Jumat, 22 Februari 2019

FORGIVENESS AND HEALING

Oleh : Dra. Kasihani Sinulingga



Mari kita membaca Matius 18:21-35 Nats ini dibagi atas beberapa hal :

A.        Pertaanyaan Petrus (21)
→tentang  batas  pengampunan
       Yesus sudah mengajarkan tentang pengampunan pada kesempatan sebelumnya Mat 6:12, 14-15. Petrus bertanya “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa kepadaku. sampai 7x?” Pengajaran tentang pengampunan telah diajarkan Yessus pada murid-muridNya di Mat 6:12, 14-15. Petrus berinisiatif bertanya kepada Yesus secara spesifik tentang pengampunan kepada saudaraku. Petrus kemungkinan besar menunjuk kepada dirinya sendiri dan murid- muridNya
       Pertanyaan Petrus dapat dilihat sebagai kesinambungan terhadap apa yang dijelaskan Yesus di Mat 18: 15, Petrus secara eksplisit  menyebut batas pengampunan berjumlah tujuh. Dalam konteks pengajaran Yahudi pada saat itu ada pandangan Rabi/Guru bahwa pengampunan yang diberikan sebanyak tiga kali adalah cukup jika seseorang melakukan pelanggaran, ia diampuni pada pelanggaran pertama , kedua, ketiga dan ia tidak diampuni pada pelanggaran ke empat artinya Petrus sedang menaikkan standard dari pengampunan


B.        Respon Yesus      (22)
Yesus menjawab “Bukan, tapi 70x7x” Ay 22→ respon Yesus, terjemahan LAI 70 x 7 kali =490
Jika kita melihat di Kej 4:24 “Sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat”. Kej 4:24 →77 kali intinya bukan kepada jumlah. Pengampunan bukan persoalan menghitung dalam batasan hingga lewat pembalasan diijinkan (Ibr 10:30). Yesus menolak pernyataan Petrus: artinya tidak ada batas tentang pengampunan. Ay 21, Matius tidak menerangan dosa seperti apa yang dimaksudkan dalam pertanyaan Petrus. Ini menyiratkan  dosa dalam cakupan tanpa batas, disisi lain, tanpa batas dalam pengampunan artinya standar yang diberikan Yesus adalah pengampunan tanpa batas terhadap segala macam dosa yang mungkin dilakukan seseorang. setelah itu Yesus membuat perumpamaan
C.        Perumpamaan (ay 23-37)

Ay 23-35, Yesus memberikan perumpamaan


a.         Seorang raja dan hamba-hambanya (23-27)
      i.  Keputusan seorang raja untuk mengadakan perhitungan(23)
    ii.  Seorang hamba yang tak mampu melunaskan  hutangnya (24) yang 10.000 talenta
   iii.  Keputusan raja untuk memberikan hukuman (25)
 iv.   Permohonan belas kasihan hamba kepada raja (26), ia bersujud meminta pengampunan.
    v.  Hutang dihapuskan (27)
b.        Seorang hamba (yang telah dihapus hutangnya dan rekannya (28-31)
      i.     Hamba yang menuntut pelunasan hutang (28) dari rekannya
     ii.     Permohonan belas kasihan rekannya kepada hamba tersebut (29) dengan jumlah 100 dinar
   iii.     Penolakan penghapusan hutang  (30) padahal hamba itu telah dihapuskan hutangnya yang 10000 talenta, 1 talenta =6000 dinar, dan upah sehari = 1 dinar, sehingga untuk membayar 1 talenta saja harus membayar dari upah 6000 hari.
   iv.     Hamba tersebut dilaporkan kepada raja (31)
c.         Respon raja (32-34)
      i.  Kemarahan raja (32-33)
    ii.  Pembatalan penghapusan hutang (34)
inti dari perumpamaan itu ada pada ayat 32 “seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku mengasihani engkau?” sebagaimmana hamba yang sudah dihapuskan hutang 10000 talenta, ia pun harus menghapuskan hutang temannya yang 100 dinar.
1.    Aplikasi perumpamaan (35)
Ay 32-33  menunjukkan inti dari seluruh perumpamaan ini, bukankah  engkau pun harus menunjukkan belas kasihan kepada rekanmu sebagaimana aku telah berbelas kasihan kepadamu. Kesimpulan dari perumpamaan ini, kita sudah mendapatkan belas kasihan Alah, hutang- hutang dosa kita sudah dibayar lunas oleh Kritus di kayu salib, maka suatu keniscayaan bagi kita untuk memberi pengampunan kepada setiap orang yang menyakiti dan melukai kita. Kesadaran orang yang sudah diampuni untuk melakukan apa yang sudah dilakukan kepadanya dengan melakukan pengampunan tanpa batas. Hal ini harus terus menerus dipraktekkan, selalu mengampuni orang lain. dan belas kasihan yang dilakukan oleh raja kepada hamba yang berhutang 10000 talenta menggambarkan belas kasihan Allah kepada kita yang berdosa, kemurahan hati Allah. Allah berulang kali mengatakan bermuarah hatilah/berbelas kasihan. Mungkin kita akan merasa lebih mudah bermurah hati kepada orang yang berbuat baik kepada kita, dan bagaimana ketika kita harus bermurah hati pada orang yang sudah menyakiti hati kita? mengampuni bukan soal 70 x7x tapi seharusnya kita mengampuni tanpa batas. dan hal ini bukan sesuatu yang mudah.  Contoh dari PL: Yusuf dengan saudara-saudaranya (Kej 45:1-15; 50: 15-21)
Yusuf bisa saja membalas dendam atau memberikan pengampunan tanpa makna. Tapi dia menguji penyesalan mereka, dia menyandera Benyamin. Saudara-saudaranya telah mengorbankan Yusuf apakah mereka akan mengorbankan Benyamin juga ? Tidak! Yehuda maju ke depan dan memohon agar adiknya dilepaskan, bahkan menawarkan diri menjadi budak menggantikan adiknya. Saudara-saudaranya sudah berubah, mereka sungguh sudah bertobat. Yusuf puas lalu dia memperkenalkan diri dan mengampuni saudara-sauaranya dengan tindakan dengan memeluk mereka.

E.            Pengampunan dan Pemulihan

Kepala salah satu rumah sakit  jiwa di Inggris mengatakan: ”saya dapat  memulangkan separuh dari pasien  saya besok jika mereka dapat  dipastikan memperoleh pengampunan.. Kita bisa melihat penyakit secara fisik, tetapi sakit dalam jiwa akan sulit diketahui, dan ada saatnya ada pemicu yang membuat kita tidak sanggup menanggungnya
1.    Pengampunan adalah satu kebutuhan mendasar kita. Setiap orang pernah mengalami luka batin, kemarahan dalam keluarga dan teman-teman.  Sebab setiap orang mempunyai satu dosa aib terpendam, ingatan tentang apa yang pernah kita pikirkan, atau  lakukan  yang kita  sesali   kemudian  dan  membuat  kita  diliputi  rasa malu. Kita bisa melihat penyakit secara fisik, tetapi sakit dalam jiwa akan sulit diketahui, dan ada saatnya ada pemicu yang membuat kita tidak sanggup menanggungnya. Nurani mengomeli, menyalahkan bahkan menyiksa kita. Mat 26:28→Yesus menyebut  cawan perjamuan sebagai darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa. Ia mengaitkan pengampunan kita dengan kematianNya. Setiap kali kita merenungkan kematian Kristus dan kebangkitanNya adalah awal proses bagi kita untuk bisa mengampuni. Luka batin di katakan di Amsal 27 : 9 sebagai  “robek hati”, Yes 61:1 “remuk hati”, Maz 147:3 ‘luka hati”. Firman Tuhan mengatakan betapa luka batin itu sangat sakit walaupun tidak kelihatan. seringkali kita mencoba tampil seolah-olah tidak ada masalah, padahal luka batin itu harus diselesaikan.
2.    Pengampunan berkaitan erat dengan usaha mematikan natur dosa. Fokus bukan kepada pribadinya tetapi kepada apa yang dia perbuat (tingkah lakunya). Setiap kali kita sakit hati, pasti kita juga berkontribusi didalamnya, kecil atau besar. Kita boleh marah atas dosa yang dilakukan, kita benci dosanya bukan  orangnya. Amsal 10:12  “kebencian menimbulkan pertengkaran, tapi kasih menutupi segala pelanggaran”, dalam kitab Petrus dikatakan kasih menutupi banyak dosa.
3.    Pengampunan berkaitan erat dengan membangun kembali relasi, ada usaha
yang nyata untuk memperbaiki relasi yang rusak. Untuk menyelesaikan  masalah secara  dewasa  dan  berani  membuka  diri  dan  menerima masukan/kritikan mespipun sakit, pengampunan tidak selalu berakhir dengan kembalinya relasi seperti dulu. Rekonsialisasi membutuhkan kesiapan diri ke dua belah pihak, yang memberi dan menerima pengampunan
4.    Pengampunan memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan tetapi setiap kita bertangggung jawab kepada Tuhan atas hidup kita masing-masing. Adalah omong kosong jika kita menyatakan diri sebagai orang Kristen tapi tetap menyimpan sejumlah kebencian di dalam diri kita. Pengampunan membuka kemungkinan bagi kita untuk hidup tidak dendam/menyimpan kebencian , tetapi damai dan ketenangan hati. Roh Kudus akan menggelisahkan hati kita ketika masih menyimpan kebencian/dendam.
5.    Cabut akar kepahitan. Dalam dunia tidak ada keluarga yang sempurna. Ini berarti akan muncul luka hati dalam keluarga. Henry Nowen: pengampunan membebaskan bukan hanya orang lain tetapi diri kita sendiri. Pengampunan adalah jalan menuju kebebasan anak-anak Allah. Bersedia minta maaf terlebih dahulu→obat untuk mengurangi rasa pedih di  hati. Didalam keluarga harus dilakukan dengan  saling mengampuni. Berupayalah lebih dulu meminta maaf kepada keluarga, orangtua, abang, kakak, adik. Ketika kita memaafkan, kita juga akan dibebaskan dari rasa pedih.
6.    Luka hati yang belum dibebaskan akan membuat trauma yang begitu mengikat orang tersebut sehingga orang tersebut menjadi pasif, tawar hati, unjuk gigi maupun menjadi pemberontak. Bisa kita baca Hakim-hakim 11:1 dstnya, sebagai anak yang lahir dari seorang perempuan sundal dan diusir saudara-saudaranya dan ia menjadi pemberontak.
7.    Kepahitan hidup seringkali muncul dalam berbagai ekspresi, orang-orang terdekat lah yang menjadi korbannya. Misalnya, masa kecil mengalami kekerasan, tidak mendapat perhatian dari orangtua, over protektif  kepada anaknya, ayahnya pernah berselingkuh dan meninggalkan  keluarganya
Mari kita baca Efesus 4:31-32 “Segala kepahitan kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan”, semua hal ini harus dibuang, karena menyimpan kemarahan/kepahitan akan sangat mengganggu. Mari kita berperan merekonsiliasi keluarga yang belum berdamai, mencabut kepahitan, kegeraman yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita.

F.          Penutup

Ketika memberi pengampunan kita harus sungguh-sungguh berdoa untuk diri kita, mengucapkan doa pengampunan karena kita harus bersedia menghitung hutang: yaitu sakit, luka yang dibuat orang yang menyakiti atau melukai. Kristus ketika mati di salib Dia sudah menghitung hutang dosa kita yang harus Dia tanggung, Dia rela menanggungnya (1 Kor 6:20; Roma 5: 6-11). Karena itu kita harus berulang kali merenungkan pengampunan yan kita terima oleh karena belas kasihan Allah sehingga kitapun mampu megampuni orang yang menyakiti kita. Menyadari bahwa  Yesus  sudahmengampuni kita, tidak dengan mudah juga bagi kita untuk mengampuni, semua butuh proses. Mengampuni adalah sesuatu yang bersifat Ilahi, karena itu kita tidak akan mampu melakukannnya sendiri  kecuali dengan pertolongan Allah. Ketika kita mencoba mengampuni, kita harus terlebih dulu berdoa meminta pengampunan bagi orang yang sudah menyakiti kita. mengampuni tidak langsung bisa melupakan, hal itu butuh waktu, tapi setiap kali kita mengingat perbuatan dia, kita sudah tidak terganggu, artinya kita sudah mengampuninya, dan lama kelamaan hal itu akan dilupakan.
Sesuatu yang harus terus kita renungkan setiap kali kita akan mengampuni seseorang, ingatlah bagaimana Yesus sudah menebus kita (1 Kor 6:20), kita sudah dibayar lunas oleh penebusan Yesus, kita sudah mendapat belas kasihan Tuhan, dilunasi hutang-hutang kita, hal ini lah yang membuat kita mampu mengampuni sebagaimana Kristus sudah mengampuni kita. Mari kita Baca Roma 5:6-11. Kita sudah diperdamaikan Kristus oleh karena kasihNya, itu yang membuat kita mengampuni setiap orang tanpa batas, tanpa menghitung berapa kali kesalahannya.


SOLIDEO GLORIA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...