Jumat, 20 Mei 2016

IMAN & ADAT

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh



Setiap manusia terdiri dari 3 insan : pertama kita adalah mahluk religius, apapun agamanya memiliki keyakinan akan adanya Tuhan, kedua kita adalah mahluk psikologis, memiliki perasaan, jiwa, ketiga kita adalah mahluk sosiologis, mahluk sosial, maka kita berelasi dengan siapapun, artinya nilai hidup kita juga ditentukan kalau kita berelasi dan berguna untuk orang lain. Hari ini kita akan berbicara bagaimana kita sebagai mahluk sosial yang harus bermasyarakat di lingkungan kita berada. Apa yang kita pahami tentang adat selama ini ? Richard Niebuhr: Cultutre is the total human activity and total result of the such activity….the works of man’s minds and hands  (budaya adalah totalitas kegiatan manusia, dampak dari semua tindakan manusia itu ..karya dari pemikiran manusia dan karya perbuatan manusia). Sungai adalah alam, terusan Suez adalah kebudayaan; hutan adalah alam, kebun sawit adalah kebudayaan;  tanah tandus adalah alam, sawah adalah kebudayaan. Gubuk yang pertama, api, alat-alat, nyanyian, tarian, musik, drama dst hasil pikiran dan tangan manusia adalah kebudayaan. Ini artinya adat tidak dapatdipisahkan dari kehidupan manusia. Semua ini merupakan penggenapan mandat budaya Allah kepada manusia (Kej. 1: 28 ).apa yang dikatakan pada bagian ini adalah implikasi mandat Allah pada manusia.

Adat istiadat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan manusia. Ada orang-orang yang menolak adat menerima ulos, dll digantikan dengan pemotongan kue pernikahan, dengan memberikan potongan kue kepada orangtua kedua mempelai, hal ini juga berarti adat, hanya diubah adatnya menjadi adat Eropa, dan tiap bangsa mempunyai adat sendiri. Adat adalah tatanan dalam masyarakat yang mengatur hubungan antara sesama manusia agar rukun dan harmonis. Contoh,adat pada suku Karo, menantu perempuan tidak boleh berbicara dengan mertua laki-laki,, adat suku Simalungun, menantu bisa dipanggil dengan namanya, sementara di suku Toba, menantu tidak boleh dipanggil namanya. Iman berelasi dengan keyakinan, adat dan kebudayaan berelasi soal tatakrama atau tradisi yang berlangsung sejak lama dan turun temurun yang menciptakan hubungan satu dengan yang lain menjadi harmonis. Jadi jika ada unsur keyakinan yang dilakukan dalam adat, itu bukan adat lagi tapi percampuran dengan animisme, dan dapat tercipta sinkretisme. Kalau membawa makanan kerumah mertua karena sudah lama tidak punya anak, ini salah, tapi jika membawa makanan kerumah mertua dalam suasana tahun baru, hal ini baik. Iman bersifat kultis dan magis, wahyu, vertikalistik, personal antara manusia dengan Penciptanya.Adat dan kebudayaan bersifat umum (komunal), horizontal (sesama manusia).Kalau bukan berelasi horizontal, itu bukan adat lagi, harus ditolak.

Iman bersifat mutlak, global(berlaku dimanapun), statis (tidak berubah), berdasarkan wahyu, relasi dengan ilahi dan kekekalan, tidak kelihatan wujudnya. Adat relatif, geografis (berlaku di daerah tertentu), temporer (bisa diringkas jika perlu), situasional (ada suku yang adatnya bisa dirubah, ada yang sangat kaku dan sulit diubah) dan kondisional, bersumber pada pandangan manusia (sesuai dengan kebiasaan di tempat tertentu), dinamis, dapat dilihat secara nyata dst. Jika dalam kehidupan tatakrama manusia ada unsur keyakinan di dalamnya, maka hal tersebut bukan lagi adat atau kebudayaan namun telah berubah menjadi sebuah keyakinan animisme (‘iman’) atau okkultisme. Jadi adat dengan keyakinan harus ditolak.

Sikap terhadap Adat

Antara menolak secara total Vs  menerima dengan membabi buta.Kelompok pertama melihat bahwa semua adat adalah pekerjaan setan dan tidak melihat unsur positif di dalamnya. Mereka sangat menentangnya dan beranggapan bahwa orang yang melakukannya terlibat dalam okkultisme. Tentu ini pandangan yang salah, karena banyak adat yang baik juga. Kelompok kedua berkata bahwa semua adat atau kebudayaan itu benar dan bahkan ada yang menempatkannya di atas Alkitab.Mari kita membaca dari Mrk. 7: 1-13 , disini orang-orang Farisi menanyakan pada Yesus kenapa murid-muridNya tidak membasuh tangan sebelum makan. Tujuan mereka menjumpai Yesus ‘to investigate the Galileans activities of Jesus’ (7: 1) lih. 3: 2.‘Ceremonial washing’ dalam hal membasuh tangan sebelum makan dan sekembali dari pasar, bagi Yahudi dianggap sebuah adat istiadat yang mengikat (7: 3), lih. ay. 5 bd. Yoh.2: 6; Mt. 15: 2. Tata karma/adat Yahudi, ada metode membasuh tangan, orang dari pasar bersentuhan dengan orang non Yahudi dianggap najis, sehingga mereka harus membasuh tangan supaya tahir/suci.

Farisi menentang tindakan murid-murid Tuhan Yesus yang mereka anggap melanggar hukum Taurat dan adat Yahudi (7: 5). Farisi & Ahli Taurat mengabaikan firman Allah demi adat istiadat (7: 6) – superioritas adat di atas Firman Tuhan – adat mendominasi dan menggeser FT. Hal ini bisa terjadi di kehidupan kita, demi acara adat, orang tidak pergi kegerja lagi, bahkan adat melebihi kegiatan rohani Matius 15:8-9 “bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepada Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”, disini adat mendominasi dan menggeser firman Tuhan . Yesus mengkontraskan adat Vs perintah Allah (7: 8) Perintah Allah ada dalam Kitab Suci dan bersifat mengikat dan wajib, sementara adat istiadat atau kebudayaan bersumber dari nenek moyang sehingga tidak mengikat dan tidak otoritatif.Jadi firman Tuhan mengikat dan wajib sementara adat tidak mengikat. Farisi dan ahli Taurat mengesampingkan perintah Allah demi adat istiadat (7: 9). Salah satu contohnya adalah dalam 7:10-13.Demi perpuluhan/persembahan, mereka mengabaikan tanggungjawab pada orangtua.  bd. Bil 30: 1-2 persembahan kurban dianggap wajib dan mengikat tetapi mengabaikan tanggungjawab kasih terhadap orangtua. Tuhan Allah tidak mau umat melaksanakan salah satu Taurat tetapi mengabaikan yang lain di mana demi adat Firman Tuhan dianggap tidak berlaku.

Yesus mengajarkan bahwa kesucian tidak lahir dari ritualitas, tetapi dari hati yang benar (suci) dan dalam hal yang sama kenajisan juga bukan muncul dari makanan atau minuman, tetapi dari hati yang jahat (7: 19-20).Apa yang keluar dari hati dan pemikiran itu jauh lebih penting daripada makanan . Fellowship with God is not interrupted by unclean hands or food, but by sin  (relasi dengan Allah tidak bisa diputuskan dengan tangan yang najis tapi karena dosa)(7: 21-23) I. L Nommensen membagi adat dalam 3 kategori: (1) Adat yang netral; (2) Adat yang bertentangan dengan Injil; (3) Adat yang sesuai dengan Injil.

Menurut Richard Niebuhr, ada 5 posisi Injil Kristus terhadap adat :
  1. Menentang: Christ againsts culture
Petobat baru diajarkan untuk menolak semua adat/kebudayaan karena dianggap semuanya bersifat kekafiran dan okkultisme (ini konsep yang salah). Dosa merajalela dalam semua kebudayaan sehingga harus diganti dengan kebudayaan/adat yang baru (Barat). Penolakan yang radikal tanpa memilah dan menyaring dengan FT (menganggap semua adat salah). Akibatnya, Injil tidak lagi kontekstual dan dapat bermuara pada penolakan akan Injil (jika sem ua adat ditolak, orangpun menolak Injil jika kita beritakan). Mencabut petobat baru dari akar tradisi/budayanya dan menggantikan dengan jubah baru (import).
  1. Akomodatif: Christ of Culture
Melihat ada keselarasan antara Injil dengan adat /kebudayaan.Injil berusaha menyesuaikan diri dengan adat atau kebudayaan setempat (selama tidak ada unsur animisme, kita bisa ikuti, ibadah tidak boleh menggunakan gondang, seruling, gitar, kecapi dan hanya boleh menggunakan keyboard/piano, tentu hal ini tidak tepat, karena natur kita menunjukkan akar budaya kita, penginjilan tidak identik dengan westernisasi). Yakin bahwa tidak semua kebudayaan/adat mengandung dosa. Mencintai Tuhan sekaligus mencintai kebudayaan yang benar (selama tidak ada animisme). Memandang adat dalam terang Kristus dan memandang Kristus dalam terang kebudayaan(kontekstualisasi) Sisi negatif dapat terjebak ke dalam sinkretisme jika adat dan Injil digabung tanpa seleksi Injil atas adat. Louis J. Luzbetak: Tugas gereja adalah membuat orang Afrika menjadi orang Kristen Afrika, orang Kristen Jepang, orang Kristen India, mereka bukan menjadi orang Kristen Amerika atau Eropah.
  1. Perpaduan: Christ above Culture
Dunia dan segala isinya dicipta dan diatur oleh Allah, karena itu semua adat/kebudayaan harus tunduk kepada Dia (semua yang bertentangan dengan firman Tuhan dibuang). Selain firman Tuhan sebagai standard benar tidaknya, otoritas Kristus juga berlaku dan melampaui adat. Ketundukan kepada Kristus melampaui ketundukan kepada adat dan kebudayaan, meskipun kandungan adat tersebut tidak bertentangan dengan FT. Injil melampaui kebudayaan (jika ada perayaan adat mengganggu hubungan kita dengan Tuhan harus disingkirkan, relasi dengan Kristus melampaui relasi dalam adat)
  1. Dualisme: Christ and Culture in Paradox.
Semua segi kebudayaan telah rusak dan buruk, bagaikan menara megah yang berdiri di atas tanah yang rapuh.Namun sebagai anak kebudayaan tidak dapat melepaskan diri atasnya.Manusia menjadi 2 warga, yaitu warga kerajaan Allah dan warga masyarakat, namun tidak ada pengaruh Kerajaan Allah dalam masyarakat (Ini pandangan yang salah). M. Luther: Semua orang Kristen harus menaati Allah dalam kedua kewargaan ini (sebagai warga kerajaan Allah kita harus tunduk kepada Allah tapi sebagai warga masyarakat mengikuti kebudayaan yang sesuai firman Tuhan).
  1. Pembaharuan: Christ the transformer of Culture.
Alam adalah ciptaan Allah, karena itu adat dan kebudayaan merupakan bagian dari rencana Allah (selama tidak ada unsur animisme). Dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka manusia membutuhkan penebusan sama halnya dengan kebudayaan. Kebudayaan yang rusak harus ditebus ditransformasi sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan (Kristus sudah menenbus semua hal, sehingga kebudayaan dalam dosa juga harus ditebus). Biasanya resistensi akan muncul, tetapi upaya pembaharuan tetap dikerjakan (mungkin ada penolakan keluarga, tugas kita memberi pengertian yang benar).Kristus melalui pemberitaan Injil menjadi pemurni dan pembaharu kebudayaan untuk dialihkan bagi kemuliaan Allah. Pandangan ini dianut oleh Calvin, John Wesley dan Agustinus.

Beberapa penerapan dalam adat sehari-hari:
q  Jika ibadah penguburan atau pernikahan, sebaiknya tidak di hari Minggu, tapi jika di wilayah tertentu harus dilakukan di hari Minggu, supaya semua orang bisa datang, menjadi pengecualian
q  Penguburan saur  matua dapat dilakukan (jika tidak ada unsur okultisme sewaktu membawa pohon beringin, sanggar, yang dianggap memberi  kemakmuran, kesuburan, jika ada unsur keyakinan harus ditolak)
q  Hindari pernikahan yang tidak direstui keluarga (karena marga dll), karena kalau kita tidak diterima keluarga, akan sulit untuk melayani keluarga dan tidak maximal dalam hidup kita.
q  Pemindahan tulang belulang keluarga jika dilakukan untuk mempererat persatuan tentu baik, tapi jika pembangunan tugu menghabiskan dana besar sementara keturunannya kesulitan secara ekonomi, harus ditolak
q  Ziarah dan membersihkan kuburan keluarga baik untuk dilakukan, tapi jika berbicara dengan orang yang sudah meninggal, hal itu salah karena Pengkhotbah  12:7 “dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”.



Solideo Gloria 

Simplicity of Life : CONTENTMENT

Oleh : Ir. Simon Dertha, MT, IPu



Kisah yang ditulis oleh Tolstoy dalam bukunyam dia menulis ada seorang petani yang cukup kaya dan satu saat mendapat kesempatan yang sangat bagus,dengan 1000 rubel dia dapat memiliki tanah sebatas mana dia dapatjalani tanah tersebut. Hal ini sangat mendorong petani kaya ini,karena itu besoknya pagi-pagi benar dia berangkat dan pergi ke tempat itu dan mulai jalan, dia melangkah setapak demi setapak untuk mencapai luas yang sangat banyak untuk mendapat hasil yang sangat banyak.ketika dia melangkah, dia merasa luasnya masih terlalu sedikitm kemudian dia melangkah lagi dan dia masih berpikir “ini masih belum cukup bagi saya” dia melangkah lagi,sampai dia khirnya menyadari ada satu ketentuan bahwa dia harus kembali sebelum matahari terbenam m kalau matahari terbenam maka uang 1000 rubel dia tidak akan dapatkan dan tanah tidak akan dimiliki. Ketika ia sadar hari sudah menjelang sore dia balik lagi ke tempat ia mulai melangkah tadi pagi. Dia bergerak dengan cepat sekali, karena ia sadar jika terlambat, ia kehilangan 2 hal,uang 1000 rubel dan tanah yang cukup banyak. Semakin kuat ia melangkah, ia merasa semakin sulit untuk mencapai sebelum matahari terbenam. Begitu ia melangkah dengan cepat, jantungnya bekerja dengan luar biasa cepat, tapi ia berfikir harus mendapat tanah yang begitu luas yang aku perjuangkan hari ini.Akhirnya 2 menit sebelum mencapai garis finish itu dia jatuh dan meninggal. Ia tidak mendapatkan apapun dalam hidupnya. Ini ditulis tolstoi dalam bukunya “Seberapa Luas tanah yang dibutuhkan oleh manusia?” Dan Tolstoi mengatakan “hanya 1,8 meter dibutuhkan manusia untuk liang kuburnya, ia berjuang begitu luar biasa untuk mendapatkan semua itu”buku ini ditulis tahun 1886, dan persoalan ini masih terjadi di tengah-tengah kita. Persoalannya masih menjadi pergumulan hidup orang-orang percaya, dapat menjadi ambisi banyak orang, bahkan  saya melihat di tengah-tengah komunitas alumni Kristen yang sudah mengaku percaya kepada Kristus,konsep seperti petani ini masih hidup di tengah-tengah kita. Yang membuat orang seringkali kehilangan banyak hal dan tidak tahu lagi apa yang harus dia kerjakan. Simplicity sering didefensikan sebagai sederhana, tidak kompleks (uncomplicated), terbuka (uncompound); tidak bersalah(innocence); tidak bodoh (silliness);tidak berpura-pura; murni tidak palsu (clarity); Ini beberapa defenisi positif mengenai simplicity. (King James Version)

Beberapa tokoh-tokoh dunia memberikan pandangan mengenai simplicity dalam kalimat berikut:
“Jika kamu tidak mampu menjelaskan kepada anak umur 6 tahun, artinya kamu sendiri tidak memahaminya “(Albert Einstein).“Simplicity merupakan kecanggihan yang sempurna” (Leonardo da Vinci).“Kecerdasan dari manusia dapat dilihat dari kemampuannya untuk menjelaskan misteri sehingga anak kecil dapat memahaminya” (John H Taylor).“Ide yang sempurna adalah ide yang sederhana” (William Golding).Simplicity adalah keuntungan kompetitif.”Saya hanya punya tiga hal untuk diajarkan: kesederhanaan, kesabaran dan belas kasihan” (LA Tzu). Secara kamus, contentment ini diartikan merasa puas, merasa cukup. kondisi mental dan emosional yang terpuaskan. Dan kita merasa puas dengan apa yang kita miliki.Dipuaskan, menjadi kuat.

Apa Defenisi  Alkitab mengenai contentment?

Manusia sering sekali mengukur “kepuasan” dengan “apa yang dia punya” “apa statusnya” atau “kemana dia pergi”. Maka hidup sederhana membuat manusia kuatir, tidak puas.Ketika saya mempunyai barang yang mewah, saya merasa sudah puas.orang yang bekerja dengan level manajemen yang rendah merasa tidak puas, dia akan bekerja keras, karena dia merasa bahwa diakuinya dia hanya karena dia memiliki arti. Beberapa alumni merasa lebih puas jika bekerja sebagai PNS daripada bekerja di swasta.bukankah sering sekali didalam hidup kita pun, mengukur dengan apa yang kita punya, apa status kita, apa saya PNS atau tidak, apa saya manager atau tidak, apa saya sudah berumahtangga atau tidak. Dan inilah yang membuat manusia menjadi discontentment didalam hidupnya, dia kan terus berjuang untuk mendapat apa yang dia anggap sudah merupakan kepuasan didalam hidupnya. Kenyataannya dia tetap tidak akan merasa puas.

Matius 6:25 “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah pula kuatir akan tubuhmu akan apa yang hendak kamu pakai.Bukankah hidup itu lebih penting dari makanan dan tubuh lebih penting dari pakaian”. Kata kuatir ini berhubungan sekali dengan kata contentment, ketidakpuasan, seringkali orang merasa tidak puas hingga dia kuatir dan akan lakukan apapun. Kenapa banyak alumni merninggalkan nilai-nilai yang dia yakini waktu dia mahasiswa, karena dia merasa tidak memiliki apapun kalau ia tidak mengikuti tawaran system yang ada di sekelilingnya. Tuhan Yesus telah melihat hal itu, sehingga Ia berkata “jangan kuatir akan apa yang hendak kamu makan”, kebutuhan pokok/sekunder seringkali membuat kita menjadi discontentment dalam hidup kita. Kita sering tidak puas karena kita kuatir akan banyak hal yang merupakan “bunga-bunga/asesoris” kehidupan.sekatrang ini sudah berubah, yang sebelumnya asesoris menjadi yang utama, yang utama sudah menjadi asesoris, semua menjadi terbalik kretika tidak lagi berada dalam kebenaran firman Tuhan.

Ketidak puasan sering sekali terjadi karena kita tidak dapat membedakan antara tujuan hidup, kebutuhan dan keinginan . Melihat orang lain memiliki alat komunikasi yang super canggih, bisa membuat kita tergoda untuk memilikinya, tapi kita perlu kita selidiki apakah itu kebutuhan kita. Seringkali apa yang kita butuhkan, bukan itu yang kita kejar, tapi apa yang kita inginkan.Setiap hari  keinginan it uterus bertambah dan menyetir hidup kita, mendorong kita ke arah yang semakin hari semakin stress.bisa saja kita punya uang untuk membeli barang-barang itu, tapi apakah itu kita butuhkan atau hanya sekedar memuaskan keinginan saja.ini yang membuat kita menjadi tidak puas, karena ukuran kepuasan kita ketika benda-benda itu kita meiliki. Karena itu Yesus ingin meluruskan kita tentang artinya kepuasan hidup.
Matius 6:32-33:” Semua itu dicari-cari bangsa bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang  di sorga tahu bahwa kamu membutuhkan itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.

Materi, jabatan, kekuasaan adalah semua yang dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Karena itu Yesus mengingatkan bahwa kita tidak sama dengan mereka. Dalam 1 Pet 2:9 “Kamulah bangsa yang terpilih” kita adalah bangsa yang berbeda, jadi kita tidak hidup dengan cara dan ukuran mereka. Yesus tahu kita membutuhkan hal itu, tapi carilah dahulu kerajaan Allah. Itu adalah suplemen (pelengkap) dari yang lainnya, tidak ada suplemen menjadi lebih penting, orang yang ingin sehat lebih mementingkan suplemen daripada gaya hidup sehat.sekarang semua sudah diputar oleh manusia, sebelumnya cari kerajaan Allah yang paling penting didaalam hidup ini sekarang ini menjadi suplemen, yang lebih utama adalah yang dicari-cari oleh dunia tadi.karena itulah terjadi pergulatan dalam hidup kita, kita merasa apa yang dimiliki orang lain itu harus saya miliki, padahal seharusnya mencari kerajaan Allah lah yang akan memberi janji akan ditambahkan kepada kita. Sebagai alumni yang sudah percaya pun , banyak yang membutuhkan penghormatan, pengakuan, mengaktualisasikan dirinya. Apakah Tuhan tidak melihat hal itu? Tuhan tahu kita butuh hal itu, karena itu Tuhan berkata semua itu akan didapatkan setelah kita mencari kerajaan Allah. Ketika kita bekerja dengan baik, kita tidak sedang mencari pengakuan dari orang lain, tapi bisa saja orang lain mengakui hal itu.

Ketidak puasan sering terjadi karena manusia tidak pernah merasa cukup dan tidak mengandalkan Allah.“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah (content) dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman aku sama sekali tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata-kata” (Ibrani 13:5-6).Yesus yang dasyat itu apakah juga dapat dilihat dasyat juga didalam hidup kita?Apakah kehadiran kita memberi dampak yang besar di lingkungan kita, memberi sesuatu yang bermaknadi mana saya berada?Bayangkan sebagian besar waktu kita  ada di dunia profesi, tapi kita tidak melakukan apapun dan memiliki dampak apapun. “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah (content) dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman aku sama sekali tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ini janji Tuhan. Apapun yang kita hadapi tidak akan mempengaruhi kepuasan kita kalau kita mengandalkan Allah.Ketidakpuasan sering terjadi karena tidak mengandalkan Allah, kita seringkali membuat rencana dan Allah tinggal menyetujuinya saja. Ini membuat kita tidak puas. Kecukupan akan terjadi dalam hidup kita kalau kita mengandalkan Tuhan.

Kepuasan tidak tergantung kondisi/lingkungan, tetapi kehadiran Allah dalam semua situasi . Apa yang terjadi di sekeliling kita seharusnya tidak mempengaruhi kepuasan kita.Paulus memiliki gaya hidup “ultimate simplicity of life” (2 Korintus 11:23-28): sering di dalam penjara;didera diluar batas; kerap kali dalam bahaya maut; lima kali disesah orang jahudi;tiga kali kapal karam;terkatung-katung ditengah laut; aku lapar; aku dahaga, kerapkali berpuasa;kedinginginan tanpa pakaian; dll .Ini adalah kondisi yang menurut manusia, kondisi yang sangat tidak memuaskan/tidak menyenangkan. Tapi Paulus yang sama mengungkapkan dalam segala situasi yang penting adalah mencukupkan (content) diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11-13)kepuasan kita ridak tergantung dari apakah kita susah atau senang, jalan buntu atau tidak, firman Tuhan berkata segala sesuatu bisa menjadi cukup kalau kita mengandalkan Allah dalm hidup kita. Paulus menyatakan hal ini berdasarkan pengalamannya, kesulitan yang dihadapi Paulus tidak membuat dia  kehilangan kepuasan dalam hidupnya.bahkan dalam Fil 4:4 dia berkata “bersukacitalah senantiasa, sekali lagi kukatakan bersukacitalah”. Jadi sukacita itu sifatnya bukan kondisional, tetapi keyakinan bahwa Allah mencukupkan dia.

Kepuasan itu terjadi ketika kita merasakan kasih setia Tuhan dalam hidup kita (Mas 90:14-17). Kepuasan tidak tergantung kepada jumlah,  tetapi ada takut akan Tuhan (Amsal 15:16-17) Kepuasan datang dari kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan bukan kepada materi (Yesaya 55:1-2). Ketidakpuasan terjadi karena kita mengikuti keinginan daging (Roma 8:5-6).

PROFIL PEMUDA YANG DISCONTENTMENT
Markus 10:17-23 menceritakan tentang,pemuda yang kaya, pengusaha,secara finasial bagus, Pemuda yang sudah menjadi pemimpin (Luk 18:18), pemimpin perusahaan, pemimpin sosial.Pemuda yang mempunyai moralitas yang baik dalam standard Jahudi, telah melakukan semua perintah Taurat. Ia melakukan taurat sejak masa mudanya, dan Tuhan Yesus tidak membantah dia tentang hal itu. Pemuda yang mengalami discontentment. Berlari-lari dalam kondisi tidak puas dan bertanya kepada Jesus.Ia masih mencari-cari Kristus seolah-olah ada yang kurang dari semua yang dia sudah miliki. Ia tidak puas dengan apa yang dia miliki.Dia adalah pemuda yang berhasil untuk ukuran dunia. Kekayaan, Status (pemimpin, pengusaha), moralitas tidak membawa orang kepada contentment.apakah kita orang yang sedang mencari kekayaan, status melalui kekuasaan, kepemimpinan, apakah kita orang yang sedang berjuang luar biasa untuk diakui sebagai orang yang baik, sopan, bermoral. Firman Tuhan hari ini berkata pemuda dengan kualitas seperti itupun tidak puas. Tuhan mengatakan juallah milikmu dan ikutlah Aku. Discontentment itu bisa berubah menjadi contentment kalau dia melakukan apa yang dikatakan Kristus. Tetapi orang muda ini kecewa dan dia meninggal Yesus. Pertanyaan pentingnya adalah nomor berapakah Yesus akan dia tempatkan dalam hidupnya?Dia tidak menempatkan Kristus sebagai yang utama dalam hidupnya, hartanya, miliknya, label-label yang dia miliki, tetap menjadi yang utama dalam hidupnya. Untuk bisa contentment, kita harus bertemu Kritus, menerima Kritus menjadikan Kristus terutama dan utama melebihi segalanya.Apakah pekerjaan kita tidak lagi membuat kita mampu mengutamakan Kristus? Kita sudah menegosiasikan nilai-nilai yang kita yakini ke dalam hidup kita. Kita sudah membagi “ini dunia kerja, ini dunia rohani” sehingga ini menjadi pergumulan antara keinginan daging dan keinginan roh dalam hidup kita, membuat kita mengalami discontentment dalam hidup kita.apakah nilai-nilai kebenaran masih nyata di pekerjaan kita? Ataukah kita sedang mencoba beradaptasi dengan system?Jangan-jangan kita sebagai alumni hidup di dua dunia “dunia pekerjaan” dan “dunia persekutuan” yang sangat berbeda, hal inilah yang membuat kita discontentment.memang kalau kita melakukan kebenaran di pekerjaan, pastilah ada konflik, ada pertentangan-pertentangan nilai yang terjadi, yang ujung-ujungnya adalah “pilih Kristus atau pilih pekerjaan”kenapa Yesus menyuruh pemuda itu menjual hartanya, karena Yesus melihat kalau kita tidak total memilih Yesus, kita tidak akan berhasil didalam dunia, tidak ada kepuasan yang terjadi/ jika kita ingin mengalami kepuasan/kecukupan didalam konteks Kristus, maka cukupkanlah Kristus didalam hidup kita, utamakanlah Kristus didalam hidup kita.Pemuda ini mengingatjkan kita semua, tidak ada pilihan lain, kalau kita ingin puas dalam  Kristus, cukuplah Kristus dalam hidup kita, yang lain hanyalah asesoris, asesoris  itupun Allah yang memberikan. Tuhan akan membuat kita berhasil jika kita mau setia pada Tuhan.sering kita memikirkan resiko jika kita taat, akan disingkirkan atasan , tidak mendapat pekerjaan, tetapi Tuhan sendiri berjanji akan menambah semua nya itu
Kesimpulan
—  Contentment dimulai dengan mengenal tujuan hidup.  Filipi 3:10 “ Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitannya dan persekutuan dalam penderitaannya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya.
—  Contentment kita berbeda dengan dunia ini. Adam dan hawa meningalkan contentment yang diberikan Allah: taman yang sempurna, pernikahan yang sempurna, relasi dengan Allah yang sempurna.
—  Contentment harus membedakan apa yang dibutuhkan (needs) dan apa yang diinginkan (wants)
—  Discontentment selalu dimulai merasa tidak cukup, tidak puas. Lihat kasus Adam dan Hawa (Kejadian 3:1-6)
—  Discontentment akan membawa kepada ketamakan. Lukas 12:15 “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seseorang berlimpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.
—  Contentment dapat mengakibatkan ketamakan, dan ketamkan dapat membawa kepada penyembahan berhala. (Keluaran 20:17)
—  Contentment dipenuhi dengan meninggalkan segalanya demi Kristus. (Fil 3:8):”Bahkan segalanya kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Tuhanku  lebih mulia dari segalanya….
—  Contentment membawa kita kepada nilai yang sangat besar (Mat 13:22)

            Jim Elliot:” Tidaklah bodoh orang yang melepaskan apa yang tidak dapat dia pertahankan, untuk mendapatkan apa yang tidak akan hilang”.



Solideo Gloria

Rabu, 16 Maret 2016

ETOS KERJA

Oleh : Desmiyanti Tampubolon, STP


Kolose 3:22-25

           Menurut Webster Dictionary menjelaskan kerja sebagai usaha atau karya nyata baik  secara fisik atau mental yang dikerjakan seseorang. Jhon Stot merumuskan pengertian kerja  sebagai  pengeluaran tenaga baik secara manual atau mental atau kedua-duanya dalam pelayanan terhadap orang lain, yang menambah kepuasan bagi si pekerja, manfaat bagi masyarakat dan kemuliaan bagi Allah.Ethos (Ingg) :ciri khas, arti lain : prinsip kerja, disiplin kerja.Etos kerja dari satu profesi bis a dilihat dari ciri-ciri kerjanya (dikenal cepat melayani nasabah atau tidak), pakaiannya yang khas untuk profesi tertentu, mis. guru, pegawai bank. Dalam PL bahasa Ibrani yang dipakai untuk “kerja” adalah “asa” atau “ma’aseh”Istilah  Ibrani yang lain untuk kerja adalah “abad”(kata kerja) atau “abodah” (Kel 38:21, Bil 4:23-27 yang digunakan untuk “kerja” dari kaum Lewi yang berarti melayani, jadi sebenarnya bekerja dianggap sama dengan melayani Tuhan.

Allah Sang Pekerja Agung. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1), sejak ayat pertama Alkitab telah menggambarkan bahwa Allah adalah Sang Pekerja. Ia bersabda, mencipta, melengkapi serta memperindah pekerjaanNya dengan hasil yang Dia nilai baik (Kej 1:10, 12, 18,21,25), Ia menjadikan segala sesuatunya baik, amat sangat baik, jadi kita pun harus bekerja sebaik mungkin.Yesus sendiri juga mengatakan “BapaKu bekerja hingga sekarang, maka Aku pun bekerja juga (Yoh 5:17).Roh Kudus bekerja memberi anugerahNya dengan memberikan berbagai karunia, sehingga tiap-tiap kita diberi pekerjaan sesuai dengan bakat dan talenta kita mis. orang yang teliti dengan angka akan sangat cocok kerja di bank. Bekerja adalah hakikat manusia karena Allah Sang Pekerja Agung itu telah menciptakan manusia segambar dengan Dia (Kej 1:26-27), karena itu manusia harus bekerja sebaik mungkin mengikuti teladanNya, baik motif dan modus, pola dan cara serta siklus dan musimnya (Kel 20:9,11). Bekerja juga membutuhkan istirahat, bekerja maksimal 40 jam seminggu, jangan bekerja tanpa henti hanya semata-mata demi uang. Manusia adalah mitra kerja Allah (Kej 1:26), Allah masih terus berkarya setelah kejatuhan manusia dengan menebus manusia dari kuasa dan efek dosa, dan manusia dilibatkan sebagai rekan kerja dalam semua kerja besar itu. Jika kita ingin menjadi agen of change, kita harus bekerja pada semua bidang kerja untuk dapat memberi dampak di masing-masing pekerjaan. Orang Kristen bekerja di dalam dan bagi Kerajaan Allah, semua pekerjaan harus kita lakukan untuk kemuliaan Allah dan demi perluasan Kerajaan Allah. Paulus dalam Kolose 3:23 mendesak pembaca suratnya untuk bekerja segenap hati, seperti untuk Allah dan bukan untuk manusia. 

Dunia kerja adalah wilayah yang menyita sebagian besar waktu produktif manusia. Ini berarti dunia kerja adalah bidang kontak yang penting bagi perluasan Kerajaan Allah. Allah mengandalkan semua pekerja Kristen untuk mencapai tujuanNya. Ia hadir membantu dan memberdayakan kita untuk menjadi pemenang. Melalui pekerjaan kita, Allah memakai kita untuk membawa perubahan. Masalahnya adalah : bagaimana kita dapat bekerja dengan etos kerja yang baik sesuai dengan prinsip etis ?  2 Tim 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermafaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran…..”Segala tindakan kita harus firman Allah yang menjadi standar kebenarannya, hal ini manjadi penting ketika kita harus mengambil keputusan apakah ini area ‘hitam’, ‘putih’ atau “grey area”. Jika kita sebagai alumni binaan pelayanan mahasiswa hanya sekedar tidak datang terlambat ke kantor atau tidak korupsi, hal itu menjadi kontribusi yang terlalu sedikit untuk dapat kita lakukan.

Beberapa tujuan yang diharapkan dari para pekerja Kristen tentang teologi kerja:
  1. Agar setiap pekerja Kristen mengerti bahwa bekerja dalam berbagai bidang dan jenis, sangat penting, bermanfaat dan bermakna tidak hanya bagi manusia tapi bagi Allah juga.
  2. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa kerja bukan sekedar jalan memenuhi kebutuhan hidup mereka, tetapi berdampak nyata bagi kehidupan global bersama Allah
  3. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa apa yang mereka kerjakan di dunia ini haruslah merupakan cerminan, bagian atau lanjutan dari pekerjaan Allah
  4. Agar tiap pekerja Kristen mengerti serta dapat menempatkan pekerjaannya dalam terang wawasan dan tujuan Allah, sehingga dapat melihat campur tangan dan peranan Allah dalam pekerjaan mereka
  5. Agar tiap pekerja Kristen mengerti bahwa Allah adalah Sang Pekerja Agung yang juga menghendaki manusia bekerja dengan motif, modus, serta dengan kualitas dan standar Allah melalui berbagai talenta yang diberikan Allah pada tiap-tiap orang
Etos  kerja orang kristen dinyatakan dengan :
  1. Displin dan integitas, yaitu bekerja dengan setia bukan hanya dihadapan atasannya untuk mencari muka tapi dengan tulus hati karena takut akan Tuhan (Kol 3:22), kita tetap bekerja dengan rajin walaupun atasan tidak ada di kantor
  2. Kreatif dan inovatif, yaitu melakukan pekerjaan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, for God satisfaction not just customer satisfaction(Kol3:23). Hadirlah di tempat kerja tepat waktu, dikenal sebagai orang yang berintegritas, demi kemuliaan Allah
  3. Proaktif dan produktif karena ada upah dari Tuhan selain dari manusia (Kol 3:24)
  4. Hati yang takut akan Tuhan sehingga tidak melakukan apa yang salah dihadapanNya (Kol 3 :25). Ingat, Daniel dan Yusup dikenal sebagai orang yang memiliki roh yang luar biasa.
8 Etos Kerja Kristiani :

1.      Kerja adalah anugerah. Kesadaran bahwa anugerah Allah membuat kita menjadi  manusia yang berjiwa besar, berhati mulia, kepribadian matang, dewasa, tenang, percaya diri dan bijaksana Orang yang berparadigma anugerah selalu yakin karirnya dibimbing dan dijamin Allah, terbebas dari nafsu mengejar uang, dan sanggup mengatasi godaan saling sikut demi rebutan rezeki yang sebenarnya tidak seberapa.
2.  Kerja adalah tanggung jawab. Sebagai pemegang tanggungjawab, kita dipercaya dan diharapkan untuk mampu melaksanakannya, dipercaya berarti : mempunyai kompetensi professional(memiliki kemampuan) dan dipercaya secara moral (berintegritas). Jika kita bekerja dengan penghayatan seorang pengemban tanggungjawab kita akan menjadi orang yang dapat diandalkan dan terpercaya.
3.      Kerja adalah panggilan. Orang yang terpanggil menjadi dokter misalnya, sebenarnya sudah dilengkapi dengan rasa belas kasihan kepada orang yang menderita dan kekuatan untuk tidak merasa ngeri melihat darah, demikian juga dengan orang yang terpanggil menjadi guru sudah dianugerahi bakat mengajar, rasa cinta pengetahuan, rasa sayang pada siswa, bahagia melihat pertumbuhan dan perkembangan anak didik .jadi bukan hanya seorang hamba Tuhan fulltime yang memiliki panggilan hidupnya. Keterpanggilan yang berpusat pada Allah pada akhirnya akan menjadi kecenderungan hati,dorongan hati atau kemauan hati yang kuat,dan menumbuhkan keyakinan : kesanalah aku harus pergi! Itulah jalan hidupku. Visi pribadi mendorong lahirnya panggilan hidup akan bekerja sebagai apa, melanjutkan study untuk tujuan yang jelas.
4.  Kerja adalah aktualisasi (Kerja keras, telaten). Kerja keras tanpa arah, tanpa skenario,tanpa visi hanya akan menghamburkan energi kita, jadi target harus dipatok, visi harus dibentang dan hasrat harus diwujudkan .Rumuskan visi dan target-target yang ingin diraih, tutup pikiran terhadap  godaan lain dan fokuskan energi untuk mencapainya. Tanpa target akan membuat kita malas bekerja, jadi kita harus fokus pada visi dan berupaya mencapai target.
5.   Kerja adalah ibadah. Kita harus senantiasa  menghayati kehadiran Tuhan di ruang kerja, ibadah itu menyatu dengan kehidupan profesional dan sosial, karena itu kerja diniatkan sebagai bakti, dedikasi dan persembahan pada Tuhan.Kita bekerja untuk Tuhan dank arena Tuhan.Etos seorang pekerja Kristen haruslah bekerja dengan standar Tuhan yang menjadi pembeda dengan pekerja lain, membuat kita bekerja sebaik-baiknya tidak hanya memuaskan hati manusia tapi juga hati Tuhan
6.      Kerja adalah seni. Bekerja sebagai seni adalah sebuah kompetensi kerja dengan mutu tinggi baik dilihat dari segi esensinya, tekniknya, prosesnya; bekerja tanpa estetika hanya berujung pada proses kerja yang membosankan, monoton, kering dan tanpa daya tarik. Kreatiflah dalam bekerja dan hal ini akan membuat kita  penuh daya cipta, gagasan-gagasan inovatif. Mis.mengajar dengan metode GASING (Gampang, asyik, menyenangkan) àYohanes Surya. Jika kita mengajar sebagai guru, mengajarlah dengan cara yang menarik, dan dapat dimengerti sehingga siswa dapat menyukai semua pelajaran.
7.      Kerja adalah kehormatan. Kerja sebagai kehormatan berarti kerja seutuhnya dan setuntas-tuntasnya, mencapai apa yang diharuskan untuk diselesaikan secara terhormat.Kita harus membangun kehormatan profesi kerja: bangga berprestasi, bangga tepat waktu, bangga bekerja keras, bangga berintegritas, bangga berdisiplin, bangga berkualitas. Jangan malu menjadi pegawai teladan setiap bulan, dari kita memang dituntut kualitas terbaik.
8.      Kerja adalah pelayanan. Semua profesi, pada mulanya sekali adalah untuk melayani, bankir melayani nasabah, guru melayani bangsa dengan mendidik, jaksa, hakim dan polisi melayani masyarakat untuk keadilan hukum. Kerja sebagai pelayanan berarti kita harus bekerja melampaui harapan dengan memberikan hasil yang bermutu. Bekerjalah lebih tinggi, lebih baik, lebih cepat dari pada orang lain.


Kolose 3 :23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.Pengkhotbah 5:11 “Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur”. Mari bekerja dengan etos kerja kristiani. 


Solideo Gloria

Jumat, 19 Februari 2016

Visi & Panggilan

(Kotbah ini merupakan Kotbah MBA yang dibawakan oleh Pdt. Parlindungan Situmorang M.Th pada Jumat 17 Januari 2014)


Setiap pribadi harus punya visi, jika tidak maka hidupnya akan berantakan. Visi membuat kehidupan seseorang memiliki arah kemana harus berjalan. Visilah yang menentukan kemana tujuannya. Dan visi harus dimiliki bersama dengan strategi untuk mencapainya agar tidak sekedar impian belaka.


Anak-anak Tuhan seperti kita, saatnya punya pribadi punya visi. Dalam Ams 29:18 dikatakan, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” Dalam terjemahan NIV kata yang dipakai untuk wahyu adalah vision. Jadi jika tidak ada visi, maka rakyat akan menjadi liar. Liar di sini bukan menunjukkan rakyat yang sedang huru-hara atau terlibat dalam kerusuhan, tetapi rakyat yang rakyat yang tidak memiliki arah yang jelas.


Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita juga harus memiliki visi agar hidup kita jelas mau kemana. Dengan kata lain kita seharusnya sudah menetapkan mau jadi apa kita 10 tahun lagi. Hal ini bukan mengada-ada tetapi sesuatu yang terencana di mana dalam 10 tahun ke depan kita sudah menetapkan dasar yang membuat kita disebut mapan dalam hidup ini. Supaya hidup kita tidak lagi terombang-ambing ke sana kemari khususnya dalam dunia kerja.


Sebagai anak Tuhan, visi kita dalam dunia kerja haruslah jelas. Mengapa demikian? Jika kita tidak memiliki visi yang jelas maka akan berdampak kepada beratnya pekerjaan yang kita lakukan. Visi yang jelas akan melahirkan misi atau strategi yang mantap untuk mencapai visi itu. Jadi, jika kita tidak memiliki visi, maka tidak ada strategi untuk bisa mengerjakan satu pekerjaan dengan baik, dan hal ini membuat beban pekerjaan itu menjadi sesuatu yang memberatkan. Hal inilah yang membuat anak-anak Tuhan tidak maksimal dalam dunia pekerjaan bahkan cenderung berpindah-pindah pekerjaan.


Saya tidak sedang mengatakan bahwa anak-anak Tuhan dilarang untuk pindah pekerjaan dan harus menggeluti satu pekerjaan sampai akhir. Tidak! Tetapi apa yang membedakannya adalah visi. Ada saat-saat tertentu dimana kita harus ‘banting setir’ dalam pekerjaan karena kita menangkap panggilan Tuhan bagi kita untuk segera bekerja di tempat lain. Semua didasari oleh visi. Visi membuat kita untuk fokus dan lebih maksimal dalam dunia kerja. Dunia juga memahami benar pentingnya sebuah visi demikian juga dengan motivator-motivator terkenal dalam dunia ini.


Banyak orang (dan juga terjadi kepada orang percaya) yang menganggap pekerjaan sebagai kutuk karena mereka tidak memiliki visi. Dalam pandangan mereka pekerjaan itu adalah beban yang merongrong hidup. Keluhan-keluhan senantiasa keluar dari orang-orang seperti ini, khususnya pada hari Senin.


Ada sebuah kisah yang menyedihkan mengenai orang yang tidak memiliki visi ini, yang notabene adalah orang percaya:


Ada teman saya pejabat di departemen dalam pemerintahan. Dia dipercaya atasannya menangani penyaringan penerima beasiswa untuk study lanjut dari Korea Selatan. Dia kemudian membedakan alumni pelayanan mahasiswa dan non alumni pelayanan (atau beragama lain). Hasilnya menyedihkan karena justru betapa yang bukan alumni pelayanan yang jauh lebih baik dalam merespon beasiswa itu, baik dari segi mempersiapkan berkan dan surat lamaran dan juga dari segi semangat dan kuatnya keinginan mereka untuk beasiswa tersebut. Kerinduan mereka yang besar ditunjukkan dengan mempersiapkan diri dengan baik. Akhirnya yang paling banyak menerima beasiswa itu adalah mereka yang bukan Kristen. 


Yang menyedihkan dari kisah di atas adalah bukankah nanti mereka – yang menerima beasiswa – yang akan banyak menempati posisi sebagai pemimpin ketika mereka kembali dari studynya? Hal ini terjadi karena kita tidak memiliki visi dalam hidup kita yang menganggap pekerjaan sebagai kutuk. Sedangkan bagi orang-orang yang memiliki visi, pekerjaan adalah anugerah dan tanggung jawab Allah kepada manusia yang harus dikerjakan dengan tanggungjawab. Visi yang jelas membuat mereka memiliki energy yang meluap dan semangat dalam mengerjakan pekerjaannya.


Visi dalam dunia kerja harus mantap. Jangan menganggap pekerjaan formal itu adalah kutuk karena dosa. Pekerjaaan adalah sesuatu yang alkitabiah. Jangan pernah dualisme dalam memandang hidup dimana kita memandang suasana rohani hanya pada hari minggu, sedangkan sisa hari lainnya itu bukan dunia rohani, tetapi sekuler. Pandangan ini bisa membuat kita memiliki sikap bahwa di luar hari Minggu tidak membutuhkan hal-hal yang rohani. Ini dualisme dan TIDAK alkitabiah. Kita dipanggil bukan untuk dualisme seperti ini. Keseluruhan waktu kita (setiap harinya) adalah waktu untuk Tuhan dan harus mempermuliakan Tuhan. Panggilan bagi kita semua adalah agar tetap mempermuliakan Tuhan di manapun kita berada dan apapun profesi kita. Semua kegiatan dalam mencari nafkah dalam arti positif, adalah tempat bagi kita untuk bisa melayani Tuhan. Jadi bidang apapun kita baik itu kesehatan, pemerintahan, hukum, guru, bisnis, ataupun entertanintment, semuanya adalah ranah atau ladang dimana nama Tuhan harus dipermuliakan. Jadi sepanjang hari kita melayani Tuhan. Jika memahami hal ini dengan baik, ketika kita masuk dalam dunia pekerjaan kita bisa melihat bahwa di sini Tuhan memanggil saya dan saya harus memberikan yang terbaik.

Dalam Mat 9:35-36 dikatakan, “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”, dan dalam Luk 4:18-19, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Bagian Firman ini menggambarkan dunia yang kita layani. Sebuah dunia yang lebih baik ketika kita hadir dan berkarya di situ.


Anak-anak Tuhan tidak hanya dipanggil untuk pelayanan formal (seperti kotbah, dll), tetapi juga dalam dunia kerja. Di tempat kerja kita bisa melakukan banyak hal yang positif seperti mengangkat hidup harkat hidup orang lain sehingga mereka jauh lebih baik hidupnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan seturut dengan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan teladan dalam hal meembuang sampah dan menjaga kota ini tetap bersih, mendidik anak-anak di sudut lorong agar memiliki budaya bersih, juga adalah sesuatu yang baik, dunia dimana kita dipanggil Tuhan. Artinya semua lini kita bisa ambil bagian untuk menunaikan panggilan Tuhan.

Dalam Mat 9:35-36 tadi Yesus mengajar kita bagaimana melihat orang banyak itu. di sini bukan sekedar melihat sepintas dan tidak berbuat apa-apa. Cara melihat kita harus seperti cara melihat Yesus. Bagaimana kita melihat tempat di mana kita bekerja. Bagaimana kita melihat atasan, perusahaan, teman-teman kolega, bawahan, orang yang lalu lalang datang ke kantor, melihat siswa, atau melihat orang tua yang mengantar anak ke sekolah. Apakah kita hanya sekedar melihat sepintas? Sebagai guru bagaimana kita melihat murid-murid? Apakah kita hanya sekedar mengeluarkan ilmu dan seperti senjata menembakkannya kepada mereka? Atau kita ingin anak ini suatu hari kelak menjadi orang yang berguna. Ada passion kita, doa kita, rindukan terhadap murid-murid.

Semua bidang yang bisa kita garap adalah bidang di mana kita bisa memuliakan Tuhan maka di sana cobalah memiliki integritas yang mantap. Kita harus menunjukkan identitas kita sebagai orang percaya yang mungkin salah satunya adalah melalui persekutuan kantor yang kita usahakan. Kita bersyukur bahwa di Medan sekarang banyak kantor-kantor yang sudah memiliki persekutuan. Ini menjadi tempat bagi mereka untuk saling menopang dan menjaga kualitas hidup mereka. Mari bertindak nyata untuk membangun kerohanian yang baik dalam dunia kerja masing-masing. Jangan tinggalkan atau lupakan persekutuan atau upaya untuk memajukan Kerajaan Allah, apapun pekerjaanmu.


Dalam mengerjakan hal ini kita juga butuh pengaturan waktu yang baik. kita harus tahu kapan haru melayani dan kapan harus bekerja. Mari bertanggung jawab terhadap waktu kita ketika berada di tempat kerja. Kita juga harus menunjukkan bahwa kita adalah orang yang suka kerja keras. Jangan sampai dikatakan orang bahwa kita adalah seorang yang pemalas. Tetapi kita dengan semangat yang kuat mengerjakan setiap pekerjaan kita dan hal ini menjadi berkat bagi orang lain.


Kemudian kita juga memerlukan ketekunan agar jangan cepat menyerah. Mari melakukan yang terbaik. Kita juga harus menjaga kejujuran. Jangan sampai ada anak-anak Tuhan yang ditangkap oleh KPK. Sekecil apapun kita harus jujur termasuk dalam penggunaan keuangan. Bertanggung jawab dan sikap positif dalam situasi apapun. Inilah keistimewaan anak-anak Tuhan.


Jika kita memiliki cara pandang seperti ini, visi dan panggilan hidup seperti ini kita jalani, pasti kita keluar sebagai yang terbaik dari antara yang baik. Ada banyak orang di luar sana yang baik-baik, tetapi kita bisa muncul menjadi yang terbaik. Panggilan mari terus menerus memaksimalkan hidup untuk memuliakan nama Tuhan.


Solideo Gloria!

DATING & INTIMACY

Oleh : Drs.Tiopan Manihuruk, MTh 





Jenis cinta: Agape: spiritual love, giving – not getting from each, cinta yang sejati seharusnya saling member, jika tidak, nafsulah yang menguasai dan akan muncul eksploitasi. Dalam cinta agape ada pengampunan tanpa batas. Jika dalam masa pacaran kita sulit untuk mengampuni, akan sulit untuk menikah.


Tujuan hubungan yang pertama: keduanya saling mendorong untuk lebih dekat kepada Tuhan, jika dia tidak mendorong kita makin dekat dengan Tuhan, makin setia dan taat, mungkin perlu dievaluasi apakah kita benar-benar akan meneruskan hubungan. Kedua : laki-laki memimpin, perempuan menginspirasi, pria harus menjadi pemimpinnya/imamnya, dan wanita menginspirasi. Pria memimpin agar lebih murni dan suci jalan hidup mereka; Wanita mendorong, menguatkan dan menyegarkan sang pemimpinnya Sex is like a fire!Sex goes wrong for the same reason that a fire destroys (Time – Place – Flame) Seks itu seperti api, jika tidak digunakan, akan aman, tapi jika api dinyalakan akan dapat membakar bahkan menghanguskan. Tujuan seks diberikan Allah adalah :recreation and reproduct. Manusia akal budinya menguasai seks sedangkan binatang hidupnya dikuasai seks.


Lima Rumus dalam dating Pertama : Avoid the ‘steady relationship’ until God’s time. Terlalu lama dan sering bertemu membuat terlalu familiar/biasa dan dapat menimbulkan masalah karena lebih toleran akan hal yang salah. Hindari hubungan yang sangat dekat/intim, sampai waktunya menikah. Kedua : keep busy and active, tetaplah memiliki kesibukan. Ketiga : stay away from ‘bad scenes and discussions’, hindari topik yang berhubungan dengan pornografi/pornoaksi, pacaran ditempat gelap akan membuat godaan untuk berbuat dosa. Keempat : prepare and ready for marriage spiritually, physically, emotinally and mentally, mari membangun persiapan dalam pacaran itu secara rohani, batin, emosi dan mental, bukan fisik, karena itu tidak akan ada seks sebelum pernikahan. Kelima : don’t get involved with anyone until your wedding date (no primarital sex), jangan pernah melakukan keintiman dengan siapapun sebelum pernikahan. Be satisfied with spiritual communion and conversation, puaskah kita berpacaran dengan dia secara rohani, dan dapat berkomunikasi dengan nyaman? Keep your life holy and pure. To stay clean, stay away. Tubuh adalah Bait Allah, karena itu jaga tubuh kita dengan menjaganya tetap kudus 1 Kor.6: 19; 1 Kor.10: 23. bd. Kol.3: 17, 23.Lust can only wait for five minutes; Love can wait for five years, nafsu hanya akan tahan menunggu 5 menit tetapi cinta dapat menunggu bertahun-tahun, karena itu hindari hal-hal yang dilakukan yang dapat menimbulkan birahi. Jika dia benar-benar mencintai, dia akan sanggup menunggu. 


Salah satu ujian cinta sejati: dapatkah anda mendaftarkan 5 cara bagaimana anda bisa menarik dia lebih dekat kepada Tuhan.Bila ya, engkau tulus mencintainya! Hawa nafsu akan terjadi saat seseorang diperbudak oleh sensasi-sensasi erotis, Hawa nafsu tidak akan memberi kepuasan melainkan ketagihan dan kebencian bd. Kasus Tamar dan Amnon, mendorong kepada perlakuan seks yang tabu atau patologis dengan segala bentuk pornografi serta kecanduan yang berlebihan dan akan sulit untuk bisa lepas dari dosa ini, dominasi hawa nafsu seks akan melahirkan eksploitasi ,Unless a dating couple can be satisfied in Christ alone, they are NOT in love, jika pacaran itu tidak mencapai kepuasan dalam Kristus maka itu bukan cinta.Kedekatan fisik (bukan hati) dapat menimbulkan sebuah BOM yang dapat meledak kapan saja.Petting, necking, hugging and kissing adalah proses alami menuju hubungan sexual dalam pernikahan Pria tertarik/terangsang dengan pandangan mata; Wanita melalui sentuhan dan pendengaran, maka bagi wanita berpakaian sopan akan menghindari godaan ini, dan hindari sentuhan yang dapat merangsang hormonal bereaksi. Masa pacaran adalah kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam, mengerti, menerima, memperhatikan dan membangun , karena itu gunakan untuk proyek bersama, misal: baca buku; KTB, jam doa, pelayanan dan kunjungan Kemesraan adalah keharmonisan dalam kesucian . Masa pacaran adalah salah satu tahapan untuk mencari pimpinan Tuhan.


Beberapa indikator pacaran yang benar :
* Apakah selama pacaran keduanya semakin bertumbuh dan mengasihi Tuhan?
* Bangun kebersamaan yang kondusif dan membangun. 1 Kor.10: 23
* Jauhi pornografi dan aksi
* Hindari obrolan,bacaan dan tontonan yang dapat merangsang birahi. Kol.3: 17,23
* Isi hidup dengan kegiatan yang membangun – jangan ada kekosongan. Misal: olah raga, musik, game dll. bd. Daud. 2 Sam.11: 1-5
* Bangun relasi yang dekat dengan Tuhan. Mzm.119: 9-11


Kesucian dalam hal seks, kita dapat belajar dari Yusuf (Kej.39: 6b-12, 20), ia menolak (8); sadar batasan antara hak dan kewajiban (9); tahu bahwa hal itu sebuah kejahatan besar (9); tidak mau berdosa terhadap Allah (9); tetap tegar meskipun berkali-kali dirayu (10); lari dari pencobaan (12); rela atau memilih menderita masuk penjara dari pada berdosa (20) Godaan dari istri Potifar ditolak Yusuf, dengan kalimat “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada dirumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknyapada kekuasaanku, bahkan dirumah ini ia tidak lebih besar kuasanya daripadaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain daripada engkau,sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej 39:8-9), walaupun dari hari ke hari, Yusuf dibujuk, ia tidak mau (39:10), dan Yusuf rela difitnah telah melakukan zinah, dan masuk penjara walau ia tidak berbuat salah. 


Dalam masa bertunangan perlu ditambahkan cinta ‘Philia’, friendship, sharing, soulish not selfish yang membuat batin makin menyatu. Tujuan hubungan: sharing yang lebih dalam, mendiskusikan rencana masa depan: keluarga, pekerjaan, anak, gereja, pelayanan, tempat tinggal dst .Capai penuh pertimbangan dan kesiapan mental Jika kita akan merencanakan pernikahan, bicarakanlah tentang kondisi keluarga, akan menjadi jemaat gereja apa, tinggal di kota apa, dalam rangka menyamakan visi.Capai penuh pertimbangan dan kesiapan mental.




Solideo Gloria



Selasa, 09 Februari 2016

YOKE FELLOW

(Kotbah MBA tanggal 30 Januari 2015 yang dibawakan oleh Desmiyanti Tampubolon, STP)



1 Tesalonika 5 :11, 14
Dalam bukunya The Four Loves, C.S Lewis mengatakan: “kekasih-kekasih pada umumnya berdiri berhadapan muka, saling terpikat satu sama lain, teman-teman berdiri berdampingan, terpikat pada minat yang sama. Pernyataan khas yang membuka persahabatan biasanya seperti ini: “Apa? Kamu juga? Kukira cuma aku”. 

Allah menciptakan kita sebagai mahluk-mahluk yang tumbuh lewat interaksi satu sama lain. Dalam Pengkhotbah 4:9-12 dikatakan, “Berdua lebih baik daripada seorang diri karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya. Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan” Keuntungan jika berdua: ada upah yang lebih baik ,kalau ada yang jatuh bisa menolong, tidak mudah dikalahkan.” 

Kata ‘Yoke’ (Ing) memiliki arti ‘kuk’, ‘beban’, sedangkan ‘Fellow’ (Ing) berarti teman atau sahabat. Jadi, Yoke fellow bisa diartikan sebagai teman sejawat atau sahabat, khususnya patner dalam sebuah pernikahan. Itulah sebabnya pasangan disebut sebagi yoke fellow. Yoke fellow juga bisa berarti sahabat berbagi beban, sahabat dalam suka dan duka, sahabat sepenanggungan. Persahabatan menimbulkan goresan bahkan kesakitan, tetapi saat kita berbenturan satu sama lain dalam konflik, kita saling mengasah sehingga terkikis sisi-sisi yang menghambat kita menjadi apa yang Allah rancangkan. Kita saling memerlukan satu sama lain, kadang-kadang kita jatuh, dan membutuhkan orang lain untuk menolong kita. 


Orang bisa saja tidak menikah, tetapi setiap orang harus memiliki sahabat. Dalam persahabatan, kita harus bergaul dengan orang yang memiliki passion yang sama, sehingga dapat saling menguatkan. Jika kita berdiskusi tentang kerinduan kita menjadi pengurus/ melayani pada orang yang sudah kehilangan passion, ia pasti meminta kita untuk tidak usah lagi melayani. Seperti bara api, bara tersebut akan terbakar jika diletakkan di sekeliling bara yang terbakar. Jika bara api kita letakkan sendiri, maka bara api itu akan padam. Karena itu jangan berdiskusi dengan “pemadam” passion.

Kita harus memiliki komunitas yang dapat menolong kita bertumbuh dan tetap setia. Keuntungan hidup dalam komunitas orang beriman:

  • Relasi yang banyak akan membuat pribadi kita lebih baik, bergaul dengan lebih banyak karakter, latar belakang, akan membuat kita semakin dewasa dan bertumbuh.
  • Komunitas memberi rasa saling memiliki dan kebutuhan dicintai. Jika kita memiliki sahabat, kita bisa berbagi suka dan duka bersama, kunjungan di saat sakit/kemalangan.
  • Menyediakan ruang untuk memberi pengaruh yang sehat sehingga dapat berpikir dan bertindak lebih baik.
  • Mampu mengambil keputusan sesuai dengan iman yang dipercayai.
  • Memberi prinsip hidup benar ditengah-tengah pengaruh buruk lingkungan kerja/masyarakat.
  • Mengizinkan kita untuk menguji iman kita apakah sudah sesuai dengan pilihan-pilihan di dunia kerja, jadwal sehari-hari, “pertempuran” pribadi, keputusan-keputusan atau prilaku.
  • Orang yang kurang berteman bisa menjadi orang yang egois, kaku, dan jarang merasakan kesusahan orang lain serta kurang mendapat dukungan dalam masa kesusahan. Orang yang terlalu sibuk dengan masalah sendiri biasanya tidak punya waktu untuk menolong orang lain.

Dalam 1Tes 5:11, 14 kita menemukan ada beberapa hal yang terjadi dalam persahabatan, yaitu:

  • Saling menasihati
  • Saling membangun.
  • Tegorlah mereka yang hidup tidak tertib, kesalahan sahabat harus ditegur agar dia menjadi lebih baik dan tidak menjadi sandungan bagi orang lain.
  • Hiburlah mereka yang tawar hati. Kehadiran sahabat di saat dukacita, sakit, akan sangat menghibur, perhatian-perhatian kecil akan menolong hati yang berduka.
  • Belalah mereka yang lemah. 
  • Sabarlah terhadap semua orang.
  • Kenyataannya, cukup sulit menemukan sahabat sejati seperti itu dalam hidup kita, karena untuk menemukan sahabat sejati, diperlukan komunikasi yang intens, proses kebersamaan yang akan membuat persahabatan itu langgeng.

Hal-hal yang dapat menjadi penghalang menjalin persahabatan:
Perbedaan usia. Akan lebih mudah bersahabat dengan orang yang sebaya dengan kita dibanding dengan mereka yang jauh lebih tua/muda. Orang yang lebih senior cenderung lebih ditakuti untuk dijadikan teman karena merasa tidak mungkin cocok dengan orang yang jauh lebih tua.
Perbedaan karakter. Misalnya perbedaan temperamen seperti Itrovert - ekstrovert, sanguine – melankolis – plegma - kolerik. Seorang yang pendiam cenderung sulit berteman dengan orang yang senang bicara, yang selalu dapat berteman dengan siapa saja.

Perbedaan pertumbuhan rohani. “Dewasa” rohani vs “muda” rohani. Orang yang dewasa rohani, apalagi dia seorang senior, dapat membuat orang-orang semakin takut berkenalan apalagi bersahabat
Perbedaan gender. Perbedaan gender (pria - wanita) juga mempengaruhi. Persahabatan pria-wanita sering dicurigai dapat berujung dengan saling jatuh cinta, sehingga sering dihindari kedekatan dengan lawan jenis, walaupun kenyataannya sahabat berbeda gender tetap bisa bersahabat tanpa saling jatuh cinta.

Perbedaan latar belakang. Misalnya asal fakultas/universitas. Jika kita hanya memiliki teman dari satu fakultas/universitas, kita akan segera kehilangan teman, karena pekerjaan bisa membuat kita dipisahkan oleh kota yang berbeda.
Perbedaan jenis/bidang pekerjaan. Bersahabat dengan orang yang bekerja di bidang yang sama bisa lebih mudah, karena topik pembicaraan tentang pekerjaan akan membuat obrolan menjadi lancar.

Perbedaan minat/hobby. Orang yang sama-sama hoby elektronik akan sangat cocok mengobrol tentang kemajuan/info tentang elektronik dan akan membosankan bagi mereka dengan minat yang berbeda.Tapi dalam alkitab kita melihat persahabatan yang dapat terjadi dengan perbedaan seperti di atas. 

Contoh:
Persahabatan Rut dan Naomi (Rut 1:16 “sebab kemana engkau pergi,kesitu jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam”). Dari segi usia, pastilah Naomi usianya jauh lebih tua dari Rut, dan secara rohani, Naomi pasti lebih lama mengenal Allah dibanding Rut seorang Moab. 

Persahabatan nabi Natan dan Daud (2Sam 12:7-12). Status Daud sebagai raja tidak menghalangi nabi Natan untuk menegur dosanya. Natan berani menegur Daud seorang pemimpin, akan dosanya, dan teguran itu tidak membuat persahabatan mereka berakhir. Orang yang berada di posisi puncak, sering merasa kesepian, karena tidak ada teman yang berani bersahabat dengan dia, tapi Natan menjadi sahabat seorang raja seperti Daud
Persahabatan Tuhan Yesus dengan Lazarus, Maria dan Marta (Yoh 11:1-44, Yoh 12:1-8). Tuhan Yesus Anak Allah bisa bersahabat dengan sebuah keluarga sederhana.

Persahabatan Daud dan Yonatan (1Sam 18:1-3, 1 Sam 20). Yonatan yang seharusnya menjadi pewaris tahta kerajaan dari ayahnya Saul, justru bersahabat dengan Daud yang akan menjadi raja menggantikan ayahnya. Yonatan bersedia mengingatkan Daud dan rela dimarahi ayahnya karena melindungi Daud. Bahkan persahabatan mereka dibuktikan Daud dengan mengangkat Mefiboset (anak Yonatan) menjadi anaknya, setelah Yonatan meninggal.

Kriteria seorang Yoke fellow :
  • Warmth (hangat).
  • Genuineness (tulus).
  • Empathy (merasakan penderitaan orang lain).
  • Perhatian.
  • Mendengar (listening).
  • Support (memberi dukungan).
  • Good interpersonal in God (memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan).
  • Responding (meresponi).
  • Model persahabatan sejati
  • Seorang sahabat sejati selalu berkomunikasi.
  • Memiliki prinsip hidup yang sama, ada kecocokan dalam percakapan tentang apa saja.
  • Saling membangun dan memperkaya.
  • Mau menerima dan dapat dipercaya (Ams 11:12).
  • Bersedia berkorban, bersedia ditegur, bersedia berubah.
  • Jujur, saling mengampuni.
  • Saling mendoakan.
  • Menghindari konflik (Ams 25:8, “Jangan terburu-buru kau buat perkara pengadilan, karena pada akhirnya apa yang engkau dapat lakukan, kalau sesamamu telah mempermalukan engkau?”).
  • Menjaga rahasia (Ams 11:12).
  • Mengusahakan keterbukaan.
  • Ikut serta dalam setiap kemajuan (Ams 2:11, “kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau”).
  • Respon yang tulus.
  • Sahabat sejati adalah seseorang yang kepadanya anda berani untuk berbicara tanpa rasa takut/malu menghadapi kegagalan, memberitahukannya semua kemajuan yang anda capai, orang yang kita percayakan semua rahasia kita.


Apakah bukti seseorang/anda sudah menjadi yoke fellow bagi sesama?
Seorang sahabat yang bisa dengan tersenyum menatap dan bertanya “ada apa”. Hanya sahabat yang akan mengangkat telepon kita pada pukul 4.00 pagi.
Mereka yang bisa melihatmu terluka dari matamu disaat orang lain percaya dengan senyummu. Kepadanya kita tidak dapat menyembunyikan kesedihan/masalah kita.
Sahabat yang bukan menghampirimu ketika butuh namun tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.

Sahabat yang ketika melihatmu akan menangis, akan mengeluarkan hal terkonyol yang akan bisa membuatmu kembali tersenyum.
Sahabat sejati terdiri dari telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami dan tangan yang siap menolong.

Penutup
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Apakah anda ingin ada seorang yoke fellow dalam hidup anda? Mulailah dengan menjadi yoke fellow bagi orang lain, dan anda akan mendapatkan banyak sahabat yang menjadiyoke fellow juga bagi anda.


Solideo Gloria!

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...