Jumat, 30 November 2018

Faith – Building Memories

Oleh : dr Efraim Hutagalung, MKes



Keluaran 33 : 12 – 23
Mari kita membaca Keluaran 33:12-23. Perjalanan Hidup diibaratkan seperti kanvas kosong, menunggu anda mulai melukisnya.  Lukisan yang anda buat hanya dibatasi ukuran visi, warna, yang anda taruh di palet dan keinginan anda untuk tetap bekerja sampai selesai.
Sejauh apa visi kita tentang Allah dalam perjalanan hidup kita, akan sejauh itu akan dituangkan didalam lukisan hidup kita. Guratan-guratan dan torehan-torehan itu akan mempengaruhi isi lukisan itu.  Jika perjalanan hidup kita diibaratkan seperti kain lukisan, maka visi hidup kita akan mempengaruhi yang kita kerjakan didalam seluruh hidup kita, visi kita akan mempengaruhi kekuatan-kekuatan apa yang akan kita lakukan. Berapa lama yang sudah kita lakukan sepanjang tahun ini, mudah-mudahan kita masih memiliki waktu untuk memikirkan apa yang akan kita lakukan
Selain visi dan warna apa yang kita lukiskan  akan mempengaruhi hidup kita, yang tidak kalah penting adalah bagaimana menyelesaikan lukisan itu. Tapi kita seringkali dalam perjalanan hidup, kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan, tidak punya waktu untuk memikirkannya dan mencari tahu apa keinginan Allah dalam hdup kita. Setiap hari dilalui dengan rutinitas hidup setiap pagi dengan kesibukan sehari-hari.
Tuhan membentangkan masa depan di depan kita. Hidup adalah sebuah perjalanan dan kita tidak tahu apa yang terjadi di jalan ,kita memerlukan bimbingan Tuhan dalam perjalanan itu. Jhon F.Kennedy ”Kita seharusnya tidak membiarkan rasa takut menghambat kita untuk mengejar harapan. Alasan yang mendasari untuk kita tidak takut meraih masa depan adalah penyertaan Tuhan atas kita semua”. Kita seringkali takut untuk sesuatu yang belum kita raih, takut belum menikah, belum memiliki anak, belum bekerja mapan, dll. Kennedy menyatakan tidak ada harapan lain selain dari Tuhan
Ketika Allah memerintahkan bangsa itu untuk melanjutkan perjalanan mereka tetapi tanpa penyertaan Dia, Musa tidak mau karena dia menyadari bahwa perjalanan itu tidak akan berhasil. Bagaimanakah sikap yang harus kita miliki agar perjalanan itu disertai oleh Tuhan? Perhatikan khususnya pasal  33:1-23.
Saat ini kita akan belajar dari kitab Keluaran pasal 33, bagaimana cara pandang kita tentang penyertaan Tuhan didalam hidup yang beriman kepada Tuhan. Kita lihat Kel 33:5  umat Tuhan yang dituntun oleh Musa keluar dari Mesir ternyata sangat memberontak pada Allah sehingga Allah akan menghukum umatNya, membiarkan umatNya yang tidak setia. Bagaimana supaya  kita terus ada  dalam perjalanan iman kepada Allah untuk melakukan kehendakNya, mengikuti perintah2Nya(Maz 89, Nehemia pasal 1 dan 2 Allah akan menghukum hamba-hambaNya yg tidak taat dan setia kepadaNya, oleh karena kekuatiran, ketidakyakinan dan ketidaktaatan kepda Allah ).  Seringkali Israel tidak taat karena tidak mempercayai Tuhan. Mempercayai Tuhan membutuhkan iman dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam seluruh perintah-perintahNya, hal ini akan mendorong kita untuk melakukan seluruh kehendakNya. Musa memimpin bangsa Israel masuk Tanah Perjanjian tetapi Allah berencana tidak mau mendampingi Israel karena mereka memberontak kepada Tuhan, Allah sudah muak. Sering kali ketidakyakinan kita membuat Allah muak dan  tidak berkeinginan bersama-sama dengan kita dan membiarkan kita. kita mungkin saja masih melayani, beribadah tapi kita melupakan kehadiran Tuhan. Tuhan tidak lagi menjadi sesuatu yg menentukan, Tuhan bukan panduan, Tuhan tidak menjadi parameter dalam tiap langkah hidup kita, firmanNya tidak menjadi acuan/indikator dalam berpikir, dalam mengambil langkah di perjalanan kita. Tuhan menjadi sesuatu yang kita perlukan apabila kita menginginkan Tuhan ada dalam hidup kita.


Bagaimana cara pandang kita untuk memasuki penyertaan Tuhan secara benar ?

1.       Tidak memberontak kepada Allah

Ketaatan pada Tuhan adalah kata kunci dalam menikmati penyertaan dalam perjalanan  iman bersama dengan Tuhan. kenikmatan dalam perjalanan iman dengan Tuhan bukan hanya sekedar perasaan (euforia), ini adalah tentang keyakinan, relasi, kemantapan sebuah keyakinan bahwa Tuhan akan menuntun kita dan Tuhan bersama-sama dengan kita  dan berkenan akan hidup kita. Hal itu hanya akan dilihat jika kita tidak memberontak pada Tuhan. PenyertaanNya hadir dalam dinamika hidup kita baik keberhasilan dan kegagalan kita (Rom 8:28), karena itu jangan memberontak pada Tuhan supaya kita dapat menikmati perjalanan iman kita bersama dengan Tuhan. Allah berencana untuk tidak mendampingi bangsa israel itu melanjutkan perjalanannya untuk memasuki Tanah Perjanjian karena mereka telah menjadi bangsa yang tegar tengkuk (ayat 5) yang seringkali memberontak kepada Allah. Kalau ingin menikmati penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita jangan sekali-kali memberontak kepada-Nya, jangan merasa lebih tahu dari Tuhan. Tetapi biarkan Dia menuntun langkah kita walaupun masalah dan pergumulan mewarnai perjalanan itu. Dia tahu apa yang harus Dia perbuat sebab Dia Allah yang Mahakuasa. Dia adalah Allah yang Maha hadir, Ia adalah Allah yang Maha tahu dalam hidup kita, karena itu tidak perlu gelisah dalam hidup kita. Allah kita adalah yang maha hadir (omni present), karena Ia maha hadir, maka Ia adalah Allah yang Maha tahu. Dalam kehidupan kita pastilah mengalami masalah, kesakitan, tetapi Allah selalu hadir dalam hidup kita dan pimpinanNya tidak pernah salah dalam hidup kita. kita perlu mencari tahu apa maksud Tuhan dalam segala sesuatu. Allah tahu bagaimana mengatasi segala sesuatu dan kita sering kali ingin mengurus bagian Allah, biarkan Allah melakukan bagianNya dan kita melakukan bagian kita.

2.      PENYERTAAN ALLAH DIDASARI ATAS KASIH KARUNIANYA
( Ay.12 – 15 )
Kita sangat terbatas dan Allah maha kuasa dan maha tahu, dan sama seperti orang Israel, kitapun berulang kali memberontak kepada Tuhan. kita membutuhkan Tuhan dan oleh kasih karunia Allah nyata dalam hidup kita. Dalam hidup ini semua hal yang terjadi oleh karena kasih karunia-Nya.  Dalam kisah ini, Musa meminta Allah untuk menyertai umat-Nya dalam perjalanan menuju tanah perjanjian.  Karena bangsa Israel tegar tengkuk, Tuhan akan membinasakan mereka. Musa dengan rendah hati memohon agar Allah menyertai perjalanan mereka. “Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” (ayat 15). Kiranya ini menjadi komitmen kita di tahun 2019 supaya Allah sendiri yang menyertai kita. musa dengan rendah hati membiarkan Allah dengan kekuatanNya untuk menyertai Israel memasuki tanah perjanjian. Musa meminta Allah menyertai dia dalam perjalanan imannya bersama orang Israel. bagaimanakah kita terus berjalan bersama-sama Tuhan, mari belajar dari Musa.

Apa itu kasih karunia?
            Kasih karunia adalah persediaan kebaikan Allah yang tidak pernah habis-habisnya, yang diberikan kepada kita walaupun kita tidak layak untuk menerimanya. Band Ef 2 :5-6 oleh kasih karunia, Allah menghidupkan kita, kasih karunia itu dalam Yesus Kristus menghidupkan kita dan kasih karunia itu akan terus menghantarkan kita, mendampingi kita, bagaimanapun keadaan kita dalam kesetiaan atau ketidaksetiaan kita pada Allah. Allah menyediakan kasih karunia yang berlimpah-limpah, justru pada waktu kita masih berada di dalam dosa (Roma 5 : 8). Kasih karunia itu terus diberikan Allah dalam perjalanan iman kita kepada Tuhan bahkan di saat kita sedang tidak baik. Dia tidak berjanji bahwa jalan yang kita lalui akan mulus, Ia berjanji untuk membimbing kita  dan membawa-Nya kepada kemenangan (Yesaya 41 : 10). Allah tidak berjanji hidup kita tanpa kesulitan tapi Allah berjanji untuk menyertai.Dalam Ibrani 11 kita melihat perjalanan iman orang-orang percaya. mempercayai Allah yang demikian bukanlah mudah. Perjalanan iman kita adalah dalam perjalanan hidup hari demi hari, penyertaan Tuhan harus menjadi nyata dalam hidup kita

3.      PENYERTAAN ALLAH MENJADIKAN KITA UMAT YANG BERBEDA ( Ayat.16 )
Ketika Allah memilih Israel, Dia punya tujuan khusus atas bangsa tersebut.  Melalui Israellah bangsa-bangsa akan datang kepada Allah.  Israel menjadi bangsa yang kudus (dipisahkan)  berbeda dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. 1 Pet2:9 “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani” berarti kita dikhususkan oleh Allah. “Darimanakah gerangan akan diketahui bahwa aku telah mendapat kasih karunia dihadapanMU”(ayat 16). Kita mendapat kasih karunia Allah dalam perjalanan iman kita adalah supaya kita dapat dibedakan dari orang lain, bukan supaya dilihat lebih rohani. Kerohanian itu adalah kehidupan bukan suatu kegiatan, kerohanian kita tidak lebih rohani ketika kita berada dalam kegiatan-kegiatan. Kita berbeda dalam sebuah kepercayaan yang beriman kepada Tuhan.
Ciri bahwa anda orang Kristen yang berbeda :
·         Ketika semua orang panik, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal menjaga hati dan pikiran anda. Masalah-masalah apapun yang dihadapi, membuat kita panik karena kita tidak yakin akan penyertaan Allah yang sempurna
·         Ketika semua orang takut, Iman kepada Allah menjaga hati anda. Iman kita akan meyakinkan kita bahwa Allah akan memelihara, menuntun kita. Filipi 4:7 “Damai sejahtera Allah  yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”
·         Ketika semua orang bingung, anda punya jawaban. Benar apa yang dikatakan oleh sebuah ungkapan ini, “Bukan pekerjaan, namun kekhawatiran hiduplah yang merampas kekuatan dan mematahkan iman kita.“ Kekuatiran dan kecemasanlah yang seringkali mematahkan iman kita kepada Allah
Kasih karunia itu menghidupkan sekaligus menguatkan dan meneguhkan kita dan bahwa Tuhan sanggup dan mampu melakukannya dalam hidup kita

4.      PENYERTAAN ALLAH MEMBERIKAN PENGALAMAN BERSAMANYA SECARA  ALAMIAH ( Ayat 18 )
Kekristenan bukan hanya berbicara teori/filsafat, kekristenan merupakan pengalaman hubungan secara pribadi dengan Allah. Perjalanan iman bukan soal kegiatan tapi relasi antara manusia dan Allah dan membawa keyakinan kita akan pimpinan Allah yang tidak pernah salah dalam hidup kita. Hubungan pribadi dengan Tuhan bukan soal melakukan disiplin rohani secara teknis saja tapi kedekatan dengan Tuhan (Maz 62:1). Kita harus terus berelasi dekat dengan Allah dan hanya orang-orang yang dekat dengan Allah saja akan mengalami pengalaman-pengalaman rohani dengan Allah. Dan dengan pengalaman itulah kita dapat bertumbuh dlm iman kepada Allah.
Musa memohon kepada Allah untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya.  Disaat-saat Israel ketakutan kepada Allah, Musa rindu didalam hadirat-Nya. “Perlihatkan kemuliaanMu” adalah gambaran bahwa Musa mengalami penyertaan Tuhan secara alamiah, bukan pertemuan secara spektakuler tetapi pertemuan secara manusiawi.
Kemuliaan Allah adalah proses menunjukkan sifat-sifat-Nya yang khas. kemuliaanNya dinyatakan melalui sifat-sifatnya (kebesaranNya, kekuasaanNya, kekudusanNya). Kemuliaan Allah tidak akan sirna.  Ditengah-tengah orang-orang sedang bingung memikirkan masa depan, mari kita masuk didalam hadirat-Nya.  Disanalah kita akan dikenyangkan, dipuaskan oleh Allah. Mengalami kepuasan bukan karena tidak ada masalah, tapi karena berada bersama-sama dengan Allah, berada dalam kehendak dan tujuan-tujuan Allah, mengalami kesetiaan dan kepatuhan dalam firmanNya
Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.
 (Kejadian 39:2)
. Yusuf dalam perjalanan imannya menyadari penyertaan Tuhan dalam dirinya. penyertaan Tuhan cukup bagi Yusuf ketika ia di penjara, penyertaan Allah cukup saat ia harus mengampuni saudara-saudaranya. Penyertaan Allah akan menumbuhkan iman kita kepada Allah karena Allah akan menunjukkan kemuliaanNya secara manusiawi didalam hidup kita. Kita akan mengakhiri tahun 2018, marilah kita terus memelihara iman kita dalam. Perjalanan hidup kita bersama-sama Tuhan dengan menghadirkan Tuhan dalam hidup kita. Bila Presiden dipilih rakyat dalam jangka waktu 5 tahun.  Kita dipilih Allah untuk selamanya, melakukan kehendakNya untuk mengerjakan panggilan hidup kita supaya Indonesia dan dunia ini akan mengalami perubahan karena kehadiran kita dalam perjalanan iman kita pada Allah. Mari kita berpegang teguh dalam penyertaan-Nya.


SOLIDEO GLORIA


Jumat, 23 November 2018

Yesus Sang Guru Agung

Oleh : Ir. Indrawaty Sitepu, MA





Pendahuluan
Yesus adalah sang Guru Agung tetapi “Benarkah Yesus adalah Guru Agung Bagi Saudara?”, “Benarkah saudara adalah murid dari Yesus Sang Guru Agung?”, “Bagaimana Yesus Sang Guru Agung, memanggil dan membuat kriteria untuk menjadi murid Nya?”
Mari kita membaca dari  Lukas 9.23 “Kata Yesus kepada mereka semua:” Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”. Perikop ini membahas bagaimana Yesus memangggil murid-muridNya dan kriteria apa yang harus dimiliki sebagai  murid-muridNya
A.     Panggilan menjadi murid  Yesus Sang Guru Agung
Ø  ‘Setiap orang’
Ingat konteksnya waktu itu banyak orang berbondong-bondong ‘mengikuti Yesus’. Persyaratan  berikut ini tanpa kecuali-siapa saja/ setiap orang yang mau mengikut Dia. Yesus tidak takut kehilangan’penggemar’ karena Dia mencari pengikut. ada banyak penggemar Yesus dan tidak sungguh-sungguh mengikuti Yesus, Yesus mencari murid, Ia tidak tertarik dengan penggemar yang hanya sekedar mengagumiNya.
Ø  ‘menyangkal diri’ bd Bukan KehendakKu tapi kehendakMu (Doa Di Getsemani-Mat 26:36-42) Yesus berdoa sampai 3x supaya penderitaan itu lalu daripadaNya, tapi di ketiga kalinya Ia mengatakan “jadilah kehendakMu”. Pergumulan berat untuk menghadapi salib tidak membuat Yesus menyerah tetapi betul-betul menyerahkan diriNya.
Menyangkal diri itu ada dalam semua bidang kehidupan. Tidak ada hal yang tidak menuntut kita untuk tidak menyangkal diri, seperti di pekerjaan, menyangkal diri ketika nilai-nilai kebenaran sulit ditegakkan, apakah pekerjaan yang santai membuat kita juga menjadi santai atau kita bekerja sangat keras hingga melupakan Tuhan. menyangkal diri dalam memilih teman hidup, menyangkal diri dalam waktu luang kita (ingat waktu luang Daud justru membuat dia berdosa dengan Batsyeba).
Ø  ‘memikul salibnya setiap hari’
·         Di mata orang Yahudi  salib adalah alat eksekusi hukuman mati . Berbicara tentang salib berarti tidak ada lagi agenda lain, mata dan hatinya tertuju ke sana , pada kematian.
·         Salib adalah simbol penghinaan. Bangsa Romawi punya banyak cara menghukum mati tapi mereka akan memilih penyaliban jika ingin menghina secara terbuka
·         Salib adalah simbol penderitaan. Kita tidak dapat memikul salib tanpa menderita. Tuan Yesus dipukuli, dicambuk dan setelah setengah mati, Ia harus memikul salib- balok yang berat. Tidak ada cara yang nyaman untuk memikul salib
Sebagai murid kita dituntut untuk mernyangkal diri dan pikul salib, tidak ada lagi agenda pribadi, mata kita tertuju pada salib. Ketika kita katakan ya mengikut Yesus itu berarti kita setuju memikul salib setiap hari= memikul=memilih=aktif, setiap hari=bukan sekali seumur hidup tapi setiap hari. Memikul salib adalah kata kerja, aktif, dengan sadar setiap hari untuk memikul salib. Apakah setiap hari kita memikul salib atau memilih untuk menghindari salib? Budaya instan yang mengutamakan harus cepat kadang-kadang tanpa kita sadari merasuki kita juga, padahal bicara pemuridan, mengikuti Yesus sering kali membutuhkan waktu yang lama, sebagai pembentukan kita sebagai murid. Jika kita mengatakan “Ya pikul salib” berarti  kita siap setiap hari untuk pikul salib. Memikul salib ini harus setiap hari bukan sekali-sekali. jika kita hidup terlalu nyaman, jangan-jangan kita sedang tidak memikul salib.
Mari kita membaca dari Lukas 9.57-62
“Ketika Yesus dan murid-muridNya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang ditengah jalan kepada Yesus:”Aku akan mengikut Engkau, kemana saja Engkau pergi,” Yesus berkata kepadaNya:”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “ Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Dan seorang lain lagi berkata:” Aku akan mengikut Engkau, Tuhan tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata:” setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

B.      Berbagai sikap “Mengikut Yesus Sang Guru Agung”

·         Orang 1. Orang pertama ini mengajukan diri untuk mengikut Yesus, tetapi Tuhan Yesus justru mengatakan menjadi pengikutNya tidak akan punya tempat untuk meletakkan kepala.
Pada waktu itu konteksnya ketika seorang talmid akhirnya diterima menjadi pengikut sang rabi, ia harus meninggalkan rumah demi mengikut sang rabi kemanapun ia pergi. Yesus menjelaskan bahwa mengikut Dia adalah perjalanan penuh resiko dan ketidakpastian. Jangan berharap fasilitas apalagi kenyamanan. Saat seseorang memutuskan mengikut Yesus , berarti berkata tidak pada kenyamanan bahkan siap walau tidak tahu kemana  akan pergi. Sebagai alumni, banyak yang menacari fasilitas dan kenyamanan ketika bekerja, Yesus mengatakan jangan pernah berharap fasilitas apalagi kenyamanan. mengikut Yesus berarti berkata tidak pada kenyamanan. dalam mengikut Yesus seringkali tidak jelas mau kemana.\
·         Orang ke 2
Orang ini diundang  dan diajak Yesus. Responnya ya tapi nanti dulu, setelah menguburkan orang tua. Kelihatannya sangat masuk akal tapi apa jawaban Yesus? Biarlah orang mati menguburkan orang mati. Ini adalah istilah menunda. ini adalah jenis ‘Mengikut Yesus besok’ , ’ Mentaati Yesus besok ’ Hari esok yang tak akan pernah terjadi
Bahaya dari ‘mengikut Yesus besok’ bd Hari ini cash besok boleh Bon. ini artinya kesempatan itu tidak pernah ada. Sama seperti orang yang ingin diet selalu berjanji “Mulai besok akan diet”, atau “Mulai besok akan olahraga”.Harus dimulai hari ini karena bisa  hilang kesempatan  antara hari ini dan besok
Ibr 3.15 pada hari ini jika kamu mendengar suaraNya jangan keraskan hatimu,…
·         Orang ke 3
Aku akan mengikut Engkau, Tuhan tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Ada ‘ikatan’, ‘tergantung’. Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk kerajaan Allah
Berbagai contoh keterikatan/ketergantungan
·         Ada pembabtisan ksatria bersama pedangnya namun pedangnya tidak ikut terbenam karena ia tidak mau pedangnya ikut bertobatàterikat pada pedangnya.
·         Bagi pemuda kaya-yang datang ingin mengikut Yesus menjadi sedih karena Yesus menyuruhnya menjual hartanya. Harta adalah keterikatannya
·         Bagi orang ketiga ini keterikatananya adalah hubungan keluarganya
·         Ada pemuda yang keterikatannya adalah pacarnya.
Apa yang menghambat kita untuk taat kepada Yesus Sang Guru Agung itu?
C.      Bagaimana Menjadi Murid Yesus Sang Guru Yang Agung
1.      Periksa motivasi kita mengikut Yesus.
Apa yang mendorong kita mengikut Yesus?  Apakah ada yang  ingin kita dapatkan?
Siap sediakah kita menderita? Dalam Filipi 2: 6-8, Yesus dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan TAAT SAMPAI MATI, BAHKAN SAMPAI MATI DI KAYU SALIB. Look to the cross. Yesus adalah teladan kita yang merendahkan diri dan taat sampai mati. salib apa yang kita pikul setiap hari? Atau  justru kita menghindari salib? Adakah Yesus yang menjadi teladan dan pusat dari pikiran kita, sehingga Look to the cross menjadi spirit kita untuk memikul salib?
2.      Periksa prioritas hidup kita
Adakah Tuhan yang utama? Apakah  kita siap kapanpun, bukan nanti tapi sekarang, kita siap dan sedia ikut, taat padaNya. “Hati manusia biar kecil, namun jika seisi dunia diisi kedalamnya tetap tidak akan memuaskannya, hanya sang Pencipta yang bisa memuaskannya.” (Blaise Pascal). Ujian sejati menjadi pengikut Kristus itu bukan ketika kita mahasiswa tapi ketika kita alumni. Tidak usah mencoba sesuatu untuk memuaskan diri karena tidak ada yang dapat memuaskan kita selain Allah. Kepuasan sejati tidak akan pernah kita dapatkan dari CIPTAAN (seseorang atau sesuatu), namun hanya dari PENCIPTA.
3.      Periksa ikatan
Adakah ikatan atau kondisi atau masa lalu yang menghambat kita mengikut/mentaati Dia
Siap dan sediakah kita melepaskan apapun untuk bisa mengikut/mentaati Dia.
Manusia adalah CIPTAAN ALLAH. Allah adalah pencipta kita, penguasa dan pemilik hidup kita, tuan kita. Jika orang bisa hidup  liar, karena mereka tidak tahu siapa pemilik hidupnya. kita sudah mengerti bahwa kita milik Allah,
MANUSIA adalah CIPTAAN ALLAH berarti . MANUSIA ADALAH MILIK ALLAH, HAMBA ALLAH=HAMBA KEBENARAN. Tidak ada agenda lain dalam hidup kita selain melakukan kebenaran, itulah total obedience kita, apapun status kita, apapun bentuk pekerjaan atau aktifitas kita, semuanya kita lakukan sebagai hamba Allah, hamba kebenaran. Sebagai guru dan dosen jadilah hamba kebenaran disana, sebagai pegawai instansi, jadilah hamba kebenaran. Jika kita hidup  dalam dosa, berarti kita tidak sedang hidup sesuai dengan status kita, ada penyimpangan. Jika menyimpang, kita harus segera bertobat, karena jati diri dan status kita sebagai hamba kebenaran, harus hidup di jalan yang lurus.

SOLIDEO GLORIA


Jumat, 02 November 2018

S e l f E s t e e m

Oleh : Debbie Silitonga, SE. MACI




Self Esteem : Suatu komponen dari konsep diri (self concept). Self esteem : Harga diri/penghargaan diri Penilaian seseorang bahwa dirinya berharga dan mampu (kompeten, sanggup), mencakup aspek kognitif dan behavior
1.      Kognitif =
·         Potensi intelektual yang terdiri dari tahapan:
·         Pengetahun (knowledge)
·         Pemahaman (comprehention)
·         Penerapan (aplication)
·         Analisa (analysys)
·         Sintesa (sinthesis)
·         Evaluasi (evaluation)
Berarti hal-hal yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).

2.      Behavior/perilaku
Behavior adalah : Segala tindakan/kelakuan yang dilakukan oleh makhluk hidup
Perilaku adalah suatu aksi dan reaksi dari suattu organisme terhadap lingkungannya
Jadi perilaku baru berwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan dari stimulan (rangsangan). Ini adalah sebuah respon. Mempelajari self esteem ini menjadi penting karena berpengaruh dalam berperilaku dan berhubungan dengan orang lain (menjalin relasi dengan orang lain dalam berbagai lingkungan; lawan jenis, orang baru, menghargai perbedaan, dll)
Bagaimana seseorang berusaha untuk sukses/berhasil dalam hidup. Ini akan mempengaruhi dalam relasi di kantor, pekerjaan, mencari kenalan baru, orang bisa menjadi toleran dan intoleran.
Self esteem ini terbagi 2 : tinggi dan rendah. Jika ada seseorang yang lembut bertutur kata, bisa menahan emosi, tidak gampang marah, bisa menghargai orang lainàself esteem tinggi. Jika ada seseorang yang tidak perduli dengan hidupnya, tidak perduli dengan kebutuhan dirinya, sembarangan makan dan istirahat, tidak menghargai waktuàself esteem rendah. Self esteem tinggi tidak berarti kita narsis, egois menganggap diri kita tinggi, justru kita memang harus menganggap diri kita tinggi/mampu.

a.      Karakteristik Self Esteem tinggi (kecenderungannya):
·         Adanya penerimaan dan penghargaan diri secara positif (self acceptance), bukan self centered, tapi self understanding, menyadari kekurangan dan kelebihan kita. Jika kita ditanya “who are you” (siapakah kamu?), akan menunjukkan gambaran siapa kita. Kita seharusnya tidak sulit memberi penghargaan pada diri sendiri, melihat hal-hal positip dalam diri sendiri. Firman Tuhan mengatakan “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasidihi diri sendiri”, kita tidak mungkin mengasihi orang lain jika kita tidak mengasihi diri sendiri.
·         Memiliki rasa aman
·         Mandiri
·         Kreatif
·         Fleksibel
·         Berani menghadapi tantangan, walaupun tetap hati-hati dalam setiap tindakan.
·         Cenderung puas dengan karakter dan kemampuan dirinya
·         Suka berperan aktif dalam kelompok sosial (senang bergaul, bukan penyendiri)
·         Tidak mempunyai gangguan kepribadian
·         Realistis terhadap tujuan-tujuan pribadinya
·         Bisa mengekspresikan perasaannya dengan wajar
·         Lebih bahagia

b.      Karakteristik Self Esteem Rendah:
·         Memiliki rasa kurang percaya diri
·         Cenderung pesimis tentang masa depan
·         Memiliki reaksi-reaksi emosional dan behavioral yang negatif/merugikan (takut, malu, inferior, superior (merasa diri terlalu rendah atau tinggi), berpikir kurang baik) tentang diri/membenci dirinya sendiri
·         Tidak bisa mengendalikan emosi (reaksional, pendendam, dll)
·         Susah menjalin relasi yang dekat/intim
·         Cepat menyerah/putus asa

c.      Kemungkinan Penyebab low self esteem :
·         Pelecehan di masa anak-anak (child abuse), bisa fisik, verbal, sexual.
·         Poor self image (penghargaan diri yang rendah), merasa diri tidak bisa melakukan apa-apa.
·         Trauma (bisa terjadi karena kesedihan, bencana alam)
·         Dissatisfaction with personal appearance (ketidakpuasan dengan penampilan pribadi).
·         Parent’s negligence (pengabaian oleh orangtua)
·         Poor financial situation (kondisi kemiskinan, ketidakberdayaan secara ekonomi)
·         Excessive critism (penilaian yang buruk tentang diri). Berhati-hati dalam kata-kata yang dapat membuiat seseorang merasa buruk. Apalagi bagi anak-anak, jangan gunakan kata-kata “kamu nakal” “kamu bodoh”.
·         Unemployment
·         Bullying. Perlu hati-hati dalam berkata-kata, merasa hal itu lucu padahal bagi orang lain tidak.
·         Betrayal (pengkhianatan)
·         Unrealistic expectation (harapan yang tidak realistis)
Jika kita mengalami hal ini tidak berarti kita akan menjadi rendah self esteem kita. Biasanya ada beberapa faktor sebagai penyebab.
Bagaimana self esteem terbentuk

Psychological mirrors, seperti melihat cermin, kita melihat gambaran diri kita.
·         Respon yang diterima seorang bayi adalah dasar terbentuknya pandangan tentang dirinya.
·         Sentuhan, gerakan tubuh, nada suara, ekspresi wajah dan ketegangan otot dari orang-orang disekitarnya mengirimkan pesan kepadanya tentang siapa dirinya.
·         Sikap hangat dan positif dari orang-orang terdekat menjadi cermin yang memperlihatkan siapa dirinya. Inilah yang menjadi cikal bakal bertumbuhnya penghargaan diri.
Bayi akan menerima dirinya dari perlakuan orangtua, khususnya ibunya, bisa merasakan sentuhan, ekspresi wajah, ketegangan otot, nada suara tinggi atau rendah, apakah ketika dia menangis, ingin minum, orangtuanya langsung menggendongnya atau tidak, mungkin ibunya memberi botol susu dengan kasar sambil marah-marah. Jadi seorang anak harus dirawat bahkan sejak dari kandungan.
kita akan menghargai diri kita setinggi respon yang signifikan  dari orang-orang terdekat kita. Self esteem tinggi akan merasa disayang, dihargai, dipuji, didorong untuk bisa melakukan apa yang perlu. Ketika orang lain menolak kita, kitapun menolak diri sendiri, dan merasa tidak mampu,

Psychological mirrors

Positip
 Negatif
      Penerimaan diri
      Merasa disayang
      Merasa mampu
      Percaya diri
      Kreatif
      Berani berinisiatif
      Tidak mudah putus asa
      Kepribadian sehat


      Penolakan diri
      Merasa tidak dibutuhkan
      Merasa tidak mampu
      Kepribadian lemah
      Takut menghadapi resiko
      Sulit adaptasi
      Sulit menjalin relasi
      Rentan terhadap gangguan kepribadian


Semuanya ini banyak dibentuk dari keluarga. begitu pentingnya pembentukan ini dalam keluarga. “If you want to change the world, go home and love your family (Mother Teresa). Penting memberi kalimat-kalimat positif sejak masih anak-anak.

Harapan
Bagaimana jika selama ini saya tidak mendapatkannya di keluarga? apakah ada harapan mengubah hal itu. Salah satunya dengan pengalaman positip yang menggembirakan, beradalah di tengah-tengah teman-teman yang mengasihi,. ekspektasi kita mungkin terlalu tinggi. ada juga yang memerlukan bantuan terapi psikologis.
N
E
G
A
T
I
F

 
P
O
S
I
T
I
F
 
 

















Pemahaman Teologis.
Christ-based self esteem
1.      Betapa beruntungnya kita, karena kita mendasarkan self esteem kita dalam Kristius. Psikological mirror  kita didapatkan langsung dari Kristus. setinggi mana Tuhan menghargai kita, setinggi itulah self esteem kita. Kita dicintai Allah
·         Yoh 3:16 (pengorbanan yang mahal dengan darah Kristus)
·         Yoh 15:13
·         1Yoh 4:9
2.      Di dalam Tuhan Yesus kita tidak dianggap jelek dan rendah, karena oleh pengorbananNya dosa kita diampuni dan kita mendapat kasih karunia Allah (Efesus 1:4-7)
3.      Allah menyatakan kasihNya kepada kita ketika kita masih berdosa. Berarti kita diterima oleh Allah dalam keadaan kita sejelek-jeleknya.(Roma 5:8). Allah menerima kita bukan setelah hidup kita beres, tapi justru ketika kita sedang berdosa.
4.      Kita dianggap berharga dan mampu sehingga diserahi tanggung jawab untuk mengurus dunia dan segala isinya. (Kej 1:26-28, Maz 8:5-7). Allah pencipta semesta itu percaya bahwa kita mampu mengurus dunia dan segala isinya.

Hal inilah yang Menjadi KUNCI yang dapat membuka pintu menuju perkembangan nilai diri positif. Seseorang dimungkinkan berkembang lebih lanjut dalam kepribadiannya. Masalah-masalah yang kita hadapi seharusnya menjadi sarana kita untuk bertumbuh ketika kita meresponinya dengan self esteem yang baik. kita dapat menggunakan self postitive talk “bahwa saya diterima, saya diampuni, saya mampu”. dan pada akhirnya berdampak dengan berusaha bersikap sesuai dengan nilai-nilai hidup keyakinannya tersebut.


SOLIDEO GLORIA


Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...