehingga kita bisa menjadi berkat buat sekeliling kita. Kita puas bukan karena bekerja keras, puas dengan apa yang Tuhan anugerahkan dengan hidup kita. Sadarilah uang hanya alat. Ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang seperti tidur nyenyak. Uang tidak bisa memberi ketenangan dan kenyamanan, nama baik. Jangan mengira kalau kita memiliki uang banyak, kita akan memiliki nama baik, Amsal 15 :16 “Lebih baik sedikit barang dengan disertai rasa takut akan Tuhan daripada banyak harta disertai dengan kecemasan”. Kekayaan bisa menimbulkan banyak kecemasan. Amsal 22:1 “Nama baik lebih berharga daripada kekayaan kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas”. Bukan karena kita kaya, kita dikasihi orang. Orang-orang sederhana bisa sangat dikasihi karena dia telah menjadi berkat bagi orang. Maka dikasihilah orang jika telah menjadi berkat bagi orang lain.
  • Jangan suka iri terhadap kekayaan orang lain atau mengingini milik sesama. Kita bisa iri melihat orang lain lebih kaya dari kita. Amsal 14:30 “hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”.
  • Belilah sesuatu berdasarkan kebutuhan bukan untuk keinginan, kehormatan, pujian atau pencitraan. Jika Tuhan memberi kita berkat yang lebih, itu bukan supaya kita membeli lebih banyak, tapi supaya memberi lebih banyak, Uang harus dipertanggungjawabkan dan dikelola dengan baik (Matius 25:14-30). Manusia pengelola, Allah adalah pemilik, perencanaan keuangan adalah alkitabiah untuk terlepas dari kilah materilalisme dan hedonis. Jangan besar pasak dari tiang.
  • Jangan menjadi serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Banyak yang ditawarkan oleh dunia, tetapi orang percaya harus berhenti untuk menjadi serupa dengan dunia.

Selamat berjuang untuk tetap hidup sederhana.


SOLIDEO GLORIA!

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...