Jumat, 27 Januari 2017

Tanggung Jawab


Oleh Ir. Simon Dertha MT, AU (dalam Pelayanan, Pekerjaan, dan Keluarga)


Hari ini kita akan memasuki seri kedua mengenai leadership dan kali ini kita akan berbicara mengenai tanggung jawab (Pelayanan, Pekerjaan, dan Keluarga). Tanggung jawab berarti ada satu tugas atau panggilan yang merupakan kewajiban yang harus kita kerjakan. Berbicara soal area pekerjaan, pelayanan, dan keluarga, maka langkah pertama yang harus kita pahami dan yakini adalah apa yang dikatakan firman Tuhan kepada kita tentang ketiga hal ini? Sebagai orang yang percaya kepada Kristus seharusnyalah seluruh kebenaran dan perintah ataupun kehendak Allah yang dinyatakan dalam firmanNya tentulah adalah hal yang harus kita kerjakan.

Ada tiga panggilan bagi orang yang percaya. Panggilan yang pertamaadalah panggilan untuk melayani. Dalam Ef 2:10 dikatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Mari melihat kepada frase ‘yang persiapkan Allah sebelumnya’. Ketika saya merenungkan bagian ini, saya menyadari dan diingatkan kembali bahwa ketika Tuhan menciptakan saya kembali menjadi ciptaan baru adalah untuk melakukan pekerjaan baik yang sebelumnya telah dipersiapkan Allah. Artinya adalah bahwa sebelum kita diselamatkan oleh darah Kristus, Allah telah memilih dan mempersiapkan bagi kita suatu pekerjaan atau tanggungjawab. Ketika kita belum dilahirkan kembali kita tidak bisa melihat apa pekerjaan yang tekah dipersiapkan oleh Tuhan, bahkan mungkin kita menolak terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang telah dipersiapkan oleh Allah. Kita diselamatkan bukan untuk menjadi bebas tanpa tujuan atau bebas untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kehendak kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan oleh Allah sebelumnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.

Dalam 1Pet 2:9 dikatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Secara pribadi saya selalu dikuatkan ketika membaca ayat ini. Ayat ini mengingatkan saya bahwa Allah menciptakan saya untuk melakukan pekerjaanNya yang besar. Oleh karena itu ketika kita sebagai alumni yang sudah mengaku percaya kepada Yesus, tetapi tidak memiliki pemikiran bahwa Allah memiliki rencana yang besar dalam hidup kita, berarti kita telah salah memahami panggilan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita dipanggil oleh Allah dalam suatu rencana yang besar untuk menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib. Tuhan tidak memanggil kita untuk bertanggungjawab terhadap pekerjaan-pekerjaan yang kecil. Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa saya di jurusan Teknik Sipil demikian, “Jika engkau menjadi sarjana tekni sipil hanya untuk mengawasi pekerjaan-pekerjaan kecil itu bukan maksud dari Allah dalam hidup mu.” Saya yakin Allah memilih saudara dan saya bukan untuk melakukan hal-hal yang kecil. Tanggungjawab pelayanan adalah tanggungjawab yang besar yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Allah yang besar tidak mungkin memberikan pekerjaan yang kecil. Apapun yang dipikirkan dan dipersiapkan Allah bagi kita adalah hal-hal yang besar. Itulah sebabnya dalam setiap pekerjaan kita harus bertanya kepada Tuhan apakah yang sedang kita kerjakan adalah bagian yang sesungguhnya yang Tuhan panggil untuk kita kerjakan. 

Dalam keletihan dalam dunia pekerjaan saya selalu dikuatkan melalui 1Pet 2:9 tadi. Saya mengganti beberapa kata dengan profesi saya. “Tetapi kamulah engineer yang terpilih, imamat yang rajani, engineer yang kudus, engineer kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Memahami hal ini membuat saya menyadari bahwa saya adalah seorang Teknil Sipil yang tidak biasa dan ahli kontruksi yang tidak sembarangan karena saya dipilih oleh Alah untuk pekerjaan Tuhan untuk menceritakan perbuatan Tuhan yang besar melalui kompetensi yang saya miliki. Oleh sebab itulah saya memahami mengapa jumlah tidak selalu menentukan kekuatan atau kedasyatan. Alkitab mencatat bahwa pribadi-pribadi yang menyadari bahwa mereka dipanggil oleh Allah untuk pekerjaan yang besar untuk muncul ke permukaan menjadi tokoh-tokoh besar.

Tanggungjawab pelayanan yang diberikan Allah kepada kita adalah tanggungjawab yang besar. Jika firman Tuhan sudah memanggil kita untuk masuk dalam pelayanan dan mengerjakan pekerjaan Tuhan yang luar biasa itu, maka disitulah lahir satu tanggung jawab. Pertanyaannya adalah apakah kita mau merespon tanggungjawab yang diberikan oleh Allah? Bagaimana cara kita merespon tanggungjawab tersebut?

Panggilan kedua adalah panggilan untuk bekerja. Terkadang kita tanpa sadar bekerja sepanjang hari dan kita merasa ketika selesai bekerja beban kita lepas dan kita menjadi orang yang bahagia. Bagi kebanyakan orang bekerja merupakan penderitaan yang menyaitkan sehingga setiap hari tidak sabar menantikan jam untuk pulang dari tempat pekerjaan. Ini adalah pandangan yang salah karena dalam perspektif Alkitab pekerjaan tidaklah demikian. Pekerjaan itu harus membawa kebahagiaan bagi orang percaya. Jika dalam satu kantor orang percaya pun mempunyai raut wajah yang lesu dan tidak bersemangat dan tidak memiliki kekuatan untuk menunjukkan bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang baik, bagaimana dengan mereka yang belum percaya? Tanpa kita sadari kita sering mengeluh tentang pekerjaan kita, tentang boss kita atau tentang hal yang lain. Hampir sebagian besar kegiatan kantor diwarnai dengan keluhan-keluhan, baik dalam hati maupun yang tampak. Hal ini bukanlah sesuatu yang baik. 

Dalam Kej 1:28 dikatakan, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Kata ‘taklukkan’ berarti harus ada kemampuan, kompetensi, keahlian, atau inovasi untuk mampu menaklukkan dan menguasai sesuatu. Dan tentu saja hal ini bukalah sesuatu yang gampang untuk dilakukan. Saya memahami dan percaya bahwa Allah juga memanggil kita melalui profesi kita. Kita harus bertanggung jawab untuk menaklukkan dan mengusai ciptaan yang telah dipercayakan oleh Allah kepada kita. Dan untuk melakukan hal itu kita harus memiliki kompetensi. Itulah sebabnya jangan bermain-main ketika kuliah karena itu adalah masa belajar. Tanggungjawab kita adalah bekerja (lihat Kej 2:15).

Dalam 1Tim 5:8 dikatakan, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Bekerja dalam perspektif Alkitab bukan sekedar membuat kita memiliki penghasilan yang lebih besar, meningkatkan taraf hidup atau mengembangkan diri. Tetapi ada tanggung jawab di mana pekerjaan membuat kita mampu menolong keluarga kita atau orang lain yang tidak mampu melakukan seperti yang kita lakukan. Hal inilah yang sering diabaikan orang percaya. Sering sekali karena terlalu fokusnya terhadap pekerjaan orang percaya mengabaikan hal ini dan selalu fokus kepada diri sendiri. Kita bekerja untuk bisa memberi kepada saudara-saudara kita. Kita bekerja untuk bisa membantu kesejahteraan keluarga kita. Bekerja itu adalah tanggungjawab dari Tuhan bukan pilihan. Dalam Pengkotbah 3:22 dikatakan, “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?” Bekerja dalam persepketif yang diinginkan oleh Allah adalah menghasilkan pekerja-pekerja yang bahagia yang wajahnya memancarkan sukacita. Pekerja yang ketika menghadapi tantangan tidak putus asa tetapi memberikan harapan-harapan bagi teamwork atau siapa saja yang ada di sekelilingnya. Ketika firman Tuhan mengatakan hal ini dan kita melakukannya dengan ketaatan dalam hidup kita, maka saya berkeyakinan dampaknya akan luar biasa. Apapun yang dikatakan Tuhan tentang pekerjaan, ketika saya taat kepadanya dan melakukan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan caraNya, maka dampaknya akan besar. Yang memberikan dampak adalah Tuhan, bukan kita. Bagian kita adalah melakukan pekerjaan ini dan mempersiapkan diri dengan benar dan yang memberikan efeknya adalah Allah. Itulah sebabnya saya tidak pernah merasa pekerjaan saya terlalu kecil atau terlalu besar. Walaupun sepertinya tidak memberikan dampak dalam jangka pendek saya percaya itu adalah benih-benih yang ditanam yang pada saatnya akan dibuat Tuhan berbuah.

Panggilan yang ketiga panggilan untuk membentuk keluarga. Jika kita membaca Kej 1:28 dan Kej 2:24 kita melihat bahwa Allah juga memanggil kita untuk membentuk keluarga. Sebuah keluarga yang kudus dan erat yang tidak gampang digoyahkan atau dipecahkan. Keluarga yang di dalamnya dilakukan hal-hal yang kekal, kokoh, independen dan penuh dengan tanggung jawab di mana agar melalui keluarga ini nama Tuhan dipermuliakan dan dikasihi dengan segenap hati dan jiwa kita.

Melalui keluarga juga Tuhan ingin mendapatkan gambaran bahwa semua karakter-karakter yang diinginkan Allah tergambar dengan baik melalui keluarga. Melalui keluarga Tuhan menginginkan manusia mendidik anak-anak agar mereka kelak menjadi generasi yang akan dipakai Tuhan untuk kemuliaan bagi nama Tuhan (lih. Ulangan 11:19). 

Jadi sebagai alumni yang sudah menyerahkan hidup kepada Kristus, ada tiga tanggung jawab kita, yaitu: melayani Allah, melakukan pekerjaan, dan membentuk keluarga.

Selain melakukannya kita juga harus menjalankan ketiga area ini dengan baik. Ada tiga pribadi penting yang bisa membuat tanggungjawab ini berjalan dengan baik, yaitu: Allah, suami, dan isteri. Tiga pribadi ini adalah pribadi penting untuk berbicara soal bagaimana nanti keluarga melakukan pelayanan, pekerjaan, dan pelayanan terhadap keluarganya sendiri. Jika tiga pribadi itu sudah memiliki relasi yang baik maka semua tanggungjawab-tanggungjawab tadi, termasuk keseimbangan yang diharapkan di dalam tiga panggilan tadi mnjadi sesuatu yang lebih mudah dikerjakan. Dalam tiga pribadi itu kita harus menyadari bahwa Allahlah pribadi yang terutama. Semua yang menjadi dasarnya adalah keinginan dan kehendak Alah. Kalau seorang isteri sudah meyakini bahwa menjadikan kehendak Allah adalah yang terutama, dan demikian juga dengan suami, maka semua pekerjaan, pelayanan, dan keluarga akan lebih gampang untuk dikerjakan. Keluarga kita akan menjadi keluarga yang kuat apabila suami dan isteri dan Allah ada dalam relasi yang baik.

Persoalan selalu muncul jika relasi suami, isteri dan Tuhan tidak dalam kondisi yang baik. Pergumulan yang sering terjadi adalah bagaimana agar pasangan suami isteri tidak bertengkar. Focus mereka adalah bagaimana agar masing-masing saling memahami. Dan karena terlalu focus pada hal-hal ini mereka melupakan pelayanan mereka. Jika hal ini terjadi, pernikahan adalah sesuatu yang menyedihkan. Tuhan tidak menciptakan pernikahan menjadi sesuatu yang menyedihkan karena pernikahan adalah inisiatif Tuhan. bagaimana agar pernikahan itu berjalan sesuai dengan kehendak Allah adalah ketika tiga pribadi tadi – suami, isteri, dan Allah – ada dalam relasi yang baik. Itulah sebabnya sangat penting sekali mencari pasangan hidup yang sepadan dan mencintai Tuhan. Pasangan yang seimbang akan menolong dan mengoptimalkan semua tanggung jawab baik dalam pekerjaan pelayanan atau dalam keluarga sendiri.

Mencari pasangan yang seimbang adalah sesuatu yang sangat penting. Hal ini tidak bisa dikompromikan. Adalah sesuatu yang sangat berbahaya jika kita lentur dalam hal-hal ini (Dan sangat disayangkan banyak anak-anak Tuhan lentur dalam hal ini). Jika kita memang merindukan keluarga yang di dalamnya kita menikmati damai dan sukacita maka ini adalah syarat yang penting, yaitu mencintai Tuhan. Relasi dengan pasangan terjadi pasti akan memengaruhi pelayanan. Relasi Allah terhadap suami yang baik dan relasi Allah dengan Isteri yang juga baik akan menghasilkan realsi suami isteri yang baik juga.

Yang paling penting adalah bagimana ketika hal ini sudah tercapai, bagaimana kita menempatkan diri. Mari kembali melihat area pekerjaan. Ingat, bekerja adalah bagaimana membuat susuatu yang tidak teratur menjadi teratur, yang kosong menjadi indah. Ini yang dilakukan Allah ketika bekerja. Oleh karena itu ketika kita sudah tahu tanggung jawab kita bahwa kita harus bekerja maka kita harus harus hadir dalam dunia kerja untuk mendatangkan kebaikan. Kehadiran kita dalam dunia kerja membuat situasi yang begitu rumit menjadi lebih baik. Penting sekali kita menyadari bahwa kehadiran kita dalam profesi bukan sekedar menghasilkan uang atau mengembangkan diri, tetapi membawa perubahan ke arah yang lebih baik atau membawa shalom dan sukacita. Pekerjaan bukan sekedar rutinitas tetapi ada target seperti yang Allah inginkan dalam hidup kita. Jadi mari kita mempersiapkan diri. 

Sering dalam dunia kerja kita menemukan ada alumni yang satu dua minggu kerja sudah frustrasi dan minta keluar dan mencari pekerjaan lain dengan berbagai alasan. Ingat kita dipanggil untuk bekerja dan oleh sebab itu kita harus memberikan yang terbaik untuk pekerjaan itu. Bekerja dengan baik dan memberikan dampak sangat erat hubungannya dengan kompetensi yang anda miliki. Saya percaya, ketika kita bekerja dalam satu perusahaan dan kita meyakini itu adalah yang Tuhan inginkan pasti ada dampak di perusahaan tersebut. Pasti ada sesuatu yang akan terjadi dalam pekerjaan tersebut yang bisa memengaruhi perusaahaan atau teman-teman kerja kita. Ketika kita menyadari bahwa ketika Allah memberikan pekerjaan kepada kita kita menyadari bahwa ada misi Tuhan di situ. Jadi, kita tidak perlu takut untuk mengatakan tidak terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Kita tidak boleh ikut dengan system yang salah. Benar, ini adalah sebuah pergumulan. Tetapi ini adalah panggilan bagi kita untuk berkarya bagiNya dan menyatalan shalomNya. Sesuatu yang sangat menyedihkan kalau kita berkata bahwa kita tidak melakukan apa-apa karena sistem sudah seperti itu. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melakukannya? Sebagai alumni Kristen kita harus menyadari bahwa panggilan dalam dunia kerja harus menyadarkan kita bahwa kita dipilih untuk pekerjaan di mana orang lain tidak bisa lakukan. Inilah panggilan kita pada jaman ini dalam dunia kerja. Menjadi seorang pemimpin yang mampu membawa tim kerja ke arah yang lebih baik. 

Bagaimana dalam pelayanan? Ketika saya menyadari bahwa pelayanan itu adalah hal yang penting maka di tengah berbagai kesibukan apapun pelayanan itu harus tetap dikerjakan (apakah di ikatan alumni atau gereja). Sangat penting kita menjadi pemimpin dalam pelayanan. Salah satu bidang pelayanan yang membutuhkan alumni adalah gereja. Mari menolong gereja agar senantiasa hidup dalam firman Tuhan dan menjadi gereja yang memberitakan Injil Kerajaan Allah. Ini adalah saatnya bagi kita untuk memberikan hidup kita bagi pelayanan di gereja agar gereja tersebut dapat menjadi berkat bagi sesama. Sangat menyedihkan jika banyak alumni yang tidak mau kembali untuk membangun gereja atau ke gereja hanya mencari nama. Mari masuk ke dalam struktur dalam kepengurusan gereja (menjadi sintua atau diaken) sehinga kita bisa memengaruhi setiap kebijakan dalam gereja itu. Inilah tanggungjawab kita. Mungkin di awal apa yang kita kerjakan sepertinya tidak berguna, tapi jika yang kita kerjakan adalah kehendak Tuhan maka apa yang kita lakukan tidak akan sia-sia. Saya tidak tahu kita pelayanan dimana. Tetapi sebagai alumni Kristen kita harus terlibat dalam pelayanan.

Hal yang perlu kita perhatikan berikutnya adalah keseimbangan. Hal ini bukan masalah berapa jam waktu pelayan, bekerja, atau keluarga. Tetapi pentingnya suami isteri tadi mendiskusikan dan menetapkan target-target apa yang harus dilakukan. Ingat, tadi ada segitiga antara suami, isteri, dan Allah, maka keputusan-keputusan yang penting bukanlah menjadi pergumulan yang terlalu sulit. Persoalan yang mungkin terjadi adalah hal-hal yang tidak prinsipil, seperti lupa menelepon dan sebagainya. Tetapi memutuskan pekerjaan apa atau pelayanan apa tidak menjadi keputusan yang sulit jika relasi dalam segitiga tadi berjalan dengan baik. Mari mencari pasangan yang sepadan maka wilayah perdebatan itu akan berbeda. Kita tidak akan berdebat kenapa kita melayani di sini atau di sana, mengapa bekerja di sini atau di sana. Kalaupun ada diskusi atau perdebatan adalah dalam hal-hal yang tidak prinsipil. 

Kita harus aktif dalam tiga area ini karena kita menyadari tiga area ini adalah panggilan kita. Kita harus menyadari bahwa pelayanan, pekerjaan, dan keluarga adalah tugas yang diberikan Allah kepada kita.


Solideo Gloria!

Rabu, 18 Januari 2017

Walk by Faith (YOSUA 3)

Oleh Drs. Tiopan Manihuruk, M.Th


Hari ini kita akan belajar mengenai melangkah dengan iman dari kehidupan Yosua dan bangsa Israel dalam Yosua pasal 3. Dalam Yosua pasal 3 kita menemukan sebuah kisah di mana bangsa Israel telah sampai di tepi sungai Yordan (bangsa Israel berangkat dari Sitim). Mereka bermalam di sana selama tiga hari. Kemudian Tuhan memerintahkan mereka melangkah – menyeberangi sungai Yordan dan masuk ke tanah Perjanjian. Perlu kita ketahui bahwa sungai Yordan itu lebar dan dalam dan mereka harus melangkah untuk meyeberanginya agar tiba di tanah perjanjian. Di sisi yang lain, mereka juga harus berhadapan dengan musuh (ay 10). Dalam narasi ini kita melihat ada pembuktian bagi Yosua bahwa Allah menyertai dia sama seperti Allah menyertai Musa dalam memimpin Israel (ay 7).

Setelah tiga malam Tuhan berbicara kepada Yosua agar menyuruh para Lewi mengangkat Tabut Perjanjian di depan dengan jarak 200 meter dan bangsa Israel melangkah di belakangnya. Kemudian ada perintah kepada para Lewi (ay 6) dan pada ay 7 kita melihat Allah meneguhkan kembali panggilan kepada Yosua. Ay 8, berbicara soal Tuhan berfirman melalui yosua; ay 10 kita melihat bagaimana musuh dihalau; ay 11-12, diangkat 12 orang yang merupakan perwakilan masing-masing suku menjadi pemimpin di depan; ay 13-17 kita melihat bagaimana ada mujizat Allah dan mereka bisa menyeberang sungai Yordan dan masuk ke tanah Kanaan. Inilah narasi dari Yosua 3.

Dari narasi ini kita belajar beberapa hal.
Pertama, setelah bangsa Israel bermalam tiga hari di sungai Yordan setelah perjalanan dari Sitim, Tuhan memerintahkan kepada Yosua bahwa mereka akan berangkat memasuki tanah Kanaan dengan menyeberangi Sungai Yordan. Allah, melalui kehadiran Tabut Perjanjian, akan berjalan di depan dan bangsa Israel melangkah di belakang mengikuti. Apa yang bisa kita lihat di sini? Allah ingin mengajarkan kepada bangsa Israel sebuah bukti dan tanda kehadiran Allah. 

Jika kita melihat situasinya, ini adalah situasi yang mustahil sebenarnya terjadi. Mengapa? Sungai yang akan dilalui itu lebar dan dalam. Tetapi Tuhan memerintahkan mereka untuk menyeberanginya. Bagaimana caranya? Tidak ada perahu atau jembatan atau alat bantu lainnya. Bangsa Israel bisa saja protes kepada Yosua dan mempertanyakan maksud dari perintah ini. Apakah Yosua sedang berusaha untuk membunuh mereka semua dengan perintah tersebut? Siapapun yang mendegarkan perintah itu akan bertanya-tanya dan ketakutan.

Tetapi dalam kondisi seperti itu Tuhan mengatakan kepada Yosua untuk membiarkan Tabut itu ada di sebelah depan. Melalui perintah ini Tuhan mengatakan bahwa Ia akan berjalan di depan dan kepada bangsa Israel dipersilahkan untuk mengikuti di belakang. Allah tidak sekedar memberikan perintah kepada bangsa Israel untuk menyeberan, tetapi Ia sendiri akan berjalan di depan mereka dan bangsa Israel akan mengikuti dari belakang. Belajar dari hal ini, bagaimana kita bisa melangkah dengan iman? Caranya adalah dengan mengizinkan Allah melangkah mendahului kita dan kita kemudian mengikuti Allah melangkah di belakang di dalam hidup kita.

Situasi yang sama bisa terjadi dalam hidup kita untuk menyeberangi tahun 2015 ini. Apa yang kita lihat sepanjang tahun 2015 ini? Apakah kita melihatnya seperti bangsa Israel melihat sungai Yordan yang lebar dan dalam tetapi harus diseberangi? Mari belajar dari bangsa Israel dengan mengizinkan Tuhan melangkah mendahului mereka dan mereka berjalan mengikuti Allah. Sebagai alumni perlu bagi kita untuk melangkah bersama dengan Tuhan dengan iman dengan pemahaman bahwa Allah melangkah mendahului kita. Dia akan menuntun dan mengarahkan kita. Dialah Allah yang di dalam Yesus Kristus menjadi Gembala Agung kita di sepanjang hidup kita.

Betapa sangat ruginya jika kita menghabiskan seluruh hidup kita untuk hidup dalam kekuatiran atau ketakutan tetapi kita tetap melaluinya. Akan lebih menyenangkan jika kita menyadari bahwa Allah menuntun kita dan menjalani hidup kita dengan sukacita. Karena itu melangkah dengan iman dalam hidup kita adalah karena kita mengizinkan Allah melangkah di depan kita dan kita melangkah mengikutiNya.

Dalam ay 4 dikatakan, “hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya -- maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu." Mengapa perintah ni dilakukan? Mereka belum tahu jalan ke Kanaan dan mereka tidak bisa menyeberangi sungai Yordan dan tidak tahu apa yang harus mereka lalui. Dalam ay 4b dikatakan, “..maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu”. Mengapa kita berani melangkah dengan iman dalam menjalani hari-hari kita – belajar dari bangsa Israel – adalah karena Allah yang berjalan di depan kita adalah Allah yang menuntun kita dan mengarahkan jalan yang harus kita lalui. Inilah sukacita orang beriman bahwa kita melangkah bukan tanpa arah atau acuan tetapi Allah menuntun kita menempuh setiap jalan kita. Meskipun tuntunan Tuhan kepada kita bukan sekaligus. Jadi kita harus berserah dan bergantung penuh kepada Allah ketika kita melangkah dengan iman.

Kedua, dalam ay 5 dikatakan, “Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu." Sebelum Allah berkarya, sebelum sungai Yordan terbelah dan umat Allah bisa lewat, Tuhan berkata kepada Yosua agar umat Allah menguduskan diri mereka baru Allah menyatakan kuasaNya. Melangkah dnegan iman itu pasti berjalan bergandengan dengan hidup yang kudus. Allah menyatakan pertolongan dan kuasaNya ketika umatNya hidup dalam kesucian, bertobat dari dosa, dan menjaga diri tidak cemar dari dosa dan kejahatan. Salah satu syarat mutlak untuk melangkan dengan iman adalah harus berjalan beriringan dengan kesucian hidup. Tidak akan ada tuntunan Allah tanpa kekudusan. Jangankan melihat Allah, tuntunanNya juga tidak kita rasalan tanpa kita hidup dalam kekudusan. Oleh sebab itu mari mengawali tahun 2015 ini dengan menjaga kekudusan hidup agar Allah bisa menyatakan kuasaNya dalam hidup kita.

Bagaimana mungkin Allah melakukan perkara besar dan karya yang agung dalam hidup atau melalui hidup kita jika kita tidak mentahirkan hidup kita dari segala kenajisan? Itulah sebabnya Allah memerintahkan pengudusan diri bagi bangsa Israel. Ketika kita berani berkata melangkah dengan iman, satu hal yang perlu kita miliki adalah bahwa kita harus melangkah hidup dalam kekudusan. Apa yang menjadi kebiasaan buruk kita di tahun 2014? Apakah tidak melayani? KTB tidak teratur? Tidak menjaga integritas? Mari meninggalkan semuanya dan melangkah dalam kekudusan di tahun 2015 ini. 

Ketiga, jika kita perhatikan ay 7-8 dikatakan, “7 Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. 8 Maka kauperintahkanlah kepada para imam pengangkat tabut perjanjian itu, demikian: Setelah kamu sampai ke tepi air sungai Yordan, haruslah kamu tetap berdiri di sungai Yordan itu." Ada peneguhan kepada Yosua sebagai pemimpin bangsa Israel yang menggantikan Musa. Dalam bagian ini, selain kita perlu hidup di dalam kekudusan, bagi Yosua secara khusus, perlu diteguhkan kembali panggilannya. Kadang-kadang kita perlu peneguhan kembali agar kita yakin apa yang menjadi panggilan bagi kita. Ketika kita menjalani awal tahun 2015 ini kita butuh peneguhan-peneguhan tiap hari dari firman Tuhan, apa yang kita kerjakan, apa sejatinya yang harus kita targetkan selesai untuk dilakukan tahun 2015 ini.

Keempat, dalam ay 10 kita melihat bagaimana Tuhan yang menyertai bangsa Israel. Selain membuka jalan, Ia juga Tuhan yang berjuang atau berperang melawan musuh-musuh umatNya. Allah itu tidak hanya melangkah, tetapi semua musuh-musuh bangsa Israel disingkirkan oleh Allah sehingga mereka berjalan dengan mulus. Melangkah dengan iman berarti ada keyakinan bahwa Allah berperang bagi kita melawan rintangan dan musuh-musuh kita. Bisa jadi kita bertemu dengan banyak orang yang menjadi ‘musuh’ kita di tempat kerja kita. Apakah kita yakin bahwa Allah turut berperang bersama dengan kita?

Akan ada banyak persoalan dan tantangan di sepanjang tahun 2015 ini. Tetapi melangkah dengan iman membuat kita yakin bahwa Allah berperang di depan kita. Mari menikmati tahun 2015 karena Allah ikut berperang melawan musuh kita (band. Rom 8:31). Melangkah dengan iman artinya Allah hadir bersama kita dan menyertai kita. Oleh sebab itu semua ketakutan, kekuatiran maupun kecemasan sejatinya dibuang dari diri kita. Inilah orang yang melangkah dengan iman. Mari menjalani hidup ini dimana ada Allah Bapa yang menyertai hidup kita karena itu teduh dan tenanglah kita melangkah dengan dalam hidup ini.

Kelima, dalam ay 14-17 kita melihat bahwa Yosua taat kepada perintah Allah. Ketika Tuhan memerintahkan, Yosua melangkah dengan iman dan kemudian terjadi mujizat yang luar biasa. Kenapa kita melangkah dengan iman dalam hidup kita adalah karena Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang mampu menyatakan kuasa menolong kita dan memberikan kemenangan. Yakinilah bahwa Allah mampu melakukan perkara besar dalam hidup kita.

Apa yang sepertinya menjadi “Sungai Yordan” dalam hidup kita yang harus dan wajib kita seberangi padahal itu mustahil? Apakah mengenai pekerjaan atau pasangan hidup atau keluarga? Mari meyakini bahwa Allah mampu melakukan perkara yang besar dalam dan melalaui hidup kita. Apa yang menghentak kita yang membuat kita tidak berani melangkah? Melangkah dengan iman berarti menyadari bahwa Tuhan setia dan akan menggenapi apa yang Dia janjikan dan Tuhan berkuasa memberikan kemenangan. Inilah yang dialami oleh bangsa Israel dan Yosua.

Kalau bukan kuasa Tuhan dengan mujizat tidak mungkin bagsa Israel menyeberangi sungai Yordan. Apa yang terlalu besar yang tidak bisa dikerjakan Allah bagi kita tahun ini? Mari mengingat pergumulan, persoalan, atau kesulitan terbesar tahun ini. Kiranya keyakinan bahwa kita melangkah dengan iman memberikan kepada kita keberanian dan meneguhkan kita bahwa kita berjalan bersama dengan Tuhan. 


Solideo Gloria!

Sabtu, 07 Januari 2017

New Day Has Come

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, M.Th


Matius 4:1-25

Setelah dibaptis oleh Yohanes Pembabtis, Yesus berpuasa selama 40 hari dan kemudian mengalami pencobaan di padang gurun. Pencobaan dengan ujian tentulah merupakan hal yang berbeda. Pencobaan bertujuan untuk menghancurkan, membuat orang jatuh ke dalam dosa sedangkan ujian merupakan kesempatan untuk mengalahkan dosa , kesempatan untuk membuat diri menjadi ebih baik atau memurnikan diri di hadapan Allah. Dalam nats yang telah kita baca jelas bahwa Iblis ingin menjatuhkan Yesus dengan menawarkan 3 hal (Jasmani, kehormatan, dan keraguan akan kuasa Allah).

1. Kebutuhan jasmani (mengubah batu menjadi roti). Tentulah Yesus sangat membutuhkan makanan setelah berpuasa selama 40 hari, tentu Ia sangat lapar. Iblis memang selalu mencobai ketika kita sangat membutuhkan. Namun Yesus menoak dan berkata bahwa kepuasan bukan karna kebutuhan jasmani tercapai, tetapi kepuasan sejati adalah ketika kita mengalami ketaatan kepada Bapa. Sebagai alumni, kita diperhadapkan dengan materialisme (uang), kebutuhan fisik. Mari menyadari bahwa kepuasan sejati bukan terletak pada apa yang kita punya, atau pada setiap benda yang kita miliki, melainkan ketika kita mengalami ketaatan pada kehendak Allah.
Pada Injil Yohanes 4, ketika murid-murid menawarkan roti kepada Yesus maka kata Yesus kepada mereka: “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya”. Melakukan kehendak Bapa merupakan kebutuhan utama Yesus. 

2. Iblis membawa Yesus kebubungan Bait Allah. Bubungan Bait Allah adalah tempat para Imam meniup terompet sebagai sebuah pertanda, sebelum fajar menyingsing, bahwa waktu untuk memberikan kurban telah tiba dan sebagai peringatan untuk mengingatkan umat Allah untuk memberikan kurban. Letaknya sangat tinggi di Bait Allah. Iblis memerintahkan Yesus untuk menjatuhkan diriNya. Hal ini untuk menguji apakah Yesus mmiliki keyakinan bahwa Bapa setia kepadaNya dan akan mengutus Maikat-malaikat-Nya untuk menangkapNya. Hal ini jelas untuk menguji keyakinan Yesus kepada Bapa sebab sesungguhnya Yesus juga memiliki kuasa untuk tidak terjatuh sama sekali. Kita juga pasti pernah menghadapi hal yang sama. Kadang kita ragu akan kuasa Tuhan, ragu apakah Tuhan ada, ragu akan pertolonganNya. Itu juga merupakan tindakan sensasional untuk mencari pertolongan Allah. Perlu kita ingat bahwa tindakan sensasional tidak akan membawa orang pada Tuhan. Seperti dalam Uangan 6:16 ditulis “Janganlah kamu mencobai Tuhan,Allahmu..”. Padahal dalam keadaan apapun Tuhan pasti baik kepada kita. Dan Iblis tidak akan pernah diam. Ketika ia gagal, maka pasti akan dicoba agi, coba lagi,...

3. Dan ketika Iblis terus gagal, maka cara terakhir adalah mengajak kita untuk kompromi. Maka Iblis menawarkan kerajaan dunia pada Yesus. Namun Yesus memahami bahwa kompromi dengan dunia atau kompromi dengan yang jahat tidak akan pernah membawa pada kebenaran. Yesus dating ke dunia untuk membawa dunia kepada Allah. Maka Ia tahu bahwa ketika Ia kompromi dengan Iblis maka tentu misiNya akan gagal. Akhirnya Yesus mengusir Iblis tersebut. 
Yesus mendemonstrasikan ketaatanNya bukan saja sebagai seorang Anak (Matius 3:17) tapi juga sebagai seorang Hamba. Yesus mengasihi Bapa lebih dari segala sesuatu oleh sebab itu Ia mengekspresikan kemesiasanNya hanya jika Bapa berkehendak. Itu merupakan ukuran Murid Sejati.

NEW DAY HAS COME

New day has come in the life of Jesus. Setelah pembaptisanNya, Ia dicobai. Dan Ia menang atas pencobaan tersebut. Setelah itu Yesus memulai pelayananNya di dunia. Sebagai alumni, New Day Has Come berarti ada sebuah peluang baru untuk berkarya, memulai berkarya memberikan yang terbaik bagi Allah.
Pada ayat 12 Yesus menyingkir ke Galilea setelah mendengar Yohanes Pembaptis ditangkap oleh orang Yahudi. Pengalaman Yesus dengan Allah berlangsung saat sebeum pembabtisan, saat pembabtisan hingga kemenangan melewati pencobaan. Juga saat Yesus memulai peayanannya. Kemenangan bersama Allah membuat kita mengalami kehidupan yang ebih maju bersama Allah. Termasuk ketika kita mengalami kegagalan atau keemahan. Pengampunan Allah kiranya membuat kita kembali dapat mengalami kehidupan dan memulai pelayanan yang baru bersama Allah. Menang dari pergumulan bersama Allah dapat mendorong kita untuk lebih setia kepada Allah. Kuasa Allah dan kemenangan bersama Allah di tahun 2016 kiranya membuat kita lebih setiap di tahun 2017. 
Bagaimana dengan godaan material, jabatan atau penghargaan manusia dan keraguan akan Kuasa Allah di tahun 2016? Ketika kita gagal, kita telah mengalami pengampunan dari Allah. Jangan berhenti pada kegagalan tersebut, sebab Allah bukan meihat pada dalamnya kejatuhan kita. Melainkan seberapa perjuangan kita untuk bangkit dan lepas dari dosa tersebut. 

Pada nats selanjutnya Yesus pergi ke Kapernaum untuk memberitakan kerajaan Surga sudah dekat, memberitakan tentang pertobatan. Karena Yesus tau bahwa untuk itulah Dia diutus oleh Bapa ke dunia. Pertanyaannya bagi kita adalah’Untuk apa kita diutus oleh Allah ke dunia ini? Apa misi Allah bagi kita?’ Pemahaman akan hal tersebut dapat membuat kita menjalani dan memulai tahun 2017 ini dengan maksimal. Supaya kita tidak membuang-buang waktu, tenaga, pikiran,dan hidup kita percuma begitu saja. Dan ketika kita telah memahami maksud Allah membawa kita hingga tahun ini, kita menjadi fokus pada hal yang telah ditetapkanAllah tersebut. Seperti kata Yesus daam Injil Yohanes “Karena untuk itulah aku datang”. Dan itulah yang membuat Yesus taat bahkan taat sampai mati di kayu salib. Untuk apa kita hidup hari ini? Untuk apa kita diutus Tuhan hingga tahun2017? Supaya hidup kita maksimal dan efektif, tidak terbuang begitu saja. Yang akhirnya terkadang membuat kita hidup hanya untuk diri kita sendiri.

Bisakah saat ini kita berkata “memang untuk inilah aku hadir di dunia ini... Memang untuk iniah aku hadir di kantor ini... Memang untuk inilah aku hadir dipelayanan ini” atau ditempat manapun Tuhan teah menempatkan kita. Pemahaman tersebut juga membuat kita untuk taat pada Allah. Maka ‘New Day Has Come’ adalah peluang telah datang, kiranya kita juga paham untuk apa kita datang ke dunia, untuk apa kita jadi guru, untuk apa kita jadi marketing dsb..

Dan hal itu juga membuat kita paham apa visi Allah bagi kehidupan kita. Sebab hidup hanya sekali dan sangat singkat, maka sudah seharusnyalah hidup kita berarti. Pemahaman akan kehendak Allah bagi hidup kita menghindarkan kita untuk hidup hanya untuk diri sendiri. Menghindarkan kita dari sikap ‘meratapi nasib’, meratapi keadaan kita, meratapi status, dan semua tentang kita.

Saatnya berpikir untuk tidak hidup hanya untuk diri sendiri. Mari lebih banyak memikirkan pekerjaan Allah. Supaya tahun 2017 ini kita lebih banyak berkarya bagi Allah, memberi buah bagi pekerjaan Tuhan. Mari menata kembali, merencanakan kembali kehidupan kita di tahun ini. Sebab kita juga tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita dari dunia ini. Maka kita perlu berbuah, meninggalkan karya di bumi ini selama kita hidup. Seperti Paulus Dallam suratnya kejemaat di Filipi, bukan hanya mengikuti keinginannya untuk bersama-sama dengan Tuhan, melainkan lebih memilih yang berguna bagi orang lain. Maka Paulus bekerja untuk memberi buah dalam hidupnya. Dan kita juga diajak untuk mengerjakan hal yang sama.

Pada ayat 18, Yesus memanggil murid-muridNya yang pertama. Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Yesus membentuk sebuah tim kerja. New Day Has Come, berarti kita juga perlu mempersiapkan dengan siap kita akan bekerja? Dengan siapa kita akan melayani? Sebab kita tidak dapat single fighterdalam melayani dan mengerjakan misi Allah. Di yayasan, lembaga, atau gereja mana kita akan terlibat? Kiranya semua alumni terlibat dalam pelayanan. Semua aumni harus melayani dan tidak hidup hanya untuk diri sendiri.
Alumni harus menyediakan waktu untuk melayani dan juga harus memberi perpuluhan bagi pekerjaan Allah. Kepelayanan, anak-anak jalanan, orang-orang terlantar, atau ke gereja, tergantung kemana Tuhan menuntun kita.
Yesus melayani dari satu kota kekota yang lai, dari desa ke desa yang lain. Pelayanan yang mobile, tidak hanya ditunjukkan dari cara hidupNya sehari-hari. Maka pertanyaanya adalah ’Kemanakah Tuhan mengutusmu untuk melayani ditahun ini?’ 

Yesus juga meakukan pelayanan holistik sesuai dengan yang dibutuhkan lading pelayanan. Memberitakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit, mengajar, melepaskan yang tertindas dsb. ‘Maka apa jenis pelayanan yang Tuhan minta daripadamu?’. Sesuai talenta, karunia, profesi, waktu dan peluang yang ada pada kita.

Misi ada dua jenis. Terkadang misi menuntut kita untuk pergi (Go And Tell), namun terkadang juga tidak (Come And See). “Datang dan nikmatilah kerajaan Allah dalam hidup kami, nikmatilah teladan Allah dari cara hidup kami”. Dan ketika orang lain melihat hidup kita, membuat dia beriman kepada Allah. Mari terus berkarya bagi Allah. New Day Has Come. 






SOLIDEO GLORIA

Jumat, 07 Oktober 2016

SPIRITUAL CHECK- UP

Oleh : Dra. Kasihani Sinulingga



I. Dampak Spiritual yang Sehat

1. Bertumbuh dalam pengenalan kepada Tuhan. Nampak dalam kehidupan sehari-hari. Gal 5: 22-23, belajar untuk taat kepada Tuhan
2. Hidup yang berintegritas, tidak kompromi terhadap dosa (Daniel 1:8, 6:5-6; Yusuf kej 39: 6-9)
3. Memiliki sukacita dan semangat dalam menjalani hidup ( Ams 17:22)
4. Peka terhadap kehendak Tuhan, tetap melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dalam pekerjaan, pasangan hidup dan lain-lain
5. Mampu mengucap syukur dalam segala keadaan (1 Tes 5: 16-18)
6. Mampu bertahan ketika mengalami pencobaan. Spiritualitas yang baik menjadikan kita tidak gampang menyerah, karena Roh Kudus memakai Firman Tuhan untuk menguatkan (Ef 6:10-20)
7. Relasi dengan sesama baik, kita mampu mengasihi, mengampuni dan menghormati orang lain

II. Ciri Spiritualitas yang Tidak Sehat

1. Aktif secara rohani tapi mengabaikan semua bagian dalam hidup yang Allah yang ingin ubah
2. Sibuk bagi Allah tanpa kebersamaan dengan Allah. Luk 10:38-42
3. Susah mengucap syukur, banyak mengeluh.
4. Susah mengampuni: Ef 4:30-32, Luk 17:3-4
5. Mudah marah, tersinggung (sensitif).
6. Mulai kompromi terhadap dosa ( tidak berduka ketika jatuh dalam dosa).
7. Membangun mekanisme pertahanan diri (tidak ingin ditegur).
8. Tidak semangat melayani, bahkan meninggalkan pelayanan, persekutuan, semakin mencintai dunia ini (2 Tim 4:10,14)
9. Tidak mampu melihat kebaikan Tuhan, sehingga hidup menjadi pesimis


III. Yang menyebabkan Spiritualitas Mundur/tidak sehat

1- Terlalu sibuk, Bill Hayes: musuh terbesar kesejatian rohani adalah kesibukan, terlalu sibuk justru harus berdoa.
2- Masalah dan pergumulan; rasa kuatir terlalu besar, seolah-olah tidak sanggup menolong; menjadi malas berdoa, merenungkan Firman Tuhan
3- Jatuh dalam dosa


IV. Cara Mengatasi 

1. Manajemen waktu
2. Menyediakan waktu dengan tenang/retreat pribadi
3. Focus kepada Allah
4. Tetap beriman, Allah berkuasa memberi solusi
5. Merenungkan kembali Firman Tuhan
6. Sharing dengan sahabat atau teman KTB

V. Penutup

Agustinus: Engkau telah menciptakan kami untuk Engkau sendiri, hati kami resah sampai kami dapat mnemukan ketenangan di dalam Engkau. Jiwa yang kosong selalu mencari dan tidak pernah mencari.
Apabila kita masih rindu/haus akan Tuhan ? Paulus telah dewasa dalam Kristus, dan telah melihat dan mengalami banyak hal dalam hidupnya, tetapi dia tetap ingin mengenal Tuhan. Fil 3:10. Itu juga yang dirasakan Pemazmur, Maz 42: 2,3

Jumat, 09 September 2016

NEW AGE MOVEMENT

(Kotbah ini disampaikan pada Mimbar Bina Alumni, Jumat 12 September 2014 oleh Aswindo Sitio)


Pendahuluan
“New Age” adalah sebuah istilah yang menggenggam imajinasi dari banyak manusia di seluruh dunia (khususnya dunia barat), termasuk bagi orang Kristen. “New Age” pada dasarnya adalah sebuah sinkritisme dari ide-ide yang berasal dari variasi agama yang luas dari agama non-Kristen yang bercampur dengan teori filosofi dan psikologi modern. Era modernisasi telah mengabaikan dimensi spiritual dari kemanusiaan kita demi metode ilmiah. Namun pergeseran worldview ke arah postmoderisme menekankan kembali pentingnya kontemplasi dan realitas spiritual dan memunculkan pencarian spiritual, khususnya spiritualitas timur. New Age disadari sebagai manifestasi agama dari postmodernisme.

New Age Movement atau Gerakan Zaman Baru adalah nama yang berkembang untuk memberi ciri pada gerakan pada tahun 1960-an sebagai subkultur yang melanda seluruh dunia. NAM sebenarnya merupakan kebangunan kembali faham kuno yang sudah dikenal dalam agama animisme, dinamisme, mistis (timur), dan juga gnostik (Kaum gnostis meyakini bahwa orang-orang yang taat telah mendapatkan pencerahan yang istimewa, dimana mereka telah mendapatkan satu tingkat pemahaman yang rahasia atau lebih tinggi yang tidak dapat diakses oleh mereka yang tidak terpilih) yang secara turun temurun dikenal dan dipraktekkan dalam budaya tradisional yang prinsipnya bersifat panteisme, yaitu bahwa alam adalah realita utama (macro cosmos) dan manusia adalah bagian dari realita itu (micro cosmos).

Sejarah dari New Age Movement (NAM)
Walaupun gerakan ini memberi ciri mulai tahun 1960-an, sebenarnya akar gerakan ini sudah mulai muncul mulai dari abad ke-19, tepatnya tahun 1875, ditandai dengan munculnya banyak gerakan spiritual di Eropa dan Amerika, salah satunya adalah Theosophany. Gerakan ini disebut dengan The Theoshiopical Society (yang kelak dikenal dengan New Age), yang didirikan oleh Madame Helena Petrovna Blavatsky. Idenya memberikan kontribusi akan harapan akan sebuah New Age (Era Baru) diantara pelaku spiritualitas dan orang yang percaya kepada astrologi, yang bagi mereka datangnya era New Aquarian menjanjikan sebuah periode dari brotherhood and enlightenment.

Doktrin-doktrin yang prinsipil dalam gerakan ini sangat dekat dengan tradisi Hindu. Gerakan ini meyakini bahwa alam semesta harus dihormati sebagai kesatuan hukum yang fundamental di alam semesta. Umat manusia adalah bagian dari proses evolusi. Tubuh adalah sementara sedangkan kehidupan roh itu kekal. Jadi ketika seseorang meninggal maka kehidupannya secara roh akan tetap berlanjut dan pada saatnya roh tersebut akan lahir kembali (bereinkarnasi) melalui tubuh yang baru. Kehidupan manusia dibatasi dan diatur oleh yang namanya hukum Karma. Walaupun demikian, individu memiliki kekuatan untuk membebaskan diri mereka dari keterbatasan manusiawi melalui meditasi.
Dan gerakan ini terus berkembang sampai mencapai puncaknya pada tahun 1960-an.

Tema-tema dalam New Age Worldview
Tema-tema dalam Nam banyak yang mirip dengan ajaran Hindu. Norman Geisler menuliskan doktrin dasar dalam NAM yang dikombinasikan dalam hal-hal berikut:

The Cosmos
Kosmos diyakini sebagai sesuatu yang murni, tidak bisa dibedakan, energi dari alam semesta, atau kekuatan dari hidup (life force). Segala sesuatu merupakan satu kesatuan, proses yang interconnected yang bisa disadari sebagai sesuatu yang ilahi. Dengan kata lain Tuhan ada di dalam semua dan semua adalah Tuhan. Jika kita semua adalah Tuhan, maka otoritas tertinggi ada di tangan kita. Tuhan adalah energi bukan sebagai satu pribadi. Inilah yang disebut dengan karakteristik Pantheisme dari Hindu worldview. Semua benda mengambil bagian dari satu esensi ilahi. Karena itu segala sesuatu adalah sempurna.
Dalam pandangan ini, kosmos dihormati sebagai keberadaan yang sungguh-sungguh ada dan hidup dari pada hanya sekedar objek material. Realita adalah sebuah totalitas, dimana tidak ada perbedaan antara natural dan supranatural. Mimpi dan fantasi sama dengan realita dari pengalaman objektif. Nature itu sendiri dihormati sebagai sebuah refleksi dari realita yang ultimate, sehingga lingkungan harus dijaga dan dipelihara. Ekologi, atau biasa dinamakan green issues, adalah isu yang penting dalam agenda NAM.
Pandangan ini juga memandang bahwa semua agama memiliki esensi yang sama. Yesus, Budha, Muhammad, dan Lao-tzu mengajarkan hal yang sama, di mana semuanya bisa menyatu dengan the One. Itulah sebabnya tidak mengejutkan jika gerakan ini sangat toleran dengan pluralisme. Mereka toleran dengan semua agama, dan memiliki keinginan untuk menggabungkan agama-agama tersebut (sinkritisme).

The Self
Dibangun berdasarkan pemahaman bahwa semua adalah satu, maka umat manusia juga adalah satu. Manusia adalah bagian dari ilahi karena semua kosmik adalah Tuhan. Shirley McLaine meneriakkan: ”Saya adalah Tuhan!”
Menurut NAM, manusia pada dasarnya adalah spiritual dan tidak hanya fisik. Manusia, seperti halnya yang lain, hanya eksistensi dari the Oneness dan individualitas adalah bagian dari ilusi. Kemanusiaan tidak dibangun berdasarkan manusia itu sendiri tetapi dari The One Self. Tugas utama manusia adalah menemukan realita bahwa dia itu devine (ilahi). Hal ini tidak dicapai melalui sesuatu yang objektif, tetapi berdasarkan pengalaman subjektif yang terjadi di dalam pikiran.
Jadi, menurut gerakan ini, kita tidak bisa hanya memaksimalkan satu bagian dari otak, tetapi keduanya – baik otak kiri maupun otak kanan (hemisphere kiri dan hemisphere kanan) – harus dimaksimalkan.
Reinkarnasi adalah konsep umum yang lain dari NAM (merupakan ide dari agama Hindu). Reinkarnasi adalah lingkaran hidup manusia dalam lingkaran karma. Tujuan akhir adalah bergabung dengan absolute One. Keluar dari lingkaran karma ini hanya dapat diraih melalui pemahaman mistikal yang merupakan kunci untuk disadarkan dari ketidaktauan akan keilahian diri kita sendiri.
Rasa sakit dan penderitaan berasal dari ketidakseimbangan energi (dalam China dikenal dengan Chi, dalam Hindu, Prana). Penyembuhan terjadi jika energi ini diseimbangkan yang dapat diraih melalui Yoga, akupuntur, natural herbal, bahkan pembedahan fisik. Pengobatan secara holistik adalah aspek yang paling berkembang dan berpengaruh dalam NAM.

Community
Penekanan kepada pembebasan individu dari karma melalui pencerahan cenderung menempatkan penekanan pada individual. Penting bagi individu untuk mencapai kesadaran kosmis melalui pencarian pribadi. Walaupun tujuan utamanya untuk mencapai penyatuan dengan the One, hal tersebut dicapai secara pribadi. Istilah seperti ’aktualisasi diri’, ’human potential’, dan ’self-potential’ telah menjadi kosa kata NAM.
Jika dalam Hindu Worldviw, efek dari karma didasarkan dengan adanya penekanan akan kasta, maka dalam NAM hal ini tidak ada. NAM menekankan bahwa semua orang sama, termasuk tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan.
Penekanan pada komunitas memimpin pada satu kebutuhan yaitu, perdamaian. Perdamaian telah menjadi tema yang penting dalam NAM. Batasan politik menjadi sesuatu yang tidak terpakai. Satu pemimpin untuk satu dunia adalah prinsip dari NAM. Marxism dan Capitalism menjadi hal yang dihormati sebagai dua sistem politik yang saling melengkapi dimana keduanya saling mengisi dan perlu untuk disatukan.
What is needed now is for an explicit recognition [pengakuan] that Marxism vs Capitalism is not a ”holy war” as some crusaders [salib] of dogma would have it but is an example of a Complementarity. Marxist and Capitalist socio-economies are complementary concepts, neither one is wrong or better than the other and that both perspectives are needed to fully understand a social system that works without detrimental [merugikan] effects on groups or individuals.

Time
NAM melihat waktu sebagai sebuah siklus yang tidak berakhir. Pandangannya sangat mirip dengan pandangan Hindu. Hal ini dilihat dari konsep reinkarnasi dan juga dalam konsep peroidisasi sejarah. Periode universal dinyatakan dalam zaman astrological. Gerakan dalam era Pisces ke Aquarius dilihat sebagi waktu yang sangat penting.
Pandangan ini berbeda dengan sekular worldview yang melihat waktu sebagai sebuah garis lurus. NAM melihat bahwa aliran waktu dapat berbeda yang dapat ditemukan selama meditasi dan pengalaman out-of-body.

Value
Sebagaimana dengan pandangan Hindu, thesis mengenai monisme membawa asumsi bahwa tidak ada yang absolut. Semua adalah relatifitas! Jadi tidak ada perbedaan antara baik dan jahat. Baik atau jahat hanyalah label yang diberikan manusia. Orang bisa saja pada dasarnya baik, tetapi melakukan hal yang jahat.
Dosa yang hanya terjadi di NAM adalah katidaktahuan akan kesatuan dan keyakinan dalam individual self.

Apa Kata Alkitab?
Sebagai pengikut Kristus kita percaya percaya bahwa Alkitab adalah kebenaran yang objektif dan diinspirasi oleh Tuhan (baca 2 Tim 3:16; 2 Pet 1:21;Mat 5:18). Dan mari melihat semua tema NAM ini dari kebenaran Alkitab.

The Cosmos
Kejadian mencatat bahwa Allah adalah Pencipta dan yang lain adalah ciptaan. Jadi pernyataan bahwa Allah adalah semua bukanlah pernyataan Alkitabiah. Dan Tuhan adalah satu pribadi bukan energi. Di dalam Alkitab Yesus tidak sama dengan guru-guru lain. Dia bukanlah nabi, atau orang suci. Tetapi Yesus adalah anak Allah yang hidup, yang berinkarnasi untuk menyelamatkan manusia.
Ideologi inti dari Gerakan Zaman Baru adalah “pantheisme”: God is all and all is god. Paham ini sama sekali bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Rasul Paulus menjawabnya dengan sangat tepat. “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” [Efesus 4:6]. Kembali ke agama alam jelas tidak ada faedahnya. Bukankah alam semesta ini ciptaan Tuhan? Mengapa tidak datang langsung kepada Sang Pencipta?
Allah juga adalah Allah yang berpribadi yang memiliki kehendak, bukan sekedar energi atau the force.

The Self
Manusia adalah gambaran Allah, bukan Allah itu sendiri. Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan diriNya. Kej 1:26 mengatakan, ”Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Hal ini berarti manusia diciptakan berbeda dengan ciptaan lainnya.
Tugas manusia bukan menemukan keilahiannya, tetapi menjadi rekan sekerja Allah mengerjakan misi Allah di tengah-tengah dunia ini.

Community
Komunitas Kristen adalah tema yang sangat besar di Alkitab. Siapapun anda, orang Barat, Cina, Afrika, Asia, semuanya berasal dari Adam dan Hawa. Karena itu Alkitab pertama sekali menggagas bahwa manusia adalah satu universalitas di mana semuanya duduk dan berdiri secara equal. Dalam Christian worldview individualistik tidak hilang, tetapi dihargai dan diterima. Setiap orang punya nilai-nilai insintrik di dalam dirinya. Dia berharga dan dihormati.
Bahkan Alkitab mencatat dimana orang-orang yang dipanggil menjadi sebuah komunitas yaitu ekklesia atau gereja.

Time
Kita tidak hidup dalam sebuah siklus. Tetapi kita hidup dalam satu metanarasi Allah, mulai dari Penciptaan – Kejatuhan – Penebusan – Pemulihan. Manusia hanya hidup sekali dan kemudian mati, dan akan menghadapi tahta pengadilan Allah di dalam kekekalan.

Value
Gerakan zaman baru menganut pandangan: tidak ada kebenaran yang absolut karena semua agama tidak lebih dari sekadar jalan menuju Tuhan (pluralisme). Pemahaman ini sangat bertentangan dengan kesaksian Alkitab dalam Injil Yohanes 14:6 dan Kisah Para Rasul 4:12. Baik Yohanes maupun Kisah Para Rasul tegas menyatakan KESELAMATAN HANYA DI DALAM DAN MELALUI TUHAN YESUS KRISTUS. Kebenaran kita adalah kebenaran yang dinyatakan Allah dalam Alkitab.
Allah adalah standar moral yang menjadi ukuran dari penilaian moral. Ada satu kebenaran yang absolut, yang diakarkan kepada PENCIPTA.

Penutup
Ada banyak pandangan dari NAM yang sangat berbeda dengan kebenaran Alkitab. Bagaimana mereka memandang kosmos, memandang manusia, memandang komunitas, memandang waktu, dan nilai. Semuanya ini menjadi tantangan bagi kita. Banyak pengaruh NAM yang memasuki gereja yang membuat kotbah menjadi tidak alkitabiah, bahkan pengaruh NAM bisa membuat gereja kehilangan kebenaran biblikanya karena pengaruh NAM. Mari mewaspadai hal ini.
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.(Kolose 2:8-9)
Karena ...
Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7). 


Solideo Gloria!

Jumat, 15 Juli 2016

INTEGRITAS

Oleh : Laksana Umanda Sitanggang, ST, MT


Jika kita melihat situasi lalulintas sehari-hari, kita dapat melihat banyak terjadi peraturan lalulintas, dan jika berhasil melanggar aturan menjadi sebuah kebanggan, atau lelucon dan tidak ada kesadaran tertib berlalu lintas. Ketika tiba di kantor, banyak pekerja yng tidak sungguh-sungguh bekerja, menghabiskan waktu kerja untuk internet, game dll. Pimpinan perusahaan menyuarakan kebenaran tapi jauh dari prakteknya. Pemilihan legislatif pun hanya mencari simpati tapi prakteknya jauh dari realisasi.

Batsell Barrett Baxter : Ketiadaan integritas adalah faktor yang paling mengganggu dalam kehidupan modern. Ketiadaan integritas akan menghancurkan individu dan bangsa.
Amsal 10: 9 “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” (Whoever walks in integrity walks securely, but he who makes his ways crooked will be found out. (NIV.Amsal 11:3 “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya”( The integrity of the upright guides them, but the crookedness of the treacherous destroys them.(NIV. Mazmur 25:21 Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau. (“May integrity and uprightness protect me, because my hope is in You”).

Apakah Integritas ?
      Keutuhan karakter, konsistensi antara perkataan dan perbuatan, ketaatan mutlak terhadap standar moral, nilai-nilai kebenaran dan perilaku.
      Dalam pandangan kristiani, integritas berarti menjalani hidup sesuai dengan standard Allah, prinsip Allah dan nilai Allah, dimanapun saya berada, siapapun yang bersama saya dan apapun kondisi disekitar saya.
      Integritas berarti, kepercayaan saya, tingkah laku saya, perkataan dan perbuatan saya sesuai dengan sifat Allah

Mari kita belajar dari dua Tokoh Perjanjian Lama yaitu Yusuf dan Daniel
Yusuf.Ia seorang yang sangat disayang ayahnya, namun dibenci saudaranya, dimasukkan ke lobang sumur, dijual menjadi budak, difitnah hendak melakukan perkosaan, masuk penjara dan tiba-tiba menjadi penguasa Mesir (Kej 39 : 5-6 ,Kej 39 : 21-23).
Dua pelajaran penting:
  1. Integritas dalam pekerjaan
     Mengalami ketidakadilan
     Menghasilkan kesempurnaan pekerjaan
Dalam hidupnya Yusuf mengalami ketidakadilan, dia punya banyak alasan untuk mengasihani diri, tidak berintegritas, tidak mengerjakan dengan maksimal, ia bisa saja beralasan kecewa karena dibuang, difitnah. Seberapa sering kita membuat alasan ketidakadilan menjadikan kita tidak mengerjakan dengan maksimal, bos pilih kasih, saya tidak diberi tanggung jawab. Apapun situasinya tidak akan kita izinkan untuk mempengaruhi integritas kita. Kita sering berkata “saya kurang diperhitungkan”, “saya disepelekan”. Jika ini yang menjadi alasan kita, kita sedang kehilangan identitas kita.  Dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri (Kej 39:6b).Tiga belas tahun menjadi budak, ia bekerja dengan sangat baik dan tidak dipromosikan. Kita pun mungkin mengalami hal ini, tidak dipromosikan tapi itupun tidak boleh menghentikan kita untuk berbuat sebaik yang kita lakukan.
  1. Integritas dalam kehidupan seksual
     Affair yang berpeluang menguntungkan
     Teguh menjaga kekudusan
     Melarikan diri meninggalkan posisi pengawas menuju penjara
Kej 39:9b “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?“(39:23) Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.  Kita menghadapi 2 godaan sexual yaitu : serbuan pornografi/aksi setiap hari dan kita dipicu oleh dorongan sex kita sendiri. Yusuf melawan hasrat diri dan godaan itu, Mungkin saja tidak ada yang aktif menggoda kita, tapi kita sendiri yang menggoda hasrat kita untuk jatuh. Jika Yusuf mengikuti godaan istri tuannya mungkin ada 2 keuntungan : dia akan mendapat materi/dilayani, meningkat status sosial dan dapat menikmati hasrat sexualnya). Ada orang yang berani selingkuh dengan atasannya untuk mencari posisi aman. Yusuf tahu konsekuensi menolak  istri Potifar, ketika ia menolak berarti ia sedang beralih dari posisi kerjanya masuk ke penjara demi menjaga kekudusan, berlari dari istri Potifar artinya berlari dari posisi nyaman ke penjara. Seberapa sering kita menang untuk tidak membuka situs-situs porno dan seberapa sering kita mengalah untuk itu.
Daniel. Seorang keturunan bangsawan, berpendidikan, menunjukkan  dengan tegas integritas dirinya, menjadi pejabat tinggi dalam empat rezim pemerintahan. (Daniel 1: 8-9 ,Daniel 3: 16-18, Daniel 6:2-4)Puncak-puncak gunung es ketaatan Daniel : Dan 1:8: Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya, (3:18b) bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.“(6:5b) tetapi mereka tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya. (6:6b) "Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!"

Empat pelajaran penting dari Daniel :
  1. Berintegritas untuk tidak menajiskan diri . makanan atau minuman raja adalah perintah/aturan, biasanya kita tidak berani menentang aturan, terjebak dalam dosa terstruktur tapi Daniel tidak mau terjebak dalam dosa terstruktur, dia menjaga dirinya agar tidak tercemar. Mungkin di kantor ada dosa terstruktur, kita harus menjaga diri supaya tidak ikut larut dalam dosa itu, kita harus menjaga supaya tidak terlibat dari dana-dana fiktif. Sejak awal, Daniel menyatakan identitas dirinya, dalam hal inilah kita sering gagal karena sejak awal kita tidak memproklamirkan identitas diri kita, ketika kita menunjukkan identitas kita sejak awal, akan sangat membantu kita untuk berintegritas. Ketika kita masuk ke system yang baru, proklamirkan identitas diri kita. Tentulah Daniel dkk bukan saja tidak menajiskan diri dari makanan saja, tetapi juga menjaga diri dari pola belajar, etika. Karena itu Allah mengaruniakan pengetahuan. Tentu kitapun tidak boleh menajiskan diri di semua aspek, integritas harus mencakup seluruhnya, kita tidak mungkin terpecah soal integritas.
  2. Berintegritas membayar harga. Daniel tetap berintegritas meski resiko kehilangan nyawa. Kita sering tidak siap dengan resiko. Kita mau bekerja apa adanya, tapi gaji ingin tinggi. Jika kita belajar biasa-biasa saja, artinya IP kita juga biasa. Kita tidak bekerja maksimal di tempat kerja, tapi minta dipromosikan. Orang yang berintegritas siap dengan konsekuensi. Kita lebih sering melihat konsekuensi baru bertindak, “kalau hal itu menyulitkan, membuatku menderita, aku akan berdiam diri “. Tapi Sadrakh dkk siap dengan konsekuensi apapun “JIka Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami…tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku..Dan 3:17-18. Mereka berpegang teguh pada kebenaran, apapun konsekuensinya.Kalau kita selalu melihat konsekuensi, kita ragu Allah mampu memelihara kita. Integritas berarti tetap lakukan kebenaran, apapun konsekuensinya, kebenaran adalah patokan dan menutup mata terhadap konsekuensi
  3. Berintegritas dalam bekerja. Tidak didapati kesalahan apapun dari Daniel, kecuali dalam hal ibadahnya pada Tuhan (Dan 6:5). Jika kita konsisten, maka inilah jalan bagi kita untuk promosi. Daniel mendapat promosi karena tidak melakukan kesalahan apapun. Tidak ada kesalahan inilah jalan pintu-pintu promosi. Apakah kita di tempat kerja dapat dinilai oleh teman-teman kerja kita sebagai orang yang tidak melakukan kesalahan apapun? Tidak ada alasan untuk menjadi biasa-biasa saja, seharusnya kita menjadi bintang-bintang bersinar karena kita diperlengkapi untuk itu.   
  4. Berintegritas dalam persekutuan dengan Tuhan. Apakah kesibukan kita memenuhi perintah bos kita membuat persekutuan kita dengan Tuhan diabaikan? Pertemuan dengan orang-orang tertentu bisa membuat relasi dengan Tuhan menjadi memudar. Ketika kita bisa menjalin relasi dengan Tuhan, ini menjadi bukti integritas.
Mengapa mereka memiliki integritas yang sangat tinggi ?
      2 Tim 1:12 “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan”. Mereka tahu dengan benar, secara pengalaman bukan hanya teori kepada siapa mereka percaya, bahwa Allah yang mereka percaya itu akan memelihara apapun. Orang yang bergaul karib dengan Allah itulah yang membuat Daniel sanggup berkata seperti itu. Integritas itu sangat berkaitan dengan kedekatan (relasi) dengan Dia yang menciptakan kita. Pengenalan kita dengan Tuhan akan menetukan bagaimana ketaatan kita. Karena mereka mengenal, maka nilai-nilai dari yang mereka percaya itulah yang jadi penggerak, bukan hal diluar itu, bukan dipengaruhi oleh situasi  
      Digerakkan oleh nilai, bukan oleh keadaan. Situasi apapun tidak menjadi alasan untuk tidak berintegritas. Bukan tidak ngeri membayangkan perapian yang menyala-nayal, gua singa, tapi nilai-nilai yang dia percaya itulah patokan, nilai pada diri Allah yang menggerakkan saya mengambil keputusan.
      Bergerak pada lingkaran pengaruh. Daniel dan Yusup berada dalam lingkaran pengaruh. Istri Potifar tidak bisa dicegahnya/menghentikan godaan, dia tidak punya kuasa, dia hanya tidak mau tergoda. Untuk sesuatu di tempat kerja yang tidak dalam pengaruh kekuasaan kita, janganlah terlibat, jagalah diri sendiri bersih. Ketika kita tidak mau jatuh dalam system yang rusak, dengan sendirinya system itu akan jatuh. Fokus pada hal-hal yang dipengaruhinya.

10 Prinsip integritas
  1. Lakukan hal benar, meskipun itu merugikanmu. Jangan pedulikan walau harga yang kita bayar kelihatan lebih besar.
  2. Integritas selalu menghasilkan lebih dibandingkan harga yang kamu bayarkan. Dibenci teman, difitnah tidak sebanding dengan kemulaannya menjadi orang kepercayaan dibawah raja, gua singa membuat Allah Daniel harus dihormati.
  3. Kita tidak pernah tahu, apa yang  sedang Allah persiapkan untuk kita, kecuali kita terus berintegritas menjalani hidup ini.
  4. Kekecewaan tak dapat dihindarkan, namun kesengsaraan adalah pilihan
  5. Kekecewaan merupakan kesempatan besar untuk langkah berikutnya bersama Allah
  6. Integritas adalah jalan menuju istana
  7.  Hanya Tuhan yang melihat akhir segala  sesuatu bahkan dari permulaannya
  8.  Allah sering menggunakan komitmen ketaatan dan kesabaran dalam integritas untuk  menunjukkan “mengapa?”
  9. Promosi  berasal dari Allah, tetapi datang melalui orang-orang yang berada di atas kita, yang memperhatikan integritas kita. Tunjukkan integritas pada atasan, bukan jadi penjilat.
  10. Terdapat kepuasan kekal jika hidup kita berarti. Orang yang berintegritas itu akan memberi dampak.
Empat godaan “perongrong” integritas
      Uang
      Seks
      Kekuasaan
      Kesombongan
Empat hal yang menggerogoti integritas, yang pelan-pelan mengerogoti kita seperti kanker :
      Berhenti mendengar dan belajar. Teruslah mengembangkan diri dan potensi
      Berhenti hidup sesuai dengan pendirian/keyakinan kita dan karakter kita semakin lemah. Mulai goyah dengan keyakinan.
      Berhenti berjalan dalam kesadaran akan pengaruh kita dan kontribusi kita. Kehilangan kesadaran bahwa integritas kita mempengaruhi orang lain.
      Kehilangan hubungan yang intim dengan Tuhan
Empat alasan mengabaikan integritas
      Takkan ada orang yang tau
      Hanya sekali ini saja
      Siapa yang menuruti aturan akan selesai paling akhir. Kita takut tidak selesai sehingga mengabaikan integritas.
      Saya hanya mengambil apa yang menjadi hak saya
Hal yang harus diingat
      Allah melihat, meskipun tidak ada orang lain yang melihat
      Integritas dapat dihancurkan oleh satu keputusan pada suatu saat. Satu keputusan sajapun bisa menhancurkan semua, membangun integritas sangat lama, tetapi menghancurkannyasangat cepat.
      Kadang-kadang integritas menuntut harga yang sangat tinggi. Integritaslah yang membuat Yusuf masuk ke istana, integritas itulah yang membuat Daniel konsiten dan bekerja di 4 rezim.

Apakah saya berintegritas?
Siapakah saya ketika:
      Saya sangat yakin tidak seorang pun akan mengetahui yang saya lakukan
      Saya sangat yakin, tidak seorang pun yang dapat membuktikan perbuatanku
    Saya mempunyai kuasa terhadap orang-orang yang dapat merintangi/menghalangi perbuatan saya
 Saya yakin bahwa hasil yang akan saya peroleh lebih baik/besar dari pada konsekuensi/hukuman  yang akan saya terima

MICHAEL C. JENSEN : Integrity: Without It Nothing Works. 



Solideo gloria

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...