Jumat, 03 Juni 2016

PROFESIONALISME

Oleh : Martogi Siahaan, SP


Roma 11 :36 “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia : Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Apapun yang kita kerjakan adalah dari Allah oleh Allah dan kepada Allah. Seorang profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa sesuai peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya melaksanakan Juklak dan Juknis yang dibebankan kepada dia. (wikipedia). Profesional : A person who is expert at his or her work. Pandangan umum menganggap seorang yang cakap dalam pekerjaan disebut professional, sedangkan yang tidak cakap disebut amatir.

Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer, tenaga pendidik.Amatir (amateur (perancis), "kekasih") umumnya dianggap sebagai seseorang yang melakukan pekerjaan, penelitian, atau bergiat di bidang nonprofesional atau tidak dibayar. Amatir bisa juga berarti kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah(melakukannya karena cinta), misalnya orang yang bermain musik, melukis, menari, sepakbola sebagai kesenangan.Amatir seringkali memiliki pelatihan formal yang sedikit atau tidak ada dalam kegiatan mereka, dan banyak yang autodidak. (wikipedia). Kenapa kita bekerja? Untuk alasan yang tidak rohani kita katakana bekerja untuk mencari uang, berarti professional, tapi kalau kita melakukannya karena mandat Allah dan saya mengasihi Allah yang memberi mandat berarti kita amatir. Dengan melihat defenisi ini tetap menjadi perdebatan mana yang amatir, atau professional, sebagai contoh, seorang pendeta apakah ia seorang professional atau ia melakukannya karena mandat dan cinta pada Allah.

Professionalisme dan Karakter

Setelah memperoleh kemerdekaan, sebuah rapat diadakan untuk memilih jenderal pertama di angkatan bersenjata India, Jawahar Lal Nehru memimpin rapat itu. Seluruh tentra dan pemimpinnya berdiskusi menentukan siapa yang pantas untuk diberi tanggungjawab.

Di tengah-tengah diskusi itu Nehru berkata “Saya pikir kita harus menunjuk british officer sebagai jenderal India yang pertama. Semua orang setuju, karena jika Nehru yang memberi usul, mana mungkin mereka tidak setuju? Tapi salah satu tentra berkata “Saya punya usul pak” Kata Nehru “ya, silakan berbicara”. Dia berkata “Anda tahu pak, kami tidak punya pengalaman yang cukup untuk memimpin negara juga, jadi haruskah kita menunjuk british officer untuk menjadi PM pertama di India?”.Situasi tiba-tiba menjadi diam. Kemudian Nehru berkata “Apakah anda bersedia menjadi jenderal pertama di India?” Ia punya kesempatan emas untuk menerima tawaran itu, tapi ia menolak dan berkata “Pak kita memiliki seorang yang sangat bertalenta sebagai tentra, senior saya Letjend.Cariappa, yang paling pantas dari kami semua”

Tentra yang berani mengusulkan hal itu pada PM adalah Lt. General Nathu Singh Rathore, jenderal pertama di India.
Ini tentang professionalisme dan karakter!  Dianggap seorang professional adalah yang berani mengungkapkan pendapat tanpa menjadi seorang opurtunis (mencari kesempatan untuk mendapat sesuatu).Professionalism : A specific style of behavior in the   (semua orang yang tidak memenuhi standar  berarti tidak profesional)

Professional -> Professionalisme
Ciri-ciri seorang professional itu disebut profesionalisme. Yaitu orang yang menjaga image (Citra) skill yang dimiliki (ada orang yang cocok untuk tugas tertentu/kompeten dan amatir di bidang lain), memiliki penampilan yang mendukung (seorang ahli hukum menjadi aneh jika pakai jeans, seharusnya pakai jas). Sehingga supaya kita lebih professional kita harus upgrade keahlian kita, menjadi lebih handal (dari segi durasi, memegang teguh komitmen dan janji), kita harus dikenal sebagai orang yang jujur, dapat menyampaikan sesuatu dengan baik sehingga dapat dimengerti.

Professionalisme : lebih mengarah ke spirit, sikap, semangat, nilai,komitment  pada peningkatan kemampuan yang terus menerus,prinsip Nilai à Believe à Etos. Profesionalisme terbukti bukan hanya dari luar, tapi sampai kedalam spirit,semangat dan menunjukkan nilai-pnilai hidup dalam pekerjaan.William Perkins :”Setiap orang dapat melayani Tuhan di dalam setiap bentuk pekerjaannya, baik itu pekerjaan membersihkan rumah atau menjaga seekor domba.“

Profesionalisme Kristen berbicara tentang : Creation(penciptaan),Fall (kejatuhan),Redemption (penebusan).Orang Kristen adalah berada di dunia, tetapi bukan bagian dari dunia à adalah suatu hal yang pasti adanya ketegangan antara dunia dengan Kristen di dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk salah satunya didalam aspek pekerjaan dan dunia bisnis à termasuk dalam memandang ‘profesionalisme’.Ada ketegangan karena status kewarganegaraan rangkap kita sebagai warga negara dan warga kerajaan Allah, perbedaan intinya akan mendasari perbedaan diluar (memiliki nomena berbeda sehingga konsekuensinya juga berbeda). Ketegangan Konsekwensi Hidup Kristen :Orang Kristen justru dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-14). Herman Bavinck : “kita diambil dari dunia ini untuk kemudian kita diutus kembali ke dunia”. Injil à orang-orang Kristen oleh karena didalam Kristus, diciptakan dan ditebus untuk menjadi alat Tuhan dalam menebus alam ciptaan ini untuk kembali memuliakan Tuhan.
Worldview.Penyebab : perbedaan nomena yang mendasari perbedaan fenomena tersebut, yaitu suatu perbedaan esensi yang mendasari segala tingkah laku, pikiran, serta cara memandang realita dunia ini à worldview.Dasar Profesionalisme Kristen:Efesus 6:5-8Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.

 Pekerjaan dilakukan untuk Tuhan maka standarnya adalah standar Tuhan dan kita lakukan karena kehendak Tuhan(perintah). Atasan-atasan hanyalah alat Tuhan dan bukan semata-mata karena penilaian atasan maka saya professional, tapi karena saya mau menyenangkan Tuhan, menjadi sebuah ultimate motivasi. Melakukan tugas secara professional bukan semata-mata tuntutan atasan tapi karena perintah Allah. Pengaruh dari alkitab membuat negara-negara di Eropa bekerja untuk Tuhan, dibuktikan dengan semua transportasi yang berjalan tepat waktu. Karena kita bekerja untuk menyenangkan Tuhan kita berbeda dari dunia dari segi motivasinya , sekalipun sifat, kebiasaan dan kerja keras kita bisa sama dengan yang lain. Karena kita bekerja dari Dia, oleh Dia maka hasilnya juga harus diberikan untuk Allah. Ini menentukan bagaimana kita melihat people, materi dan produksi. Bagi dunia ini, kita adalah mesin, jika kita mencapai target maka kita dipandang baik, tapi bagi kita bekerja adalah untuk memuliakan Tuhan. Dulu keuntungan(profit) itu dianggap sarana untuk pekerjaan (alat digunakan untuk kembali pada Allah, kemuliaan dan hormat bagi Allah, sekarang, keuntungan itu menjadi tujuan, mencari materi demi materi. Jika kita tidak melakukan untuk Tuhan, kita kehilangan kemuliaanNya (esensi kekekalan). Yusup tahu bahwa ia adalah alat Tuhan untuk rencana bagi satu bangsa yang besar. “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan… yaitu memelihara hidup suatu bangsa yang besar’ (Kej 50:20). Yusuf tahu ia adalah alat Tuhan untuk rencana bagi satu bangsa yang besar sekalipun ia harus menderita pada awalnya.  Worldview Kristen:
  1. Kompherensif .Secara prinsip Alkitab kehidupan manusia, tidak dapat direduksi menjadi salah satu aspek :Doktrin Penciptaan, dalam Kejadian 1:1 bahwa Allah menciptakan sungguh amat baik.  Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Doktrin Kejatuhan: akibat kejatuhan, pekerjaan itu jadi rusak. Doktrin Penebusan, sejak dari permulaan, pekerjaan penebusan Allah tertuju pada pemulihan dan mengembalikan ciptaanNya yang baik. Totalitas otoritas Alkitab seharusnya menguasai setiap aspek dalam dunia ini demi kemuliaan Allah. Tuhan mencanangkan restorasi  melalui pekerjaan, sehingga pekerjaan kita juga adalah bagian yang kita persembahkan bagi puji-pujian dan kemuliaan dan hormat bagiNya. Abraham Kuyper: “There is not a square inch of the entire domain of human life of which Christ the Sovereign does not say, “That is mine!””
  2. Kovenantal .Allah sendiri yang mengikat janji dengan manusia, dan ikatan ini jugalah yang mendasari manusia bekerja. Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, Allah sendiri yang menugaskan
  3. Kommunal .Bisnis atau pekerjaan tidak pernah dikerjakan dengan semangat individu, tetapi secara komunal(bagi satu gereja, satu bangsa). Restorasi dari Tuhan secara garis besar tidaklah dilakukan melalui perorangan tetapi melalui komunitas,Israel atau Gereja.
  4. Kontinu .Akhir jaman Tuhan tidaklah menghancurkan dunia ciptaanNya yang dipandang dengan sungguh amat baik, seperti pandangan umum dispensasional. Tetapi Tuhan merestorasi ciptaanNya. Tugas kita adalah merawat alam, jika dunia pada akhirnya dihancurkan, berarti dosa itu efektif menggagalkan rencana Tuhan.
Arena kompetisi worldview kerajaan Allah dan kerajaan dunia.
      Profit .“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia; Bagi Dialah kemuliaan sampai selama – lamanya”. Dunia selalu fokus pada profit.
      People .Dunia : manusia dipandang sebagai suatu asset, berguna bagi perusahaan dan exist demi keuntungan perusahaan . Bagi Allah, manusia adalah objek kasih Allah
      Produksi .Manusia meng-eksploitasi semaksimal mungkin demi keuntungan diri dengan kepercayaan bahwa identitas diri ini semakin kuat, semakin berharga dengan memiliki sebanyak mungkin kekayaan yang dihasilkan oleh alam. Manusia tidak lagi diidentikan dengan kemanusiaannya, tetapi dari produktifitas.

Kisah di alkitab :

Yakub. Kej 31:40  Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.Kej 31:41  ....dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.Kej 31:42  .... kesengsaraanku dan jerih payahku ....Kej  31:42  Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam”Kej 29:20  Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.Yakub adalah seorang upahan di ladang mertuanya, dia benar-benar melakukan tugasnya walau mengalami penderitaan, eksploitasi gajinya diubah sampai 10 x, tapi ia melihat intervensi Allah dalam hidupnya, bahkan bekerja selama 7 tahun demi cintanya kepada Rahel pun dianggapnya seperti beberapa hari saja.

Yusuf. Kej 39:4  maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf Kej 39:6  Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. Kej 40:6-7  Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?"Kej 39:2  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.Kej 39:21  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu


Daniel.Dan 1:4  yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. Dan 1:15  Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.Dan 1:20  Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.Dan 1:17  Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.Dunia bisa menilai danile sebagai orang yang cakap, berperawakan baik, tapi bagi Daniel apapun yang ia lakukan ada campur tangan Tuhan. “What is the achievement of man? At the end, the achievement of man is to glorify Thy name and enjoy Him forever”Apakah kita lebih mempermuliakan Tuhan atau tidak? Mempermuliakan Tuhan menjadi Christian hedonism kita, semakin menikmati Tuhan dalam kehidupan kita. 



Solideo Gloria 

Jumat, 20 Mei 2016

IMAN & ADAT

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh



Setiap manusia terdiri dari 3 insan : pertama kita adalah mahluk religius, apapun agamanya memiliki keyakinan akan adanya Tuhan, kedua kita adalah mahluk psikologis, memiliki perasaan, jiwa, ketiga kita adalah mahluk sosiologis, mahluk sosial, maka kita berelasi dengan siapapun, artinya nilai hidup kita juga ditentukan kalau kita berelasi dan berguna untuk orang lain. Hari ini kita akan berbicara bagaimana kita sebagai mahluk sosial yang harus bermasyarakat di lingkungan kita berada. Apa yang kita pahami tentang adat selama ini ? Richard Niebuhr: Cultutre is the total human activity and total result of the such activity….the works of man’s minds and hands  (budaya adalah totalitas kegiatan manusia, dampak dari semua tindakan manusia itu ..karya dari pemikiran manusia dan karya perbuatan manusia). Sungai adalah alam, terusan Suez adalah kebudayaan; hutan adalah alam, kebun sawit adalah kebudayaan;  tanah tandus adalah alam, sawah adalah kebudayaan. Gubuk yang pertama, api, alat-alat, nyanyian, tarian, musik, drama dst hasil pikiran dan tangan manusia adalah kebudayaan. Ini artinya adat tidak dapatdipisahkan dari kehidupan manusia. Semua ini merupakan penggenapan mandat budaya Allah kepada manusia (Kej. 1: 28 ).apa yang dikatakan pada bagian ini adalah implikasi mandat Allah pada manusia.

Adat istiadat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan manusia. Ada orang-orang yang menolak adat menerima ulos, dll digantikan dengan pemotongan kue pernikahan, dengan memberikan potongan kue kepada orangtua kedua mempelai, hal ini juga berarti adat, hanya diubah adatnya menjadi adat Eropa, dan tiap bangsa mempunyai adat sendiri. Adat adalah tatanan dalam masyarakat yang mengatur hubungan antara sesama manusia agar rukun dan harmonis. Contoh,adat pada suku Karo, menantu perempuan tidak boleh berbicara dengan mertua laki-laki,, adat suku Simalungun, menantu bisa dipanggil dengan namanya, sementara di suku Toba, menantu tidak boleh dipanggil namanya. Iman berelasi dengan keyakinan, adat dan kebudayaan berelasi soal tatakrama atau tradisi yang berlangsung sejak lama dan turun temurun yang menciptakan hubungan satu dengan yang lain menjadi harmonis. Jadi jika ada unsur keyakinan yang dilakukan dalam adat, itu bukan adat lagi tapi percampuran dengan animisme, dan dapat tercipta sinkretisme. Kalau membawa makanan kerumah mertua karena sudah lama tidak punya anak, ini salah, tapi jika membawa makanan kerumah mertua dalam suasana tahun baru, hal ini baik. Iman bersifat kultis dan magis, wahyu, vertikalistik, personal antara manusia dengan Penciptanya.Adat dan kebudayaan bersifat umum (komunal), horizontal (sesama manusia).Kalau bukan berelasi horizontal, itu bukan adat lagi, harus ditolak.

Iman bersifat mutlak, global(berlaku dimanapun), statis (tidak berubah), berdasarkan wahyu, relasi dengan ilahi dan kekekalan, tidak kelihatan wujudnya. Adat relatif, geografis (berlaku di daerah tertentu), temporer (bisa diringkas jika perlu), situasional (ada suku yang adatnya bisa dirubah, ada yang sangat kaku dan sulit diubah) dan kondisional, bersumber pada pandangan manusia (sesuai dengan kebiasaan di tempat tertentu), dinamis, dapat dilihat secara nyata dst. Jika dalam kehidupan tatakrama manusia ada unsur keyakinan di dalamnya, maka hal tersebut bukan lagi adat atau kebudayaan namun telah berubah menjadi sebuah keyakinan animisme (‘iman’) atau okkultisme. Jadi adat dengan keyakinan harus ditolak.

Sikap terhadap Adat

Antara menolak secara total Vs  menerima dengan membabi buta.Kelompok pertama melihat bahwa semua adat adalah pekerjaan setan dan tidak melihat unsur positif di dalamnya. Mereka sangat menentangnya dan beranggapan bahwa orang yang melakukannya terlibat dalam okkultisme. Tentu ini pandangan yang salah, karena banyak adat yang baik juga. Kelompok kedua berkata bahwa semua adat atau kebudayaan itu benar dan bahkan ada yang menempatkannya di atas Alkitab.Mari kita membaca dari Mrk. 7: 1-13 , disini orang-orang Farisi menanyakan pada Yesus kenapa murid-muridNya tidak membasuh tangan sebelum makan. Tujuan mereka menjumpai Yesus ‘to investigate the Galileans activities of Jesus’ (7: 1) lih. 3: 2.‘Ceremonial washing’ dalam hal membasuh tangan sebelum makan dan sekembali dari pasar, bagi Yahudi dianggap sebuah adat istiadat yang mengikat (7: 3), lih. ay. 5 bd. Yoh.2: 6; Mt. 15: 2. Tata karma/adat Yahudi, ada metode membasuh tangan, orang dari pasar bersentuhan dengan orang non Yahudi dianggap najis, sehingga mereka harus membasuh tangan supaya tahir/suci.

Farisi menentang tindakan murid-murid Tuhan Yesus yang mereka anggap melanggar hukum Taurat dan adat Yahudi (7: 5). Farisi & Ahli Taurat mengabaikan firman Allah demi adat istiadat (7: 6) – superioritas adat di atas Firman Tuhan – adat mendominasi dan menggeser FT. Hal ini bisa terjadi di kehidupan kita, demi acara adat, orang tidak pergi kegerja lagi, bahkan adat melebihi kegiatan rohani Matius 15:8-9 “bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepada Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”, disini adat mendominasi dan menggeser firman Tuhan . Yesus mengkontraskan adat Vs perintah Allah (7: 8) Perintah Allah ada dalam Kitab Suci dan bersifat mengikat dan wajib, sementara adat istiadat atau kebudayaan bersumber dari nenek moyang sehingga tidak mengikat dan tidak otoritatif.Jadi firman Tuhan mengikat dan wajib sementara adat tidak mengikat. Farisi dan ahli Taurat mengesampingkan perintah Allah demi adat istiadat (7: 9). Salah satu contohnya adalah dalam 7:10-13.Demi perpuluhan/persembahan, mereka mengabaikan tanggungjawab pada orangtua.  bd. Bil 30: 1-2 persembahan kurban dianggap wajib dan mengikat tetapi mengabaikan tanggungjawab kasih terhadap orangtua. Tuhan Allah tidak mau umat melaksanakan salah satu Taurat tetapi mengabaikan yang lain di mana demi adat Firman Tuhan dianggap tidak berlaku.

Yesus mengajarkan bahwa kesucian tidak lahir dari ritualitas, tetapi dari hati yang benar (suci) dan dalam hal yang sama kenajisan juga bukan muncul dari makanan atau minuman, tetapi dari hati yang jahat (7: 19-20).Apa yang keluar dari hati dan pemikiran itu jauh lebih penting daripada makanan . Fellowship with God is not interrupted by unclean hands or food, but by sin  (relasi dengan Allah tidak bisa diputuskan dengan tangan yang najis tapi karena dosa)(7: 21-23) I. L Nommensen membagi adat dalam 3 kategori: (1) Adat yang netral; (2) Adat yang bertentangan dengan Injil; (3) Adat yang sesuai dengan Injil.

Menurut Richard Niebuhr, ada 5 posisi Injil Kristus terhadap adat :
  1. Menentang: Christ againsts culture
Petobat baru diajarkan untuk menolak semua adat/kebudayaan karena dianggap semuanya bersifat kekafiran dan okkultisme (ini konsep yang salah). Dosa merajalela dalam semua kebudayaan sehingga harus diganti dengan kebudayaan/adat yang baru (Barat). Penolakan yang radikal tanpa memilah dan menyaring dengan FT (menganggap semua adat salah). Akibatnya, Injil tidak lagi kontekstual dan dapat bermuara pada penolakan akan Injil (jika sem ua adat ditolak, orangpun menolak Injil jika kita beritakan). Mencabut petobat baru dari akar tradisi/budayanya dan menggantikan dengan jubah baru (import).
  1. Akomodatif: Christ of Culture
Melihat ada keselarasan antara Injil dengan adat /kebudayaan.Injil berusaha menyesuaikan diri dengan adat atau kebudayaan setempat (selama tidak ada unsur animisme, kita bisa ikuti, ibadah tidak boleh menggunakan gondang, seruling, gitar, kecapi dan hanya boleh menggunakan keyboard/piano, tentu hal ini tidak tepat, karena natur kita menunjukkan akar budaya kita, penginjilan tidak identik dengan westernisasi). Yakin bahwa tidak semua kebudayaan/adat mengandung dosa. Mencintai Tuhan sekaligus mencintai kebudayaan yang benar (selama tidak ada animisme). Memandang adat dalam terang Kristus dan memandang Kristus dalam terang kebudayaan(kontekstualisasi) Sisi negatif dapat terjebak ke dalam sinkretisme jika adat dan Injil digabung tanpa seleksi Injil atas adat. Louis J. Luzbetak: Tugas gereja adalah membuat orang Afrika menjadi orang Kristen Afrika, orang Kristen Jepang, orang Kristen India, mereka bukan menjadi orang Kristen Amerika atau Eropah.
  1. Perpaduan: Christ above Culture
Dunia dan segala isinya dicipta dan diatur oleh Allah, karena itu semua adat/kebudayaan harus tunduk kepada Dia (semua yang bertentangan dengan firman Tuhan dibuang). Selain firman Tuhan sebagai standard benar tidaknya, otoritas Kristus juga berlaku dan melampaui adat. Ketundukan kepada Kristus melampaui ketundukan kepada adat dan kebudayaan, meskipun kandungan adat tersebut tidak bertentangan dengan FT. Injil melampaui kebudayaan (jika ada perayaan adat mengganggu hubungan kita dengan Tuhan harus disingkirkan, relasi dengan Kristus melampaui relasi dalam adat)
  1. Dualisme: Christ and Culture in Paradox.
Semua segi kebudayaan telah rusak dan buruk, bagaikan menara megah yang berdiri di atas tanah yang rapuh.Namun sebagai anak kebudayaan tidak dapat melepaskan diri atasnya.Manusia menjadi 2 warga, yaitu warga kerajaan Allah dan warga masyarakat, namun tidak ada pengaruh Kerajaan Allah dalam masyarakat (Ini pandangan yang salah). M. Luther: Semua orang Kristen harus menaati Allah dalam kedua kewargaan ini (sebagai warga kerajaan Allah kita harus tunduk kepada Allah tapi sebagai warga masyarakat mengikuti kebudayaan yang sesuai firman Tuhan).
  1. Pembaharuan: Christ the transformer of Culture.
Alam adalah ciptaan Allah, karena itu adat dan kebudayaan merupakan bagian dari rencana Allah (selama tidak ada unsur animisme). Dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka manusia membutuhkan penebusan sama halnya dengan kebudayaan. Kebudayaan yang rusak harus ditebus ditransformasi sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan (Kristus sudah menenbus semua hal, sehingga kebudayaan dalam dosa juga harus ditebus). Biasanya resistensi akan muncul, tetapi upaya pembaharuan tetap dikerjakan (mungkin ada penolakan keluarga, tugas kita memberi pengertian yang benar).Kristus melalui pemberitaan Injil menjadi pemurni dan pembaharu kebudayaan untuk dialihkan bagi kemuliaan Allah. Pandangan ini dianut oleh Calvin, John Wesley dan Agustinus.

Beberapa penerapan dalam adat sehari-hari:
q  Jika ibadah penguburan atau pernikahan, sebaiknya tidak di hari Minggu, tapi jika di wilayah tertentu harus dilakukan di hari Minggu, supaya semua orang bisa datang, menjadi pengecualian
q  Penguburan saur  matua dapat dilakukan (jika tidak ada unsur okultisme sewaktu membawa pohon beringin, sanggar, yang dianggap memberi  kemakmuran, kesuburan, jika ada unsur keyakinan harus ditolak)
q  Hindari pernikahan yang tidak direstui keluarga (karena marga dll), karena kalau kita tidak diterima keluarga, akan sulit untuk melayani keluarga dan tidak maximal dalam hidup kita.
q  Pemindahan tulang belulang keluarga jika dilakukan untuk mempererat persatuan tentu baik, tapi jika pembangunan tugu menghabiskan dana besar sementara keturunannya kesulitan secara ekonomi, harus ditolak
q  Ziarah dan membersihkan kuburan keluarga baik untuk dilakukan, tapi jika berbicara dengan orang yang sudah meninggal, hal itu salah karena Pengkhotbah  12:7 “dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”.



Solideo Gloria 

Simplicity of Life : CONTENTMENT

Oleh : Ir. Simon Dertha, MT, IPu



Kisah yang ditulis oleh Tolstoy dalam bukunyam dia menulis ada seorang petani yang cukup kaya dan satu saat mendapat kesempatan yang sangat bagus,dengan 1000 rubel dia dapat memiliki tanah sebatas mana dia dapatjalani tanah tersebut. Hal ini sangat mendorong petani kaya ini,karena itu besoknya pagi-pagi benar dia berangkat dan pergi ke tempat itu dan mulai jalan, dia melangkah setapak demi setapak untuk mencapai luas yang sangat banyak untuk mendapat hasil yang sangat banyak.ketika dia melangkah, dia merasa luasnya masih terlalu sedikitm kemudian dia melangkah lagi dan dia masih berpikir “ini masih belum cukup bagi saya” dia melangkah lagi,sampai dia khirnya menyadari ada satu ketentuan bahwa dia harus kembali sebelum matahari terbenam m kalau matahari terbenam maka uang 1000 rubel dia tidak akan dapatkan dan tanah tidak akan dimiliki. Ketika ia sadar hari sudah menjelang sore dia balik lagi ke tempat ia mulai melangkah tadi pagi. Dia bergerak dengan cepat sekali, karena ia sadar jika terlambat, ia kehilangan 2 hal,uang 1000 rubel dan tanah yang cukup banyak. Semakin kuat ia melangkah, ia merasa semakin sulit untuk mencapai sebelum matahari terbenam. Begitu ia melangkah dengan cepat, jantungnya bekerja dengan luar biasa cepat, tapi ia berfikir harus mendapat tanah yang begitu luas yang aku perjuangkan hari ini.Akhirnya 2 menit sebelum mencapai garis finish itu dia jatuh dan meninggal. Ia tidak mendapatkan apapun dalam hidupnya. Ini ditulis tolstoi dalam bukunya “Seberapa Luas tanah yang dibutuhkan oleh manusia?” Dan Tolstoi mengatakan “hanya 1,8 meter dibutuhkan manusia untuk liang kuburnya, ia berjuang begitu luar biasa untuk mendapatkan semua itu”buku ini ditulis tahun 1886, dan persoalan ini masih terjadi di tengah-tengah kita. Persoalannya masih menjadi pergumulan hidup orang-orang percaya, dapat menjadi ambisi banyak orang, bahkan  saya melihat di tengah-tengah komunitas alumni Kristen yang sudah mengaku percaya kepada Kristus,konsep seperti petani ini masih hidup di tengah-tengah kita. Yang membuat orang seringkali kehilangan banyak hal dan tidak tahu lagi apa yang harus dia kerjakan. Simplicity sering didefensikan sebagai sederhana, tidak kompleks (uncomplicated), terbuka (uncompound); tidak bersalah(innocence); tidak bodoh (silliness);tidak berpura-pura; murni tidak palsu (clarity); Ini beberapa defenisi positif mengenai simplicity. (King James Version)

Beberapa tokoh-tokoh dunia memberikan pandangan mengenai simplicity dalam kalimat berikut:
“Jika kamu tidak mampu menjelaskan kepada anak umur 6 tahun, artinya kamu sendiri tidak memahaminya “(Albert Einstein).“Simplicity merupakan kecanggihan yang sempurna” (Leonardo da Vinci).“Kecerdasan dari manusia dapat dilihat dari kemampuannya untuk menjelaskan misteri sehingga anak kecil dapat memahaminya” (John H Taylor).“Ide yang sempurna adalah ide yang sederhana” (William Golding).Simplicity adalah keuntungan kompetitif.”Saya hanya punya tiga hal untuk diajarkan: kesederhanaan, kesabaran dan belas kasihan” (LA Tzu). Secara kamus, contentment ini diartikan merasa puas, merasa cukup. kondisi mental dan emosional yang terpuaskan. Dan kita merasa puas dengan apa yang kita miliki.Dipuaskan, menjadi kuat.

Apa Defenisi  Alkitab mengenai contentment?

Manusia sering sekali mengukur “kepuasan” dengan “apa yang dia punya” “apa statusnya” atau “kemana dia pergi”. Maka hidup sederhana membuat manusia kuatir, tidak puas.Ketika saya mempunyai barang yang mewah, saya merasa sudah puas.orang yang bekerja dengan level manajemen yang rendah merasa tidak puas, dia akan bekerja keras, karena dia merasa bahwa diakuinya dia hanya karena dia memiliki arti. Beberapa alumni merasa lebih puas jika bekerja sebagai PNS daripada bekerja di swasta.bukankah sering sekali didalam hidup kita pun, mengukur dengan apa yang kita punya, apa status kita, apa saya PNS atau tidak, apa saya manager atau tidak, apa saya sudah berumahtangga atau tidak. Dan inilah yang membuat manusia menjadi discontentment didalam hidupnya, dia kan terus berjuang untuk mendapat apa yang dia anggap sudah merupakan kepuasan didalam hidupnya. Kenyataannya dia tetap tidak akan merasa puas.

Matius 6:25 “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah pula kuatir akan tubuhmu akan apa yang hendak kamu pakai.Bukankah hidup itu lebih penting dari makanan dan tubuh lebih penting dari pakaian”. Kata kuatir ini berhubungan sekali dengan kata contentment, ketidakpuasan, seringkali orang merasa tidak puas hingga dia kuatir dan akan lakukan apapun. Kenapa banyak alumni merninggalkan nilai-nilai yang dia yakini waktu dia mahasiswa, karena dia merasa tidak memiliki apapun kalau ia tidak mengikuti tawaran system yang ada di sekelilingnya. Tuhan Yesus telah melihat hal itu, sehingga Ia berkata “jangan kuatir akan apa yang hendak kamu makan”, kebutuhan pokok/sekunder seringkali membuat kita menjadi discontentment dalam hidup kita. Kita sering tidak puas karena kita kuatir akan banyak hal yang merupakan “bunga-bunga/asesoris” kehidupan.sekatrang ini sudah berubah, yang sebelumnya asesoris menjadi yang utama, yang utama sudah menjadi asesoris, semua menjadi terbalik kretika tidak lagi berada dalam kebenaran firman Tuhan.

Ketidak puasan sering sekali terjadi karena kita tidak dapat membedakan antara tujuan hidup, kebutuhan dan keinginan . Melihat orang lain memiliki alat komunikasi yang super canggih, bisa membuat kita tergoda untuk memilikinya, tapi kita perlu kita selidiki apakah itu kebutuhan kita. Seringkali apa yang kita butuhkan, bukan itu yang kita kejar, tapi apa yang kita inginkan.Setiap hari  keinginan it uterus bertambah dan menyetir hidup kita, mendorong kita ke arah yang semakin hari semakin stress.bisa saja kita punya uang untuk membeli barang-barang itu, tapi apakah itu kita butuhkan atau hanya sekedar memuaskan keinginan saja.ini yang membuat kita menjadi tidak puas, karena ukuran kepuasan kita ketika benda-benda itu kita meiliki. Karena itu Yesus ingin meluruskan kita tentang artinya kepuasan hidup.
Matius 6:32-33:” Semua itu dicari-cari bangsa bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang  di sorga tahu bahwa kamu membutuhkan itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.

Materi, jabatan, kekuasaan adalah semua yang dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Karena itu Yesus mengingatkan bahwa kita tidak sama dengan mereka. Dalam 1 Pet 2:9 “Kamulah bangsa yang terpilih” kita adalah bangsa yang berbeda, jadi kita tidak hidup dengan cara dan ukuran mereka. Yesus tahu kita membutuhkan hal itu, tapi carilah dahulu kerajaan Allah. Itu adalah suplemen (pelengkap) dari yang lainnya, tidak ada suplemen menjadi lebih penting, orang yang ingin sehat lebih mementingkan suplemen daripada gaya hidup sehat.sekarang semua sudah diputar oleh manusia, sebelumnya cari kerajaan Allah yang paling penting didaalam hidup ini sekarang ini menjadi suplemen, yang lebih utama adalah yang dicari-cari oleh dunia tadi.karena itulah terjadi pergulatan dalam hidup kita, kita merasa apa yang dimiliki orang lain itu harus saya miliki, padahal seharusnya mencari kerajaan Allah lah yang akan memberi janji akan ditambahkan kepada kita. Sebagai alumni yang sudah percaya pun , banyak yang membutuhkan penghormatan, pengakuan, mengaktualisasikan dirinya. Apakah Tuhan tidak melihat hal itu? Tuhan tahu kita butuh hal itu, karena itu Tuhan berkata semua itu akan didapatkan setelah kita mencari kerajaan Allah. Ketika kita bekerja dengan baik, kita tidak sedang mencari pengakuan dari orang lain, tapi bisa saja orang lain mengakui hal itu.

Ketidak puasan sering terjadi karena manusia tidak pernah merasa cukup dan tidak mengandalkan Allah.“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah (content) dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman aku sama sekali tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata-kata” (Ibrani 13:5-6).Yesus yang dasyat itu apakah juga dapat dilihat dasyat juga didalam hidup kita?Apakah kehadiran kita memberi dampak yang besar di lingkungan kita, memberi sesuatu yang bermaknadi mana saya berada?Bayangkan sebagian besar waktu kita  ada di dunia profesi, tapi kita tidak melakukan apapun dan memiliki dampak apapun. “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah (content) dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman aku sama sekali tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ini janji Tuhan. Apapun yang kita hadapi tidak akan mempengaruhi kepuasan kita kalau kita mengandalkan Allah.Ketidakpuasan sering terjadi karena tidak mengandalkan Allah, kita seringkali membuat rencana dan Allah tinggal menyetujuinya saja. Ini membuat kita tidak puas. Kecukupan akan terjadi dalam hidup kita kalau kita mengandalkan Tuhan.

Kepuasan tidak tergantung kondisi/lingkungan, tetapi kehadiran Allah dalam semua situasi . Apa yang terjadi di sekeliling kita seharusnya tidak mempengaruhi kepuasan kita.Paulus memiliki gaya hidup “ultimate simplicity of life” (2 Korintus 11:23-28): sering di dalam penjara;didera diluar batas; kerap kali dalam bahaya maut; lima kali disesah orang jahudi;tiga kali kapal karam;terkatung-katung ditengah laut; aku lapar; aku dahaga, kerapkali berpuasa;kedinginginan tanpa pakaian; dll .Ini adalah kondisi yang menurut manusia, kondisi yang sangat tidak memuaskan/tidak menyenangkan. Tapi Paulus yang sama mengungkapkan dalam segala situasi yang penting adalah mencukupkan (content) diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11-13)kepuasan kita ridak tergantung dari apakah kita susah atau senang, jalan buntu atau tidak, firman Tuhan berkata segala sesuatu bisa menjadi cukup kalau kita mengandalkan Allah dalm hidup kita. Paulus menyatakan hal ini berdasarkan pengalamannya, kesulitan yang dihadapi Paulus tidak membuat dia  kehilangan kepuasan dalam hidupnya.bahkan dalam Fil 4:4 dia berkata “bersukacitalah senantiasa, sekali lagi kukatakan bersukacitalah”. Jadi sukacita itu sifatnya bukan kondisional, tetapi keyakinan bahwa Allah mencukupkan dia.

Kepuasan itu terjadi ketika kita merasakan kasih setia Tuhan dalam hidup kita (Mas 90:14-17). Kepuasan tidak tergantung kepada jumlah,  tetapi ada takut akan Tuhan (Amsal 15:16-17) Kepuasan datang dari kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan bukan kepada materi (Yesaya 55:1-2). Ketidakpuasan terjadi karena kita mengikuti keinginan daging (Roma 8:5-6).

PROFIL PEMUDA YANG DISCONTENTMENT
Markus 10:17-23 menceritakan tentang,pemuda yang kaya, pengusaha,secara finasial bagus, Pemuda yang sudah menjadi pemimpin (Luk 18:18), pemimpin perusahaan, pemimpin sosial.Pemuda yang mempunyai moralitas yang baik dalam standard Jahudi, telah melakukan semua perintah Taurat. Ia melakukan taurat sejak masa mudanya, dan Tuhan Yesus tidak membantah dia tentang hal itu. Pemuda yang mengalami discontentment. Berlari-lari dalam kondisi tidak puas dan bertanya kepada Jesus.Ia masih mencari-cari Kristus seolah-olah ada yang kurang dari semua yang dia sudah miliki. Ia tidak puas dengan apa yang dia miliki.Dia adalah pemuda yang berhasil untuk ukuran dunia. Kekayaan, Status (pemimpin, pengusaha), moralitas tidak membawa orang kepada contentment.apakah kita orang yang sedang mencari kekayaan, status melalui kekuasaan, kepemimpinan, apakah kita orang yang sedang berjuang luar biasa untuk diakui sebagai orang yang baik, sopan, bermoral. Firman Tuhan hari ini berkata pemuda dengan kualitas seperti itupun tidak puas. Tuhan mengatakan juallah milikmu dan ikutlah Aku. Discontentment itu bisa berubah menjadi contentment kalau dia melakukan apa yang dikatakan Kristus. Tetapi orang muda ini kecewa dan dia meninggal Yesus. Pertanyaan pentingnya adalah nomor berapakah Yesus akan dia tempatkan dalam hidupnya?Dia tidak menempatkan Kristus sebagai yang utama dalam hidupnya, hartanya, miliknya, label-label yang dia miliki, tetap menjadi yang utama dalam hidupnya. Untuk bisa contentment, kita harus bertemu Kritus, menerima Kritus menjadikan Kristus terutama dan utama melebihi segalanya.Apakah pekerjaan kita tidak lagi membuat kita mampu mengutamakan Kristus? Kita sudah menegosiasikan nilai-nilai yang kita yakini ke dalam hidup kita. Kita sudah membagi “ini dunia kerja, ini dunia rohani” sehingga ini menjadi pergumulan antara keinginan daging dan keinginan roh dalam hidup kita, membuat kita mengalami discontentment dalam hidup kita.apakah nilai-nilai kebenaran masih nyata di pekerjaan kita? Ataukah kita sedang mencoba beradaptasi dengan system?Jangan-jangan kita sebagai alumni hidup di dua dunia “dunia pekerjaan” dan “dunia persekutuan” yang sangat berbeda, hal inilah yang membuat kita discontentment.memang kalau kita melakukan kebenaran di pekerjaan, pastilah ada konflik, ada pertentangan-pertentangan nilai yang terjadi, yang ujung-ujungnya adalah “pilih Kristus atau pilih pekerjaan”kenapa Yesus menyuruh pemuda itu menjual hartanya, karena Yesus melihat kalau kita tidak total memilih Yesus, kita tidak akan berhasil didalam dunia, tidak ada kepuasan yang terjadi/ jika kita ingin mengalami kepuasan/kecukupan didalam konteks Kristus, maka cukupkanlah Kristus didalam hidup kita, utamakanlah Kristus didalam hidup kita.Pemuda ini mengingatjkan kita semua, tidak ada pilihan lain, kalau kita ingin puas dalam  Kristus, cukuplah Kristus dalam hidup kita, yang lain hanyalah asesoris, asesoris  itupun Allah yang memberikan. Tuhan akan membuat kita berhasil jika kita mau setia pada Tuhan.sering kita memikirkan resiko jika kita taat, akan disingkirkan atasan , tidak mendapat pekerjaan, tetapi Tuhan sendiri berjanji akan menambah semua nya itu
Kesimpulan
  Contentment dimulai dengan mengenal tujuan hidup.  Filipi 3:10 “ Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitannya dan persekutuan dalam penderitaannya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya.
  Contentment kita berbeda dengan dunia ini. Adam dan hawa meningalkan contentment yang diberikan Allah: taman yang sempurna, pernikahan yang sempurna, relasi dengan Allah yang sempurna.
  Contentment harus membedakan apa yang dibutuhkan (needs) dan apa yang diinginkan (wants)
  Discontentment selalu dimulai merasa tidak cukup, tidak puas. Lihat kasus Adam dan Hawa (Kejadian 3:1-6)
  Discontentment akan membawa kepada ketamakan. Lukas 12:15 “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seseorang berlimpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.
  Contentment dapat mengakibatkan ketamakan, dan ketamkan dapat membawa kepada penyembahan berhala. (Keluaran 20:17)
  Contentment dipenuhi dengan meninggalkan segalanya demi Kristus. (Fil 3:8):”Bahkan segalanya kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Tuhanku  lebih mulia dari segalanya….
  Contentment membawa kita kepada nilai yang sangat besar (Mat 13:22)

            Jim Elliot:” Tidaklah bodoh orang yang melepaskan apa yang tidak dapat dia pertahankan, untuk mendapatkan apa yang tidak akan hilang”.



Solideo Gloria

Rabu, 16 Maret 2016

ETOS KERJA

Oleh : Desmiyanti Tampubolon, STP


Kolose 3:22-25

           Menurut Webster Dictionary menjelaskan kerja sebagai usaha atau karya nyata baik  secara fisik atau mental yang dikerjakan seseorang. Jhon Stot merumuskan pengertian kerja  sebagai  pengeluaran tenaga baik secara manual atau mental atau kedua-duanya dalam pelayanan terhadap orang lain, yang menambah kepuasan bagi si pekerja, manfaat bagi masyarakat dan kemuliaan bagi Allah.Ethos (Ingg) :ciri khas, arti lain : prinsip kerja, disiplin kerja.Etos kerja dari satu profesi bis a dilihat dari ciri-ciri kerjanya (dikenal cepat melayani nasabah atau tidak), pakaiannya yang khas untuk profesi tertentu, mis. guru, pegawai bank. Dalam PL bahasa Ibrani yang dipakai untuk “kerja” adalah “asa” atau “ma’aseh”Istilah  Ibrani yang lain untuk kerja adalah “abad”(kata kerja) atau “abodah” (Kel 38:21, Bil 4:23-27 yang digunakan untuk “kerja” dari kaum Lewi yang berarti melayani, jadi sebenarnya bekerja dianggap sama dengan melayani Tuhan.

Allah Sang Pekerja Agung. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1), sejak ayat pertama Alkitab telah menggambarkan bahwa Allah adalah Sang Pekerja. Ia bersabda, mencipta, melengkapi serta memperindah pekerjaanNya dengan hasil yang Dia nilai baik (Kej 1:10, 12, 18,21,25), Ia menjadikan segala sesuatunya baik, amat sangat baik, jadi kita pun harus bekerja sebaik mungkin.Yesus sendiri juga mengatakan “BapaKu bekerja hingga sekarang, maka Aku pun bekerja juga (Yoh 5:17).Roh Kudus bekerja memberi anugerahNya dengan memberikan berbagai karunia, sehingga tiap-tiap kita diberi pekerjaan sesuai dengan bakat dan talenta kita mis. orang yang teliti dengan angka akan sangat cocok kerja di bank. Bekerja adalah hakikat manusia karena Allah Sang Pekerja Agung itu telah menciptakan manusia segambar dengan Dia (Kej 1:26-27), karena itu manusia harus bekerja sebaik mungkin mengikuti teladanNya, baik motif dan modus, pola dan cara serta siklus dan musimnya (Kel 20:9,11). Bekerja juga membutuhkan istirahat, bekerja maksimal 40 jam seminggu, jangan bekerja tanpa henti hanya semata-mata demi uang. Manusia adalah mitra kerja Allah (Kej 1:26), Allah masih terus berkarya setelah kejatuhan manusia dengan menebus manusia dari kuasa dan efek dosa, dan manusia dilibatkan sebagai rekan kerja dalam semua kerja besar itu. Jika kita ingin menjadi agen of change, kita harus bekerja pada semua bidang kerja untuk dapat memberi dampak di masing-masing pekerjaan. Orang Kristen bekerja di dalam dan bagi Kerajaan Allah, semua pekerjaan harus kita lakukan untuk kemuliaan Allah dan demi perluasan Kerajaan Allah. Paulus dalam Kolose 3:23 mendesak pembaca suratnya untuk bekerja segenap hati, seperti untuk Allah dan bukan untuk manusia. 

Dunia kerja adalah wilayah yang menyita sebagian besar waktu produktif manusia. Ini berarti dunia kerja adalah bidang kontak yang penting bagi perluasan Kerajaan Allah. Allah mengandalkan semua pekerja Kristen untuk mencapai tujuanNya. Ia hadir membantu dan memberdayakan kita untuk menjadi pemenang. Melalui pekerjaan kita, Allah memakai kita untuk membawa perubahan. Masalahnya adalah : bagaimana kita dapat bekerja dengan etos kerja yang baik sesuai dengan prinsip etis ?  2 Tim 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermafaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran…..”Segala tindakan kita harus firman Allah yang menjadi standar kebenarannya, hal ini manjadi penting ketika kita harus mengambil keputusan apakah ini area ‘hitam’, ‘putih’ atau “grey area”. Jika kita sebagai alumni binaan pelayanan mahasiswa hanya sekedar tidak datang terlambat ke kantor atau tidak korupsi, hal itu menjadi kontribusi yang terlalu sedikit untuk dapat kita lakukan.

Beberapa tujuan yang diharapkan dari para pekerja Kristen tentang teologi kerja:
  1. Agar setiap pekerja Kristen mengerti bahwa bekerja dalam berbagai bidang dan jenis, sangat penting, bermanfaat dan bermakna tidak hanya bagi manusia tapi bagi Allah juga.
  2. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa kerja bukan sekedar jalan memenuhi kebutuhan hidup mereka, tetapi berdampak nyata bagi kehidupan global bersama Allah
  3. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa apa yang mereka kerjakan di dunia ini haruslah merupakan cerminan, bagian atau lanjutan dari pekerjaan Allah
  4. Agar tiap pekerja Kristen mengerti serta dapat menempatkan pekerjaannya dalam terang wawasan dan tujuan Allah, sehingga dapat melihat campur tangan dan peranan Allah dalam pekerjaan mereka
  5. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa Allah adalah Sang Pekerja Agung yang juga menghendaki manusia bekerja dengan motif, modus, serta dengan kualitas dan standar Allah melalui berbagai talenta yang diberikan Allah pada tiap-tiap orang
Etos  kerja orang kristen dinyatakan dengan :
  1. Displin dan integitas, yaitu bekerja dengan setia bukan hanya dihadapan atasannya untuk mencari muka tapi dengan tulus hati karena takut akan Tuhan (Kol 3:22), kita tetap bekerja dengan rajin walaupun atasan tidak ada di kantor
  2. Kreatif dan inovatif, yaitu melakukan pekerjaan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, for God satisfaction not just customer satisfaction(Kol3:23). Hadirlah di tempat kerja tepat waktu, dikenal sebagai orang yang berintegritas, demi kemuliaan Allah
  3. Proaktif dan produktif karena ada upah dari Tuhan selain dari manusia (Kol 3:24)
  4. Hati yang takut akan Tuhan sehingga tidak melakukan apa yang salah dihadapanNya (Kol 3 :25). Ingat, Daniel dan Yusup dikenal sebagai orang yang memiliki roh yang luar biasa.
8 Etos Kerja Kristiani :

1.      Kerja adalah anugerah. Kesadaran bahwa anugerah Allah membuat kita menjadi  manusia yang berjiwa besar, berhati mulia, kepribadian matang, dewasa, tenang, percaya diri dan bijaksana Orang yang berparadigma anugerah selalu yakin karirnya dibimbing dan dijamin Allah, terbebas dari nafsu mengejar uang, dan sanggup mengatasi godaan saling sikut demi rebutan rezeki yang sebenarnya tidak seberapa.
2.  Kerja adalah tanggung jawab. Sebagai pemegang tanggungjawab, kita dipercaya dan diharapkan untuk mampu melaksanakannya, dipercaya berarti : mempunyai kompetensi professional(memiliki kemampuan) dan dipercaya secara moral (berintegritas). Jika kita bekerja dengan penghayatan seorang pengemban tanggungjawab kita akan menjadi orang yang dapat diandalkan dan terpercaya.
3.      Kerja adalah panggilan. Orang yang terpanggil menjadi dokter misalnya, sebenarnya sudah dilengkapi dengan rasa belas kasihan kepada orang yang menderita dan kekuatan untuk tidak merasa ngeri melihat darah, demikian juga dengan orang yang terpanggil menjadi guru sudah dianugerahi bakat mengajar, rasa cinta pengetahuan, rasa sayang pada siswa, bahagia melihat pertumbuhan dan perkembangan anak didik .jadi bukan hanya seorang hamba Tuhan fulltime yang memiliki panggilan hidupnya. Keterpanggilan yang berpusat pada Allah pada akhirnya akan menjadi kecenderungan hati,dorongan hati atau kemauan hati yang kuat,dan menumbuhkan keyakinan : kesanalah aku harus pergi! Itulah jalan hidupku. Visi pribadi mendorong lahirnya panggilan hidup akan bekerja sebagai apa, melanjutkan study untuk tujuan yang jelas.
4.  Kerja adalah aktualisasi (Kerja keras, telaten). Kerja keras tanpa arah, tanpa skenario,tanpa visi hanya akan menghamburkan energi kita, jadi target harus dipatok, visi harus dibentang dan hasrat harus diwujudkan .Rumuskan visi dan target-target yang ingin diraih, tutup pikiran terhadap  godaan lain dan fokuskan energi untuk mencapainya. Tanpa target akan membuat kita malas bekerja, jadi kita harus fokus pada visi dan berupaya mencapai target.
5.   Kerja adalah ibadah. Kita harus senantiasa  menghayati kehadiran Tuhan di ruang kerja, ibadah itu menyatu dengan kehidupan profesional dan sosial, karena itu kerja diniatkan sebagai bakti, dedikasi dan persembahan pada Tuhan.Kita bekerja untuk Tuhan dank arena Tuhan.Etos seorang pekerja Kristen haruslah bekerja dengan standar Tuhan yang menjadi pembeda dengan pekerja lain, membuat kita bekerja sebaik-baiknya tidak hanya memuaskan hati manusia tapi juga hati Tuhan
6.      Kerja adalah seni. Bekerja sebagai seni adalah sebuah kompetensi kerja dengan mutu tinggi baik dilihat dari segi esensinya, tekniknya, prosesnya; bekerja tanpa estetika hanya berujung pada proses kerja yang membosankan, monoton, kering dan tanpa daya tarik. Kreatiflah dalam bekerja dan hal ini akan membuat kita  penuh daya cipta, gagasan-gagasan inovatif. Mis.mengajar dengan metode GASING (Gampang, asyik, menyenangkan) àYohanes Surya. Jika kita mengajar sebagai guru, mengajarlah dengan cara yang menarik, dan dapat dimengerti sehingga siswa dapat menyukai semua pelajaran.
7.      Kerja adalah kehormatan. Kerja sebagai kehormatan berarti kerja seutuhnya dan setuntas-tuntasnya, mencapai apa yang diharuskan untuk diselesaikan secara terhormat.Kita harus membangun kehormatan profesi kerja: bangga berprestasi, bangga tepat waktu, bangga bekerja keras, bangga berintegritas, bangga berdisiplin, bangga berkualitas. Jangan malu menjadi pegawai teladan setiap bulan, dari kita memang dituntut kualitas terbaik.
8.      Kerja adalah pelayanan. Semua profesi, pada mulanya sekali adalah untuk melayani, bankir melayani nasabah, guru melayani bangsa dengan mendidik, jaksa, hakim dan polisi melayani masyarakat untuk keadilan hukum. Kerja sebagai pelayanan berarti kita harus bekerja melampaui harapan dengan memberikan hasil yang bermutu. Bekerjalah lebih tinggi, lebih baik, lebih cepat dari pada orang lain.


Kolose 3 :23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.Pengkhotbah 5:11 “Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur”. Mari bekerja dengan etos kerja kristiani. 


Solideo Gloria

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...