Minggu, 05 Maret 2017

KOMUNITAS

(Kotbah dalam Mimbar Bina Alumni, Jumat 23 Januari 2015, yang dibawakan oleh Laksana Umanda Sitanggang, MT)


Dalam sebuah survey sederhana yang dilakukan pada saat ibadah MBA, di dapat ternyata sebagian besar alumni mengalami tingkat kesepian yang moderate (moderate loneliness). Mengapa kita bicara soal kesepian sebelum memulai bicara tentang komunitas. Kesepian merupakan lawan dari komunitas. Kalau kita memahami mengenai kesepian maka kita akan memahami mengenai komunitas. Kesendirian tidak sama dengan kesepian. Tetapi orang yang kesepian pasti selalu merasa sendiran.


Jika kita melakukan penelusuran melalui mesin pencari Googlemengenai kesepian, maka kita akan menemukan banyak kutipan mengenai kesepian – seperti “Lonely is not being alone, it’s the feeling that no one cares”, “I am not alone but lonely”, “I stopped talking about how I felt because I knew no one cared anymore.”Mengapa rupanya dengan kesepian itu?


Kalau kita merasa (sangat) kesepian itu berdampak sama dengan merokok 15 batang/hari atau pecandu alcohol. Kesepian juga disamakan dengan dua kali lebih berbahaya dari pada obesitas, memacu penyakit kronis, mengalami pengerasan arteri, juga memicu tekanan darah tinggi, pembengkakan tubuh, berdampak terhadap penurunan pendengaran, mengurangi kualitas tidur, sistem kekebalan tubuh cenderung fokus menyerang bakteri sehingga lebih rentan terhadap serangan virus, hiperreaktif pada perilaku buruk orang lain sehingga menjadi lebih kesepian, bahkan memicu kematian lebih cepat.


Seorang psychiatrist, Jean Rosenbaum, mengatakan bahwa kesepian merupakan pembunuh nomor 1 di Amerika untuk mereka yang meninggal antara usia 20-37 tahun. Ia juga menyatakan bahwa 94% masyarakat menderita kesepian yang kronis. Kesepian menjadi penyakit yang kronis. Mother Theresa juga menyatakan bahwa penyakit paling buruk di dunia bukanlah penyakit kusta atau kanker, tetapi perasaan tidak dikasihi dan kesendirian. Toffler juga menyatakan bahwa ada wabah kesepian. Kesendirian tidak hanya menyebabkan orang tidak sehat tetapi juga membuat mereka merasa tidak aman secara fisik dan mental.


Para ahli mengatakan bahwa kesepian disebabkan oleh beberapa faktor. Bisa disebabkan oleh usia. Semakin tua maka dia semakin merasa kesepian karena ditinggal oleh aanak-anak yang sudah mulai madiri. Kesepian juga bisa disebabkan karena kehilangan orang yang kita kasihi. Kesepian juga bisa disebabkan oleh media sosial online, faktor genetik, faktor sosial (pindah tempat, sibuk mengejar kesuksesan, ketidakamanan, dll), faktor psikologis (mudah terluka, trauma masa lalu), penyebab rohani (jika hubungan dengan Tuhan tidak baik, hubungan dengan sesama juga tidak baik kesepian).


Itulah pengetahuan manusia yang terbatas mengenai kesepian. Tetapi Allah pasti tahu lebih banyak tentang kesepian dan dampak negatifnya.


Mari melihat bagian firman Tuhan dari Kejadian 2:18-23.

18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."


Dari bagian ini kita bisa melihat bagaimana Allah menjelaskan mengenai kondisi manusia bahwa tidak baik manusia seorang diri saja. Manusia memerlukan teman. Kesepian itu tidak baik. Tidak baik manusia itu seorang diri berarti tidak baik manusia itu tanpa komunitas. Dan hal ini dikatakan Allah di sebuah tempat yang sempurna yang tidak ada dosa, yaitu taman Eden. 


Komunitas yang pertama adalah Adam dan Hawa dalam konteks keluarga. Kalau konteksnya adalah keluarga maka diharapkan keluarga menjadi model bagi komunitas-komunitas yang lain. Diharapkan interaksi yang terjadi dalam komunitas-komunitas yang lain adalah seperti dalam keluarga. Jadi masing-masing anggota saling merasakan kesakitan yang satu kesakitan yang lain, kebahagiaan yang satu menjadi kebahagiaan yang lain, dan juga ada sikap saling menghormati dan saling mengasihi. Ingat, Allah juga berada berada dalam komunitas (Bapa, Anak dan Roh Kudus).


Komunitas adalah skenario Allah. Manusia merasakan kebutuhan akan komunitas. Itulah sebabnya dalam ay 23 dikatakan, “Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Dalam terjemahan lain dikatakan “Then the man said, “At last, here is one of my own kind- bone taken from my bone, and flesh from my flesh.”


Tanpa komunitas manusia itu akan sendiri, tidak ada seseorang yang akan diajak bicara atau berbagi. Dalam PB kita melihat bagaimana Yesus menghabiskan waktu sekitar 2,5 tahun untuk mencari dan membentuk muridnya menjadi komunitas yang sesungguhnya.


Ketika Yesus juga merangkum seluruh isi Alkitab dikatakan, “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:37-38). Semua ini tidak akan bisa dilakukan tanpa adanya komunitas.


Dalam Pengkotbah 4:9-12 juga dikatakan bahwa, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” Jadi menurut Pengkotbah dalam komunitas kita menemukan upah, pertolongan, kehangatan dan pertahanan atau kekuatan. Jadi sangat-sangat penting bagi kita berada dalam komunitas.


Brian Hathway mengatakan bahwa sekitar 44% surat dalam PB berbicara tentang hubungan yang satu dengan yang lain atau berbicara tentang ‘saling’. Dalam PB ada 29 jenis saling yang menunjukkan bahwa hal ini sangat penting. Tetapi perlu kita pahami bahwa ‘saling’ itu tidak akan terjadi jika kita sendiri. ‘Saling’ itu menuntut komunitas supaya hal tersebut terjadi.


‘Saling’ apa saja yang terdapat dalam PB? Yaitu saling mengasihi (Yohanes 13:35 – dimana perintah ini muncul 16 kali), mengasihi sebagai saudara (Roma 12:10), mendahului memberi hormat (Roma 12:10), sehati sepikir (Roma 12:16), membangun (Roma 14:19; 1 Tesalonika 5:11), rukun (Roma 15:5), menerima (Roma 15:7), menasehati (Roma 15:14; Kolose 3:16), memperhatikan (1 Korintus 12:25), melayani (Galatia 5:13), bertolong-tolongan (Galatia 6:2), mengampuni (Efesus 4:2, 32; Kolose 3:13), sabar (Efesus 4:2; Kolose 3:13), ramah (Efesus 4:32), berkata-kata dalam Mazmur, kidung pujian (Efesus 5:19), merendahkan diri (Efesus 5:21, 1 Petrus 5:5), menganggap yang lain lebih utama (Filipi 2:3), memperhatikan kepentingan orang lain (Filipis 2:4), mengampuni (Kolose 3:13), mengajar (Kolose 3:16), menghibur (1 Tesalonika 4:18), menasehati (Ibrani 3:13), mendorong dalam kasih dan perbuatan baik (Ibrani 10:24), memberi tumpangan (1 Petrus 4:9), menggunakan karunia yang diberikan Allah (1 Petrus 4:10), merendahkan diri (1 Petrus 5:5), mendoakan (Yakobus 5:16), mengakui kesalahan (Yakobus 5:16), anggota (Roma 12:5; Efesus 4:25). 


Semua ‘saling’ ini tidak akan pernah muncul jika kita tidak berada dalam komunitas. Dengan melakukan ‘saling’ ini maka kita bisa bertumbuh, bersaksi (di mana dengan demikian orang mengetahui bahwa kita murid Yesus), melayani, dan melaksanakan perintah utama – mengasihi orang lain seperti diri sendiri.


Jika kita melihat kondisi ‘saling’ pada jemaat mula-mula, maka kita akan melihat bagaimana mereka sangat hidup dalam komunitas. Dalam Kis 2:41-46 dikatakan, “41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.” Kita rindu bisa hidup seperti jemaat mula-mula yang hidup mereka menerapkan ‘saling’ tersebut karena mereka menyadari bahwa mereka hidup dalam komunitas.


Dalam Ibrani 10:24 dikatakan, “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” Agar bisa melakukan ‘saling’ ini ada nasihat dalam ay 25, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Jadi ‘saling’ itu bisa terjadi jika relasi kita dengan Tuhan maupun dengan sesama terjalin dengan baik.


Bagaimana kondisi ‘saling’ pada saat ini? Seorang tokoh pernah mengatakan bahwa banyak gereja pada saat ini kuat dalam pengajaran tetapi lemah dalam persekutuan. Pengajaran yang baik bukanlah pengganti untuk persekutuan. Dua hal ini (pengajaran dan persekutuan) sama-sama penting. Kita pasti melihat bagaimana bahwa persekutuan (komunitas) di gereja sangat lemah. 


Bagaimana sikap kita? Jangan terjebak dalam hal ini. Mari meningkatkan hidup yang ‘saling’ dalam sebuah komunitas yang baik. Jangan sampai kita bertumbuh dalam pengajaran tetapi lemah dalam persekutuan (komunitas). Mari terlibat aktif dalam Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), dan juga aktif dipelayanan. Jangan sampai tidak terikat secara organisatoris/struktural dalam suatu komunitas, jangan hanya volunteer. Alasan terlalu sibuk bukanlah alasan bagi manusia itu untuk hidup di luar komunitas. Komunitas bukanlah untuk kepentingan pelayanan tetapi juga demi kepentingan kita sendiri agar tidak terjatuh dalam kondisi kesepian.


Solideo Gloria!

Senin, 06 Februari 2017

Self-Leadership

Oleh Laksana Umanda Sitanggang


Sebagai manusia kita bisa membayangkan diri kita berada di tempat lain – misalkan di pantai. Kita bisa membayangkan bagaimana kita berjalan di sana dengan seseorang yang kita kasihi. Semua adegan bisa kita lihat dengan jelas dan bisa merasakan setiap moment yang ada dalam imajinasi kita dan menjadi bagian dari pengalaman kita. Kita sebagai penonton terhadap diri kita sendiri. Ternyata kita memiliki kemampuan untuk memisahkan diri kita dari kenyataan. Kenyataannya kita sedang berada di sini, tetapi kita bisa menempatkan diri kita di suatu tempat lain.


Dengan kata lain kita bisa menjadi sutradara terhadap diri kita sendiri, di mana kita mengatur bagaimana kita berperilaku, berbicara, dan bersikap. Bahkan sesungguhnya memahami hal ini kita bisa memenangkan pertarungan bahkan sebelum perang dimulai. Misalnya, pada suatu malam minggu dan kita hendak pergi ke rumah seseorang yang kita sukai. Kita sudah melakukan persiapan bagaimana nanti jika ditolak dnegan memikirkan alternatif sikap kita. Bisa saja nanti akan berkata “Terimakasih untuk jawabanmu. Akhirnya saya tahu bahwa selama ini saya berdoa dengan orang yang salah”. Jadi, sebelum kita menghadapi kenyataan ini kita sudah bisa menang. Inilah keajaiban dan kelebihan manusia.


Kristopher dan temannya Charles mengatakan bahwa ada sebenarnya seseorang di mana bersamanya kita menghabiskan banyak waktu dibandingkan dengan siapa pun. Seseorang yang sangat berpengaruh dan mampu mendukung kita lebih dari siapapun. Seseorang itu adalah diri kita sendiri.


Selfleadership atau kepemimpinan pribadi adalah berbicara mengenai hubungan ‘saya’ dengan ‘saya’; tentang bagaimana kita memperlakukan ‘diri saya’ sendiri, tentang bagaimana ‘saya ‘ memimpin, mengarahkan, atau mengatur ‘diri saya’. Ada banyak aspek dalam kepemimpinan pribadi dan saat ini kita hanya akan fokus kepada dasar-dasarnya.


Mari melihat kepada tiga bagian firman Tuhan. Pertama adalah Kej 3:1-6, yaitu kisah mengenai kejatuhan Adam dan Hawa. Kedua dari Hakim-Hakim 16:15-16, kisah mengenai Samson yang memberitahukan rahasi kekuatannya. Ketiga adalah dari Kej 39:7-12, yaitu kisah Yusuf yang digoda oleh isteri Potifar. Apa yang kita pelajari dari ketiga bagian ini? 


Dalam kisah Adam dan Hawa kita menemukan bahwa ketika manusia pertama itu memakan buah yang dilarang itu – yang terjadi oleh karena ketidaktaatan mereka – maka jatuhlah mereka dan seluruh keturunannya dalam dosa. Dalam kisah itu kita melihat bagaimana ketidaktaatan mereka menghasilkan konsekuensi yang tidak ringan bahkan tragis dan terjadi sampai sekarang dan sampai pada masa yang akan datang. Pertanyaannya adalah mengapa mereka jatuh? Dalam kisah itu kita melihat bahwa si ular sama sekali tidak ada mengajak Hawa untuk memakan buah itu. Si ular hanya memutar balikkan fakta atau kebenaran. Tidak saja bujukan atau rayuan untuk memakan buah itu. Bahkan tidak ada ancaman terhadap Hawa jika dia tidak memakan buah itu yang bisa membuat kita menyimpulan bahwa dia melakukannya dengan terpaksa. Tidak ada sama sekali. Nah, mengapa mereka memakannya? Dalam kisah itu kita melihat bagaimaman Hawa melihat buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Kemudian dia mengambilnya dan memakannya. Dia tidak dipaksa tetapi itu terjadi karena pilihannya sendiri. Tidak ada upaya untuk bertahan dan berpegang kepada perintah Tuhan. Dia memakannya kerena pilihan sadarnya untuk memakannya.


Dalam kisah Simson berbeda lagi. Ketika perempuan itu menanyakan letak kelemahannya, Simson menolak untuk menjawab. Dia bertahan. Tetapi perempuan itu berhari-hari merengek-rengek kepadanya dan terus mendesak-desak dia, dan akhirnya Simson tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya. Bahkan sampai perempuan itu mempertanyakan kadar cintanya. Simson akhirnya jatuh dan menceritakan kelemahannya. Kelihatannya, apa yang dilakukan Simson jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa.


Kemudian mari melihat Yusuf. Rayuan kepada Yususf adalah untuk tidur denagn isteri Potifar. Pastilah isteri Potifar ini merayu bukan hanya sekali atau dua kali dan pastilah juga perempuan ini tidak tampil apa adanya tetapi akan menunjukkan penampilannya yang paling menarik ketika mengajak Yusuf tidur. Kemudian pada suatu hari yang sangat memungkinkan, di mana hanya dia dan Yusuf yang ada di rumah pada saat ini. Dia kemudian kembali mengajak Yusuf. Tetapi Yusuf tidak mau. Walaupun ia menyadari yang ditolak adalah nyonyanya dan ia budak, ia tetap memilih untuk menolak.


Apa yang membedakan dari ketiga tokoh dalam tiga kisah di atas? Dimananya ketiga pihak ini berbeda? Ada yang digoda seperti mau mati rasanya akhirnya jatuh. Ada yang digoda oleh nyonyanya tetapi menolak. Tetapi yang lain, tanpa digoda bahkan terjun bebas. Dimanakah letak perbedaannya? Mereka berbeda dalam hal responsibility, tapi yang dimaksud disini bukan tanggungjawab. Akar kata responsibility adalah response dan ability. Jadi bisa dikatakan bahwa responsibility adalah kemampuan untuk mengambil respon atau kemampuan untuk memberi tanggapan. Dalam hal inilah mereka berbeda.


Kalau kita berbicara kepemimpinan intrapribadi maka kita sedang masuk dalam kesadaran bahwa kita mampu untuk memilih tanggapan kita terhadap segala sesuatu. Kalau kita berbicara selfleadership kita sedang berbicara tentang kesadaran bahwa ‘saya mampu memisahkan diri saya dari realitas’ di mana ‘saya mampu menjadi penonton, sutradara bagi diri saya dan saya mampu memenangkan penrtempuran bahkan sebelum pertempuran itu dimulai. Saya mampu memilih apa yang harus kulakukan’. Itulah dasar dari kepemimpinan pribadi.


Baik Adam dan Hawa, Simson, atau Yusuf sama-sama menghadapi godaan. Dalam kejatuhannya, Adam dan Hawa mencari kambing hitam. Padahal Hawa sendiri yang memilih untuk memakannya. Kelihatannya Adam dan Hawa tidak menyadari kalau merekalah yang memilih sendiri untuk memakan buah. Berbeda dengan Simson, di mana dia awalnya bertahan dan kemudian dirayu berulang-ulang. Karena didesak sedemikian rupa dia akhirnya memberitahukan kelemahannya. Lihat, pada awalnya dia tidak mau memberitahukan rahasianya. Pada akhirnya dia memilih untuk memberitahu bukan terpaksa. Memberitahukan rahasianya adalah pilihan dasar dari Simson. Itulah sebabnya dia tidak pernah mengomel akan pilihannya dan tidak pernah melemparkan tanggungjawab terhadap pilihannya itu karena itu adalah pilihan sadar dan dia menerima konsekuensi dari perbuatannya itu.


Demikian juga dengan Yusuf yang dirayu berulang-ulang. Sebagai seorang anak muda tentu saja Yusuf memiliki gairah seksual yang tinggi. Pasti juga ada pergumulan dalam hati Yusuf ketika isteri Potifar mengajak dia tidur. Pergumulan antara ya atau tidak. Dia pasti memikirkan konsekuensi dari jawaban ya atau tidak. Bermacam-macam mungkin pergulatan dalam dirinya untuk memilih sikapnya. Dan pada akhirnya dia memilih untuk menjawab ‘tidak’. Dia memilih dari berbagai altenatif itu apa yang menjadi pilihannya. Ketika dia memilih untuk menjawab tidak, dia akhirnya dimasukkan kepenjara. Tetapi dia juga tidak mengomel dan mencari kambing hitam dan siap menerima konsekuensinya. 


Inilah perbedaan antara mereka. Inti kepemimpinan pribadi itu adalah kesadaran dalam diri kita bahwa apapun yang kita lakukan, kita lakukan karena kita pilih untuk kita lakukan, tidak ada kata terpaksa untuk kita lakukan.


Ada banyak bagian dari Alkitab mulai dari PL sampai PB tentang ‘memilih untuk melakukan sesuatu’ mis dalam dalam Maz 119:173; Amsal 1:29-31; Amsal 3:31; dan masih banyak lagi. Apapun yang kita lakukan kita lakukan karena kita pilih untuk kita lakukan. Tidak ada orang yang pernah bisa memaksa kita untuk melakukan sesuatu. Yusuf sebenarnya dibawah paksaan untuk menuruti keinginan nyonyanya tapi dia memilih untuk tidak melakukannya. Simson memang dipaksa untuk melakukan pilihan itu, tetapi bukan karena paksaan karena ia memilih untuk mengikuti paksaan itu karena sebelumnya dia memilih untuk tidak mengikutinya. 


Perasaan ditinggalkan seseorang yang kita sayangi karena dia akhirnya menikah dengan teman baik kita adalah perasaan yang bisa menimbulkan sakit hati. Tetapi ingat, ketika kita sakit hati itu karena kita memilih untuk sakit hati. Kepemimpinan pribadi adalah ‘aku memilih untuk besikap’. Ketika kita merasa remuk dan hancur itu karena kita pilih untuk merasa demikian. Memang pasti ada masa-masa suram dalam kondisi seperti ini. Tetapi jika kita semakin larut dalam sakit hati itu terjadi karena kita memilih untuk sakit hati. Bukan hanya sakit hati yang menjadi pilihan. Kita bisa memilih sikap yang lain karena ada banyak alternatif pilihan yang bisa kita pilih. Inilah dasar dari selfleadership. Mari menyadari dan mengamini bahwa kita bisa seperti itu karena kita memilih untuk menjadi seperti itu dan hal tersebut kita lakukan bukan karena terpaksa.


Dikecewakan atau dikhianati adalah stimulus yang bisa kita rasakan. Ketika stimulus seperti ini datang kepada kita maka respon spontan kita adlah marah, sakit hati, atau kecewa. Tetapi sebenarnya ketika stimulus datang kepada kita ada sebuah ruang dimana kita bisa memilih. Ketika stimulus yang datang ekpada kita adalah sesuatu yang menyakitkan sebenarnya kita memiliki waktu untuk memikirkan respon apa yang harus kita tunjukkan. Ingat, Simson berulang-ulang terus didorong untuk memberitahukan apa rahasianya dan dia tidak langsung menyerah. Ada masa di mana ia mempertahankan sikapnya sampai pada akhirnya dia memilih untuk tidak mempertahankannya. Ada ruang di mana kita bebas untuk memilih. Demikian dengan Yusuf yang diajak terus-menerus. Tentu saja ada pergumulan dan rangewaktu di mana dia bergumul dalam ruang untuk memilih antara ya atau tidak. Baru kemudian ia memilih untuk menjawab tidak.


Inti kepemimpinan pribadi terletak di ruang itu. Kualitas hidup kita terletak di ruang itu, ruang antara stimulus dan respon. Seseorang berkata ketrampilan dasar dari kepemimpinan pribadi itu adalah berhenti dan mundur dari setiap hal yang mendorong kita untuk bertindak. Jika kita langsung bertindak maka yang menjadi pengendali akan tindakan kita adalah stimulus itu, bukan diri kita. Tetapi jika kita berhenti dan berpikir apa yang harus kita lakukan dalam hal seperti ini maka bukan stimulus yang menjadi pengendali kita tetapi diri kita sendiri. Di sinilah kualitas kepemimpinan pribadi – ruang untuk memilih – yang menentukan kualitas hidup seseorang.


Yesus juga dalam akhir masa hidupnya mengalami hal ini. Yesus menyadari bahwa anak manusia datang untuk menanggung banyak penderitaan bahkan dibunuh dan bangkit pada hari yang ketiga. Ketika semakin mendekati akhirnya hidupNya, Dia yang awalnya dengan mantap menegur Petrus karena menghalangi penderitaannya, menjadi sangat bergumul. Dia berdoa jika kiranya memungkinkan cawan itu lalu dari padaNya. Di Getsemane adalah masa pergumulan bagi Yesus untuk memilih respon. Alternatif pertama adalah ‘jikalau mungkin cawan ini berlalu daripadaKu’. Dan alternatif kedua adalah ‘tetapi jangan kehendakKu tetapi kehendakMulah yang terjadi’. 


Yesus berdoa sebanyak tiga kali. Dan akhirnya Dia menetapkan hati untuk memilih cawan itu. Dengan hati yang mantap dan tidak takut lagi Dia kemudian membangunkan ketiga murid-muridNya dan memerintahkan mereka bersiap-siap karena Dia akan ditangkap. Yesus sudah memenangkan pertempuran dengan keyakinan yang teguh sebelum Dia ditangkap dan dibawa. 


Perbedaan itu benar-benar ada jika kita memikirkan dengan matang apa yang akan menjadi respon kita. Kita bisa memenangkan pertempuran dan bagimana kita menjalani proses selanjutnya bahkan siap dengan kosekuensi dari respon kita tersebut. 


Paulus juga dalam pergumulan untuk memilih respon mana yang harus dia pilih. Dia mengatakan, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya,” (1Kor 9:27). Ini adalah proses di ruangan kebebasan untuk memilih. Itulah sebabnya dia bisa berkata, “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini” (1Kor 4:12-13). Hal ini tidak bisa terjadi secara otomatis. Pastilah Paulus memiliki masa untuk bergumul dalam memilih responnya. Dia melatih dirnya dan menguasainya supaya tahu memilih apa yang baik dan yang jahat. 


Ketika besok di kantor ada hal yang membuat kita marah dan akhirnya kita menjadi marah. Hal ini terjadi bukan karena seharusnya kita marah tetapi karena kita memilih untuk marah. Bukankah sebenarnya ada banyak alternatif pilihan lain selain dari marah? Bahkan jika kemampuan kerja kita tetap di bawah standar itupun karena kita memilih tetap seperti itu. Kita tahu bahwa kebutuhan akan bahasa Inggris dan Komputer begitu dituntut untuk bagus dan jika kemampuan kita masih seperti-seperti itu sadar atau tidak sadar itu terjadi karena kita memilih untuk seperti itu, bukan karena terpaksa seperti itu. Konsekuensinya sangat besar jika kita memahami konsep ini. Jika kita bermasalah dengan karakter yang kasar atau ketus, itu pun terjadi karena kita memilih untuk tetap seperti itu bukan karena harus seperti itu. Jika saya kecewa itupun terjadi karena saya memilih untuk kecewa. Jika saya marah itupun terjadi karena saya memilih untuk marah. Jika saya tidak melakukan sesuatu dengan tidak benar itu terjadi karena saya memilih untuk tidak melakukannya dengan benar. Itulah kepemimpinan pribadi, di mana ada ruang untuk memilih respon.


Dalam ruang itu ada banyak pilihan respon dan satupun diantaranya tidak mengandung nilai kebenaran. Kenapa kita sering gagal untuk memilih respon yang tepat atau benar adalah akrena kita kekurangan perbendaharaan terhadap hal-hal yang baik dan yang benar. Dalam banyak kasus kita sudah mencoba untuk memilih tetapi tidak menemukannya karena kekosongan perbendaharaan. Di sinilah kebenaran firman Tuhan tergenapi, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Inilah solusi untuk mengatasi minimnya perbendaharaan pilihan dalam ruang kosong tadi. Kita harus selalu bersahabat dengan kebenaran firman Tuhan agar ada alternatif-alternatif pilihan yang benar. Kita sering memilih untuk tidak mengisi diri kita sehingga pilihan yang muncul hanya itu-itu saja. Sebagai orang percaya maka seharusnyalah sumber pilihan kita adalah kebenaran firman Tuhan.


Kita sudah tahu banyak, tetapi kenapa kita belum melakukan? Apa masalahnya? Ingatlah, dalam Yoh 15:5b dikatakan, “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Selalu berada dalam pokok anggur yang benar adalah situasi yang selalu memampukan kita untuk memimpin diri kita dengan benar, untuk memiliki kemampuan kepemimpinan pribadi.


Ada banyak situasi yang bisa kita lihat untuk mengukur kepemimpinan pribadi kita.
Ada sebuah situasi di mana hari itu hujan turun dan menyebabkan kita terlambat ke kantor. Lalu kita menjadikan hujan itu alasan keterlambatan kita padahal kita mengetahui bahwa kita sebenarnya bisa tidak terlambat walau hujan datang. Fakktor-faktor fisik kita jadikan alasan untuk tidak mengerjakan tanggungjawab. Bermacam-macam alasan yang kita keluarkan yang kedengarannya logis sekali. Tetapi kita tahu itu bukan permasalahan sebenarnya. Kita tidak sedang mengatakan bahwa hujan itu tidak berpengaruh. Pasti berpengaruh. Tetapi kita menjadikan hal itu sebagai temeng untuk pembelaan diri, padahal kita sebenarnya bisa mengatasi hal itu dan tidak terlambat. Pilihan seperti ini menunjukkan bahwa tingkat kepemimpinan pribadi kita masuh rendah. 

Kita sangat dipengaruhi lingkungan sosial. Kita sangat dipengaruhi oleh apa yang dikatakan orang lain atau bagaimana orang memperlakukan kita. Jika kita disanjung, dihargai, dipuji, atau diharapkan maka semangat kita begitu melonjak. Tetapi ketika kita disalah mengerti, diremehkan, pekerjaan kita tidak dianggap, maka kita berkecil hati dan merasa kecewa bahkan semangat kita bisa mundur bahkan kita akhirnya memilih untuk mundur. Ketika kita memilih hal ini, ingatlah bahwa yang menjadi pengendali kita adalah sikap atau perilaku orang lain, bukan diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang bersikap terhadap kita. ketika kita memilih hal ini berarti tingkat kepemimpinan pribadi kita juga masih rendah

Kita selalu berfokus pada kelemahan orang lain. Artinya kelemahan orang lain itu kita jadikan alasan untuk tidak melakukan tanggungjawab kita. Jika kita melihat kisah mengenai talenta yang diberikan kepada tiga hamba (Mat 25:15-28) kita bisa menemukan kasus seperti ini. Alasan hamba yang diberi satu talenta tidak mengusahakan talenta yang diberikan kepadanya adlah karena dia mengetahui siapa tuannya, yang dikatakan adalah kejam. Jika hambat ini mengetahui, tentu saja kedua hamba yang lain juga mengetahui hal ini. Tetapi pengetahuan mereka akan kelemahan tuannya tidak membuat mereka mengabaikan tanggungjawab mereka. Seberapa sering dan banyak kita menggunakan kelemahan orang lain sebagai lasan kita tidak mengerjakan tanggung jawab kita (misalnya boss yang otoriter atau rekan sekerja yang tidak koperatif, dll)? Ketika kita bergantung kepada kelemahan orang lain maka kita sedang memberi kekuatan kepada kelemahan orang lain itu untuk mengendalikan diri kita.
Ketika dihadapkan pada kelemahan orang lain atau hal-hal sosial yang tidak mendukung maka yang kita harapkan bahwa yang berubah adalah hal-hal yang lain itu, bukan kita. Ketika kita selalu berharap agar kita optimal maka semua yang di luar sana itu harus berubah itu artinya kita melepaskan tanggungjawab. Hal ini juga menunjukkan kepemimpinan pribadi kita masih rendah.

Sering sekali bahasa yang kita gunakan selalu membebaskan kita dari tanggungjawab. ‘Memang saya seperti itu’ atau ‘Memang itulah saya’ atau ‘Itulah karakterku, kan aku orang Batak’ atau ‘Aku tidak bertanggung jawab karena sudah kukatakan aku seperti itu’ adalah contoh-contoh bahasa yang sering kita gunakan untuk melepaskan tanggungjawab kita. Ketika kita biasa menggunakan bahasa-bahasa yang suka mengalihkan tanggungjawab dari diri kita, maka kita harus lebih lagi berjuang untuk memimpin diri kita sendiri. Simson atau Yusuf untuk memilih respon mereka dan tidak ada sama sekali omelan dari diri mereka walaupun konsekuensi dari pilihan mereka adalah sesuatu yang tragis. Mereka tidak melepaskan tanggung jawab mereka.

Suka berbohong atau mengaburkan. Kalau berbohong kita mungkin tidak lagi. Definisi berbohong itu tidak sebatas mengatakan ya pada yang tidak atau mengatakan tidak pada yang ya. Mengaburkan juga adalah kategori berbohong. Benarnya ada hujan tetapi sebentar, tetapi hal itu kita jadikan alasan karena keterlambatan kita, padahal alasan sebenarnya adalah karena telat bangun. Ketika kita suka mengaburkan agar kelihatan logis dan mudah diterima maka kita terjebak dalam kebohongan. Hal ini juga menunjukkan bahwa tingkat kepemimpinan pribadi yang rendah.

Banyak aspek dari kepemimpinan pribadi, tetapi kita hanya fokus kepada dasarnya agar kita sungguh-sungguh menyadari bahwa apapun yang kita lakukan hal tersebut kita pilih untuk kita lakukan, tidak ada paksaan untuk melakukannya. Karena kita menyadari bahwa hal itu kupilih untuk melakukan maka tanggungjawabnya juga ada padaku. Jika di antara pilihan tidak ada satupun yang menjadi pilihan yang benar maka kita perlu mengubah perbendaharaan pilihan dengan firman Tuhan. Jika pilihan yang benar ada tetapi kita tidak mampu melakukannya, ingatlah ‘di luar Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa’. Mari fokus dan harus terus-menerus bergantung kepada Dia yang memberi kekuatan kepada kita. Ingat, jika kita sakit hati itu terjadi karena kita memilih untuk sakit hati dan kita melakukannya tanpa paksaan. Tidak ada satu orangpun yang bisa memaksa kita untuk melakukan sesuatu karena kita bebas untuk memilih respon kita. Inilah kepemimpinan pribadi – ketika aku melakukan sesuatu itu terjadi karena aku memilih untuk melakukan sesuatu itu.


Solideo Gloria!

Jumat, 27 Januari 2017

Tanggung Jawab


Oleh Ir. Simon Dertha MT, AU (dalam Pelayanan, Pekerjaan, dan Keluarga)


Hari ini kita akan memasuki seri kedua mengenai leadership dan kali ini kita akan berbicara mengenai tanggung jawab (Pelayanan, Pekerjaan, dan Keluarga). Tanggung jawab berarti ada satu tugas atau panggilan yang merupakan kewajiban yang harus kita kerjakan. Berbicara soal area pekerjaan, pelayanan, dan keluarga, maka langkah pertama yang harus kita pahami dan yakini adalah apa yang dikatakan firman Tuhan kepada kita tentang ketiga hal ini? Sebagai orang yang percaya kepada Kristus seharusnyalah seluruh kebenaran dan perintah ataupun kehendak Allah yang dinyatakan dalam firmanNya tentulah adalah hal yang harus kita kerjakan.

Ada tiga panggilan bagi orang yang percaya. Panggilan yang pertamaadalah panggilan untuk melayani. Dalam Ef 2:10 dikatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Mari melihat kepada frase ‘yang persiapkan Allah sebelumnya’. Ketika saya merenungkan bagian ini, saya menyadari dan diingatkan kembali bahwa ketika Tuhan menciptakan saya kembali menjadi ciptaan baru adalah untuk melakukan pekerjaan baik yang sebelumnya telah dipersiapkan Allah. Artinya adalah bahwa sebelum kita diselamatkan oleh darah Kristus, Allah telah memilih dan mempersiapkan bagi kita suatu pekerjaan atau tanggungjawab. Ketika kita belum dilahirkan kembali kita tidak bisa melihat apa pekerjaan yang tekah dipersiapkan oleh Tuhan, bahkan mungkin kita menolak terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang telah dipersiapkan oleh Allah. Kita diselamatkan bukan untuk menjadi bebas tanpa tujuan atau bebas untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kehendak kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan oleh Allah sebelumnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.

Dalam 1Pet 2:9 dikatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Secara pribadi saya selalu dikuatkan ketika membaca ayat ini. Ayat ini mengingatkan saya bahwa Allah menciptakan saya untuk melakukan pekerjaanNya yang besar. Oleh karena itu ketika kita sebagai alumni yang sudah mengaku percaya kepada Yesus, tetapi tidak memiliki pemikiran bahwa Allah memiliki rencana yang besar dalam hidup kita, berarti kita telah salah memahami panggilan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita dipanggil oleh Allah dalam suatu rencana yang besar untuk menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib. Tuhan tidak memanggil kita untuk bertanggungjawab terhadap pekerjaan-pekerjaan yang kecil. Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa saya di jurusan Teknik Sipil demikian, “Jika engkau menjadi sarjana tekni sipil hanya untuk mengawasi pekerjaan-pekerjaan kecil itu bukan maksud dari Allah dalam hidup mu.” Saya yakin Allah memilih saudara dan saya bukan untuk melakukan hal-hal yang kecil. Tanggungjawab pelayanan adalah tanggungjawab yang besar yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Allah yang besar tidak mungkin memberikan pekerjaan yang kecil. Apapun yang dipikirkan dan dipersiapkan Allah bagi kita adalah hal-hal yang besar. Itulah sebabnya dalam setiap pekerjaan kita harus bertanya kepada Tuhan apakah yang sedang kita kerjakan adalah bagian yang sesungguhnya yang Tuhan panggil untuk kita kerjakan. 

Dalam keletihan dalam dunia pekerjaan saya selalu dikuatkan melalui 1Pet 2:9 tadi. Saya mengganti beberapa kata dengan profesi saya. “Tetapi kamulah engineer yang terpilih, imamat yang rajani, engineer yang kudus, engineer kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Memahami hal ini membuat saya menyadari bahwa saya adalah seorang Teknil Sipil yang tidak biasa dan ahli kontruksi yang tidak sembarangan karena saya dipilih oleh Alah untuk pekerjaan Tuhan untuk menceritakan perbuatan Tuhan yang besar melalui kompetensi yang saya miliki. Oleh sebab itulah saya memahami mengapa jumlah tidak selalu menentukan kekuatan atau kedasyatan. Alkitab mencatat bahwa pribadi-pribadi yang menyadari bahwa mereka dipanggil oleh Allah untuk pekerjaan yang besar untuk muncul ke permukaan menjadi tokoh-tokoh besar.

Tanggungjawab pelayanan yang diberikan Allah kepada kita adalah tanggungjawab yang besar. Jika firman Tuhan sudah memanggil kita untuk masuk dalam pelayanan dan mengerjakan pekerjaan Tuhan yang luar biasa itu, maka disitulah lahir satu tanggung jawab. Pertanyaannya adalah apakah kita mau merespon tanggungjawab yang diberikan oleh Allah? Bagaimana cara kita merespon tanggungjawab tersebut?

Panggilan kedua adalah panggilan untuk bekerja. Terkadang kita tanpa sadar bekerja sepanjang hari dan kita merasa ketika selesai bekerja beban kita lepas dan kita menjadi orang yang bahagia. Bagi kebanyakan orang bekerja merupakan penderitaan yang menyaitkan sehingga setiap hari tidak sabar menantikan jam untuk pulang dari tempat pekerjaan. Ini adalah pandangan yang salah karena dalam perspektif Alkitab pekerjaan tidaklah demikian. Pekerjaan itu harus membawa kebahagiaan bagi orang percaya. Jika dalam satu kantor orang percaya pun mempunyai raut wajah yang lesu dan tidak bersemangat dan tidak memiliki kekuatan untuk menunjukkan bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang baik, bagaimana dengan mereka yang belum percaya? Tanpa kita sadari kita sering mengeluh tentang pekerjaan kita, tentang boss kita atau tentang hal yang lain. Hampir sebagian besar kegiatan kantor diwarnai dengan keluhan-keluhan, baik dalam hati maupun yang tampak. Hal ini bukanlah sesuatu yang baik. 

Dalam Kej 1:28 dikatakan, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Kata ‘taklukkan’ berarti harus ada kemampuan, kompetensi, keahlian, atau inovasi untuk mampu menaklukkan dan menguasai sesuatu. Dan tentu saja hal ini bukalah sesuatu yang gampang untuk dilakukan. Saya memahami dan percaya bahwa Allah juga memanggil kita melalui profesi kita. Kita harus bertanggung jawab untuk menaklukkan dan mengusai ciptaan yang telah dipercayakan oleh Allah kepada kita. Dan untuk melakukan hal itu kita harus memiliki kompetensi. Itulah sebabnya jangan bermain-main ketika kuliah karena itu adalah masa belajar. Tanggungjawab kita adalah bekerja (lihat Kej 2:15).

Dalam 1Tim 5:8 dikatakan, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Bekerja dalam perspektif Alkitab bukan sekedar membuat kita memiliki penghasilan yang lebih besar, meningkatkan taraf hidup atau mengembangkan diri. Tetapi ada tanggung jawab di mana pekerjaan membuat kita mampu menolong keluarga kita atau orang lain yang tidak mampu melakukan seperti yang kita lakukan. Hal inilah yang sering diabaikan orang percaya. Sering sekali karena terlalu fokusnya terhadap pekerjaan orang percaya mengabaikan hal ini dan selalu fokus kepada diri sendiri. Kita bekerja untuk bisa memberi kepada saudara-saudara kita. Kita bekerja untuk bisa membantu kesejahteraan keluarga kita. Bekerja itu adalah tanggungjawab dari Tuhan bukan pilihan. Dalam Pengkotbah 3:22 dikatakan, “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?” Bekerja dalam persepketif yang diinginkan oleh Allah adalah menghasilkan pekerja-pekerja yang bahagia yang wajahnya memancarkan sukacita. Pekerja yang ketika menghadapi tantangan tidak putus asa tetapi memberikan harapan-harapan bagi teamwork atau siapa saja yang ada di sekelilingnya. Ketika firman Tuhan mengatakan hal ini dan kita melakukannya dengan ketaatan dalam hidup kita, maka saya berkeyakinan dampaknya akan luar biasa. Apapun yang dikatakan Tuhan tentang pekerjaan, ketika saya taat kepadanya dan melakukan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan caraNya, maka dampaknya akan besar. Yang memberikan dampak adalah Tuhan, bukan kita. Bagian kita adalah melakukan pekerjaan ini dan mempersiapkan diri dengan benar dan yang memberikan efeknya adalah Allah. Itulah sebabnya saya tidak pernah merasa pekerjaan saya terlalu kecil atau terlalu besar. Walaupun sepertinya tidak memberikan dampak dalam jangka pendek saya percaya itu adalah benih-benih yang ditanam yang pada saatnya akan dibuat Tuhan berbuah.

Panggilan yang ketiga panggilan untuk membentuk keluarga. Jika kita membaca Kej 1:28 dan Kej 2:24 kita melihat bahwa Allah juga memanggil kita untuk membentuk keluarga. Sebuah keluarga yang kudus dan erat yang tidak gampang digoyahkan atau dipecahkan. Keluarga yang di dalamnya dilakukan hal-hal yang kekal, kokoh, independen dan penuh dengan tanggung jawab di mana agar melalui keluarga ini nama Tuhan dipermuliakan dan dikasihi dengan segenap hati dan jiwa kita.

Melalui keluarga juga Tuhan ingin mendapatkan gambaran bahwa semua karakter-karakter yang diinginkan Allah tergambar dengan baik melalui keluarga. Melalui keluarga Tuhan menginginkan manusia mendidik anak-anak agar mereka kelak menjadi generasi yang akan dipakai Tuhan untuk kemuliaan bagi nama Tuhan (lih. Ulangan 11:19). 

Jadi sebagai alumni yang sudah menyerahkan hidup kepada Kristus, ada tiga tanggung jawab kita, yaitu: melayani Allah, melakukan pekerjaan, dan membentuk keluarga.

Selain melakukannya kita juga harus menjalankan ketiga area ini dengan baik. Ada tiga pribadi penting yang bisa membuat tanggungjawab ini berjalan dengan baik, yaitu: Allah, suami, dan isteri. Tiga pribadi ini adalah pribadi penting untuk berbicara soal bagaimana nanti keluarga melakukan pelayanan, pekerjaan, dan pelayanan terhadap keluarganya sendiri. Jika tiga pribadi itu sudah memiliki relasi yang baik maka semua tanggungjawab-tanggungjawab tadi, termasuk keseimbangan yang diharapkan di dalam tiga panggilan tadi mnjadi sesuatu yang lebih mudah dikerjakan. Dalam tiga pribadi itu kita harus menyadari bahwa Allahlah pribadi yang terutama. Semua yang menjadi dasarnya adalah keinginan dan kehendak Alah. Kalau seorang isteri sudah meyakini bahwa menjadikan kehendak Allah adalah yang terutama, dan demikian juga dengan suami, maka semua pekerjaan, pelayanan, dan keluarga akan lebih gampang untuk dikerjakan. Keluarga kita akan menjadi keluarga yang kuat apabila suami dan isteri dan Allah ada dalam relasi yang baik.

Persoalan selalu muncul jika relasi suami, isteri dan Tuhan tidak dalam kondisi yang baik. Pergumulan yang sering terjadi adalah bagaimana agar pasangan suami isteri tidak bertengkar. Focus mereka adalah bagaimana agar masing-masing saling memahami. Dan karena terlalu focus pada hal-hal ini mereka melupakan pelayanan mereka. Jika hal ini terjadi, pernikahan adalah sesuatu yang menyedihkan. Tuhan tidak menciptakan pernikahan menjadi sesuatu yang menyedihkan karena pernikahan adalah inisiatif Tuhan. bagaimana agar pernikahan itu berjalan sesuai dengan kehendak Allah adalah ketika tiga pribadi tadi – suami, isteri, dan Allah – ada dalam relasi yang baik. Itulah sebabnya sangat penting sekali mencari pasangan hidup yang sepadan dan mencintai Tuhan. Pasangan yang seimbang akan menolong dan mengoptimalkan semua tanggung jawab baik dalam pekerjaan pelayanan atau dalam keluarga sendiri.

Mencari pasangan yang seimbang adalah sesuatu yang sangat penting. Hal ini tidak bisa dikompromikan. Adalah sesuatu yang sangat berbahaya jika kita lentur dalam hal-hal ini (Dan sangat disayangkan banyak anak-anak Tuhan lentur dalam hal ini). Jika kita memang merindukan keluarga yang di dalamnya kita menikmati damai dan sukacita maka ini adalah syarat yang penting, yaitu mencintai Tuhan. Relasi dengan pasangan terjadi pasti akan memengaruhi pelayanan. Relasi Allah terhadap suami yang baik dan relasi Allah dengan Isteri yang juga baik akan menghasilkan realsi suami isteri yang baik juga.

Yang paling penting adalah bagimana ketika hal ini sudah tercapai, bagaimana kita menempatkan diri. Mari kembali melihat area pekerjaan. Ingat, bekerja adalah bagaimana membuat susuatu yang tidak teratur menjadi teratur, yang kosong menjadi indah. Ini yang dilakukan Allah ketika bekerja. Oleh karena itu ketika kita sudah tahu tanggung jawab kita bahwa kita harus bekerja maka kita harus harus hadir dalam dunia kerja untuk mendatangkan kebaikan. Kehadiran kita dalam dunia kerja membuat situasi yang begitu rumit menjadi lebih baik. Penting sekali kita menyadari bahwa kehadiran kita dalam profesi bukan sekedar menghasilkan uang atau mengembangkan diri, tetapi membawa perubahan ke arah yang lebih baik atau membawa shalom dan sukacita. Pekerjaan bukan sekedar rutinitas tetapi ada target seperti yang Allah inginkan dalam hidup kita. Jadi mari kita mempersiapkan diri. 

Sering dalam dunia kerja kita menemukan ada alumni yang satu dua minggu kerja sudah frustrasi dan minta keluar dan mencari pekerjaan lain dengan berbagai alasan. Ingat kita dipanggil untuk bekerja dan oleh sebab itu kita harus memberikan yang terbaik untuk pekerjaan itu. Bekerja dengan baik dan memberikan dampak sangat erat hubungannya dengan kompetensi yang anda miliki. Saya percaya, ketika kita bekerja dalam satu perusahaan dan kita meyakini itu adalah yang Tuhan inginkan pasti ada dampak di perusahaan tersebut. Pasti ada sesuatu yang akan terjadi dalam pekerjaan tersebut yang bisa memengaruhi perusaahaan atau teman-teman kerja kita. Ketika kita menyadari bahwa ketika Allah memberikan pekerjaan kepada kita kita menyadari bahwa ada misi Tuhan di situ. Jadi, kita tidak perlu takut untuk mengatakan tidak terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Kita tidak boleh ikut dengan system yang salah. Benar, ini adalah sebuah pergumulan. Tetapi ini adalah panggilan bagi kita untuk berkarya bagiNya dan menyatalan shalomNya. Sesuatu yang sangat menyedihkan kalau kita berkata bahwa kita tidak melakukan apa-apa karena sistem sudah seperti itu. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melakukannya? Sebagai alumni Kristen kita harus menyadari bahwa panggilan dalam dunia kerja harus menyadarkan kita bahwa kita dipilih untuk pekerjaan di mana orang lain tidak bisa lakukan. Inilah panggilan kita pada jaman ini dalam dunia kerja. Menjadi seorang pemimpin yang mampu membawa tim kerja ke arah yang lebih baik. 

Bagaimana dalam pelayanan? Ketika saya menyadari bahwa pelayanan itu adalah hal yang penting maka di tengah berbagai kesibukan apapun pelayanan itu harus tetap dikerjakan (apakah di ikatan alumni atau gereja). Sangat penting kita menjadi pemimpin dalam pelayanan. Salah satu bidang pelayanan yang membutuhkan alumni adalah gereja. Mari menolong gereja agar senantiasa hidup dalam firman Tuhan dan menjadi gereja yang memberitakan Injil Kerajaan Allah. Ini adalah saatnya bagi kita untuk memberikan hidup kita bagi pelayanan di gereja agar gereja tersebut dapat menjadi berkat bagi sesama. Sangat menyedihkan jika banyak alumni yang tidak mau kembali untuk membangun gereja atau ke gereja hanya mencari nama. Mari masuk ke dalam struktur dalam kepengurusan gereja (menjadi sintua atau diaken) sehinga kita bisa memengaruhi setiap kebijakan dalam gereja itu. Inilah tanggungjawab kita. Mungkin di awal apa yang kita kerjakan sepertinya tidak berguna, tapi jika yang kita kerjakan adalah kehendak Tuhan maka apa yang kita lakukan tidak akan sia-sia. Saya tidak tahu kita pelayanan dimana. Tetapi sebagai alumni Kristen kita harus terlibat dalam pelayanan.

Hal yang perlu kita perhatikan berikutnya adalah keseimbangan. Hal ini bukan masalah berapa jam waktu pelayan, bekerja, atau keluarga. Tetapi pentingnya suami isteri tadi mendiskusikan dan menetapkan target-target apa yang harus dilakukan. Ingat, tadi ada segitiga antara suami, isteri, dan Allah, maka keputusan-keputusan yang penting bukanlah menjadi pergumulan yang terlalu sulit. Persoalan yang mungkin terjadi adalah hal-hal yang tidak prinsipil, seperti lupa menelepon dan sebagainya. Tetapi memutuskan pekerjaan apa atau pelayanan apa tidak menjadi keputusan yang sulit jika relasi dalam segitiga tadi berjalan dengan baik. Mari mencari pasangan yang sepadan maka wilayah perdebatan itu akan berbeda. Kita tidak akan berdebat kenapa kita melayani di sini atau di sana, mengapa bekerja di sini atau di sana. Kalaupun ada diskusi atau perdebatan adalah dalam hal-hal yang tidak prinsipil. 

Kita harus aktif dalam tiga area ini karena kita menyadari tiga area ini adalah panggilan kita. Kita harus menyadari bahwa pelayanan, pekerjaan, dan keluarga adalah tugas yang diberikan Allah kepada kita.


Solideo Gloria!

Rabu, 18 Januari 2017

Walk by Faith (YOSUA 3)

Oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M.Th


Hari ini kita akan belajar mengenai melangkah dengan iman dari kehidupan Yosua dan bangsa Israel dalam Yosua pasal 3. Dalam Yosua pasal 3 kita menemukan sebuah kisah di mana bangsa Israel telah sampai di tepi sungai Yordan (bangsa Israel berangkat dari Sitim). Mereka bermalam di sana selama tiga hari. Kemudian Tuhan memerintahkan mereka melangkah – menyeberangi sungai Yordan dan masuk ke tanah Perjanjian. Perlu kita ketahui bahwa sungai Yordan itu lebar dan dalam dan mereka harus melangkah untuk meyeberanginya agar tiba di tanah perjanjian. Di sisi yang lain, mereka juga harus berhadapan dengan musuh (ay 10). Dalam narasi ini kita melihat ada pembuktian bagi Yosua bahwa Allah menyertai dia sama seperti Allah menyertai Musa dalam memimpin Israel (ay 7).

Setelah tiga malam Tuhan berbicara kepada Yosua agar menyuruh para Lewi mengangkat Tabut Perjanjian di depan dengan jarak 200 meter dan bangsa Israel melangkah di belakangnya. Kemudian ada perintah kepada para Lewi (ay 6) dan pada ay 7 kita melihat Allah meneguhkan kembali panggilan kepada Yosua. Ay 8, berbicara soal Tuhan berfirman melalui yosua; ay 10 kita melihat bagaimana musuh dihalau; ay 11-12, diangkat 12 orang yang merupakan perwakilan masing-masing suku menjadi pemimpin di depan; ay 13-17 kita melihat bagaimana ada mujizat Allah dan mereka bisa menyeberang sungai Yordan dan masuk ke tanah Kanaan. Inilah narasi dari Yosua 3.

Dari narasi ini kita belajar beberapa hal.
Pertama, setelah bangsa Israel bermalam tiga hari di sungai Yordan setelah perjalanan dari Sitim, Tuhan memerintahkan kepada Yosua bahwa mereka akan berangkat memasuki tanah Kanaan dengan menyeberangi Sungai Yordan. Allah, melalui kehadiran Tabut Perjanjian, akan berjalan di depan dan bangsa Israel melangkah di belakang mengikuti. Apa yang bisa kita lihat di sini? Allah ingin mengajarkan kepada bangsa Israel sebuah bukti dan tanda kehadiran Allah. 

Jika kita melihat situasinya, ini adalah situasi yang mustahil sebenarnya terjadi. Mengapa? Sungai yang akan dilalui itu lebar dan dalam. Tetapi Tuhan memerintahkan mereka untuk menyeberanginya. Bagaimana caranya? Tidak ada perahu atau jembatan atau alat bantu lainnya. Bangsa Israel bisa saja protes kepada Yosua dan mempertanyakan maksud dari perintah ini. Apakah Yosua sedang berusaha untuk membunuh mereka semua dengan perintah tersebut? Siapapun yang mendegarkan perintah itu akan bertanya-tanya dan ketakutan.

Tetapi dalam kondisi seperti itu Tuhan mengatakan kepada Yosua untuk membiarkan Tabut itu ada di sebelah depan. Melalui perintah ini Tuhan mengatakan bahwa Ia akan berjalan di depan dan kepada bangsa Israel dipersilahkan untuk mengikuti di belakang. Allah tidak sekedar memberikan perintah kepada bangsa Israel untuk menyeberan, tetapi Ia sendiri akan berjalan di depan mereka dan bangsa Israel akan mengikuti dari belakang. Belajar dari hal ini, bagaimana kita bisa melangkah dengan iman? Caranya adalah dengan mengizinkan Allah melangkah mendahului kita dan kita kemudian mengikuti Allah melangkah di belakang di dalam hidup kita.

Situasi yang sama bisa terjadi dalam hidup kita untuk menyeberangi tahun 2015 ini. Apa yang kita lihat sepanjang tahun 2015 ini? Apakah kita melihatnya seperti bangsa Israel melihat sungai Yordan yang lebar dan dalam tetapi harus diseberangi? Mari belajar dari bangsa Israel dengan mengizinkan Tuhan melangkah mendahului mereka dan mereka berjalan mengikuti Allah. Sebagai alumni perlu bagi kita untuk melangkah bersama dengan Tuhan dengan iman dengan pemahaman bahwa Allah melangkah mendahului kita. Dia akan menuntun dan mengarahkan kita. Dialah Allah yang di dalam Yesus Kristus menjadi Gembala Agung kita di sepanjang hidup kita.

Betapa sangat ruginya jika kita menghabiskan seluruh hidup kita untuk hidup dalam kekuatiran atau ketakutan tetapi kita tetap melaluinya. Akan lebih menyenangkan jika kita menyadari bahwa Allah menuntun kita dan menjalani hidup kita dengan sukacita. Karena itu melangkah dengan iman dalam hidup kita adalah karena kita mengizinkan Allah melangkah di depan kita dan kita melangkah mengikutiNya.

Dalam ay 4 dikatakan, “hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya -- maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu." Mengapa perintah ni dilakukan? Mereka belum tahu jalan ke Kanaan dan mereka tidak bisa menyeberangi sungai Yordan dan tidak tahu apa yang harus mereka lalui. Dalam ay 4b dikatakan, “..maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu”. Mengapa kita berani melangkah dengan iman dalam menjalani hari-hari kita – belajar dari bangsa Israel – adalah karena Allah yang berjalan di depan kita adalah Allah yang menuntun kita dan mengarahkan jalan yang harus kita lalui. Inilah sukacita orang beriman bahwa kita melangkah bukan tanpa arah atau acuan tetapi Allah menuntun kita menempuh setiap jalan kita. Meskipun tuntunan Tuhan kepada kita bukan sekaligus. Jadi kita harus berserah dan bergantung penuh kepada Allah ketika kita melangkah dengan iman.

Kedua, dalam ay 5 dikatakan, “Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu." Sebelum Allah berkarya, sebelum sungai Yordan terbelah dan umat Allah bisa lewat, Tuhan berkata kepada Yosua agar umat Allah menguduskan diri mereka baru Allah menyatakan kuasaNya. Melangkah dnegan iman itu pasti berjalan bergandengan dengan hidup yang kudus. Allah menyatakan pertolongan dan kuasaNya ketika umatNya hidup dalam kesucian, bertobat dari dosa, dan menjaga diri tidak cemar dari dosa dan kejahatan. Salah satu syarat mutlak untuk melangkan dengan iman adalah harus berjalan beriringan dengan kesucian hidup. Tidak akan ada tuntunan Allah tanpa kekudusan. Jangankan melihat Allah, tuntunanNya juga tidak kita rasalan tanpa kita hidup dalam kekudusan. Oleh sebab itu mari mengawali tahun 2015 ini dengan menjaga kekudusan hidup agar Allah bisa menyatakan kuasaNya dalam hidup kita.

Bagaimana mungkin Allah melakukan perkara besar dan karya yang agung dalam hidup atau melalui hidup kita jika kita tidak mentahirkan hidup kita dari segala kenajisan? Itulah sebabnya Allah memerintahkan pengudusan diri bagi bangsa Israel. Ketika kita berani berkata melangkah dengan iman, satu hal yang perlu kita miliki adalah bahwa kita harus melangkah hidup dalam kekudusan. Apa yang menjadi kebiasaan buruk kita di tahun 2014? Apakah tidak melayani? KTB tidak teratur? Tidak menjaga integritas? Mari meninggalkan semuanya dan melangkah dalam kekudusan di tahun 2015 ini. 

Ketiga, jika kita perhatikan ay 7-8 dikatakan, “7 Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. 8 Maka kauperintahkanlah kepada para imam pengangkat tabut perjanjian itu, demikian: Setelah kamu sampai ke tepi air sungai Yordan, haruslah kamu tetap berdiri di sungai Yordan itu." Ada peneguhan kepada Yosua sebagai pemimpin bangsa Israel yang menggantikan Musa. Dalam bagian ini, selain kita perlu hidup di dalam kekudusan, bagi Yosua secara khusus, perlu diteguhkan kembali panggilannya. Kadang-kadang kita perlu peneguhan kembali agar kita yakin apa yang menjadi panggilan bagi kita. Ketika kita menjalani awal tahun 2015 ini kita butuh peneguhan-peneguhan tiap hari dari firman Tuhan, apa yang kita kerjakan, apa sejatinya yang harus kita targetkan selesai untuk dilakukan tahun 2015 ini.

Keempat, dalam ay 10 kita melihat bagaimana Tuhan yang menyertai bangsa Israel. Selain membuka jalan, Ia juga Tuhan yang berjuang atau berperang melawan musuh-musuh umatNya. Allah itu tidak hanya melangkah, tetapi semua musuh-musuh bangsa Israel disingkirkan oleh Allah sehingga mereka berjalan dengan mulus. Melangkah dengan iman berarti ada keyakinan bahwa Allah berperang bagi kita melawan rintangan dan musuh-musuh kita. Bisa jadi kita bertemu dengan banyak orang yang menjadi ‘musuh’ kita di tempat kerja kita. Apakah kita yakin bahwa Allah turut berperang bersama dengan kita?

Akan ada banyak persoalan dan tantangan di sepanjang tahun 2015 ini. Tetapi melangkah dengan iman membuat kita yakin bahwa Allah berperang di depan kita. Mari menikmati tahun 2015 karena Allah ikut berperang melawan musuh kita (band. Rom 8:31). Melangkah dengan iman artinya Allah hadir bersama kita dan menyertai kita. Oleh sebab itu semua ketakutan, kekuatiran maupun kecemasan sejatinya dibuang dari diri kita. Inilah orang yang melangkah dengan iman. Mari menjalani hidup ini dimana ada Allah Bapa yang menyertai hidup kita karena itu teduh dan tenanglah kita melangkah dengan dalam hidup ini.

Kelima, dalam ay 14-17 kita melihat bahwa Yosua taat kepada perintah Allah. Ketika Tuhan memerintahkan, Yosua melangkah dengan iman dan kemudian terjadi mujizat yang luar biasa. Kenapa kita melangkah dengan iman dalam hidup kita adalah karena Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang mampu menyatakan kuasa menolong kita dan memberikan kemenangan. Yakinilah bahwa Allah mampu melakukan perkara besar dalam hidup kita.

Apa yang sepertinya menjadi “Sungai Yordan” dalam hidup kita yang harus dan wajib kita seberangi padahal itu mustahil? Apakah mengenai pekerjaan atau pasangan hidup atau keluarga? Mari meyakini bahwa Allah mampu melakukan perkara yang besar dalam dan melalaui hidup kita. Apa yang menghentak kita yang membuat kita tidak berani melangkah? Melangkah dengan iman berarti menyadari bahwa Tuhan setia dan akan menggenapi apa yang Dia janjikan dan Tuhan berkuasa memberikan kemenangan. Inilah yang dialami oleh bangsa Israel dan Yosua.

Kalau bukan kuasa Tuhan dengan mujizat tidak mungkin bagsa Israel menyeberangi sungai Yordan. Apa yang terlalu besar yang tidak bisa dikerjakan Allah bagi kita tahun ini? Mari mengingat pergumulan, persoalan, atau kesulitan terbesar tahun ini. Kiranya keyakinan bahwa kita melangkah dengan iman memberikan kepada kita keberanian dan meneguhkan kita bahwa kita berjalan bersama dengan Tuhan. 


Solideo Gloria!

Sabtu, 07 Januari 2017

New Day Has Come

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, M.Th


Matius 4:1-25

Setelah dibaptis oleh Yohanes Pembabtis, Yesus berpuasa selama 40 hari dan kemudian mengalami pencobaan di padang gurun. Pencobaan dengan ujian tentulah merupakan hal yang berbeda. Pencobaan bertujuan untuk menghancurkan, membuat orang jatuh ke dalam dosa sedangkan ujian merupakan kesempatan untuk mengalahkan dosa , kesempatan untuk membuat diri menjadi ebih baik atau memurnikan diri di hadapan Allah. Dalam nats yang telah kita baca jelas bahwa Iblis ingin menjatuhkan Yesus dengan menawarkan 3 hal (Jasmani, kehormatan, dan keraguan akan kuasa Allah).

1. Kebutuhan jasmani (mengubah batu menjadi roti). Tentulah Yesus sangat membutuhkan makanan setelah berpuasa selama 40 hari, tentu Ia sangat lapar. Iblis memang selalu mencobai ketika kita sangat membutuhkan. Namun Yesus menoak dan berkata bahwa kepuasan bukan karna kebutuhan jasmani tercapai, tetapi kepuasan sejati adalah ketika kita mengalami ketaatan kepada Bapa. Sebagai alumni, kita diperhadapkan dengan materialisme (uang), kebutuhan fisik. Mari menyadari bahwa kepuasan sejati bukan terletak pada apa yang kita punya, atau pada setiap benda yang kita miliki, melainkan ketika kita mengalami ketaatan pada kehendak Allah.
Pada Injil Yohanes 4, ketika murid-murid menawarkan roti kepada Yesus maka kata Yesus kepada mereka: “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya”. Melakukan kehendak Bapa merupakan kebutuhan utama Yesus. 

2. Iblis membawa Yesus kebubungan Bait Allah. Bubungan Bait Allah adalah tempat para Imam meniup terompet sebagai sebuah pertanda, sebelum fajar menyingsing, bahwa waktu untuk memberikan kurban telah tiba dan sebagai peringatan untuk mengingatkan umat Allah untuk memberikan kurban. Letaknya sangat tinggi di Bait Allah. Iblis memerintahkan Yesus untuk menjatuhkan diriNya. Hal ini untuk menguji apakah Yesus mmiliki keyakinan bahwa Bapa setia kepadaNya dan akan mengutus Maikat-malaikat-Nya untuk menangkapNya. Hal ini jelas untuk menguji keyakinan Yesus kepada Bapa sebab sesungguhnya Yesus juga memiliki kuasa untuk tidak terjatuh sama sekali. Kita juga pasti pernah menghadapi hal yang sama. Kadang kita ragu akan kuasa Tuhan, ragu apakah Tuhan ada, ragu akan pertolonganNya. Itu juga merupakan tindakan sensasional untuk mencari pertolongan Allah. Perlu kita ingat bahwa tindakan sensasional tidak akan membawa orang pada Tuhan. Seperti dalam Uangan 6:16 ditulis “Janganlah kamu mencobai Tuhan,Allahmu..”. Padahal dalam keadaan apapun Tuhan pasti baik kepada kita. Dan Iblis tidak akan pernah diam. Ketika ia gagal, maka pasti akan dicoba agi, coba lagi,...

3. Dan ketika Iblis terus gagal, maka cara terakhir adalah mengajak kita untuk kompromi. Maka Iblis menawarkan kerajaan dunia pada Yesus. Namun Yesus memahami bahwa kompromi dengan dunia atau kompromi dengan yang jahat tidak akan pernah membawa pada kebenaran. Yesus dating ke dunia untuk membawa dunia kepada Allah. Maka Ia tahu bahwa ketika Ia kompromi dengan Iblis maka tentu misiNya akan gagal. Akhirnya Yesus mengusir Iblis tersebut. 
Yesus mendemonstrasikan ketaatanNya bukan saja sebagai seorang Anak (Matius 3:17) tapi juga sebagai seorang Hamba. Yesus mengasihi Bapa lebih dari segala sesuatu oleh sebab itu Ia mengekspresikan kemesiasanNya hanya jika Bapa berkehendak. Itu merupakan ukuran Murid Sejati.

NEW DAY HAS COME

New day has come in the life of Jesus. Setelah pembaptisanNya, Ia dicobai. Dan Ia menang atas pencobaan tersebut. Setelah itu Yesus memulai pelayananNya di dunia. Sebagai alumni, New Day Has Come berarti ada sebuah peluang baru untuk berkarya, memulai berkarya memberikan yang terbaik bagi Allah.
Pada ayat 12 Yesus menyingkir ke Galilea setelah mendengar Yohanes Pembaptis ditangkap oleh orang Yahudi. Pengalaman Yesus dengan Allah berlangsung saat sebeum pembabtisan, saat pembabtisan hingga kemenangan melewati pencobaan. Juga saat Yesus memulai peayanannya. Kemenangan bersama Allah membuat kita mengalami kehidupan yang ebih maju bersama Allah. Termasuk ketika kita mengalami kegagalan atau keemahan. Pengampunan Allah kiranya membuat kita kembali dapat mengalami kehidupan dan memulai pelayanan yang baru bersama Allah. Menang dari pergumulan bersama Allah dapat mendorong kita untuk lebih setia kepada Allah. Kuasa Allah dan kemenangan bersama Allah di tahun 2016 kiranya membuat kita lebih setiap di tahun 2017. 
Bagaimana dengan godaan material, jabatan atau penghargaan manusia dan keraguan akan Kuasa Allah di tahun 2016? Ketika kita gagal, kita telah mengalami pengampunan dari Allah. Jangan berhenti pada kegagalan tersebut, sebab Allah bukan meihat pada dalamnya kejatuhan kita. Melainkan seberapa perjuangan kita untuk bangkit dan lepas dari dosa tersebut. 

Pada nats selanjutnya Yesus pergi ke Kapernaum untuk memberitakan kerajaan Surga sudah dekat, memberitakan tentang pertobatan. Karena Yesus tau bahwa untuk itulah Dia diutus oleh Bapa ke dunia. Pertanyaannya bagi kita adalah’Untuk apa kita diutus oleh Allah ke dunia ini? Apa misi Allah bagi kita?’ Pemahaman akan hal tersebut dapat membuat kita menjalani dan memulai tahun 2017 ini dengan maksimal. Supaya kita tidak membuang-buang waktu, tenaga, pikiran,dan hidup kita percuma begitu saja. Dan ketika kita telah memahami maksud Allah membawa kita hingga tahun ini, kita menjadi fokus pada hal yang telah ditetapkanAllah tersebut. Seperti kata Yesus daam Injil Yohanes “Karena untuk itulah aku datang”. Dan itulah yang membuat Yesus taat bahkan taat sampai mati di kayu salib. Untuk apa kita hidup hari ini? Untuk apa kita diutus Tuhan hingga tahun2017? Supaya hidup kita maksimal dan efektif, tidak terbuang begitu saja. Yang akhirnya terkadang membuat kita hidup hanya untuk diri kita sendiri.

Bisakah saat ini kita berkata “memang untuk inilah aku hadir di dunia ini... Memang untuk iniah aku hadir di kantor ini... Memang untuk inilah aku hadir dipelayanan ini” atau ditempat manapun Tuhan teah menempatkan kita. Pemahaman tersebut juga membuat kita untuk taat pada Allah. Maka ‘New Day Has Come’ adalah peluang telah datang, kiranya kita juga paham untuk apa kita datang ke dunia, untuk apa kita jadi guru, untuk apa kita jadi marketing dsb..

Dan hal itu juga membuat kita paham apa visi Allah bagi kehidupan kita. Sebab hidup hanya sekali dan sangat singkat, maka sudah seharusnyalah hidup kita berarti. Pemahaman akan kehendak Allah bagi hidup kita menghindarkan kita untuk hidup hanya untuk diri sendiri. Menghindarkan kita dari sikap ‘meratapi nasib’, meratapi keadaan kita, meratapi status, dan semua tentang kita.

Saatnya berpikir untuk tidak hidup hanya untuk diri sendiri. Mari lebih banyak memikirkan pekerjaan Allah. Supaya tahun 2017 ini kita lebih banyak berkarya bagi Allah, memberi buah bagi pekerjaan Tuhan. Mari menata kembali, merencanakan kembali kehidupan kita di tahun ini. Sebab kita juga tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita dari dunia ini. Maka kita perlu berbuah, meninggalkan karya di bumi ini selama kita hidup. Seperti Paulus Dallam suratnya kejemaat di Filipi, bukan hanya mengikuti keinginannya untuk bersama-sama dengan Tuhan, melainkan lebih memilih yang berguna bagi orang lain. Maka Paulus bekerja untuk memberi buah dalam hidupnya. Dan kita juga diajak untuk mengerjakan hal yang sama.

Pada ayat 18, Yesus memanggil murid-muridNya yang pertama. Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Yesus membentuk sebuah tim kerja. New Day Has Come, berarti kita juga perlu mempersiapkan dengan siap kita akan bekerja? Dengan siapa kita akan melayani? Sebab kita tidak dapat single fighterdalam melayani dan mengerjakan misi Allah. Di yayasan, lembaga, atau gereja mana kita akan terlibat? Kiranya semua alumni terlibat dalam pelayanan. Semua aumni harus melayani dan tidak hidup hanya untuk diri sendiri.
Alumni harus menyediakan waktu untuk melayani dan juga harus memberi perpuluhan bagi pekerjaan Allah. Kepelayanan, anak-anak jalanan, orang-orang terlantar, atau ke gereja, tergantung kemana Tuhan menuntun kita.
Yesus melayani dari satu kota kekota yang lai, dari desa ke desa yang lain. Pelayanan yang mobile, tidak hanya ditunjukkan dari cara hidupNya sehari-hari. Maka pertanyaanya adalah ’Kemanakah Tuhan mengutusmu untuk melayani ditahun ini?’ 

Yesus juga meakukan pelayanan holistik sesuai dengan yang dibutuhkan lading pelayanan. Memberitakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit, mengajar, melepaskan yang tertindas dsb. ‘Maka apa jenis pelayanan yang Tuhan minta daripadamu?’. Sesuai talenta, karunia, profesi, waktu dan peluang yang ada pada kita.

Misi ada dua jenis. Terkadang misi menuntut kita untuk pergi (Go And Tell), namun terkadang juga tidak (Come And See). “Datang dan nikmatilah kerajaan Allah dalam hidup kami, nikmatilah teladan Allah dari cara hidup kami”. Dan ketika orang lain melihat hidup kita, membuat dia beriman kepada Allah. Mari terus berkarya bagi Allah. New Day Has Come. 






SOLIDEO GLORIA

Jumat, 07 Oktober 2016

SPIRITUAL CHECK- UP

Oleh : Dra. Kasihani Sinulingga



I. Dampak Spiritual yang Sehat

1. Bertumbuh dalam pengenalan kepada Tuhan. Nampak dalam kehidupan sehari-hari. Gal 5: 22-23, belajar untuk taat kepada Tuhan
2. Hidup yang berintegritas, tidak kompromi terhadap dosa (Daniel 1:8, 6:5-6; Yusuf kej 39: 6-9)
3. Memiliki sukacita dan semangat dalam menjalani hidup ( Ams 17:22)
4. Peka terhadap kehendak Tuhan, tetap melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dalam pekerjaan, pasangan hidup dan lain-lain
5. Mampu mengucap syukur dalam segala keadaan (1 Tes 5: 16-18)
6. Mampu bertahan ketika mengalami pencobaan. Spiritualitas yang baik menjadikan kita tidak gampang menyerah, karena Roh Kudus memakai Firman Tuhan untuk menguatkan (Ef 6:10-20)
7. Relasi dengan sesama baik, kita mampu mengasihi, mengampuni dan menghormati orang lain

II. Ciri Spiritualitas yang Tidak Sehat

1. Aktif secara rohani tapi mengabaikan semua bagian dalam hidup yang Allah yang ingin ubah
2. Sibuk bagi Allah tanpa kebersamaan dengan Allah. Luk 10:38-42
3. Susah mengucap syukur, banyak mengeluh.
4. Susah mengampuni: Ef 4:30-32, Luk 17:3-4
5. Mudah marah, tersinggung (sensitif).
6. Mulai kompromi terhadap dosa ( tidak berduka ketika jatuh dalam dosa).
7. Membangun mekanisme pertahanan diri (tidak ingin ditegur).
8. Tidak semangat melayani, bahkan meninggalkan pelayanan, persekutuan, semakin mencintai dunia ini (2 Tim 4:10,14)
9. Tidak mampu melihat kebaikan Tuhan, sehingga hidup menjadi pesimis


III. Yang menyebabkan Spiritualitas Mundur/tidak sehat

1- Terlalu sibuk, Bill Hayes: musuh terbesar kesejatian rohani adalah kesibukan, terlalu sibuk justru harus berdoa.
2- Masalah dan pergumulan; rasa kuatir terlalu besar, seolah-olah tidak sanggup menolong; menjadi malas berdoa, merenungkan Firman Tuhan
3- Jatuh dalam dosa


IV. Cara Mengatasi 

1. Manajemen waktu
2. Menyediakan waktu dengan tenang/retreat pribadi
3. Focus kepada Allah
4. Tetap beriman, Allah berkuasa memberi solusi
5. Merenungkan kembali Firman Tuhan
6. Sharing dengan sahabat atau teman KTB

V. Penutup

Agustinus: Engkau telah menciptakan kami untuk Engkau sendiri, hati kami resah sampai kami dapat mnemukan ketenangan di dalam Engkau. Jiwa yang kosong selalu mencari dan tidak pernah mencari.
Apabila kita masih rindu/haus akan Tuhan ? Paulus telah dewasa dalam Kristus, dan telah melihat dan mengalami banyak hal dalam hidupnya, tetapi dia tetap ingin mengenal Tuhan. Fil 3:10. Itu juga yang dirasakan Pemazmur, Maz 42: 2,3

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...