Selasa, 04 Juli 2017

Eksposisi Tokoh Alkitab : "ESTER"

Oleh : Dr. Tuan Juniar Situmorang, M.Kes




Beberapa hal yg menjadi pokok pikiran setiap membaca ester adalah: Siapa tokoh utama di kitab Ester? Dan kenapa Ester yang tanpa YHWH bisa masuk dalam Alkitab? Kenapa bisa dimasukkan dalam kitab Yahudi walau tanpa YHWH” bahkan dimasukkan dalam kanon? Marthin Luther pernah berkata : ,” 2 Maccabees dan Esther, “Saya berharap keduanya tidak ada sama sekali; karena mereka terlalu keYahudian dan terlalu banyak kebusukan kafir.”(Martin Luther, Table Talk, xxii., cited by Baldwin, pp. 51-52.).

Kalau kita lihat tarikh ester. Pada tahun 722 SM, kerajaan Utara dibuang ke Asyur. Pasca pemerintahan Salomo, Kerajaan Utara dikuasaai Asyur. Tahun 605 SM adalah masa pembuangan ke Babel di zaman raja Nebukadnesar, inilah masa Daniel ikut dibawa ke babel dan bekerja di istana Nebukadnesar. Tahun 586 SM dilakukan lagi pembuangan sisa-sisa Yahudi dengan Raja Nabonidus, yang kemudian digantikan oleh Darius lalu digantikan oleh Koresh tahun, 559-530 SM, dan di masa Koresh penduduk Yahudi diperbolehkan kembali ke Yerusalem, sehingga ada 5000 penduduk Yahudi yang kembali. Kalau raja-raja lain menarik orang jajahannnya tetapi Koresh mngembalikan mereka untuk memperkuat sel-sel kerajaannya, 5000 orang kembali ke Yerusalem dipimpin Zerubabel pada tahun 538SM. Ester pada tahun 478 SM tepilih menjadi ratu pada zaman raja Ahasyweros. Kisah Ester ini terjadi setelah pemulangan penduduk Yerusalem oleh Koresh. Ester tidak ikut menikmati pemulangan yang diizinkan oleh raja Koresh.



Mari kita baca Ezra 6 dengan Ezra 7. Dari Ezra 6 itu masa raja Darius dan Ezra7 adalah masa raja Artahsasta,ada selisih 60 tahun masa kedua raja ini. Ester itu kisahnya terjadi apad zaman raja paling berkuasa yang pernah ada didunia. Luas kerajaannya yang pernah lebih besar itu terjadi 1100 thn kemudian Apa artinya? Kerajaan ini adalah kerajaan yang sangat berprestasi, kisah ini tentang pemerintahan raja diraja, suaminya adalah raja diraja. Jadi masa Ester adalah masa setelah raja Koresh mengembalikan orang Yahudi ke Yerusalem, dan Ester memilih untuk tidak ikut pulang. Ia tinggal di Persia. Sekarang mari kita baca Maz 137àmembicarakan kerinduan orang-orang buangan kembali ke Yerusalem. Penjajah meminta mereka mnyanyikan lagu Sion, ini adalah sebagai penghinaan, karena kepada orang yang menderita diminta menyanyikan nyanyian sukacita yang biasa mereka nyanyikan di Yerusalem. Tetapi tdk demikian dengan Ester, ia tetap di Persia. Ester ini memiliki nama Israel yaitu Hadasa. Tetapi kemudian Hadasa diganti Ester, Dalam promounnya mirip dengan nama dewa babel “Isthar (artinya bintang). Penggantian nama Ester tanpa desakan. Band.Daniel dkk. Dalam kitab orang Israel disebut :TaNaKh; Torah – Neviim – Khetuvim); Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Ruth, Ratapan, Pengkotbah, Ester, Daniel-Ezra-Nehemia, Tawarikh) kitab Esterini masuk ketuviim (meceritakan kisah sebelumnya), dengan demikian adalah baik jika kita membicarakan Ester kita selalu teringat kisah Daniel, Ezra dan Nehemia. Tapi kali ini kita hanya berbicara tentang Daniel dan Nehemia.


Mordekai ( orang Benyamin) (nama babel, artinya :pemuja dewa Marbuk, sementara Haman bin Hamedatta (katurunan Agag). Ada kisah Saul dengan keturunan Agag. Samuel pernah mengatakan supaya Saul membunuh raja Agag (Raja Amalek), tapi Saul tidak mau menumpas Agag sehingga akhirnya Samuel yang membunuh Agag(1 sam15). Balam pernah menubuatkan: Mesias yang dijanjikan dikatakan “lebih tinggi dari Agag”. Bil 24:7. Apakah suatu kebetulan ada konflik antara suku Benyamin dan Agag berlanjut dengan keturunan Benyamin bertemu denang Agab. Mengapa sedemikian bencinya? Nanti akan kita lihat.
Pada faktanya tidak ada kata tentang TUHAN (Elohim)dan doa dalam kitab ini sulit diterima, karena tidak mungkin orang Yahudi, melupakan Allahnya. Dalam 2 Tawarikh 6:34“Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu”. Orang Yahudi tidak mungkin tidak memiliki ritual dengan Allah dan tidak berdoa kepada Allah ke arah Yerusalem. Daniel sendiri di Daniel 6 berdoa dengan tingkap-tingkap yang terbuka. Sehingga menjadi perhatian kenapa nama Yahweh tidak ada dalam Ester, tentu bukan suatu kebetulan.



KRONOLOGI KISAH ESTER



Siapa sebenarnya tokoh utama di ester? Di LAI ditemukan nama ester 44x. mordekai 50x, Haman 46, Ahasyweros : 28x. Di NIV , nama Ester tertulis 37 x, Mordekhai :48x, Haman : 41x, Ahasyweros: 28x. Maka jelaslah pemenangnya adalah Mordekhai dan Haman, pengulangan yang paling banyak sebenarnya adalah tokohnya. Mordekhai dan Haman adalah tokoh utama , Ester adalah actor utama, tapi tokoh yang menggerakkan. : Mordekhai.



ESTER SEBAGAI RATU



Wasti adalah permaisuri raja, dan raja mengadakan pesta 180 hari dan dilanjutkan 7 hari pesta mabuk dan mereka girang karena anggur. Di puncak hari ke 7 raja meminta supaya Wasti tampil menunjukkan kecantikannya. Kita baca Ester 1 :11. Kata yang digunakan untuk menunjukkan cantik adalh yobi (Ibrain), beauty (NIV), band. Ester 2:7. Coba bandingkan, Mordekhai itu pengasuh Ester sejak orangtuanya meninggal, dikatakan Ester itu elok perawakannya, elok : lovely(NIV), cantik parasnya. Elok :indah tubuhnya. 1Raj 10:13, “selain apa yang telah diberikannya kepadanya sebagaimana layak bagi Raja Salomo” ratuSyeba sedang berupaya untuk meminta benih Salomo untuk memperbaiki keturunan.


Di Ester 2: 7 sedang berbicara tentang kemolekan. Salah satu rabi Yahudi : kemungkinan raja Wasti menolak karena diminta memakai mahkota untuk menunjukkan kemolekan tubuhnya. Wasti dicabut haknya sebagai permaisuri dan mencari penggantinya karena mempermalukan raja dan bangsanya, wasti tidak dibunuh hanya dihentikan jadi permaisuri. Tafsir ini tidak mutlak benar tapi menjadi versi varian baru dengan fakta-fakta yang ada. Wasti ini emmiliki kepribadian yang kuat dan siap mati demi konsistensi yang dia miliki.


Mari kita lihat Ester. Kalau jita bicara tentang Ester, dia mengganti namanya bukan dari permintaan sumber luar tapi nasehat Mordekhai ia mengganti namanya, bandingkan dengan Daniel mengganti nama dengan Beltzasar tapi karena ada prosesnya. Nehemia tidak menyembunyikan identitasnya waktu menghadap raja untuk membangun tembok Yerusalem. Ester juga tidak ikut pulang dengan kelompok Zerubabel. Apakah Daniel juga tidak ikut pulang? Dan 1:21, kemungkinan Daniel pulang karena kerinduannya pada Yerusalem. Neh 5:14, dia kembali ke Yehuda dan membangun tembok.



SELEKSI



Kitab Daniel dan Ester dibuka dengan seleksi. Apakah ada peraturan khsusus untuk seleksi? Ya. Di Daniel, mereka ditetapkan pelabur setiap hari. Ester juga dimasukkan dalam asrama, dan dia lulus seleksi. Yang menarik adalah, Daniel dengan tegas menentukan(Dan.1:8) ya jika ya tidak jika tidak, tetapi Ester memilih menikah dengan orang yang tidak mengenal Allah Yahweh.



ESTER SEBAGAI SEORANG PATRIOT



Mordekhai berkabung setelah mendengar keputusan akan menghabisi semua orang Yahudi, karena egonya Mordekhai dan emosinya Haman. Berbeda dengan Daniel. Mordekhai seolah-olah bukan pemimpin biasa di zamannya, dia mencoba untuk tetap tidak tunduk pada Haman karena dia adalah Yahudi, yang dilarang menyembah kecuali kepada Allah, sehingga tidak mau menyembah Haman. Mari kita baca1 Raj 1:23, nabi Natan juga menyembah raja, ketika Mordekhai tidak menghormati Haman, ia menggunakan “topeng” keyahudian untuk tidak menyembahnya. Kita baca 1 Sam 24:8, Mordekhai sebenarnya masih dimungkinkan “menyembah”/menghormati Haman sebagai pejabat Negara. Ini soal kesombongan Mordekhai tidak mau menghormati Haman. Kita baca Kej 41:14, bahkan seorang Yusuf yang sangat kudus dan telah melewati berbagai ujian pun, bercukur dan berganti pakaian menghadap Firaun. Ester 3:2 , Ester6:10, dua ayat ini patut kita tafsirkan, Mordekhai adalah salah satu pegawai-pegawai raja dan wajar dia menghormati pejabat Negara, jadi ini adalah kesombongan Mordekhai.


Pendekatan Haman terhadap Mordekhai, seharusnya hanya menghancurkan Mordekhai, dia tidak hanya menghancurkan Mordekhai tapi dengan menghancurkan etnik Mordekhai dengan menyogok raja. Ahasyweros adalah mata perempuan, mau disogok, sewaktu berbicara tentang Wasti, raja mendengarkan nasehat pegawainya tapi dalam kasus Haman dia tidak mencari nasehat.



PENOLAKAN ESTER



Mordekhai berkabung tetapi Ester menyuruh hambanya memberi pakaian baru. Mordekhai meminta Ester menghadap raja, Ester menolak karena menghadap raja tanpa diminta akan dihukum mati, juga upaya Haman menghancurkan etnik Yehuda akan memaksa Ester membongkar identitas bangsanya sebagai Yahudi. Raja sudah membolehkan menghancurkan Yahudi yang tidak bisa dicabut, dan itu mustahil. Dan jika harus dicabut, menyangkut Hama sebagai pejabat terkuat kedua setelah raja.



NEGO



Sebenarnya dalam diri ester terjadi konflik nasionalisme melawan diri. Mordekhai mengirim salinan perintah itu pada Ester. Akhirnya Ester mengambil keputusan, mengeluarkan perkataan ini “Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." (Est 4:16 ITB).Ini seolah-olah pernyataan heroik dari Ester. Mari kita baca pengakuan 3 pemuda dalam Daniel 3:17.Dalam Ester, dia tidak memiliki puasa orang Yahudi, tidak ada menyebut sedikitpun tentang Tuhan, berbeda dengan Sadrakh dkk menggunakan nama Tuhan akan menyelamatkan. Mordekhai mengatakan Esther 4:14 "Don't imagine that because you are part of the king's household you will be the one Jew16 who will escape. If you keep quiet at this time, liberation and protection for the Jews will appear17 from another source,18 while you and your father's household perish. It may very well be19 that you have achieved royal status20 for such a time as this!" (Est 4:14 NET). Dengan perkataan inilah Mordekhai menggerakkan Ester yang mengatakan “kalau terpaksa aku mati,biarlah aku mati”



ESTER MEMUTUSKAN PERANG



Dalam Daniel, puasa dikaitkan dengan doa dan Tuhan. Apa strategi Ester? Dia tahu suaminya mata keranjang, karena itu dia berdandan sedemikian rupa dan memberi anggur, dan dengan demikian akan memperkecil resiko ditolak raja Esther 5:1“Pada hari yang ketiga Ester mengenakan pakaian ratu,…..Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu.” Strateginya Ester berhasil, kita baca Ester 7:3 , pahami kata-kata yang dia katakan semua dikaitkan dengan hamba. Apa artinya? Sekalipun dia meninggalkan identitasnya tapi dalam lubuk hatinya dia sadari dia adalah Yahudi.


Ester 7:7-8, raja langsung mengeluarkan surat perintah untuk memberi hukuman bagi Haman . “Raja mengizinkan orang Yahudi di tiap-tiap kota untuk berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta memunahkan, membunuh atau membinasakan segala tentara, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan, dari bangsa dan daerah yang hendak menyerang mereka, dan untuk merampas harta miliknya, pada hari yang sama di segala daerah raja Ahasyweros, pada tanggal tiga belas bulan yang kedua belas, yakni bulan Adar” Ester 8 :11-12, kenapa tidak hanya menjaga supaya jangan diserang dalam satu hari itu, tetapi justru menyerang?


“Untuk mewajibkan mereka, supaya tiap-tiap tahun merayakan hari yang keempat belas dan yang kelima belas bulan Adar,22 karena pada hari-hari itulah orang Yahudi mendapat keamanan terhadap musuhnya (Est 9:21-22 ITB)“orang Yahudi menerima sebagai kewajiban dan sebagai ketetapan bagi dirinya sendiri dan keturunannya dan bagi sekalian orang yang akan bergabung dengan mereka, bahwa mereka tidak akan melampaui merayakan kedua hari itu tiap-tiap tahun, menurut yang dituliskan tentang itu dan pada waktu yang ditentukan, (Est 9:27) mereka tidak akan melaampaui dua hari.

Kenapa dua hari? Khusus di puri susan, Ester meminta pada hari yang kedua itu (Ester 9:13)supaya 10 orang anak Haman disulakan pada tiang,ada 75000 orang terbunuh(Ester 9:16). Haman hanya merancang 1 hari tapi ester merancang 2 hari. Hanya tanggal 13 boleh saling menyerang tapi tanggal14 betul-betul tanpa perlawanan karena diluar Yahudi tidak boleh menyerang. Purim terjadi 2 hari dirayakan Israel, sedangkan rancangan Allah hanya 1 hari, keputusan Purim ini lebih seperti kuasa untuk balas dendam. Band Dan 3:28-29, dan Dan 6:28-28. Yang pertama adalah kisah pembantaian yang kedua adalah kisah kemuliaan Allah, yang pertama adalah kemenangan identity power bahwa Yahudi menang, yang kedua adalah kekuatanspiritual power. Pertanyaannya, adakah kehadiran Allah dalam kisah Ester? Seperti suatu kebetulan 21 Pada waktu itu, ketika Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja, …, lalu berikhtiarlah mereka untuk membunuh raja Ahasyweros. 22 Tetapi perkara itu dapat diketahui oleh Mordekhai, … (Est 2:21-22 ITB). Ini menjadi kartu truf Mordekhai kemudian.


Pada saat Haman memutuskan untuk menggantung Mordekhai , raja tidak dapat tidur.”Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah, lalu dibacakan di hadapan raja. (Est 6:1 ITB) Raja teringat Mordekhai belum pernah mendapat penghormatan. Mengapa Mordekhai menggagalkan pembunuhan (2:21) . Jika Ahasyweros meninggal, Ester menjadi janda, tidak gunanya jika ia tidak permaisuri. Tapi kita harus berkata dalam iman Kristen, bahwa dalam hal-hal yang sangat kebetulanpun, Allah bekerja dalam segala hal.


Sulit untuk menyimpulkan kondisi besar dalam Ester. Ester dalam kondisi yang minor tidak akan mengurangi bahwa dia adalah pahlawan bagi Israel. Pelajarannya adalah Allah berhak menggunakan orang yang dipilihnya, seperti Koresh, Nebukadnesar, dll. Allah bisa menggunakan orang yang sedang tidak taat pada Allah tapi menjadi bagian dari bangsa pilihanNya. Apakah pikiran kita tentang Mordekhai , dia licik, keras kepala, yang berjudi hanya karena sentimennya dengan Haman yang mengakibatkan kematian orang Israel, tetapi Allah memilih dia untuk menjalani bagian sejarah ini. Allah menjadi pengendali sejarah. Allah berhak memilih siapapun menjadi ordinary people atau seorang pahlawan, semuanya adalah karena kedaulatanNya.






Solie deo Gloria...





Jumat, 16 Juni 2017

MERAJUT KEBHINEKAAN

Oleh : Ir. Benget Manahan Silitonga




Membersihkan dan merawat tempat Berpijak

Berbicara tentang bhineka, pancasila sering kali kita berbicara soal posisi dan psosisi yang kita ambil itu adalah defensif. Istilah-istilah yang sering kita dengar adalah soal mayoritas, minoritas, agama besar, agama kecil. Berbicara keindonesiaan, kebhinekaan kita diajak diberi suguhan-suguhan yang sangat politis, elitis seolah-olah hal itu jauh sekali. Karena itu saya memberi judul membersihkan dan merawat kita berpijak.

Dasar Berpijak 

Kebhinekaan atau Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada satu pun yang 100 persen sama di dunia ini (fisik, non fisik (pikiran)). Berbicara tentang kebinekaan adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak, pasti ada perbedaan. Setiap asal suku bangsa itu berangkat dari satu titik yang membuat kita tumbuh, bukan tiba-tiba muncul ke permukaan, karena itu patutlah kebhinekaan itu menjadi dasar berpijak. 
Kita diciptakan segambar dengan Allah (imago dei), kita semua diciptakan berbeda secara fisik, ini adalah sebuah maha kreasi Allah sebagai pencipta. Perbedaan itu harus dilihat sebagai anugerah dan berkat Tuhan. Karena dasar berpijak itu kita juga mempunyai kearifan lokal masing-masing. Nilai-nilai Kearifan lokal hidup dan bisa ditemukan dalam beragam tradisi, kebudayaan, dan tatanan masyarakat adat :Kesetaraan, toleransi, dan solidaritas. Di tahun-tahun 1980, ketiga hal ini masih sangat baik di lingkungan masyarakat, dalam tiap perayaan agama apapun, masih ada kunjungan antar keluarga yang berbeda keyakinan. Hal ini mulai menurun pada saat ini. Kebhinekaan/Tempat berpijak yang alami ini sebenarnya sudah diberi resep untuk mengelolanya dengan 3 praktek diatas. Nilai-nilai kearifan lokal itulah yang kemudian diintisarikan oleh Soekarno menjadi Pancasila.

Dimana Kita Sekarang/Apa yang Terjadi saat ini

Apakah Kebinekaan dan Persatuan Indonesia sungguh benar-benar terancam/kritis? Apakah hanya di media sosial berkonflik, atau di dunia nyata juga terjadi konflik? Fenomena2 sosial yang terjadi saat ini pasti mempengaruhi kita, membuat kita was-was dengan kebhinekaan.
Apakah pihak/gerakan Radikalisme yang mengancam Kebinekaan/Persatuan Indonesia sudah begitu dominan/mengkhawatirkan?? Apakah jika pemerintah akan membekukan ormas adalah sebagai bentuk kegentingan ancaman kebhinekaan?

Deskripsi berbasis Riset
Hasil survei opini publik terkini yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 4/6/2017 menemukan bahwa,

1. Dari 66,4% responden yang tahu ISIS (negara Islam Irak dan Syiria), 89,6% menyatakan tidak atau sangat tidak setuju dengan perjuangan mereka. Bahkan 91,3% di antaranya mendukung negara melakukan pelarangan.

2. Bahwa 9 dari 10 (89,3%) rakyat Indonesia menganggap ISIS adalah ancaman pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. 92,9% menyatakan ISIS tidak boleh hidup di Indonesia.

3. Bagaimana dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga memiliki gagasan dan perjuangan mirip dengan ISIS? Dari 28,2% warga yang tahu, 56,7% mengetahui HTI memperjuangkan gagasan khilafah, 68,8% warga menyatakan menolak perjuangan mereka. Sementara dari 75,4% yang tahu niat pemerintah membubarkan HTI, 78,4% menyetujuinya.

4. Sikap umum masyarakat Indonesia (99%) yang bangga sebagai warga negara Republik Indonesia. Ketika ditanya apakah bersedia menjadi relawan penjaga NKRI, 84,5% menyatakan bersedia dan sangat bersedia.

5. Dukungan pada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 nampak masih sangat solid dalam temuan ini, yakni 79,3%.

Apakah kita Puas? Jangan dulu !! 

Survey SMRC tersebut juga menemukan ada 9,2%(sekitar 20 juta) rakyat yang menganggap bahwa bentuk NKRI perlu diganti menjadi negara Islam atau khilafah yang bersandar pada al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama tertentu.

Survei ini juga menemukan 14,5% warga menganggap Indonesia sekarang ini melemah dan karenanya berada dalam ancaman besar. 89,3% di antaranya menganggap hal itu adalah masalah yang sangat serius. Bahkan 75% (10% dari total populasi nasional) di antaranya menganggap Indonesia akan terjerumus dalam perang saudara.

Tentu data ini bisa diperdebatkan.

Apa Penyebabnya?

I. Indonesia menghadapi ancaman fundamentalisme

Masalahnya bukan horizontal, bukan pada rakyat, tapi pada relasi antara warga dengan Negara.Walau kita telah masuk pada ikdalam iklim demokrasi, relasi ini antara pemerintah,DPR dan rakyat masih belum baik. Rakyat masih belum puas dengan kinerja pemerintah sehingga pelariannya ke kekuatan fundamental agama. Yang kedua terjadi tranksaksi dalam fundamentalitas pasar, hak suara ada harganya. Karena itu kalau orang sudah berfikir fundamentalis agama dan fundamentalisme akan melakukan apa yang menguntungkan di pihaknya.


2. Politisasi Agama dan Agamanisasi Politik

Politisasi Agama,Keyakinan dan kredo keagamaan dijadikan pilihan-pilihan, keputusan atau ideologi politik

Agamanisasi Politik,fakta, pilihan-pilihan atau ideologi Politik (Profan) yang profane (sementara), dijadikan sebagai masalah dan keyakinan agama dogmatik, yang bersifat sufi. Keyakinan politiknya itu diagamakan. Istilah minoritas dan mayoritas sebenarnya tidak ada dalam nomenklatur tata Negara, istilah2 itu adalah fakta2 politis yang dijadikan keyakinan agama; “karena kami lebih banyak, pasti kami menang”.

3. Sentimen Negatif Kedigdayaan Teknologi (Sosial Media). Teknologi sosial media juga mengubah gaya hidup kita

Apa yang bisa dilakukan? 

MEMBERSIHKAN DAN MERAWAT TEMPAT BERPIJAK KITA!!

1. Mendoakan dan Mengusahakan Pemerintah yang Melindungi dan Mensejahterakan semua warga negaranya dengan Adil.

Perlu juga ada forum-forum bertemu/bertukar pikiran tentang tantangan yang mereka hadapi, memberi kekuatan, mempersiapkan kita,adek-adek, ketika nanti ditempatkan melakukan tugas-tugas pemerintahan, mungkin dapat memperbaiki apa yang terjadi, juga penting untuk mengawal, mengkritisi dan memberi saran2 yang konstruktif untuk perbaikan pelayanan

2. Memproduksi Kebaikan

I Timotius 4;12b ;Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmudan dalam kesucianmu”.Agar bisa MEMPRODUKSI KEBAIKAN, kita haruslah keluar dari KEMINDERAN MINORITAS. Karena memproduksi kebaikanlah maka orang-orang diperhitungkan dan mempengaruhi Negara. Kita harus memiliki misi propetik yang terdiri dari tiga unsur:

  • 1. Misi Liberasi yang berarti kita mengemban amanah untuk membebaskan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi, sosial, budaya, dan aspek lainnya. Di bidang ekonomi, kita dituntut untuk terus mengasah kreativitas hingga mampu menghasilkan solusi tepat bagi masyarakat kita hingga tercipta perekonomian yang mandiri. Selain itu, kita juga wajib memupuk nasionalisme ke-Indonesiaa hingga mampu menyaring segala jenis informasi dan menyerap kebudayaan yang berpotensi merusak Dasar Berpijak Kita.
  • 2. Misi Humanisasi yakni kita mampu menanamkan rasa kemanusiaan di tengah-tengah kekerasan dan kemajemukan bangsa Indonesia. Kita harus memiliki empati pada rakyat, sensitif atas permasalahan yang terjadi, dan berperilaku manusiawi. Hal tersebut sangat jarang ditemukan saat ini. Kita tidak lagi mengenal dan bertegur sapa dengan tetangga. Kita tak lagi menjadikan RW, Lingkungan, Desa, sebagai Rumah Paguyupan Bersama. Pejabat negara yang belum menunjukkan kinerjanya malah terlebih dahulu menuntut kenaikan gaji. Padahal rakyat masih menjerit-jerit oleh keterpurukan ekonomi. Sungguh tidak manusiawi.
  • 3. Misi Transendensiyakni kita harus memiliki nilai-nilai luhur dalam menjalankan kewajibannya. Kesucian niat merupakan kunci utama dalam merealisasikannya. Tekad dalam mengabdi harus dijaga dengan kesucian hati hingga terwujud satu perbuatan yang mulia dan bermanfaat bagi sesama. Dalam hal ini,kita harus siap setia dan tekun mengerahkan idealisme melawan kondisi riil yang terjadi di negara saat ini. Bukan rahasia, banyak diantara kita yang menggadaikan idealisme malah tergiur dengan harta dan kekuasaan saat dirayu oleh sebuah kepentingan individu atau kelompok.
Supaya peran Liberasi, Humanisasi, dan Transendensi itu optimal bergaul, berbaur, belajar, dan bahkan bersekutulah dengan orang lintas SARA . 

Sebab dengan itulah kita bisa mengkonsolidasikan potensi dan kekuatan untuk senantiasa merawat dan membersihkan Tempat Berpijak kita. 

Dengan bersekutu bersama orang lintas SARA, kita bisa mengorganisir kebaikan .Dengan bersekutu kita bisa belajar tentang perbedaan dan persatuan.


Jumat, 09 Juni 2017

Sembuh dari Luka Batin

Oleh : Debbie Silitonga , MACL


Defenisi sehat Menurut WHO “Suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial; tidak hanya bebas dari penyakit”. Defenisi sehat Menurut kementrian kesehatan RI UU No. 23 thn 1992 tentang kesehatan :“Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi”. Jadi sehat tidak berarti hanya fisik yang sehat, tetapi juga mental, jiwa harus sehat, sehingga penting untuk membicarakan kesehatan mental, jiwa. Karena itu banyak orang memberi waktu untuk mengobrol bersama teman-teman.

Tahukah Anda bahwa BPJS menanggung penyakit kejiwaan. Ada tiga penyakit jiwa yang ditanggung oleh BPJS :
  • Gangguan campuran anxietas (gangguan kecemasan) dan depresi (merasa tidak berdaya, tidak punya harapan).
  • Gangguan psikotik seperti schizophrenia.
  • Insomnia (susah tidur)
Apa itu luka batin? Hal-hal yang terjadi di sekitar kita : perselingkuhan, perceraian, bencana alam, tidak ada harapan, aborsi, kemiskinan, keterpisahan, KDRT (suami terhadap istri, istri-suami, orangtua-anak), bunuh diri.

Tanda-tanda orang dengan luka batin: Mudah marah, Mudah tersinggung, Emosi tidak terkendali, Sulit bergaul, Suka memberontak, Sering sakit kepala/migraine, Sakit maag, Gatal-gatal, Diare, Jantung berdebar, Agresif, Sulit mengampuni, Dendam, Suka membual, Over acting, Homosexual, Lesbianism dll

Dalam Bahasa Inggris batin ((pikiran, perasaan, emosi) disebut mind. Batin itu ada dua:
(pikiran, perasaan, emosi)

1. Conscious Mind (batin sadar). Proses kerja pikiran sadar seperti: belajar sesuatu yang baru, bertindak sesuai alasan, berpikir analitik/logis/intelektual, berdebat dengan rasional. Menyimpan memori jangka pendek, terbatas.

2. Subconscious Mind (batin bawah sadar). Proses kehidupan fisik manusia yaitu proses kerja organ tubuh, hal-hal yang bersifat kreatif, imajinatif, intuitif, tidak logis, bertindak berdasarkan sensor syaraf/refleks. Berisikan memori jangka panjang termasuk masa lalu (unlimited). Tujuh puluh persen metabolisme kita diatur oleh batin tidak sadar seperti detak jantung.

Luka batin : Tumpukan emosi negatif yang tersimpan di bawah alam sadar akibat pengalaman hidup yang menyakitkan pengalaman hidup yang menyakitkan ini tidak selalu sama pada tiap orang, bahkan pengalaman menyakitkan yang sama dapat memberi reaksi yang berbeda pada masing-masing orang. Luka batin ini :
  • Ada di lapisan terdalam dari batin
  • Non fisik, tidak terlihat (band. luka fisik)
  • Bisa tidak disadari orang yang mengalami
Tanda-tanda seseorang memiliki luka batin : 
  • Sulit mengasihi (tidak ada unsur-unsur kasih: ramah, suka menolong, senyum, menghargai, menghormati, melayani, dsb). Sebaliknya yang kelihatan adalah : acuh, sinis, suka memberontak, kata-kata/kritik yang tajam, tidak santun,dll
  • Menutup diri, agar jangan disakiti lagi. Juga tidak mau berhubungan dengan orang-orang/menjauh.
  • Menyerang: bersikap kasar, lebih baik melukai daripada dilukai, cenderung memaki, mudah menghakimi apa saja yang dilihatnya, merasa diri paling benar, lebih suka menjadi pengamat (agar bisa mencari kesalahan orang lain).
  • Sangat sensitif/peka: gampang marah, gampang tersinggung, gampang merasa tertuduh, sulit mengakui kesalahan, menolak setiap nasihat/teguran/kritik bahkan yang membangun sekalipun, gampang curiga.
  • Suasana batin yang tidak stabil: saat tertentu terlihat baik, ramah, bahagia, tetapi di saat lain pemarah, murung, kasar, baik kepada orang tertentu dan sebaliknya kepada yang lain, tidak tulus.
Apa yang menyebabkan luka batin:
  • Pengalaman traumatis, misalnya kehilangan/dikhianati /disakiti/dilecehkan oleh orang yang sangat dekat. Ada traumatis yang sama dialami, tapi efeknya bisa berbeda diresponi masing-masing orang.
  • Peristiwa yang berlangsung untuk waktu yang relatif lama, atau berulang-ulang. Seperti sering dipukuli, disekap oleh orangtuanya atau orang dekat yang seharusnya melindunginya.
  • Kejadian/peristiwa yang dilakukan orang dengan sengaja untuk menyakiti, bukan kecelakaan. Seperti pembunuhan yang direncanakan.

Faktor-faktor yang memperburuk luka batin:

1. Mempunyai bakat sensitif, perasa, sedih. Ini bisa didapat dari lingkungan seperti rumah/keluarga. Misalnya jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan akan menjadi lebih rentan, karena mood itu menular (seperti sedih, cemas, gembira).

2. Banyak mengalami hal buruk di masa lalu. Orang yang sebelumnya sudah banyak mengalami hal buruk akan lebih terpengaruh jika ada hal buruk terjadi kemudian.

3. Sudah mempunyai masalah sebelumnya.

4. Tidak mempunyai support system(system pendukung) selama dan setelah peristiwa terjadi. Sistem pendukung ini misalnya teman, keluarga akan sangat membantu dalam masa-masa sulit.

Bagaimana menyembuhkan luka batin:

1. Mengakui dengan jujur bahwa luka batin itu ada. Kita harus akui kejadiannya, peristiwanya.

2. Mengidentifikasi perasaan yang ada secara spesifik dan pengaruhnya. Respon kita ketika peristiwa itu terjadi. Misalnya: marah, dendam, benci, iri, kecewa, malu, terharu, dll. Jika mungkin, bisa diukur.

3. Pengampunan diri sendiri dan orang yang menyakiti. Arti Pengampunan= Pembebasan dari hukuman atau tuntutan. Seperti melepaskan narapidana, kita terbelenggu oleh emosi-emosi negatif kita, kita memutuskan untuk tidak membalas dendam, Band. Mat 18:21-35 (Perumpamaan tentang pengampunan)

Mengapa kita harus mengampuni? Karena Allah sudah lebih dahulu mengampuni kita. Kolose 3:13 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain, apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatjugalah demikian”. Menolak mengampuni orang berarti menghalangi pengampunan Tuhan bagi kita. Markus 11:25 “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu”

Bagaimana kita sanggup mengampuni?

1. Pengenalan akan Allah dan firmanNya. Seluruh isi alkitab menggambarkan kasih Allah akan dunia. Allah menginginkan kita mengasihi karena Allah adalah kasih. I Yoh 4:16 “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”. I Yoh 4:8 “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih

2. Penerimaan diri. Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka”Pada hakekatnya yang memberi identitas manusia adalah Allah yang menciptakannya. Kita sering tergoda untuk menetapkan identitas kita melalui pencapaian, prestasi, jabatan, keberhasilan, banyaknya relasi, popularitas, banyaknya aktivitas rohani, dll. Jadi kita bukanlah apa yang kita pikirkan atau orang lain pikirkan akan kita. Identitas kita ada di dalam Allah yang menciptakan dan menenun kita. Kita sangat dikasihiNya. 

3. Pengenalan akan sesama manusia. Tidak ada manusia yang tidak berdosa. Roma 2:23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Dunia ini diisi oleh orang-orang berdosa jadi kita tidak mungkin menutup kemungkinan adanya hal-hal yang tidak menyenangkan yang diperbuat orang (baca: luka batin) kepada kita. Kemungkinan itu akan selalu terbuka selama kita hidup. Kemungkinan kita untuk menyakiti dan disakiti pasti akan terus ada selama kita hidup.

Pandangan yang salah tentang Pengampunan. 
  • Pengampunan bukan suatu perasaan, tetapi keputusan; suatu tindakan berdasarkan niat. Kita memilih untuk mengampuni
  • Tidak sama dengan melupakan; tidak menghapus fakta bahwa perasaan itu pernah ada, hanya tidak lagi dibelenggu olehnya.
  • Tidak menghilangkan bekas luka/sakit tetapi menyembuhkannya (healed memory, not deleted memory). Bekasnya mungkin masih ada, tapi efeknya sudah tidak ada, diganti dengan sukacita, penerimaan, rasa syukur.
  • Tidak membutuhkan dua pihak 
  • Tidak selalu diakhiri dengan rekonsiliasi
Sikap yang salah dalam menghadapi luka batin:
  • Menyangkal bahwa : itu tidak terjadi pada saya, bukan itu maksudnya, rasa sakit/luka itu tidak ada, saya baik-baik saja.
  • Menghindar: semua hal yang berhubungan dengan kejadian itu (orangnya/pelakunya, tempat kejadian).
  • Melupakan : Memang terjadi tapi saya sudah lupakan.
Hal-hal yang bisa membantu pemulihan luka batin :
  • Carilah bantuan dari orang yang Anda percaya (sahabat, keluarga, pembimbing rohani, dll), atau bisa juga memulihkan diri sendiri dengan menuliskan jurnal semua perasaan-perasaan negatif hingga akhirnya meminta pengampunan (proses menceritakan menjadi terapi), perlu ada orang lain dalam terapi ini untuk meningkatkan akuntabilitas dan akhirnya meningkatkan kemungkinan untuk berhasil 
  • Lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Terapi untuk mengalihkan fokus kepada diri sendiri kepada sesama.
  • Lakukan hobbi atau usaha baru. Semangat akan datang bila ada kegiatan yang mengasikkan. Hobbi terbukti meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Cari dan temukan hobbi baru.
  • Olahraga. Olah fisik akan menghasilkan hormon endorfin (zat kimia yang membuat perasaan/mood bahagia) ke dalam aliran darah. 
  • Manajemen stress dan faktor pemicu.
  • Bangun sistem pendukung: komunikasi dan relasi yang sehat dengan keluarga, sahabat, kolega, lingkungan.
  • Memiliki kehidupan spiritualitas yang sehat.

Bebas dari luka batin:
  • Mengenal diri sendiri.
  • Produktif.
  • Bertanggung jawab.
  • Bisa mengekspresikan emosi dengan baik.
  • Memiliki relasi yang baik dengan orang lain.
  • Bisa menghargai orang lain.
  • Mengakui kelebihan orang lain.
  • Adaptif terhadap perubahan.
  • Menerima kritikan dengan wajar.
  • Bisa dipimpin/diarahkan.
  • Bertumbuh di dalam kematangan dalam semua aspek hidup.

Jika kita merasa memiliki luka batin, kita dapat melakukan self healing, atau juga meminta bantuan pada psikiatri jika memerlukan penanganan medis. Jangan merasa sungkan untuk melakukannya, karena luka batin yang dipendam lama akan semakin buruk akibatnya nanti.

Jumat, 02 Juni 2017

CONTENTMENT IN GOD

Oleh : Dra Adelina Sitepu



2 Timotius 3:1-4

Ditengah-tengah tantangan zaman yang berat kita dihadapi, tidak mudah untuk hidup dalam kesederhanan. Tapi itulah yang harusnya kita jalani, karena kita hidup untuk melakukan keinginan Tuhan. Jika ditanyakan bagi beberapa orang, bagaimana pandangan hidup sederhana, mungkin masing-masing memiliki pendapat yang berbeda-beda. Didalam firman Tuhan, secara rinci dan secara detail tidak ditemukan bagaimana hidup sederhana itu. Tapi firman Tuhan memberitahukan dan mengajarkan kita menjalani hidup supaya menjadi bijksana.

Apa itu sederhana?

Menurut KBBI hidup sederhana berarti hidup yang bersahaja, tidak berlebih-lebihan, hidup secukupnya, hidup sesuai dengan kebutuhan. Kita mungkin mampu membeli barang seharga 10 juta, misalnya ponsel, tapi kita bisa tidak membeli barang dengan harga semahal itu, karena dengan ponsel seharga 3 juta sudah memenuhi kebutuhan kita. Jika kita memutuskan membeli sesuatu karena memang kita membutuhkannya, tentu tidak salah. Karena itu hidup sederhana tidak berarti harus hidup miskin. Tapi kita harus membeli barang yang sesui dengan kebutuhan. Ditengah zaman yang penuh godaan, banyak tantangan, kita bisa saja tergiur untuk tidak lagi hidup sederhana Banyaknya iklan-iklan yang menawarkan kita untuk membeli barang-barang mewah. Paulus pernah mengingatkan ini tentang materialisme dan hedonisme. Mari kita membaca dari 2 Timotius 3:1-4

Materialisme dan hedonisme yang akan kita renungkan dalam bagian ini sehubungan dengan kesederhanaan. Pada zaman masa lalu hal ini telah terjadi. Paulus mengatakan, pada “hari-hari terakhir” yaitu ketika Kristus akan datang untuk kedua kalinya yang kita tidak tahu kapan pastinya, akan datang masa yang sukar. Apa yang terjadi? Ada beberapa hal yang terjadi: 

· Manusia akan mencintai dirinya sendiri, 

· Menjadi hamba uang, 

· Tidak dapat mengekang diri, 

· Tidak perduli dengan orang lain, 

· Lebih menuruti hawa nafsu, 

· Tidak perduli dengan Allah.

Kalimat Paulus tidak hanya berhenti disini. Tapi apa yang ia katakan pada Timotius? Ayat 5b, “jauhi lah mereka itu”, Timotius didorong untuk menjauhi mereka. Ayat 14, dalam pasal yang sama mengatakan “tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu”. Ingatlah dari kecil kita sudah berpegang pada kitab suci. Ingat kitab suci yang dapat memberi hikmat dan menuntun kita kepada iman oleh Yesus Kristus”. Maka ketika ada godaan, apa yang menguatkan kita? Jauhi, ingat Firman Tuhan, ada kitab suci yang menuntun kita pada kebenaran. Timotius juga diberi perintah bukan hanya untuk bertahan supaya tidak tergoda dengan itu, tapi 2 Tim 4: 2, “beritakanlah firman, siap sedialah , baik atau tidak baik waktunya, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran“. Orang-orang seperti itu harus ditegur karena hidup seperti itu dan dinasehati dengan segala kesabaran.

2 Tim 4:5, “Tetapi Kuasailah dirimu dalam segala hal…. dan tunaikan tugas pelayananmu”. Sebagai alumni kita harus belajar menguasai diri dengan keinginan-keinginan kita yang banyak. Sehingga tidak lagi hidup didalam kebenaran firman Tuhan. Tegurlah kalau ada yang kita lihat salah, walaupun tidak mudah menegur orang, tapi kita tetap harus menegur dengan kesabaran.

Apa sebenarnya yang membuat kita menjadi orang yang mengejar materi dan hamba uang? Kita bisa saja mendaftarkan beberapa hal. Tapi saat ini kita hanya membatasi pada point-point dibawah ini :
1. Kita bisa tergoda menjadi orang yg khawatir, khawatir dengan masa depan kita. Mari membuka Matius 6:25-34. Kita sering terjebak kepada hal-hal dimana kita menerapkan standar hidup yang duniawi. Itulah yang banyak diterapkan orang menjadi standar hidupnya. berdasarkan apa yang dia pakai, punya, makan, minum . Kalau hal-hal ini yang menjadi standar hidup kita pantaslah kita khawatir, karena kita memakai standar duniawi, bukan standar hidup Allah. Ada kekuatiran untuk memiliki harta di masa tua, bahkan takut untuk keluar dari pekerjaan dan rela melakukan apapun demi uang. Kuatir dengan penilaian orang, seolah-olah keberhasilan kita ditentukan dengan apa yang kita miliki..Jika kita menggantungkan hidup kita pada materi, kita tentu akan kawatir. Karena itu jangan memakai standar ini.

2. Jangan salah prioritas hidup. Yang kita kejar adalah hal-hal yang sementara, karena itu Yesus mengatakan “janganlah kamu khawatir”(31), “semua hal itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (32). Jika ini menjadi tujuan hidup kita,dimanakah iman kita? Bukankah hidup kita adalah milik Tuhan dan Allah kita sanggup untuk memenuhi kebutuhan kita, karena itu kenapa kita menjadi materilialistis?. Tuhan Yesus berkata, “Cari dahulu kerjaaan Allah dan kebenaranNya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu”. Jika kita kuatir tentu wajar, tapi jangan menjadi khawatir secara berlebihan.

3. Prestise
Orang yang hidup dalam duniawi selalu mengukur kesuksesan dengan hal duniawi. Kesuksesan diukur dari materi. Selalu melihat orang dari apa yang mereka miliki. Terkadang kita menghargai dan menghormati seseorang dari apa yang dia miliki. 

4. Ambisius
Kita tidak menyadari ada dorongan terus menerus untuk mengumpulkan harta. Orang bisa menjadi ambisisus karena dia pernah memiliki pengalaman dengan kemiskinan, kesulitan untuk makan dan bersekolah. Kemiskinannnya telah menjadi cercaan orang, dan itu membuatnya tidak siap. Dia marah pada orang yang telah menghinanya. Karena dorongan itu bisa membuat seseorang menjadi ambisisus. Tapi ada juga orang yang telah hidup atau lahir dari keluarga yg berkecukupan, juga ambisius, mungkin untuk mendapat pujian, kehormatan, sehingga ambisius mengejar harta. 

5. Hedonisme
Pola hidup hedon: Melakukan banyak hal yang membuat senang, tidak pernah perduli apakah itu dosa atau tidak. Setiap orang dari umur berapapun, bisa tergoda untuk mengejar kesenangan.
  • Tren, tidak bisa berbeda dengan zaman. Apakah kita selalu harus mengikuti zaman yang berubah? Demi mengikuti tren, kita berubah menjadi hedon.
  • Kegelisahan dan perasaan kekosongan.Banyak orang pulang dari bekerja tidak langsung pulang kerumah. Banyak orang pulang bekerja menghabiskan sisa waktunya ke cafe, nonton ke bioskop. Ada sesuatu yang menggelisahkan dalam dirinya, kekosongan dalam dirinya yang membuat hidup menjadi hedonis. Jadi hati-hati kalau ada sesuatu yang gelisah dan kosong dalam hidup kita. Jangan melarikan diri dari masalah, takut menghadapi masalah, lalu mengatasinya dengan hidup hedon.
  • Besar pasak dari tiang. Pola hidup hedon membuat banyak pengeluaran. Akibatnya kita sulit memberi persembahan, sulit membantu orang lain, sulit membantu pelayanan. Ini fakta yang cukup mengejutkan, karena kita bisa tanpa pikir panjang dapat mengeluarkan uang untuk nonton, membeli pakaian baru dll, tetapi sulit untuk membantu hal-hal yang lebih berguna. Pemakaian kartu kredit juga dapat membuat kita terjebak dengan hutang yang banyak, jika kita tidak bijaksana menggunakannya.
  • Hedon adalah manajemen hidup yang gaggal dan tidak bertanggung jawab, karena apa yang kita punya bukan milik kita, itu milik Tuhan. Karena itu kita harus mengeloanya dengan baik.

Apa pandangan alkitab tentang uang?

Menjadi kaya tidak salah, uang juga tidak salah, ada banyak tokoh di alkitab adalah orang yang sangat kaya dan diberkati oleh Tuhan. Mari kita membaca Ayub 1:1-3. Ayub disini memiliki hidup yang “sempurna”, memiliki anak laki-laki, perempuan, memiliki harta. Dia adalah orang terkaya dari semua orang di sebelah Timur. Ayub ini seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah. Cara Ayub mendapatkan kekayaan, berarti dengan cara yang benar, bukan dengan menindas, tidak korupsi, dia tidak melakukan kejahatan. Dimana kita bisa menemukan orang-orang seperti ini? Orang kaya seperti Ayub bisa diberkati Tuhan dengan cara-cara yang saleh dan jujur. 

Apa yang salah dengan uang? Mencintai uang dan menjadikan uang sebagai Tuan didalam hidup kita, itulah yang salah. Mari kita baca Matius 6:19-24. Jangan menjadi hamba atau abdi uang, kita harus memilih mengabdi kepada Tuhan atau kepada mammon. Sikap materialistis bisa melahirkan banyak tindakan kejahatan, seperti korupsi, pemerasan terhadap orang yang tidak berdaya, menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang, sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”(1 Tim 6:10). Mari kita evaluasi, siapa yang kita cintai sekarang ini, apakah yang kita cari didalam dunia ini, apa yang kita upayakan dalam pekerjaan kita masing-masing, apakah uang telah menjadi tuan dalam hidup kita?

Bagaimana membangun sikap yang benar terhadap kekayaan? Mari kita baca 1 Tim 6:17-19. Ternyata ada sisi negatif dari kekayaan, yaitu “peringatkan orang-orang kaya agar tidak tinggi hati,jangan berharap pada hal yang tak tentu seperti kekayaan”(ayat 17). Ketika kita menikmati berkat dari Tuhan, kita bisa saja lupa siapa Tuhan yang telah memberikan berkat itu. Jika kita menjadi kaya, berbuat baiklah, suka berbagi (ayat 18), tidak pelit. Ketika kita berpenghasilan kecil mungkin lebih mudah memberi persepuluhan, tetapi ketika kita memiliki penghasilan puluhan juta apakah kita tetap bisa setia memberi persepuluhan kita? Karena itu tetaplah berbuat baik dan berbagi pada orang lain, untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Bagaimana membangun hidup sederhana dan tidak menjadi hedon dan materialis?
  • Puas dan bersyukurlah atas apa yang kita punya. Biasanya kita melihat kepada apa yang sudah dimiliki orang lain dan apa yang tidak kita miliki, sehingga kita sulit bersyukur. Kita harus melihat berkat-berkat Tuhan baik berkat materi maupun non materi yang kita miliki (seperti memiliki kesehatan, bisa hidup bahagia, diberi kesempatan untuk melayani).
  • Puaslah dengan apa yang kita punya. Bukan membuat kita berhenti bekerja keras meningkatkan taraf hidup kita. Tapi ada usaha meningkatkan taraf hidup kita supaya bisa berbagi dengan orang-orang disekitar kita. Sehingga kita bisa menjadi berkat buat sekeliling kita. Kita puas bukan karena bekerja keras, puas dengan apa yang Tuhan anugerahkan dengan hidup kita. Sadarilah uang hanya alat. Ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang seperti tidur nyenyak. Uang tidak bisa memberi ketenangan dan kenyamanan, nama baik. Jangan mengira kalau kita memiliki uang banyak, kita akan memiliki nama baik, Amsal 15 :16 “Lebih baik sedikit barang dengan disertai rasa takut akan Tuhan daripada banyak harta disertai dengan kecemasan”. Kekayaan bisa menimbulkan banyak kecemasan. Amsal 22:1 “Nama baik lebih berharga daripada kekayaan kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas”. Bukan karena kita kaya, kita dikasihi orang. Orang-orang sederhana bisa sangat dikasihi karena dia telah menjadi berkat bagi orang. Maka dikasihilah orang jika telah menjadi berkat bagi orang lain.
  • Jangan suka iri terhadap kekayaan orang lain atau mengingini milik sesama. Kita bisa iri melihat orang lain lebih kaya dari kita. Amsal 14:30 “hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”.
  • Belilah sesuatu berdasarkan kebutuhan bukan untuk keinginan, kehormatan, pujian atau pencitraan. Jika Tuhan memberi kita berkat yang lebih, itu bukan supaya kita membeli lebih banyak, tapi supaya memberi lebih banyak, Uang harus dipertanggungjawabkan dan dikelola dengan baik (Matius 25:14-30). Manusia pengelola, Allah adalah pemilik, perencanaan keuangan adalah alkitabiah untuk terlepas dari kilah materilalisme dan hedonis. Jangan besar pasak dari tiang.
  • Jangan menjadi serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Banyak yang ditawarkan oleh dunia, tetapi orang percaya harus berhenti untuk menjadi serupa dengan dunia.

Selamat berjuang untuk tetap hidup sederhana.


SOLIDEO GLORIA!

Jumat, 26 Mei 2017

IMAN YANG TERPELIHARA

Oleh : Pdt. Parlindungan Situmorang, M.Th


(Titus 1:1-4)

Seringkali ketika kita menjadi mahasiswa, memiliki pertumbuhan rohani yang baik karena masih mengikuti pelayanan yang sistematis, tetapi ketika menjadi alumni mungkin mengalami kemunduran bahkan ada yang tidak memiliki pelayanan apapun, sebagai alumni seharusnya kita mengalami kemajuan secara rohani bukan stagnan atau mundur. Alumni yang berkeluarga bisa tidak memiliki gereja yang tetap, tidak memiliki beban untuk terlibat dalam pelayanan, bahkan kita dapati ada alumni kita yang bermasalah dalam pernikahannya. Karena itu penting bagi kita belajar bagaimana memelihara iman.

Latar Belakang.
Titus adalah seorang berkebangsaan Yunani (Gal. 2:3) dan Paulus yang melayani dia secara pribadi. Titus pernah satu pelayanan dengan Paulus di Korintus (2 Kor. 7:13-14; 8:6,16,23; 12:18), dan kemudian Titus melayani di Kreta.Titus dimenangkan Paulus secara pribadi (Titus 1:4). Paulus memuji Titus , “Titus adalah temanku yang berkerja bersama-sama dengan aku untuk kamu” (2 Kor. 8:23).

Titus mungkin seorang yang masih muda, tetapi tidak seperti Timotius, Titus bukan seorang pemalu dan tidak menderita penyakit fisik.Paulus telah bersama-sama dengan Titus di Pulau Kreta dan meninggalkan dia di sana untuk melayani dan memperbaiki hal-hal yang salah. Karena orang-orang Yahudi dari Pulau Kreta itu hadir pada hari Pentakosta (Kis 2:11), mungkin merekalah yang membawa Injil ke negeri asal mereka.

Masalah yang dihadapi Titus dalam pelayanannya: 

1. Jemaat di Pulau Kreta memerlukan pemimpin-pemimpin yang memenuhi syarat, dan berbagai kelompok dalam jemaat itu memerlukan penggembalaan. Kita sebagai alumni binaan pelayanan mahasiswa, sangat diharapkan dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang terlibat melayani di gereja.


2. Sekelompok pengajar sesat berusaha mencampurbaurkan hukum Yahudi dengan Injil tentang kasih karunia Allah (Tit 1:10,14). Hal yang sama juga kita hadapi, ada penyesat yang mungkin bisa masuk ke gereja, kita harus waspada dengan pengajaran-pengajaran yang ada. Saksi Yehowa banyak membagi-bagikan buku di tempat-tempat umum. Sejak dicabut larangan pada saksi Yehowa, peningkatan pengikutnya 2x lipat dari sebelumnya. Beranikah kita melawan setiap pengajar sesat ini? Kita seharusnya mencoba menghempang semua pengajaran sesat ini supaya jangan makin menyebar.


3. Sementara itu beberapa orang Yahudi yang percaya telah menggunakan berita tentang kasih karunia dan bertingkah laku seperti orang yang tidak bermoral (2:11-15). Apakah di pekerjaan kita masih menjaga hidup jujur dan berintegritas, atau sudah menjadi sama dengan dunia? Kita harus tetap bisa menjada kekudusan dalam seluruh segi hidup kita.

Pada dasarnya orang-orang Kreta tidak mudah diajak kerja sama (1:12-13). Itu sebabnya dia berkecil hati. Karena itu Titus memerlukan kesabaran dan kasih yang luar biasa untuk menghadapi mereka. Iman dan pertumbuhan rohani kita harus kuat supaya kita dapat tetap bertahan setia dalam hidup.

Sesungguhnya Titus bisa berasalan untuk melayani di tempat lain yang lebih mudah, namun ia tetap bertahan di Kreta dan menyelesaikan pelayanannya. Bahkan di gereja juga untuk penempatan pendeta di kota besar juga bisa diurus, untuk pemilihan pimpinan gereja juga sudah ada “tim pemenangan”.

1. Iman harus tetap terpelihara 

Iman kita harus terpelihara dengan firman Tuhan. Paulus rindu agar iman mereka didasarkan pada pengenalan mereka tentang kebenaran Allah. Injil Tuhan Yesus, itulah kebenaran, yang mendatangkan keampunan dosa dan keselamatan bagi orang yang menerimanya. Jika kebenaran itu diterima dengan iman, maka hal itu mendatangkan ibadah yang sejati, ibadah kepada Allah yang memberikan hidup yang kekal. Iman harus terus ditumbuhkembangkan hingga menjadi matang. Orang yang bertahan dalam kebenaran akan kelihatan dalam mobilitasnya dalam ibadah. Iman kita bisa makin merosot karena sudah tidak setia dalam hpdt, tidak melakukan KTB.

Aspek-aspek iman:

· Iman yang menyelamatkan

· Iman Doktrinal: pengetahuan (noticia), keyakinan (asensus) penyerahan diri (fuducia). Perlu pengetahuan firman yang terus bertumbuh, banyak membaca buku rohani.

· Iman yang berdampak dalam kehidupan sehari-hari: kekudusan vs dosa, buah/karakter, firman, ibadah/persekutuan, doa dan kesaksian. Iman harus masuk ke dunia nyata, apa yang dilakukannya dalam kekudusan, hidup berbeda dari dunia.

· Iman yang memunculkan ketangguhan dalam menghadapi pergumulan. Lukas 8:25, ketika ada angin sakal, murid-murid Yesus ketakutan, dan merasa mereka akan binasa, dan Yesus menegur mereka karena tidak beriman.

2. Kemampuan dan wawasan dalam pelayanan harus dikembangkan.

Apa telanta yang kita miliki harus dikembangkan, juga wawasan, termasuk soal politik, jangan tidak perduli dengan situasi dan kondisi bangsa dan Negara. 

Tugas Titus mengatur jemaat di Kreta: mengangkat para penatua dan diaken, menyelenggarakan ibadah, mengajar dan memelihara iman jemaat dsb, tentu tidaklah mudah. 

Titus bukanlah seorang rasul, tetapi ia mendapat tugas yang lebih tinggi dari pada penatua dan penilik jemaat. Sebagai seorang yang masih muda tentu Titus membutuhkan kemampuan yang memadai untuk tugas berat tersebut. 

Untuk itu Titus dituntut untuk terus berusaha mengembangkan dirinya sedemikian rupa. Di sisi lain ternyata ada beberapa orang jemaat yang berpengaruh mencoba menentangnya ketika ia menjalankan tugas itu. Itu sebabnya Paulus menegaskan kepada jemaat Kreta bahwa kepemimpinannya didasarkan pada wibawa atau mandat yang diberikan Rasul Paulus, jadi mereka harus menghormatinya.

Murid Kristus yang mau belajar dan memiliki pengenalan akan Allah
Murid Kristus yang mau diajar, pasti mencintai kebenaran, perluas wawasan, bukan mengikuti kemajuan zaman. Bertumbuh menuju kedewasaan, ambil bagian dalam pekerjaan Allah dan penginjilan.


3. Pengabdian dan penghambaan diri harus terus dimurnikan

Paulus membuka surat ini dengan penegasan dirinya sebagai “hamba Allah”. Hanya dalam surat inilah Paulus menyebut dirinya hamba Allah. Dia ingin menekankan pada Titus, bahwa mereka adalah hamba Allah.Tiap-tiap orang percaya, apapun jabatannya dalam struktur gereja, hanyalah merupakan hamba Allah, yang melayani Allah dengan seluruh pengabdian yang tulus (Rm 1:9). Jiwa hamba: landasan bagi kita dalam melayani Tuhan. Kita dipanggil untuk memiliki jiwa seorang hamba (doulos), bukan tuan. 

Dalam panggilan itu ada tanggung jawab yang harus kita kerjakan, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Masing-masing orang pasti ada bagiannya. Kita belajar setia mulai dari perkara-perkara kecil, hingga akhirnya Tuhan mempercayakan perkara yang lebih besar. 

Kembangkan Jiwa hamba, bukan tuan, setia dalam perkara kecil – perkara besar, lakukan tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab pribadi. Lakukan tugas pelayanan tanpa bersungut-sungut bahkan tanpa pamrih.

Harus terus menerus memelihara imannya dan mendapati dirinya tetap dalam kondisi prima untuk siap sedia dalam setiap tantangan hidup dan pelayanan. 

Iman yang terpelihara bukan terletak pada simbol-simbol luar yang kasat mata saja, tetapi hati yang telah diperbaharui Kristus yang melahirkan semangat juang, kerelaan berkorban dan mengabdi kepada Tuhan. Gereja dan bangsa ini membutuhkankan kesediaan kita semua untuk tugas ini.



Jumat, 19 Mei 2017

Connecting To God

Oleh : Herlina Silitonga, MA


Berbicara tentang connecting to God mungkin adalah hal yang biasa kita dengar, karena sudah kita pelajari sejak kita mahasiswa, atau juga kita tetap antusias karena ingin belajar lagi tentang arti connecting to God. Tema ini sesuatu yang dalam dan indah jika terjadi didalam hidup kita. Relasi kita dengan Allah memberi makna yang dalam. Mari kita baca  Ul 6:5 ; Mat 22:37. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.  Hubungan dengan Allah dihubungkan dengan hukum yang pertama , didasari oleh kasih kita kepada Allah, bukan karena kita sudah lahir baru. Jika kita mengatakan kita mengasihi Allah tapi tidak nyata dalam kebidupan kita, maka akan dipertanyakan apakah benar kita mengasihi. Sama seperti pasangan yang saling mengasihi, tapi mereka sangat jarang bertemu, apakah mereka benar-benar mengasihi?  Membangun relasi dengan Allah adalah Kasih. Wujud kasih Allah dan kasih kita adalah adanya hubungan yang dekat dan dalam satu sama lain. Dimana hubungan itu terjadi karena adanya unsur kesengajaan dari kita untuk menciptakannya. Nyata dalam kehidupan raksasa rohani di Alkitab : Yesus (menyediakan waktuNya untuk bertemu dengan Bapa), begitu juga dengan Daniel dan Daud memiliki relasi dengan Allah.



Connecting with God = menyediakan ruang dalam hidup kita setiap hari untuk mempererat hubungan dengan Yesus. Connecting with God tidak sama dengan menyisihkan waktu untuk baca Alkitab dan berdoa secara rohani tanpa memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan., bukan sebatas aktifitasnya seperti sudah saat teduh dan berdoa. Tapi apakah ketika kita melakukannya, kita mengalami Allah hadir bersama kita. Tentu ini bukan sesuatu yang mudah. Kita bisa saja menyanyikan pujian pada Allah tapi kita tidak mengalami Tuhan secara pikiran, emosi, tingkah laku.

Realitanya apa yang kita rasakan ketika saat teduh kita? Dimana pemikiran, tingkah laku dan emosi kita? Setiap kita berelasi dengan Allah, kita secara utuh menikmati kebersamaan dengan Allah. Kadangkala ketika kita berdoa, pikiran kita bisa ke kantor, mau mempersiapkan makanan. Hal ini sering tidak kita sadari kita telah terbawa arus. Sesungguhnya dalam relasi kita dengan Allah tapi kita tidak bertemu dengan Dia.
Kita harus memahami ini adalah relasi yang kita bangun dalam keutuhan dengan Allah. Allah ingin hubungan yang mendalam,  secara utuh dengan Tuhan.

Connecting with God artinya :
·         Tuhan rindu bertemu dengan kita (Mat 23:37; Yoh 15:15). Kerinduan hati Allah Sang pencipta untuk bertemu dengan kita.
·         Kita memerlukan persekutuan dengan Allah(Yoh 15:5). Apakah hal ini karena Allah itu tidak terlihat?  Jika kita membutuhkan seseorang, pasti kita akan segera bertemu dengannya. Kita semua memerlukan Allah, tanpa Allah kita tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah kesadaran ini menahan kita bersekutu dengan Allah?
·         Dunia ini sangat perlu melihat Kristus di dalam diri kita (2 Kor 2:14; 2 Kor 3:18; Kel 34:29-35). Ini bisa terjadi jika kita memiliki relasi yang dekat dengan Allah, maka orang-orang akan melihat Yesus didalam kita. Seperti Musa yang turun dari gunung Sinai, orang Israel melihat wajah Musa berkilauan karena telah berjumpa dengan Allah.
What must I do?
Mari kita membaca dari Lukas 10:38-42. Yesus dan murid-murid sedang dalam perjalanan dan di Betania mereka berhenti dan dijamu oleh Maria dan Marta. Maria duduk di dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan Yesus sedang Marta sibuk dengan menyiapkan makanan dan meminta Yesus untuk menegur saudaranya untuk membantu dia. Lalu Yesus berkata :“Marta, marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.” (41-42). Marta, Marta .... : Lukas memakai pola dua kali penyebutan nama untuk memberitahukan bahwa ada tekanan dalam hal itu.
Yesus mau menyatakan bahwa apa yang dikeluhkan Marta tidak seperti yang diajarkan dan dikehendaki Yesus sendiri : sibuk dengan banyak perkara. Sebaliknya yang dikehendaki Yesus (hanya satu yang perlu) : duduk di bawah kaki Yesus.
Duduk di kaki Yesus adalah tindakan seorang murid yang rindu dekat dan mendapat pengajaran dari gurunya. Kata ‘perlu’ yang dipakai disini digambarkan di mazmur seperti mazmur 27:4 (diam di rumah Tuhan : menyaksikan kemurahanNya dan menikmati baitNya).

Apakah Yesus tidak senang terhadap apa yang dilakukan oleh Marta?
Tentu senang (Keluarga Marta menjadi sahabat Yesus, dalam perjalanan ke Yerusalem Yesus sering singgah di rumah mrk). Tetapi Dia lebih senang dengan apa yang dilakukan oleh Maria (hanya satu yang perlu : duduk dibawah kaki Yesus) : sebuah relasi, interaksi, komunikasi, kedekatan emosi, transfer hidup/pengajaran. Inl sebagai gambaran bahwa Allah sangat menginginkan persekutuan kita dengan Dia. Dalam bahasa asli “sedang Marta sibuk sekali melayani” kata asli nya berarti “dipisahkan”, oleh keinginannya melayani Yesus, ia dipisahkan oleh Yesus sehingga ia sibuk melakukan perkara2 yang duniawi yaitu .untuk menyiapkan makanan bagi Yesus. Kata ini juga mengandung kata galau. Jadi sekalipun Marta melakukannya, ada dilemma di hatinya, ia ingin melayani Yesus tapi juga ingin mendengarkan Yesus, karena itu ia protes. “Tetapi hanya satu saja yang perlu” disejajarkan dengan Mazmur 27:4,”diam dirumah Tuhan, menikmati kemurahan Tuhan, menikmati baitNya”. Ini adalah bagian yang dikatakan Yesus bagi kita adalah bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik yaitu duduk dan mendengarkan perkataan Yesus.
Jean Fleming mengatakan bahwa ada dua elemen dasar dalam connecting with God, yaitu : Firman Tuhan dan Doa. Didalam relasi Yesus dengan Maria, ada pengajaran Yesus yang didengarkan Maria. Kini Tuhan telah menyatakan DiriNya paling utuh melalui Alkitab; penyingkapan diriNya, sehingga jika kita ingin membangun relasi dengan Allah, melalui alkitablah elemen dasarnya, karena disitulah  Allah menyatakan : jati diriNya; seperti apa Dia, apa yang dipikirkanNya, nilai-nilaiNya dan apa yang Dia benci. Tanpa interaksi secara teratur dengan Alkitab, kita tidak tahu pasti apakah kita sedang mendengar Tuhan.
Yang kedua melalui doa, karena dalam percakapan itu bersifat dua arah : memberi dan menerima. Jika kita membaca alkitab, kita mendengar dan belajar firman Tuhan.Tuhan berbicara kepada kita melalui firmanNya dan RohNya. Lalu kita memberi tanggapan kepadaNya melalui doa.Doa moment kita berbicara kepada Allah, bersekutu dengan Allah.
      Seberapa banyak waktu kita pakai untuk belajar firman Tuhan, berkomunikasi dengan Allah, yang menunjukkan relasi kita dengan Allah.
Lectio Divina : berdoa dengan firman Tuhan. Apakah kita masih punya waktu untuk bible reading, PI pribadi, PA pribadi? Apakah kita merenungkan waktu teduh kita selama 30-40 menit, atau cukup dibawah 15 menit? Tidak ada alasan bagi kita, karena kita sudah bekerja, sudah berkeluarga sehingga bisa mengabaikan persekutuan pribadi kita dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa menjadi garam dan terang jika kita lalai dalam relasi dengan Tuhan. Allah ingin kita menikmati persekutuan yang makin dalam dengan Allah. Ini waktunya untuk kita kembali bangkit dalam relasi kita dengan Allah. Relasi yang baik dengan Allah akan membuat kita berdampak di dunia.

Apa Hambatan kita bersekutu dengan Allah? (Jean Fleming : Waktu bersama Tuhan)

1. Kekuatiran. 

Semak duri yang menghimpit firman pertama yang disebut Yesus adalah kekuatiran hidup.Yang melanda bukan selalu kekuatiran yang disebabkan oleh hal2 besar, tetapi berbagai tuntutan (study, kerja, keluarga, pelayanan, pacar, dll).Jika hal ini muncul, buatlah daftarnya di dalam buku catatan saat teduh, doakan satu persatu, tanyakan tindakan apa yang Allah ingin untuk dilakukan. Kita tidak konsentrasi saat teduh, ketika kita kuatir.

2. Kekayaan.

Uang bukan sesuatu yang buruk tetapi uang bisa menjauhkan hati dan perhatian kita dari Allah.C.S. Lewis : “Salah satu bahaya dari memiliki uang banyak adalah bahwa Anda cukup dipuaskan dengan berbagai kesenangan yang bisa dibeli dengan uang dan karenanya gagal untuk menyadari kebutuhan Anda akan Tuhan. Apabila segalanya tampak mudah, cukup dengan menandatangani cek, Anda bisa lupa bahwa setiap saat Anda sesungguhnya tergantung penuh pada Tuhan.” Kita harus sadari bahwa kekayaan itu juga dalam kendali Allah. Kekayaan bisa membuat kita mengalami kepuasan-kepuasan sehingga merasa tidak memerlukan Tuhan lagi.

3. Kesenangan

Sama seperti kekayaan, kesenangan bisa membagi loyalitas kita dan menjauhkan perhatian kita dari Tuhan. Kesenangan dalam hal olah raga, games, bisnis online, nonton film, pelayanan, nongrong, gosip online, dll. Kesenangan ini menyisakan sedikit waktu untuk Tuhan. Jika kita sudah menemukan kesenangan, apakah kita ingat bahwa kita membutuhkan Allah? Hati-hati karena hal-hal yang menyenangkan kita bisa membuat kita meenjauh dari Allah.

4. Kesibukan

Charles E. Hummel mengatakan : “Bahaya terbesar Anda adalah membiarkan hal-hal yang genting menggantikan hal-hal yang penting”.Kadang kala kita menggeser hal yang penting karena kita ingin menolong orang lain.Hidup yang hiruk pikuk tidaklah kondusif bagi kehidupan Roh. Akibatnya relasi kita bisa menjadi “kering” dengan Allah.

5. Kehilangan rasa takjub

Kalau kita sudah tidak lagi merasa sesuatu yang takjub dalam firman Tuhan, maka ini akan membuat kita tawar dan tidak rindu untuk bersekutu dengan Allah. Jika kita dalam posisi ini, mintalah pengampunan kepada Tuhan dan minta pengenalan yang semakin besar akan siapa Tuhan dan siapa kita mahluk ciptaanNya

6. Penundaan dan kemalasan. Menunda-nunda adalah ciri dari kemalasan.

7. Kelelahan dan jadwal yang padat. 

Kita jangan bangga kalau kita selalu pulang lebih lambat dari orang-orang sekitar kita. Tanpa kita sadari jadwal yang padat bisa membahayakan relasi kita dengan Tuhan. Kita perlu lakukan ret-ret pribadi, menenangkan diri dan mendekatkan diri dengan Allah.

8. Sindrom hanya kewajiban, rasa bersalah, menyenangkan orang lain dan ingin tampil sempurna/baik. 

Pemikiran yang salah tentang Tuhan bisa membuat kita melakukan saat teduh supaya tidak celaka (pagi hari pecah ban mobil). Saat teduh seolah-olah kewajiban setiap hari, padahal itu adalah relasi dengan Allah atas dasar kasih.

9. Ingin tampil baik di kelompok maka melakukan saat teduh supaya ada jawaban bila ditanya. Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. Hati yang bersih menjauhkan kita dari tameng.

10.Lamunan dan rasa ngantuk

Kekecewaan kepada Tuhan karena doa-doa yang tidak dijawab

11.Pikiran kotor

Pikiran kotor ataupun dosa tertentu yang terus menerus membuat kita tak berdaya menjadi senjata ampuh membuat kita jauh dari Tuhan

Bagaimana supaya kita Stay in connecting with God?


  • Stop all compromise. Jangan kompromi dengan rasa ngantuk, kesibukan, dll. Kita harus tetap focus pada Allah dalam relasi dengan firman dan doa
  • Be consistent. Konsitenlah dalam setiap rencana kita untuk memiliki persekutuan pribadi kita.
  • Praying
  • Accepting Jesus’s love

Tema Unggulan

Mempersiapkan PERKAWINAN

Oleh : Drs. Tiopan Manihuruk, MTh Perjalanan masa pacaran yang langgeng akan terlihat dari: bertumbuh dalam iman dan karakter (jika...